Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Cantik


__ADS_3

Malam semakin larut, hujan yang turun-pun semakin deras. Kaisar masih terpaku, menatap semua keindahan yang berada di depan matanya. Bagaimana-pun ia adalah laki-laki normal, yang bisa merasakan gairah sebagai seorang laki-lakinya naik. Entah kenapa rasanya sangat sulit untuk tidak menatap wajah dan tubuh yang terlihat begitu menggoda itu.


Berkali-kali menelan salivanya dengan sangat susah, perasaannya saat ini benar-benar merasa sedang di uji saat ia melihat manik mata hitam dan bulat itu sedang menatapnya dengan tatapan yang menyendu.


Kaisar menggeleng dan tersenyum miring, berjalan mendekat seraya melepaskan jaket yang masih ia kenakan.


"Pakailah, kamu pasti kedinginan." ujar Kai seraya memakaikan jaketnya.


Yasika terdiam, dan menatap lekat wajah itu.


"Makasih Kak." ujarnya pelan.


Kaisar tersenyum, mencoba untuk menenangkan degub jantungnya yang tidak beraturan.


"Ayo."


Tanpa menjawab Yasika berjalan mengikuti Kaisar dari balik punggungnya, sebenarnya ada perasaan berbeda yang ia rasakan saat lelaki itu menatapnya dalam. Bagi Yasika ini baru pertama untuknya merasakan hal seperti ini. Ada desiran aneh yang ia rasakan saat lelaki itu menatapnya, Yasika sadar dengan apa yang ia rasakan. Memegang dadanya kuat agar debaran jantungnya tidak berdetak semakin keras.


"Yas ... Kamu gak apa-apa kan?" tanya Amelia khawatir saat Yasika baru saja masuk ke dalam mobilnya.


Yasika tersenyum. "Gak pa-pa Mel, makasih ya kamu dan kak Kai udah nolongin aku."


"Aku khawatir banget sama kamu tau?" menghela nafas pelan. " O iya, aku juga udah bilang sama tante Yessi kalau kamu gak pulang malam ini, aku bilang kamu nginep di rumah soalnya hujannya terlalu deras. Dan tante Yessi mengijinkan."


Yasika menatap wajah sahabatnya itu dan tersenyum tipis. "Makasih ya Mel."


"Ya."


Mobil-pun melaju dengan kecepatan sedang, Yasika yang duduk di belakang hanya bisa menyenderkan kepalanya pada jendela mobil. Merasa dingin karena baju dan jaket yang di kenakan itu sama basahnya. Yasika sangat bersyukur karena sahabat dan kakak laki-lakinya itu menolong dirinya.


Berada di dalam mobil, sesekali mata Kaisar melirik ia melihat kalau Yasika menggigil kedinginan dan tubuhnya terlihat gemetar. Ia segera memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumahnya.


"Yas ayo, kasian kamu kedinginan."


Kaisar, Yasika dan Amel-pun masuk ke dalam rumah itu dengan tubuh yang sudah basah. Mama Wina menatap heran pada ketiga orang yang baru saja datang dan masuk ke dalam rumahnya.


"Kalian dari mana? mama khawatir tau." ujar mama Wina pada ketiganya.


"Ma ... Kita habis nolongin Yasika."


Mama Wina bingung. "Memangnya Yasika kenapa?"


"Tadi mobilnya mogok, dan ada preman yang mengganggunya." jawab Amelia menjelaskan.


Mama Wina sangat terkejut. "Ya ampun ... Kamu gak apa-apa kan sayang?"


Yasika menggeleng. "Gak apa-apa kok tan.. "


"Ya udah cepetan Mel bawa Yasika ke kamar kamu, kasian dia kedinginan."


"Ya ma.. "


Yasika dan Amelia berlalu meninggalkan mama Wina dan Kaisar yang masih berada disana.


Kini pandangan mata mama Wina jatuh pada sosok putranya itu.


"Kamu gak papa kan Kai?"

__ADS_1


"Gak mah."


"Kasihan dia, untung ada kamu." menghela nafas. "Kai... Cepetan mandi, ganti baju sana? nanti mama buatin teh hangat buat kalian."


"Baik Mah.."


Kaisar naik dan masuk ke dalam kamarnya, ia segera membersihkan badannya terlebih dulu.


Sementara berada di ruangan yang berbeda Yasika mencoba untuk membuka jaket yang ia kenakan.


"Yas..?" suara Amel terdengar begitu nyaring.


"Kenapa?"


"Lo nyadar gak sih?"


Yasika mengernyit bingung. "Apa?"


Amelia menatap Yasika, di tatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan tatapan matanya itu berhenti tepat di area dadanya yang terlihat sangat jelas dan begitu transparan.


"Kenapa liatin aku kayak gitu sih?"


"Beruntung banget kakak gue."


Yasika semakin bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya itu.


"Beruntung apanya sih?"


Amelia tersenyum tipis. "Pantesan ja, tadi lama banget mau masuk dalam mobil."


"Hei nona Yasika yang sangat cantik dan baik hati, apa kamu gak sadar kalau pakaian yang kamu pakai itu terlihat sangat jelas dan begitu menggoda.?"


Yasika melongok sangat terkejut, kepalanya langsung menunduk dan menatap tubuhnya sendiri.


"Ya ampun.." keterkejutannya semakin terlihat jelas saat matanya membulat dengan sempurna.


Amelia hanya tersenyum tipis, kepalanya menggeleng pelan.


"Seksi banget tau gak sih lo? beruntung banget kak Kai."


Yasika masih terkejut, kedua tangannya langsung menutupi area dadanya yang terlihat sangat jelas itu. Bagaimana bisa ia melupakannya.


Malu ... jelas, itulah yang ia rasakan sekarang.


"Kenapa bengong? cepetan ganti baju sana? biar gak kedinginan."


Yasika menatap dirinya sendiri dan menyengir kaku. "Kok aku bisa lupa gini ya?"


Amel tersenyum dan mengedipkan matanya genit. "Gak papa-lah, kak Kai menang banyak."


Yasika tidak menjawab, ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Amelia hanya tertawa saat melihat raut wajah sahabatnya itu. Bagi Amel, Yasika terlihat begitu lucu dan juga menggemaskan.


"Mel...?"


"Apaan?"


"Gak ada baju yang lain?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Masa aku pakai baju kayak gini sih?"


"Ada yang salah?"


Yasika menatap dirinya sendiri, kemudian tatapan matanya itu beralih pada sahabatnya.


"Aku gak mau pakai baju ini."


"Memangnya kenapa sih?"


"Ini terlalu kebuka buat aku."


Amelia kembali tertawa dengan begitu kerasnya. Membuat Yasika menatapnya dengan tatapan menyalang.


"Baju aku emang gitu semua Yas.. Lagian itu gak seksi-seksi amat kok."


"Ya buat kamu? tapi buat aku?"


"Udahlah, lagian kita kan mau tidur gak bakalan kemana-mana."


Yasika merasa aneh saat ia mengenakan pakaian tidur milik sahabatnya itu, ini terlalu asing baginya baju berbahan tipis yang begitu melekat di tubuhnya.


"Mel... " suara mama Wina memanggilnya.


"Bentar mah.. " saut Amelia seraya berlari kecil membuka pintu kamarnya yang terkunci.


"Kenapa mesti di kunci sih?"


"Takut kak Kai masuk mah.."


"Memangnya kenapa?"


"Enak dia entar."


Mama Wina mengernyit menatap anaknya dengan tatapan heran.


"Maksud kamu?"


"Mama tanya aja sendiri sama orangnya."


"Mel... " pekik Yasika seraya menyikut lengan sahabatnya itu.


Mama Wina semakin bingung, ia tidak mengerti dengan ucapan anak gadisnya itu.


"Ma.. "


Suara itu tiba-tiba saja terdengar di balik punggung sang mama. Mama Wina menoleh dan tersenyum, sedangkan Amelia dan Yasika mereka berdua masih dalam posisi yang sama.


"Kakak mau ngapain?"


Kaisar menoleh dan tanpa sengaja matanya itu menatap gadis yang kini sedang menunduk malu. Kaisar kembali menelan salivanya dengan sangat susah, melihat betapa cantiknya Yasika saat ia mengenakan pakaian sang adik dan mengikat rambutnya berantakan.


Cantik...!!


* * *

__ADS_1


__ADS_2