
"Gimana udah ketemu bukunya?" Tanya Kai saat ia baru saja kembali dari toilet. Kai berdiri di samping sang adik, memperhatikan satu persatu buku yang di pegang oleh adik perempuannya itu.
"Udah."
"Tumben beli bukunya banyak banget?" Tanya Kai kembali yang merasa aneh dengan adiknya itu, Kai tahu siapa Amelia, adiknya itu bukan seorang kutu buku yang setiap harinya akan menghabiskan waktu hanya untuk membaca buku.
"Kalo bukan karena tugas, aku juga gak mau beli buku banyak kayak gini, bikin pusing aja bacanya juga." Amel terkekeh geli saat mengatakan itu, ia memang tidak terlalu suka membaca, tetapi meski begitu, Amel terbilang orang yang cukup pintar, makanya ia bisa masuk ke fakultas kedokteran sama seperti Yasika.
"Untung kamu pintar, kalo enggak __ mana mungkin kamu bisa menjadi calon Dokter."
Amelia tertawa, lalu __
"Iya, mungkin kepintaran aku cuma faktor keturunan aja kali ya.?"
Kai hanya menanggapinya dengan terkekeh.
"Ya udah sekarang kita cari makan yuk?" Ajak Kai kembali.
Kepala itu mengangguk. "Ayo."
Kedua kakak beradik itu berjalan beriringan hendak menyusul Yasika. Sementara Yasika, Gadis itu masih setia membolak balik buku dan membaca beberapa judul novel yang berada di tangannya.
"Yas ...! "
Yasika menoleh, lalu, ia tersenyum. "Eh Mel.."
"Kamu lagi ngapain?" Ia tatap wajah sahabatnya itu, kemudian pandangan matanya turun pada salah satu buku yang di pegang oleh Sahabatnya itu. "ini kan novel?" ujarnya kembali seraya mengambil salas satu novel yang bertumpuk di atas meja.
"Hemm, aku mau beli, tapi - udah bingung novel yang enak di baca yang mana ya?"
Amelia tahu kalau sahabatnya yang satu ini memang punya hobi membaca, berbanding terbalik dengan dirinya. Tapi ... ia baru mengetahui kalau Yasika juga suka novel sama seperti kakak laki-laki nya itu.
"Lo suka baca novel juga?"
Yasika mengangguk. "Iya, cuma buat selingan ja kalau lagi jenuh." Ia berujar seraya tersenyum tipis, lalu, secara tidak sengaja matanya kembali bertubrukan dengan cowok itu, siapa lagi kalau bukan Kaisar. Ya, lelaki itu kini tengah menatapnya tanpa berkedip. Ada perasaan berbeda di hati keduanya saat kedua mata itu saling memandang.
Mungkin, Yasika terlalu polos, sampai ia tidak bisa mengartikan arti dari tatapan Kai yang tidak seperti biasanya. Yasika begitu menyadari dengan perubahan cowok itu, bahkan saat mereka berada di dalam mobil yang sama'pun Kai selalu menunjukan sikap yang tidak seperti biasanya. Semenjak kejadian itu, dimana untuk yang pertama kali Kai mencium bibirnya, disitu juga Yasika melihat perubahan dari laki-laki tampan itu. Yasika merasa kalau Kai selalu memperhatikannya akhir-akhir ini.
Entah itu benar atau hanya perasaannya saja ...
Saat itu mereka berciuman, dengan penuh kelembutan dan juga perasaan Kai mencium Yasika. Bahkan, saat mereka melakukannya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang melepas rindu.
__ADS_1
"Kalau gue sih gak tahu mana yang ceritanya bagus, soalnya elo tahu sendiri kan kalau gue orang yang malas baca." Ada kekehan kecil di sela ucapannya, dan hal itu menjadi pemutus tatapan di antara kakak dan sahabatnya itu.
Yasika mendesis. "Kamu itu, hobinya hanya nonton gosip artis-artis korea aja" Kilahnya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Nah itu lo tahu.." Balasnya kembali sembari terkekeh geli.
Kai yang berada di sampingnya hanya menggeleng seraya tersenyum tipis. Sekilas matanya melirik pada novel yang sedang di pegang oleh Yasika, Kai mendekat dan mensejajarkan tubuhnya di samping gadis itu. Lalu, Kai mengambil salah satu novel yang bertumpuk di atas meja.
"Ini." Ucapnya pelan seraya menyodorkan satu buah novel dari tangannya.
Yasika menoleh sembari mengambil novel itu dari tangannya Kaisar.
"Cerita romantis, bagus kok untuk kamu baca." Jelasnya kembali seraya menatap dalam mata bening itu.
Sesaat mata mereka kembali beradu, sebelum akhirnya Yasika memutuskan untuk mengalihkan pandangannya itu ke sembarang arah.
"Kalau kamu mau, di apartemen masih banyak novel yang mungkin bisa untuk kamu baca. Kamu boleh kok kalau mau meminjamnya."
Yasika tersenyum lebar, menatap cowok itu penuh binar.
"Emang boleh kalau aku pinjam?" Begitu polosnya wajah Yasika saat ia bertanya seperti itu. Kai kembali terpaku, entah kenapa setiap ia melihat Yasika bertingkah seperti itu, membuat perasaannya kembali tidak menentu.
Yasika kembali tersenyum dengan lebar, deretan giginya yang tersusun rapih dan putih membuat senyuman itu semakin bertambah manis. Kai diam, matanya sampai tidak berkedip sedikitpun. "Ya udah nanti aku pinjam ya Kak.?" Senyuman itu kembali ia berikan, membuat Kai hanya bisa menghela nafas berat.
Di saat tersenyum seperti itu kenapa dia sangat menggemaskan?
Kai tersenyum rikuh, menatap gemas wajah polos yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum lebar. "Apa kamu selalu tersenyum seperti itu pada setiap orang?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja keluar dari mulutnya.
Bukan hanya Yasika yang sekarang terkejut, bahkan Amelia adik perempuannya itu sama terkejutnya. Ia melongo dengan rahang terbuka lebar. Amelia menatap kakaknya itu bingung.
"Pertanyaan macam apa itu?" Sewot Amel yang tidak mengerti dengan pertanyaan kakak laki-lakinya itu.
"Yasika itu memang orangnya ramah dan murah senyum kok, jadi, bukan hal aneh jika Yasika selalu tersenyum seperti itu." ledek Amel dengan tawa kecil.
"Kamu ini." sahut Kaisar terkekeh. "Aku gak nanya sama kamu ya?"
"Kenapa?" Kali ini Amel bertanya dengan tangan terlipat di depan dada. Amelia merasa ada yang aneh dengan kakak laki-laki nya itu. Ia merasa kalau Kakak nya itu mulai menyimpan rasa untuk Yasika. Kalaupun itu memang benar, maka Amelia hanya bisa mendukung. Amel akan sangat senang, jika Yasika wanita yang mampu membuat Kakaknya itu melupakan masa lalu. Ia juga senang kalau Yasika akan menjadi kakak iparnya nanti.
"Lucu ya, kalau nanti dia jadi kakak ipar aku."
* * *
__ADS_1
"KAI ... !!"
Suara lembut itu terdengar begitu jelas di balik punggungnya, mencoba untuk mengingat siapa pemilik suara tersebut.
Suara itu ... ?
Untuk beberapa saat Kai hanya terdiam, merasa tidak asing dengan pemilik suara tersebut.
"Kai ... Itu beneran kamu kan?" Tanya wanita cantik itu kembali.
Kai berbalik badan, dan di detik itu juga matanya membelalak lebar. Bibirnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu lalu ia tutup kembali. Ia terkejut saat melihat sosok wanita cantik yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah bertemu dengannya, lebih tepatnya telah pergi dari kehidupan Kaisar.
"Kamu?"
Wanita itu tersenyum. "Iya, ini aku. Kamu masih ingat aku kan? apa kabar kamu Kai.?"
Kai kembali bungkam, entah kenapa mulutnya terasa keluh untuk mengucapkan sesuatu. Rasanya ada yang berbeda saat ia melihat wanita itu kembali, wanita yang dulu meninggalkan dia dan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.
Yasika tercengang saat tiba-tiba saja Kai menarik tangannya dan menggenggamnya sangat erat.
"Baik, aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik." setelah berujar, ia menoleh ke samping lalu tersenyum lebar.
"Aku cinta kamu sayang..."
"Apa?" Yasika terkejut, mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kakak bilang apa barusan?"
"Aku sayang kamu ... Yasika.!!"
* * *
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya??...
Simpan cerita ini sebagai ceritanya Favorit kalian ya.. wkwkwk.
Semoga suka sama cerita ke tiganya aku..
Mohon maaf bila masih banyak kekurangan nya.. 🙏🏻
Salam sayang untuk kalian semua... ❤
__ADS_1