
•
•
•
Suasana di meja makan kali terasa menjadi hening. Yasika tidak pernah membayangkan sebelumya kalau ia akan duduk satu meja yang sama bersama dengan Kaisar. Setelah beberapa minggu terakhir mereka tidak pernah bertemu. Walau masih banyak orang di dekat mereka, tetap saja Yasika tidak bisa menahan rona merah pada pipinya. Antara senang karena cowok itu ada di dekatnya atau karena ia malu karena Kai terus menatap dirinya.
Beberapa hari gak ketemu kenapa wajahnya semakin terlihat tampan sih?
Yasika hanya menatap piring di depan tanpa ingin mengangkat wajahnya. Debaran jantung yang berdegub sangat kencang membuat tubuhnya terasa menjadi kaku. Cowok itu terus menatapnya, tapi ada yang berbeda dengan tatapannya yang terkesan datar dan dingin.
Apa dia masih marah? kenapa dia jadi berubah? dia sangat berbeda sekarang, dia bukan kak Kai yang aku kenal dulu.
"Kai ... malam ini kamu tidur disini kan?" suara itu menjadi pemutus lamunan Yasika.
Kaisar menatap mama Wina sekilas, lalu kembali menoleh menatap Yasika, gadis yang sedari tadi hanya menunduk.
"Hm ... Iya, Ma." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Mama Wina tersenyum lebar. "Gimana masakan Yasika, enak kan? ini semua Yasika yang masak loh Pa, Kai." entah kenapa mama Wina begitu senang, bahkan Kai sendiri sampai tidak percaya kalau mamanya itu akan kembali tersenyum lebar seperti itu.
Papa Andi tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Wah ... jadi kamu pintar masak juga ya?"
Yasika mengangkat wajahnya. "Sedikit, Om." jawab Yasika sambil tersenyum kaku, lalu kembali menunduk.
"Kak Yasika ini hebat, selain cantik dia juga pandai memasak." ujar Kania dengan bangganya.
"Makanya, kamu juga harus seperti Yasika. Udah cantik, pintar, dan pandai memasak. Bukan cuma pacaran doang yang kamu urusin." kelakar papa Andi di sela mengunyah makanannya.
Kania hanya menyengir. "Iya, Om."
Sementara Kai, cowok itu hanya diam saja. Ia tidak berkomentar atau mengeluarkan suaranya sedikitpun. Sesekali ia melirik ke arah mama Wina, papa Andi dan juga Kania yang sedang asik membicarakan sesuatu sambil sesekali tertawa, lalu matanya kembali fokus menatap mata bening itu. Mata yang diam-diam selalu membuatnya rindu.
Demi sebuah rencana yang akan ia buat, sekuat tenaga Kai akan selalu menyimpan perasaan rindu untuk gadisnya itu. Sekarang yang Kai lakukan hanyalah, memasang tembok penghalang untuk dirinya dan juga Yasika, gadis yang diam-diam telah ia cintai. Meskipun nanti ia akan menyakiti hati gadis itu. Bukan hanya Yasika yang akan terluka, tetapi ia juga akan melukai hati kakaknya dan mungkin, ia akan melukai perasaan orang-orang terdekatnya.
Kai akan menyimpan perasaannya sendiri, meskipun suatu saat nanti ia harus menerima kenyataan kalau gadis itu akan membencinya.
Ya, Kaisar mencintai Yasika. Gadis sederhana berparas cantik yang sangat baik, penyayang, lemah lembut dan juga sahabat baik adiknya itu.
__ADS_1
* * *
"Tante, Om. Aku permisi pulang dulu ya?"
"Loh ... kenapa gak nginep aja disini? temenin tante dan Kania ya?" pintanya dengan wajah memelas.
Yasika tersenyum tipis. "Lain kali ja ya Tante, aku usahain nginep disini buat nemenin tante." ujar Yasika lembut.
"Janji ya sayang.?"
"Iya, aku janji." balas Yasika seraya memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan erat.
"Kalo gitu biar Kai saja yang mengantarkan mu pulang." kini papa Andi yang bersuara, membuat mereka semua menoleh ke arahnya dan Yasika mengurai pelukannya.
"Enggak usah Om, aku bawa mobil sendiri kok." Yasika langsung mengalihkan pandangan matanya itu dari cowok yang sedang menatapnya datar. "Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya Om."
"Gak apa-apa biar Kai yang nganterin kamu pulang ya? mobilnya di simpen ja disini, besok tante suruh orang untuk nganter ke rumah kamu."
"Tapi __ "
"Udah gak apa-apa, lagian Kai juga gak keberatan. Ya kan Kai?"
"Oh ... " Kai blingsatan. "Iya udah."
Mama Wina, dan Kania saling menatap dan melempar senyuman.
"Kalo gitu aku pulang sekarang ya, Tante.?" ujar Yasika seraya mencium tangan mama Wina dan papa Andi secara bergantian.
"Hati-hati ya sayang? Makasih dah bantuin tante tadi? sampaikan salam tante buat orang tua dan kakak kamu ya?"
Yasika mengangguk, lalu tersenyum. "Iya tante, nanti aku sampaikan pada mereka."
Tanpa menunggu lama Kai lebih dulu berjalan di ikuti Yasika dari belakang.
"Kak ... " Yasika berhenti saat cowok itu hendak membuka pintu mobil penumpang. "Aku bisa pulang sendiri. Jadi kak Kai gak usah anterin aku."
Kai membuka pintu itu, lalu berbalik badan. "Ini perintahnya Mama, dan aku turuti." ujarnya begitu dingin, membuat hati Yasika mencelos sakit.
Tanpa memperdulikan perasaan gadis itu, Kai berjalan ke samping membuka pintu kemudi lalu masuk ke dalam. Berada di dalam mobil, Kai bisa melihat bagaimana Yasika yang masih berdiri kaku di luar sana.
__ADS_1
Maaf...!!!
Berada di dalam mobil, suasana kembali menjadi hening. Kai dan Yasika sama-sama bungkam, tidak ada satu patah kata-pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Yasika lebih memilih menatap keluar jendela.
Sedangkan Kai, cowok itu sesekali melirik ke samping untuk melihat gadis itu. Kai yakin jika saat ini Yasika sedang marah kepadanya. Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia hanya fokus menatap jalanan di depannya.
Entah kenapa perjalanan dari rumah Kai ke rumahnya terasa begitu lama. Yasika gelisah. Dan itu bisa Kai lihat, lantas ia sedikit menarik ujung bibirnya ke atas karena merasa lucu melihat tingkah gadis yang sekarang berada di sampingnya itu.
"Kenapa gak turun?" tanya Kai yang sedari tadi sudah berhenti tepat di depan rumah gadis itu.
Yasika terperanjat kaget begitu mobilnya Kai sudah berada di depan rumahnya.
"Maaf." ucap Yasika seraya menunduk. "Makasih kak, dah anterin aku pulang.?"
"Hm ... " jawabnya datar tanpa menoleh ke arahnya.
"Kalo gitu aku masuk." Yasika langsung membuka pintu mobilnya lalu keluar, entah kenapa ia merasa kalau laki-laki itu memang menghindarinya sekarang. Kai bersikap tidak seperti biasanya, cowok itu berubah menjadi seorang laki-laki dingin dan datar. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan dengan lelaki itu. Tetapi melihat sikapnya yang seperti itu, membuat ia mengurungkan kembali niatnya.
Mungkin, lelaki itu masih dalam keadaan berkabung, ia belum bisa melupakan adiknya. Dan Yasika mengerti itu.
Sementara Kai, cowok itu masih menatap punggung Yasika yang mulai menjauh dari pandangannya.
Mengusap wajahnya gusar, lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
Maaf, demi rencanaku, aku terpaksa melakukan itu padamu.
Aku akan menjauhimu mulai dari sekarang.
* * *
Bagi like, komen serta vote-nya juga ya buat aku...
Makasih buat semua yang masih setia baca ceritanya aku ini..
Sehat Sehat selalu...
Salam dari aku untuk kalian semua... 🤗
__ADS_1