
•
•
•
Berada di dalam apartemen, Anne tidak bisa tenang. Wajahnya semakin terlihat memucat, bahkan keringat dingin pun sudah mulai keluar dari seluruh tubuhnya.
Bagaimana mungkin?
Tidak ... Tidak ... ini tidak benar.
Anne menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, di pijitnya pelipis yang kini mulai terasa pusing. Sejak melihat isi dari video itu, Anne benar-benar gelisah, mendadak sekujur tubuhnya melemas seketika.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Jefri. Ya, Jefri yang saat ini menjadi pikirannya, bagaimana bisa ia membuat pengakuan kalau sebenarnya yang mengendarai mobil pada malam itu adalah Anne. Anne percaya sepenuhnya pada laki-laki itu, ia sudah sangat hafal dan mengenal Jefri sejak lama, Jefri tidak akan melakukan tindakan itu kepada Anne kalau bukan karena seseorang. Anne yakin kalau ini adalah perbuatan Nadine, wanita licik itu akan menggunakan segala cara agar ia bisa menghancurkan dirinya.
Tapi ... Apa yang di lakukan wanita licik itu kepada Jefri, hingga membuat pengakuan seperti itu.
Anne harus segera bertindak, sebelum wanita licik itu bertindak lebih jauh. Ya, mungkin, sekarang sudah waktunya Anne mengakui kesalahannya, ia akan mengatakan kebenarannya, ia akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.
Anne sadar, sepandai apapun kita menyembunyikan bangkai, Lama-lama akan tercium juga karena baunya yang sangat menyengat.
Ini sudah waktunya, ini sudah saatnya. Anne akan mengatakan kepada semua orang, khususnya pada calon tunangannya itu, kalau sebenarnya, dialah penyebab kematian adiknya. Anne lah orang yang telah menabrak Amelia pada malam kejadian naas itu.
Anne juga sudah siap dengan segala konsekuensinya, meskipun pada akhirnya, Kai, cowok itu akan membenci dan membatalkan pertunangan mereka.
Ya, bagaimana pun ini adalah kesalahannya sendiri. Anne menyesal, kenapa tidak dari dulu ia mengatakan semuanya. Kenapa ia membiarkan orang yang begitu berjasa dalam hidupnya harus mengakui kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Begitu baiknya hati Jefri, sampai-sampai ia rela mendapatkan hukuman untuk melindungi dirinya.
Di saat matanya terpejam dengan erat, di saat itu juga hapenya menyala. Anne membuka matanya perlahan, lalu segera mengambil hape itu untuk melihat siapa orang yang menghubungi nya sekarang.
"Halo ..."
Sudah Anne pastikan, kalau orang yang meneleponnya sekarang adalah wanita licik itu.
Wanita itu tertawa dengan sangat keras sebelum ia kembali berujar lewat sambungan telepon itu.
"Bagaimana? apa kamu suka sama video yang aku kirimkan?" Kembali wanita itu tertawa, membuat Anne meradang.
"Wah ... wah ... " Suara menjengkelkan itu kembali terdengar. "Bisa aku bayangan kan, apa yang bakal pacar kamu itu lakuin, kalo dia tahu bahwa kamu adalah orang yang telah membuatnya kehilangan seorang adik."
Padahal, kalau mereka berdua tahu. Kai sudah lebih dulu mengetahui hal itu.
"Mau lo apa? hah?"
"Wih ... sabar dong sayang." ia jeda kalimat itu, lalu kembali tertawa. "Bukannya aku pernah bilang sama kamu, aku akan membuat kamu hancur, Anne Putri yang tercinta." Ledek wanita licik itu kembali.
Anne berdecih jijik dari balik teleponnya. "Silahkan, bukannya gue juga pernah bilang sama lo, kalo gue gak akan pernah takut sama wanita licik seperti lo."
Nadine kembali meledek Anne. "O ya...!! Kita lihat saja, aku akan mengirimkan video itu kepada Kaisar."
__ADS_1
"Silahkan." Dengan lantang Anne menantang wanita itu, apapun yang akan Nadine lakukan, ia tidak akan pernah takut. Bukan Anne namanya, kalau ia takut pada perempuan seperti Nadine.
"Apapun yang mau lo lakuin, gue gak akan pernah takut sama ancaman dari lo." Anne tersenyum. "Asal lo tahu, meski gue harus masuk penjara sekalipun, gue yakin, lo juga bakal ikut di penjara sama kayak gue."
"Hah?" Gadis itu tertawa penuh ledek. "Sorry ya, gue bukan buronan kayak lo."
"Jaga mulut lo." Teriak Anne karena sudah sangat kesal dengan wanita licik seperti Nadine itu, seandainya wanita itu di hadapannya saat ini, tidak hanya tamparan yang akan Anne berikan, tapi Anne akan membuat wanita itu menyesal karena selalu mengusik kehidupannya.
Anne tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nadine, sebenarnya, apa yang di inginkan oleh perempuan itu? kenapa Nadine selalu mencari masalah dengannya? bukankah Candra kekasihnya Anne dulu sudah ia dapatkan? apalagi yang dia inginkan?
"Dengar ya Anne Putri tersayang ... kita lihat saja, sebentar lagi lo bakalan hancur. Gue ingetin, bukan hanya karir lo yang hancur, tapi ... cinta lo juga bakalan hancur. Lo tahu kan alasannya apa? selain karena lo udah bikin mati adik orang, lo juga bakal hancur, karena adik kesayangannya lo punya cinta terlarang sama calon kakak iparnya sendiri." Kemudian, wanita itu tertawa sarkas sebelum Anne benar-benar mematikan teleponnya.
Anne meradang, tangannya mengepal dengan sangat kuat.
Sialan ... Dasar wanita licik. Lihat saja, gue juga bisa hancurin lo.!
•••
Berada di tempat yang berbeda, saat Yasika dan Davin hendak menyusul Anne ke apartemennya itu. Tiba-tiba mereka melihat Kai masuk ke dalam restoran itu.
Saat tiba di hadapannya, Kai tersenyum ke arah mereka berdua. Davin membalas senyumnya, sementara Yasika, gadis itu langsung menunduk saat Kai menatapnya.
"Maaf, kalian nunggu lama." ujar Kai seraya mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang.
"Oh .. Gak papa kok Kai, kita juga baru mau pergi."
Kai mengernyit, menatap bingung kedua orang itu.
"Bukan." Davin mengibaskan tangannya. Lalu, matanya melirik ke arah Yasika.
"Ada apa? Anne mana?" tanya Kai kembali dengan raut bingung.
"Kak Anne udah pulang ke apartemennya." Kali ini Yasika yang menyahut.
"Pulang?"
Kepala itu mengangguk. "Iya."
"Kenapa?"
"Aku gak tahu, tadi ... tiba-tiba saja dia minta pulang duluan." Yasika menatap Kai. "Aku takut terjadi apa-apa sama kak Anne, kak."
"Maksud kamu, memang nya Anne kenapa?"
"Tadi saat kita semua sedang nunggu kamu, Anne terlihat sangat pucat dan panik setelah ia mendapat kan pesan dari seseorang." Davin menghela. "Aku yakin, ada yang tidak beres sama Anne."
"Makanya, sekarang aku mau pergi lihat kak Anne." Yasika terlihat sangat khawatir.
Kai yang masih terlihat bingung, matanya melirik ke arah Yasika dan juga Davin. "Ya udah, kalo gitu kita pergi sekarang ke apartemennya Anne."
Davin menyetujui itu, begitu pun dengan Yasika. Makan malam yang mereka rencanakan harus batal karena sikap Anne yang tiba-tiba saja berubah. Yasika tahu, kalau kakak perempuannya itu sedang tidak baik-baik saja. Khawatir, dan juga cemas melebur menjadi satu. Yasika takut jika terjadi sesuatu pada kakaknya itu.
__ADS_1
Menggunakan mobil yang berbeda, akhirnya mereka sampai di apartemennya Anne Putri. Yasika buru-buru keluar dari dalam mobilnya saat mobil itu sudah terparkir, ia melangkah kan kakinya lebar-lebar agar segera masuk ke dalam apartemen itu. Sementara Kai dan Davin, mereka mengikuti Yasika dari belakang.
Setelah pintu lift terbuka lebar, Yasika segera memencet passcode nya, lalu membuka pintu apartemen itu lebar-lebar.
"Kak Anne.?" Teriak gadis itu saat sudah berada di dalam apartemen.
Anne yang mendengar pun langsung menoleh seketika. "Yasika?"
Syukurlah, ternyata kakaknya itu baik-baik saja.
Anne berdiri dari duduknya, matanya melirik ke belakang punggung adiknya itu.
"Kai ... Davin?"
Davin tersenyum lebar, begitu pun dengan Kai.
Kai tersenyum sambil menatap ke arahnya. "Apa yang terjadi sama kamu? maaf, kalo tadi aku telat datang."
Kepalanya menggeleng. "Gak apa-apa." Tiba-tiba saja Anne menunduk, membuat Kai mengernyit heran. "Kamu gak papa?"
"Kai ... " Anne tidak bisa lagi menahan genangan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Kai terkejut saat tiba-tiba saja Anne menghambur memeluk dirinya.
Anne terisak dalam pelukan cowok itu. "Maafkan aku." ucapnya lirih. "Maafkan aku, Kai."
Kai membalas pelukannya sembari mengelus lembut punggungnya. "Apa yang kamu katakan? kenapa minta maaf?"
"Maafkan aku."
Lagi, Kai mendengar kata maaf itu terucap dari bibirnya yang bergetar. Ada apa dengan gadis ini? kenapa Anne terus meminta maaf kepadanya?
Yasika dan Davin hanya terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa. Benar dugaan Yasika, kalau kakaknya itu sedang tidak baik, pasti ada sesuatu yang terjadi kepada kakaknya itu.
"Anne ... aku mohon, tenangin diri kamu dulu.?"
Suara tangis itu semakin terdengar lirih. Anne semakin erat memeluk tubuh Kai, hanya ini yang bisa dilakukannya sekarang sampai akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri di pelukan Kaisar.
"Ya Tuhan ... Anne."
"Kak ..."
•••
Jangan lupa sama like, komen dan vote juga ya?
Makasih buat semua yang sudah mampir baca.
Sehat selalu buat kalian ya?
See you.... ❤
__ADS_1