Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Kehilangan


__ADS_3

Hari ini, jenazah Amelia tiba di kediaman kedua orang tuanya. Mama Wina begitu terpuruk bahkan ia sampai beberapa kali tidak sadarkan diri. Sedangkan papa Andi, hanya laki-laki paruh baya itu yang lebih terlihat tegar meski hatinya sangat sakit dan sedih ketika ia kehilangan putri bungsunya.


Semua keluarga besar sudah berkumpul di rumahnya, dan rencananya hari ini juga jenazah Amel akan di segera kebumikan. Banyak orang disana, termasuk dengan para sahabatnya. Semua merasakan kesedihan yang teramat dalam karena telah kehilangan Amel, gadis baik, pintar dan gadis yang sangat ceria.


Bagi para sahabatnya, Amelia merupakan sosok gadis yang sangat periang dan penyayang. Ia adalah sahabat terbaik yang pernah mereka miliki.


Sedangkan Kai, cowok itu sama sekali tidak terlihat. Entah kemana Kai saat ini, yang jelas semenjak ia mengetahui kalau adik perempuannya itu pergi untuk selamanya, Kai lebih memilih untuk pergi. Kai merasa dunianya hancur saat ini ketika Adik satu-satunya itu telah pergi meninggalkan dirinya.


Tidak pernah ia bayangkan kalau ia akan kehilangan adik perempuan yang sangat ia sayangi.


"Kai ... Mau sampai kapan lo disini?" tanya Bayu saat ia sudah berada di apartemen cowok itu.


"Jenazahnya Amel sudah di rumah, dan sebentar lagi akan segera di makamkan."


Kai menutup matanya erat, hatinya benar-benar sakit saat ia mendengar nama sang adik. Dan tanpa terasa air bening itu kembali menetes melewati pipinya begitu saja.


Kai adalah laki-laki kuat yang tidak pernah menangis. Dan Kai juga ingat kapan terakhir kali dia menangis, waktu ia masih kecil ketika Amelia jatuh dari tangga karena Kai tidak bisa menjaga sang adik dengan benar. Sejak kejadian itulah Kai berjanji kepada adiknya itu bahwa ia akan menjaga, melindungi dan menyayangi sang adik.


Dan sekarang, dirinya kembali merasa gagal karena tidak bisa menjaga adiknya itu dengan baik. Kai harus Kehilangan adik perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi.


Menyesal, tentu saja. Tetapi semua itu tidak ada gunanya lagi, karena Amelia tidak akan pernah kembali, Amelia telah pergi selamanya, meninggalkan semua kenangan dan orang-orang yang sangat ia cintai.


"Mendingan sekarang kita ke rumah lo, kasian mereka nungguin lo Kai."


Lagi-lagi Kai hanya diam, bibirnya bungkam seolah tidak ada kata-kata lagi yang ingin ia ucapkan.


"Kasian nyokap sama bokap lo Kai, tinggal lo yang mereka punya. Apa lo tega biarin mereka berdua tanpa ada lo di sampingnya.?"


Bayu berjalan mendekat, dan sekarang ia sudah berada di samping Kaisar. Bayu menepuk pelan bahunya. "Gue tahu lo sedih, lo kehilangan adik lo. Tapi __ gue rasa Amel juga tidak akan suka kalo liat lo kayak gini Kai."


Kai menunduk, entah kenapa ia merasa seperti laki-laki cengeng saat ini. Kai tahu apa yang di katakan oleh Bayu itu memang benar adanya. Kai harus kuat, demi kedua orang tuanya dan juga Amelia.


Sekarang perasaan Kai sudah sedikit tenang saat Bayu ada di dekatnya. Ia menoleh lalu beranjak dari duduknya.


"Lo bener Bay, gak seharusnya gue disini."


Bayu tersenyum, meski hatinya juga merasa sedih.


"Ya udah, sekarang kita balik ke rumah lo. Kasian, mereka pasti lagi nungguin lo."

__ADS_1


Kai mengangguk. "Iya."


Setelah itu Kai dan Bayu segera keluar dari apartemen miliknya. Bayu yang fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Kai, lelaki itu hanya menatap jalanan dengan tatapan kosong.


Setibanya di rumah, Kai kembali terdiam saat ia melihat semua orang sudah berkumpul di rumahnya. Ia berjalan perlahan untuk mendekat ke arah Papa Andi dan mama Wina yang masih menangis. Kai memeluk mereka, dan menumpahkan kesedihannya dalam pelukan itu.


Kali ini Kai kembali menangis, meski ia ingin terlihat tegar di hadapan kedua orang tuanya. Kai tidak ingin menambahkan kesedihan untuk mereka. Dan Kai juga tahu kalau adiknya itu tidak akan suka jika ia terus bersedih seperti ini.


Mel ... Kakak janji, Kakak akan membahagiakan mereka. Kakak akan menyayangi mereka seperti apa yang dulu kamu ucapkan sama Kakak.


Gumam Kai dalam hatinya, lantas ia segera menghapus air bening itu dengan ibu jarinya.


"Om ... Tante,"


Mereka menoleh saat mendengar suara lembut itu. Papa Andi, mama Wina begitu juga dengan Kai, mereka tersenyum tipis menatap dua gadis yang ada di hadapannya bersama dengan kedua orang tua mereka di sampingnya.


"Yasika ... "


Yasika tersenyum, lantas ia berjalan mendekat. "Tante, Om... Aku turut berduka cita ya?"


Mama Wina mengangguk tanpa terasa air matanya kembali jatuh.


"Yas ... Maafin Amel ya? maafin dia kalau ada salah sama kamu? maafin Amel kalau dia selalu ngerepotin kamu?" ujarnya dengan begitu lirih, air mata itu kembali mengalir, dan mama Wina kembali menangis di pelukan sahabat putrinya.


"Iya tante, jangan bicara seperti itu. Amel adalah sahabat aku yang paling baik." Tanpa terasa Yasika juga kembali menangis, dan mengeratkan pelukannya kepada mama Wina.


"Makasih sayang, tante sangat bersyukur, karena Amel bisa mempunyai teman yang sangat baik seperti kamu. Dia sangat menyayangi kamu."


Yasika mengangguk. "Aku juga beruntung memiliki sahabat seperti Amel." ujar Yasika saat mengurai pelukannya. Yasika mengusap air mata mama Wina dengan tangannya, membuat semua orang yang melihat begitu terharu menyaksikan bagaimana kedekatan yang terjalin antara Yasika dan ibu dari sahabat anaknya.


Pandangan mama Wina beralih saat ia melihat beberapa orang berdiri di balik punggung Yasika.


"Siapa mereka, sayang?"


Yasika menoleh ke belakang, lalu tersenyum.


"O iya, Om, Tante, kak Kai. Kenalkan __ ini Papa sama Mama, dan Kakak aku."


Mama Wina dan papa Andi saling menatap, lalu mereka tersenyum tipis. Sedangkan Kai, cowok itu malah memberikan pandangan yang berbeda saat melihat sosok perempuan yang Yasika kenalkan sebagai Kakaknya.

__ADS_1


Wanita itu? bukankah dia yang berada di mobil itu?


Jadi dia __ kakaknya Yasika.


"Jadi anda, wanita yang berada di dalam mobil itu?" tanya Kai dengan wajah dinginnya.


Anne gelalapan saat ia melihat sorot mata tajam cowok itu. Anne gelisah, bahkan wajahnya sudah terlihat sangat pucat.


"Iya." Anne memberikan seulas senyuman untuk menutupi kegugupannya itu. "Maafkan aku, aku dan asisten ku tidak sengaja menabraknya."


Kai berdecak. "Anda bilang tidak sengaja?" Kai kembali melempar tatapan tajam padanya. "Atas kelalaian anda dan asisten anda itu, saya kehilangan adik saya nona."


Anne ketakutan saat Kai terus saja memojokkan dirinya. "Tapi itu kecelakaan, maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja." Anne berujar dengan deraian air mata yang meleleh di pipinya.


Papa Bagas, dan mama Yessi hanya terdiam menunduk. Sedangkan Yasika, hanya gadis itu yang merasa tidak tega karena melihat kakak perempuannya itu ketakutan.


"Kak, aku mohon tenang dulu." pinta Yasika dengan wajah memelas.


Kai yang masih memburu, dengan segera mengusap wajahnya kasar.


"Ingat nona, aku akan mengusut kasus ini sampai tuntas. Dan aku ingatkan lagi, aku akan memberi hukuman yang setimpal untuk orang yang telah menabrak adikku."


Setelah berujar Kai pergi meninggalkan mereka semua. Meninggalkan semua luka dan kesedihan yang masih bersarang dalam hatinya.


Kakak janji Mel ... kakak akan memberikan hukuman yang setimpal untuk orang yang telah membuatmu menutup mata untuk selamanya.



* * *


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya..


Maaf agak telat up-nya, harap maklum.. akunya lagi eror otaknya... wkwkwk...


Makasih untuk kalian yang masih setia nungguin ceritanya aku...


Jangan lupa baca cerita aku yang lain ya..


Salam sayang untuk kalian semua... ❤

__ADS_1


__ADS_2