
"Masuk dulu, gak baik kalo bicara di luar."
Yasika begitu terkejut saat tangan cowok itu menariknya begitu saja masuk ke dalam apartemen.
Kai, Yasika dan Bayu, mereka kini sudah berada di dalam apartemen. Yasika duduk di sofa tunggal berhadapan dengan Kai dan juga Bayu. Wajahnya terlihat tampak kesal. Yasika melirik takut-takut kepada kedua cowok itu, lalu tatapan matanya beralih tertuju pada meja yang penuh dengan puntung rokok dan juga minuman beralkohol itu.
Kenapa aku masuk sih? gerutunya dalam hati.
Seolah mengerti dengan tatapan gadis itu, lantas Bayu segera mengambil botol wiski dari atas meja.
"Sorry, Yas. Ini gue yang minum." Bayu melirik ke arah cowok yang ada di sebelahnya. "Kai gak minum kok." ujarnya kembali dengan cengengesan.
"Oh..." Hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya.
Gadis itu menatap keduanya tanpa minat. Tak tahukah mereka gara-gara cowok itu, Yasika harus rela pergi malam-malam demi sang kakak. Satu jam yang lalu, Anne berangkat ke luar kota selama dua hari ke depan karena urusan pekerjaannya. Selama itu juga, Anne terus menghubungi Yasika, meminta gadis itu untuk menemui kekasihnya ke apartemen. Awalnya Yasika menolak, tetapi mendengar rengekan sang kakak yang terus menerus memohon dan menelponnya puluhan kali membuat dirinya menyerah.
Betapa besar cinta kakaknya itu untuk Kai. Sampai-sampai Anne begitu khawatir di buatnya.
Demi rasa sayangnya pada sang Kakak, Yasika rela mendatangi cowok itu meski hati menolak. Bagaimana pun akan tidak baik untuk kesehatan jantung nya jika ia bertemu dengan cowok itu kembali.
Sama halnya seperti sekarang, saat cowok itu terus menatapnya dengan raut bingung.
"Kamu sama siapa kesini?" satu pertanyaan berhasil memecahkan keheningan yang terjadi di tengah-tengah mereka.
"Naik ojol." jawabnya malas. Yasika menatap Kai. Gadis itu menatapnya dengan sengit. "Kakak kenapa gak angkat telponnya kak Anne? dia itu khawatir banget sama kakak." Yasika menarik nafas. "Emangnya kamu lagi apa sih, Kak? seenggaknya kamu bales pesan dia. Biar kak Anne gak khawatir dan gak ngerepotin aku?" Entah kenapa saat mengatakan semua itu Yasika benar-benar seperti orang lain. Ia bukan lagi Yasika si gadis lemah lembut itu.
Lihat kan, bagaimana gadis seperti Yasika jika sedang kesal?
Kai dan Bayu saja sampai meringis saat melihat kekesalan gadis yang mereka kenal sangat baik dan lemah lembut itu. Kai merasa gemas di buatnya. Sedangkan Bayu, cowok itu hanya mampu mengulum senyum saat melihat gadis itu bersungut-sungut kepada sahabatnya.
"Woow... " Bayu berseru heboh. "Baru lihat gadis seperti kamu bisa marah juga.?" Godanya lagi.
Kai memicik tajam menatapnya. Sedangkan Yasika, gadis itu memutar kedua bola matanya malas.
"Yasika kalo lagi marah seperti itu, cantik juga ya?" Bayu kembali menggoda gadis itu sembari tersenyum tipis.
"Hh." Yasika mendesah. "Kak Bayu bicara apa sih?"
Bayu terkekeh, lalu matanya tertuju pada cowok yang sekarang sedang menatapnya tidak suka. "Ya kan, Kai?" Godanya kembali dengan menaik turun kan alisnya.
"Apaan sih lo?" balas Kai dingin.
"Yaudah." Bayu mengangkat tangannya ke udara. "Kalo gitu gue balik sekarang ya."
"Mau kemana lo?" tanya Kai tidak suka saat cowok itu berdiri dari duduknya.
"Cabut." Bayu melirik ke arah Kai dan Yasika secara bergantian. "Gue rasa kalian butuh waktu berdua." ujarnya kembali di sertai kekehan geli di sela ucapannya. "Yasika kalo di apa-apain sama Kai, bilang aku ya?" Ujar Bayu kembali seraya mengedipkan sebelah matanya genit.
Sumpah demi apapun ingin sekali Kai menyumpal mulut ember itu.
__ADS_1
"Sialan."
Bayu berlalu, meninggalkan apartemen dan mereka berdua disana. Bayu rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk Kai dan Yasika bicara berdua tanpa ada orang lain yang mengganggunya. Entahlah, akan seperti apa jadinya kalau mereka hanya berdua di dalam apartemen itu. Apakah Kai akan mengatakan semuanya kepada Yasika, mengatakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apakah cowok itu akan mengatakan kalau Anne lah penyebab kecelakaan itu.
Kita tunggu saja.
* * *
Berada di dalam apartemen berdua membuat Yasika serba salah, tubuhnya bergerak gelisah. Bahkan wajahnya yang cantik itu terlihat tampak gugup. Hanya ada dirinya dan juga Kai yang berada di apartemen itu. Meskipun rasa kesal itu belum hilang, tetapi jika hanya berdua seperti ini tetap saja membuatnya merasa tidak tenang.
Cowok itu masih fokus menatap layar hapenya yang dari tadi terus menyala. Yasika yakin, jika Kai sedang membalas pesan dari kakaknya.
Yasika memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Kak."
"Hmm.. " Kai menoleh, menaruh kembali hapenya ke atas meja. "Ada apa?"
"Kenapa kamu diemin kak Anne.?"
Kai mengernyit. "Kenapa bertanya seperti itu?" bertanya balik sembari menatapnya.
"Aku tahu kakak gak lagi sibuk, dari tadi kamu disini sama kak Bayu kan?"
Kai mengangguk. "Iya, aku disini sama Bayu sambil kerja kok."
Yasika mendelik. "Kerja apa? bukannya cuma minum-minum?" ujarnya kembali dengan nada menyindir.
Gadis itu mendesis. "Kak, sebentar lagi kamu dan kak Anne mau tunangan."
"Terus?"
Yasika menarik nafas untuk memenangkan hatinya. "Ya - Ya kenapa kamu gak angkat telpon dari kak Anne?"
"Barusan aku udah bales pesannya, aku juga udah minta maaf sama dia." dengan santainya Kai berujar membuat hati gadis itu merasa sedikit lega.
Dengan begitu, Anne pasti senang dan tidak mengkhawatirkan cowok itu lagi.
"Aku harap kak Kai benar-benar mencintai kak Anne." Yasika menatap cowok itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? apa kamu takut, jika aku mencintai gadis lain selain kakak kamu?" Kai menarik sedikit ujung bibirnya ke atas.
Yasika menganga, membuat cowok itu semakin melebarkan seringainya.
"Kalo seandainya aku membatalkan pertunangan itu __ "
"Kak."
"__ apa yang bakal kamu lakukan?"
__ADS_1
Yasika menggeleng masih mencerna semua perkataan cowok itu. Apa maksudnya?
"Jangan ngaco kamu kak, aku gak akan biarin itu terjadi."
Kai menatap gadis itu dengan bibir yang melengkung. "Benarkah? memangnya, apa yang bisa kamu lakukan?"
"Aku bisa melakukan apa saja." Jawabnya menantang. Yasika menatap cowok itu dengan tajam. "Jadi kakak jangan aneh-aneh." ujarnya kembali.
Kai tersenyum. "Sekalipun penyebabnya itu adalah kamu sendiri?"
Mata Yasika melebar sempurna bersama dengan rahangnya yang terbuka lebar.
"A-Apa maksud kamu?"
Cowok itu tersenyum tipis, bahkan sangat tipis.
"Kalo aku membatalkan pertunangan itu karena kamu bagaimana?"
Di saat itu juga, Yasika merasa jika jantungnya sudah copot dari tempat nya.
"Kak... " Gadis itu menggeleng panik. "Apa maksud kamu?"
Kai menutup matanya erat sebelum kembali berujar. Ia menangkup kedua sisi wajah Yasika untuk mempertemukan pandangan dengan jarak yang sangat dekat.
"Yas ..." Menarik nafas pelan. "Ada suatu hal yang belum kamu ketahui. Tentang perasaan aku dan juga tentang kakak kamu."
Gadis itu kembali menggeleng. "Aku gak ngerti."
"Mungkin __ aku akan membatalkan pertunangan ini."
"A- apa?"
"Karena aku tidak mencintai Anne."
Plak ...
Satu tamparan berhasil mendarat di wajah cowok itu membuat Kai meringis sakit dan menutup matanya.
"Maaf." Mata gadis itu berkaca-kaca.
"Tamparan itu memang pantas untuk laki-laki berengsek seperti kamu. Kak..!!"
* * *
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga..
Jangan bosen baca dan nunggu ceritanya ya?
__ADS_1
Sehat-sehat selalu buat kalian..
Salam sayang selalu... ❤