Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Api cemburu


__ADS_3




"Kai ... Makasih ya kamu udah bantuin aku tadi."


"Sama-sama."


"Jadi kamu tinggal disini?" Dengan tubuh bersandar di atas sofa, Kai menanyakan itu kepada Anne yang baru saja datang dengan membawa satu cangkir kopi panas untuknya.


"Iya, ini apartemen aku." jawab Anne sembari meletakan cangkir kopi itu di atas meja.


"Sendirian?"


Anne mengangguk pelan seraya duduk di sebelah Kai. "Iya, tapi kadang-kadang aku di temenin sama asisten aku kok."


Kai hanya tersenyum tipis, matanya masih fokus mengamati setiap sudut ruangan apartemen yang terbilang sangat mewah itu.


"Selera kamu bagus juga ya?" tanya Kai basa-basi.


Anne terkekeh. "Mungkin selera aku sama kayak Papa."


"Rupanya kamu gadis yang sangat mencintai keluarga?"


Anne mengernyit bingung. "Maksudnya?"


Kai tersenyum. "Itu." tunjuk Kai pada foto-foto yang berada di atas nakas.


Anne mengikuti kemana arah tangan cowok itu.


"Oh... itu?" ia jeda kalimatnya saraya mengambil salah satu foto saat bersama dengan adik dan kedua orang tuanya. "Iya, sengaja aku banyakin simpan foto mereka, karena dengan melihat semua foto ini, rasa rinduku kepada mereka sedikit terobati." jelasnya.


Kai menarik sedikit ujung bibirnya ke atas, lalu pandangan matanya itu jatuh kepada sosok gadis cantik yang sedang tersenyum bahagia. Siapa lagi kalau bukan Yasika.



Cantik...


Ah, iya. Ngomong-ngomong? kenapa tiba-tiba ia sangat merindukan gadis itu.


Apa kabarnya dia?


Anne tersenyum saat ia melihat cowok itu masih fokus menatap foto kebersamaan dirinya dan juga adiknya itu. "O iya, Kai. Kamu kenal Yasika kan?"


Kai menoleh lalu tersenyum. "Iya, aku mengenalnya. Karena dia kan sahabatnya Amel."


Deg


Jantung Anne tiba-tiba berdebar hebat saat cowok itu menyebut nama sang adik. Perasaannya menjadi tidak enak, ia pun terlihat sedikit gelisah.


Anne menyadari, mungkin ini akibatnya jika ia terus menyembunyikan kebenarannya. Sebenarnya ingin sekali ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ia ingin mengungkapkan kebenarannya, tetapi ada hal lain yang membuatnya takut. Anne takut jika ia harus meringkuk di penjara, Anne takut kehilangan karirnya, dan yang lebih ia takutkan adalah, ia takut kalau semua orang akan membenci dirinya.

__ADS_1


Anne akan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya, jika ia sudah siap dengan segala konsekuensi nya.


Ya, suatu saat nanti pasti ia akan mengatakan semuanya. Tetapi entah itu kapan.


"Kamu kenapa? keringatan gitu mukanya?" dengan gerakan refleks Kai menghapus keringat di dahinya Anne. Membuat gadis itu hanya terpaku menatapnya. Kenapa setiap kali cowok itu menyentuhnya ada perasaan berbeda dalam hatinya.


"Kok bengong?"


Anne gelalapan, lalu ia tersenyum untuk menutupi kegugupannya itu. "Ah ... aku gak papa kok. Makasih Kai."


Kai mengangguk samar. "Kenapa Yasika gak ikut tinggal sama kamu disini?"


"Mama sama Papa yang larang, kalau Yasika ikut aku, mereka gak ada temen di rumah." jawabnya seraya menaruh kembali foto itu di atas meja nakas.


"Sepertinya kalian sangat dekat.?"


"Hm ... Aku dan dia memang dekat, bahkan sangat dekat. Jika sedang di rumah, aku selalu tidur berdua sama dia. Begitu pun sebaliknya, kalau dia nginep disini, pasti kami tidur bersama."


"Jadi __ dia juga sering kesini?"


"Ya, kadang-kadang."


Entah kenapa semenjak Kai melihat foto gadis itu, rasanya sangat sulit untuk tidak menanyakan lebih jauh lagi tentang Yasika. Kai sangat penasaran, ia penasaran kenapa Yasika dan Anne bisa mempunyai sifat dan sikap yang sangat jauh berbeda.


"Yasika itu anak yang penurut, gak kayak aku." Anne terkekeh di sela ucapannya. "Kamu tahu gak Kai, aku sama Yasika itu punya sikap dan kebiasaan yang sangat berbeda."


"Hm ..." Kai menoleh.


"Tapi __ kamu wanita yang sangat mandiri." Kai menoleh menatap wajah Anne dari dekat.


Anne tertawa pelan. "Kamu bisa aja." jawabnya gugup.


Duh ... Kenapa sih Kai, kamu selalu bikin aku deg-deg kan kayak gini? gumamnya dalam hati.


Sedangkan Kai, cowok itu kembali sedikit menarik ujung bibirnya ke atas. Kai tahu, jika gadis yang ada di hadapannya sekarang sedang terlihat salah tingkah dan gelisah. Wajahnya memerah, dan itu berhasil membuat Kai bersorak dalam hati.


Sebentar lagi Kai ... sebentar lagi waktunya akan tiba.


* * *


"Vin ... makasih ya, udah traktir aku makan?" seulas senyum manis Yasika torehkan kepadanya.


Davin mencibir ke arahnya. "Apa sih yang engga buat kamu Yas, mau sekalian kafe nya juga aku bisa kok beli buat calon ibu dari anak-anak aku."


Yasika tertawa. "Gombal deh.."


Mereka berdua tertawa bersama. Davin memang laki-laki yang bisa mencairkan suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi hangat. Yasika tidak pernah sedekat ini dengan Davin. Di kampus Yasika selalu menghindarinya, dengan alasan karena ia tidak mau memberi harapan kosong kepada lelaki baik seperti Davin.


Tapi sekarang, setelah mereka banyak menghabiskan waktu hanya untuk saling ngobrol dan bertukar cerita, Yasika jadi mengetahui sisi baik dari cowok itu. Davin laki-laki baik, humoris dan sangat perhatian.


Tak lama berselang, ketika keduanya sibuk tertawa. Yasika dan Davin langsung menghentikan tawanya begitu mereka mendengar suara seseorang menyebutkan nama gadis itu.


"Yasika?"

__ADS_1


Yasika menoleh, kedua matanya menyipit untuk mengenali orang itu. "Kak Bayu, kan?"


"Iya, Yas. Aku Bayu temennya Kai." lalu pandangan Bayu jatuh pada lelaki yang duduk di depannya Yasika. "Siapa?"


"Temen aku." jawab Yasika. "Kak Bayu sendiri sama siapa?"


"Oh, aku lagi nunggu temen. Tapi kayaknya dia telat datang.".


"Ya udah kak Bayu gabung ja dulu disini." tawar Yasika yang langsung di angguki oleh cowok itu. Bayu segera menarik kursi kosong di sebelah Yasika.


"Kalian udah selesai makannya?" tanya Bayu kembali.


"Udah, tinggal bayar kok. Tapi kak Bayu tenang aja, aku bakal temenin kak Bayu sampai temennya datang."


Selain cantik, ternyata Yasika juga gadis yang baik dan murah senyum.


Siapa cowok yang tidak mau sama dia?


Kalau saja Kai bukan temannya, Bayu akan merebut Yasika dari Kai.


Bakalan nyesel dia kalau nyakitin gadis seperti Yasika.


Bayu tersenyum puas saat ia berhasil mengirimkan satu buah pesan kepada seseorang.


Tak lama berselang, ponselnya kembali menyalah.


"Dimana lo?"


"Lagi makan bareng sama Yasika."


"Apa?"


"Kenapa? lo gak percaya?"


Bayu menyeringai saat ia mengirimkan sebuah foto kepada temannya itu.



"Apa-apaan ini? siapa cowok yang sedang bersama dengan Yasika?"


"Mana gue tahu, mungkin ja cowoknya."


Setelah itu, Bayu tidak lagi menerima pesan dari sahabatnya itu. Mungkin saja __ saat ini Kai sedang terbakar api cemburu.


Rasain lo Kai...


* * *


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya..


Makasih buat semua yang sudah setia baca ceritanya aku, semoga suka...


Salam sayang dari aku... ❤

__ADS_1


__ADS_2