
•
•
•
Setelah gadis itu mengatakan kalau dirinya menerima Davin sebagai kekasihnya, maka sebagai seorang laki-laki tentu saja Davin merasa senang, perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Davin merasa beruntung karena Yasika gadis yang menjadi pujaan hatinya semenjak duduk di bangku SMA itu menerima cintanya.
Davin sangat bahagia, bahkan rasa bahagianya itu melebihi dari rasa apapun. Wajahnya yang tadi sempat pucat karena takut gadis itu akan menolaknya lagi, kini wajah itu kembali seperti semula. Davin sangat lega, dan bibirnya tidak pernah berhenti untuk tersenyum.
Davin berjanji bahwa dirinya akan mencintai gadis itu sepenuh hati.
Sementara untuk kedua orang tua Yasika, mereka juga sangat bahagia ketika anak gadisnya mendapatkan laki-laki yang baik seperti Davin.
Dan untuk Anne sang kakak, hanya gadis itu yang terlihat tampak senang sekali. Anne bahagia ketika adik kesayangannya itu menerima cintanya Davin. Karena dimata Anne, hanya Davin'lah laki-laki yang pantas untuk adik tercintanya itu. Anne yakin kalau Davin adalah laki-laki yang baik. Tanpa Anne sadari kalau Yasika sengaja melakukan itu agar ia bisa melupakan Kai. Cowok yang akan menjadi tunangan kakaknya itu.
Sedangkan Mama Wina, wanita paruh baya itupun ikut bahagia ketika Yasika gadis yang selama ini sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa di berikan oleh putra laki-laki nya itu. Meskipun tadinya mama Wina berharap kalau Yasika lah gadis yang akan menjadi menantu di rumahnya dan mendampingi hidupnya Kai. Tetapi rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu. Yang mama Wina inginkan sekarang adalah agar putranya itu bisa bahagia bersama dengan wanita yang menjadi pilihannya.
Tidak mama Wina, tidak juga dengan Kai. Cowok itu hanya berdiam diri tanpa bisa melakukan apapun ketika gadisnya itu menerima cinta orang lain. Ada yang hilang dari dirinya saat ini. Hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau saat ini Kai sedang merasa cemburu. Ya, Kai cemburu karena kini Yasika menjadi milik orang lain.
Menyesal? mungkin..
Tapi itu tidak akan merubah keputusannya. Kai akan tetap menjalani rencana untuk mengungkap siapa sebenarnya orang yang telah membuatnya kehilangan seorang adik. Kai tidak perduli meskipun ia harus rela melepas gadis itu untuk pria lain meski hatinya menolak.
"Maaf, aku ke toilet dulu sebentar." Yasika berdiri dari duduknya.
Davin tersenyum seraya mengangguk.
Yasika beranjak dari meja makan dan berjalan menuju dimana toilet itu berada.
Gadis itu menatap dirinya sendiri di dalam cermin setelah membasuh wajahnya dengan air. Yasika menundukkan kepalanya sebentar lalu kembali menatap wajahnya sendiri. Ada banyak hal yang sekarang sedang mengganggu pikirannya. Ya, dan salah satunya adalah tentang keputusannya untuk menerima cintanya Davin.
Apakah itu adalah sebuah keputusan yang tepat?
Yasika tidak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau perasaannya untuk Davin masih sangat abu-abu.
__ADS_1
Dan alasan kenapa ia mau menerima cintanya Davin itu karena satu alasan. Ya, alasan agar dirinya bisa melupakan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mempunyai tempat di hatinya sejak dari dulu. Yasika ingin agar rasa cintanya terhadap cowok itu hilang setelah ia menerima cintanya Davin. Yasika yakin, kalau suatu saat nanti ia bisa melupakan Kai dan mencintai Davin dengan setulus hati.
Merasa dirinya sudah cukup lama berada di dalam ruangan toilet itu, lantas ia segera merapihkan kembali wajah dan rambutnya yang sedikit berantakan setelah tadi membasuh wajahnya dengan air.
Gadis itu membuka pintu toilet, lalu berjalan keluar dengan kepala yang menunduk karena memegang gaun bawahnya yang menyapu lantai. Tanpa di sadarinya, Yasika pun tidak tahu kalau ada seseorang yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding. Cowok itu terlihat santai dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya.
Yasika terkejut begitu tubuhnya tanpa sengaja menabrak tubuh jangkung itu yang membuat dirinya hilang keseimbangan, dan beruntungnya cowok itu langsung menangkap tubuhnya sebelum gadis itu terjatuh ke lantai.
Sesaat mata mereka bertemu dan saling memberi tatapan satu sama lain. Dalam jarak yang sedekat ini hembusan nafas keduanya begitu terasa menyapu permukaan wajahnya. Kai menatap wajahnya tanpa berkedip sekalipun. Begitu juga dengan Yasika, gadis itu menatap dalam wajah Kai. Laki-laki yang memiliki wajah tampan itu.
Jantung keduanya berdetak kencang saat mereka saling menatap.
Yasika sadar, lantas dengan segera melepaskan tangan Kai yang melingkar indah pada pinggangnya.
"Maaf." Yasika sedikit mundur kebelakang. "Tadi aku tidak sengaja." ucapnya kemudian saat mata mereka kembali bertemu. "Kak Kai, sedang apa disini?"
"Nunggu kamu."
"Apa?" Yasika mengernyit.
Kai menoleh, lalu menatap gadis itu seraya menyodorkan kotak berukuran kecil yang sudah terbungkus indah ke hadapan Yasika.
"Itu hadiah ulang tahun dari aku." Kai jeda kalimatnya. "Maaf kalo aku baru ngasih itu sekarang." Ujarnya kemudian yang membuat gadis itu semakin bingung. "Sebenarnya aku membeli hadiah itu buat Amel, satu hari sebelum dia meninggal." Kai sedikit menarik ujung bibirnya ke atas. "Berhubung dia sudah tidak ada, jadi aku memberikan hadiah itu untuk kamu, karena aku tahu, kalau Amel sangat menyayangi kamu."
Yasika terpaku bersama dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tahu, hadiah itu tidak sebanding dengan pemberian pacar kamu." Kai kembali mengangkat sedikit ujung bibirnya ke atas. Entah kenapa saat mengatakannya hatinya mencelos. "Aku harap kamu mau menerimanya dan menyimpan itu dengan baik. Anggap saja itu sebagai kenang-kenangan dari Amel buat kamu." ujar cowok itu dingin.
Yasika mengangguk. "Baik. Makasih, Kak."
Setelah itu, Yasika berjalan melewati tubuh Kai yang masih diam mematung disana. Tiba-tiba saja langkah kakinya berhenti seketika ketika ia mendengar suara cowok itu yang membuatnya tertohok.
"Apa kamu mencintai laki-laki itu?"
Satu pertanyaan yang berhasil membuat gadis itu diam dan membalikkan badannya dengan cepat.
__ADS_1
"Maksudnya apa?"
Kai berdecak seraya tersenyum miring. "Apa kamu mencintai dia?" ulang cowok itu kembali.
Yasika mendesis. "Kenapa kakak bertanya seperti itu?"
Kai kembali tersenyum miring seraya memasukan kembali kedua tangannya pada saku celana. Cowok itu berjalan ke arah dimana saat ini Yasika berdiri dengan tatapan mendelik kepadanya.
"Aku hanya ingin memastikannya saja, kalo kamu memang benar-benar mencintai dia." Kai berhenti tepat di hadapan gadis itu.
Yasika menggeram kesal. "Aku-mencintai-dia." ujar gadis itu dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"O ... Ya?"
Entah kenapa Yasika ingin sekali memaki cowok itu yang seperti sedang meledek ke arahnya.
"Setahu aku, kamu mencintai orang lain?"
Yasika menegang saat cowok itu semakin mendekat.
"A-apa maksud kamu, Kak?"
"Cowok yang kamu cintai bukan dia kan?"
Hah? Apa maksudnya? Kenapa Kai bertanya seperti itu?
Yasika tersenyum dan membalas tatapan cowok itu.
"Kamu salah Kak." Yasika kembali tersenyum. "Aku mencintai Davin." Yasika kembali berujar dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. "Dan kamu tahu Kak? berkat Davin lah aku bisa melupakan seseorang yang menganggap aku hanya sebagai adiknya saja." Yasika berbisik pelan lalu meninggalkan cowok itu yang sedang menatapnya dingin sekarang.
"Aku akan buktikan, kalau aku juga bisa seperti kamu Kak."
* * *
Tetap dukung aku dengan tinggal kan like, komen, dan vote-nya bagi yang punya..
__ADS_1
Makasih...
Salam sayang selalu... ❤