
•
•
•
"Maaf ..."
Ujar wanita itu saat dirinya tidak sengaja menabrak tubuh seseorang di depan sana.
"Gak apa-apa kok." jawab laki-laki bertopi itu.
Anne mendongak, menatap laki-laki bertopi dan berkaca mata hitam itu dari bawah. Matanya menyipit saat ia sedang memperhatikan tubuh jangkung yang menjulang tinggi di depannya.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya cowok itu seraya mengulurkan tangannya dan di sambut baik oleh gadis yang masih terduduk di lantai itu karena ia terjatuh saat tadi tidak sengaja menabrak tubuh tegap orang itu.
"Ah ... iya." Anne berdiri. "Terima kasih." ujarnya lembut, lalu matanya kembali fokus menatap wajah tampan yang masih terhalang kaca mata hitam itu.
"Apa kamu tidak mengenaliku?" laki-laki itu bertanya seraya melepas kaca mata hitam yang menutupi mata indahnya itu.
"Kamu?" Anne begitu terkejut saat ia melihat wajah laki-laki itu. "Aku pikir tadi siapa?" ujarnya kembali. "Maaf ya, aku gak sengaja?" seulas senyum ia berikan untuk cowok yang berada di depannya sekarang.
Laki-laki itu tersenyum. "Gak apa-apa, kamu tenang saja."
Anne membalas senyumannya. "Kamu apa kabar tuan Kaisar?"
Kai terkekeh. "Baik. Jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Kita bisa bicara seperti biasa saja."
Anne tertawa pelan. "Baiklah." mata Anne menatap sekeliling. "Sedang apa kamu disini?"
"Lagi nunggu teman." jawabnya asal. Padahal, Kai memang sengaja mengikuti gadis itu untuk melancarkan rencana pertamanya.
Anne mengangguk pelan. "Aku pikir tadi siapa? aku hampir gak mengenali kamu, Kai."
"Kenapa?"
"Kamu terlihat berbeda dengan penampilan seperti ini." Anne menatap Kai dari atas sampai bawah. Ganteng juga ya? gumamnya dalam hati.
"Kenapa? apa aku terlihat sangat jelek?" kelakarnya yang membuat Anne terhenyak dan tertawa seketika.
"Bukan." Anne mengibaskan tangannya. "Bukan begitu, maksud aku." lalu ia kembali fokus menatap wajah yang terlihat sangat tampan itu.
Kenapa dadaku jadi berdebar seperti ini ya?
Sementara Kai, cowok itu terlihat biasa saja. Kai memperhatikan bagaimana seorang aktris terkenal seperti Anne sedang menatap dirinya. Wanita cantik, bertubuh tinggi dan seksi itu begitu lekat memperhatikannya. Kai tersenyum miring, bahkan senyumannya itu nampak seperti tidak terlihat, termasuk dengan wanita cantik yang masih berdiri di hadapannya sekaligus.
Selamat Kai... rencana pertama lo akan berhasil.
* * *
__ADS_1
Suasana Mall siang ini terlihat begitu ramai, banyak pengunjung yang datang, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengenali sosok artis idolanya. Mereka mengenali Anne Putri. Anne adalah seorang aktris yang sangat terkenal dan begitu di kagumi banyak orang. Anne merasa kewalahan saat para pengunjung itu ingin bersalaman dan meminta untuk berfoto bersama. Bahkan tangan Anne sedikit terluka saat seseorang tidak sengaja menarik tangannya.
Kai merasa ini adalah kesempatan yang baik untuknya, maka dari itu ia tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja. Kai menarik Anne dari kerumunan dan segera membawanya berlari menuju toilet yang berada di lantai atas. Rencana itu berhasil, akhirnya Anne bisa bernafas dengan lega saat orang-orang itu tidak lagi mengejarnya. Ya, ini adalah resiko yang harus ia terima karena dirinya adalah seorang aktris terkenal yang begitu di kenal banyak orang.
"Maaf ya, aku udah ngerepotin kamu." ujarnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Kai menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. "Gak apa-apa." lalu terkekeh. "Aku cuma nyelamatin kamu aja dari para penggemar kamu itu."
"Untung ada kamu Kai." ia jeda kalimatnya. "Kalo gak ada kamu, aku bakal mati berdiri disana." ada kekehan kecil di sela ucapannya.
Kai pun tertawa pelan, tidak sengaja matanya menatap tangan Anne yang terluka seperti bekas cakaran. Kai menarik tangan itu, lalu meniup lukanya dengan lembut. "Kamu terluka." ujarnya seraya meniup kembali luka itu, membuat gadis itu terpaku menatapnya.
"Cuma luka kecil kok." kilahnya untuk menutupi rasa gugupnya.
Anne begitu terkejut dengan apa yang cowok itu lakukan padanya. Ternyata, cowok itu sangat baik dan juga perhatian. Padahal ini kali ke tiga mereka bertemu, bahkan saat mereka bertemu di rumah dan pemakaman adiknya itu, Kai tidak seperti ini. Anne melihat ada sorot kebencian yang terpancar dari mata cowok itu. Anne mengira, jika laki-laki yang ada di hadapannya saat ini akan membenci dirinya.
"Makasih ya Kai."
"Sama-sama." balasnya dengan tersenyum manis. "Kalo gitu pakai ini." Kai menyerahkan topi dan kaca matanya itu kepada Anne.
"Untuk apa?"
"Biar mereka gak mengenali kamu lagi."
Anne tersenyum lebar, ternyata __ idenya Kai itu boleh juga. Dengan segera Anne mengenakan topi dan kaca mata hitam milik cowok berwajah tampan itu.
* * *
"Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku, Vin?"
Setelah lama hanya berdiam diri, akhirnya suara lembut itu yang memecahkan keheningan di antara keduanya. Satu pertanyaan berhasil terlontar dari bibir ranumnya. Yasika menatap Davin, dan di balas senyuman oleh laki-laki itu.
"Kok tegang gitu mukanya? apa aku terlihat menyeramkan?" kelakar Davin yang membuat Yasika langsung tertawa saat mendengarnya.
"Nah ... gitu dong senyum. Kan tambah cantik kalo senyum kayak gitu?" ujarnya kembali yang di tanggapi gelengan kepala dari gadis itu.
"Kamu mau bicara apa sama aku?" ulang Yasika kembali. "Katanya mau ngomong sesuatu sama aku.?"
Davin tersenyum lebar lalu menatap Yasika serius.
"Sebenarnya, udah lama aku ingin mengatakan ini sama kamu, Yasika."
"Apa?" tanya Yasika penasaran.
"Yasika." Davin terdiam sesaat, lalu kembali fokus menatap gadis itu. "Aku suka sama kamu."
Meski sedikit terkejut, tetapi Yasika sudah mengetahui kalau ini akan terjadi.
Ya, Yasika mengetahui kalau Davin memang menyukainya sejak dari dulu.
__ADS_1
"Aku sudah lama menyimpan perasaan ini sama kamu, dan kamu sendiri tahu kan?"
Yasika terkejut saat tiba-tiba saja Davin menggenggam tangannya erat.
"Maaf." ujar Yasika seraya melepas genggaman itu. Dan Davin pun mengerti. "Vin ... Aku, __ "
"Aku gak minta kamu jawab sekarang kok." ia jeda kalimatnya. "Aku ingin kamu memikirkannya dulu."
Yasika tersenyum kaku, lalu menurunkan pandangan matanya menatap jari-jari tangannya yang saling meremat.
"Aku serius, Yas. Aku sayang sama kamu." ulang Davin kembali untuk meyakinkannya. "Dari dulu aku suka sama kamu, dan aku hanya menyimpan itu sendiri. Kamu adalah gadis satu-satunya yang membuat aku bertahan untuk berada di kota ini."
"Maksudnya?" tanya Yasika bingung.
Davin tersenyum tipis. "Sebenarnya, kedua orang tuaku menyuruh aku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Tapi aku menolak keinginan mereka karena kamu. Aku ingin berada disini, bersama dengan wanita yang aku cintai."
Saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut laki-laki itu, hatinya tersentuh. Apalagi saat mendengar alasan Davin yang rela menentang keinginan kedua orang tuanya demi dirinya.
Ah ... seandainya Kai yang ada di hadapannya saat ini sekarang, dan mengatakan semua itu secara langsung, mungkin Yasika tidak akan berpikir lama-lama untuk mengatakan kalau ia juga mencintainya.
Kenapa jadi laki-laki itu yang ada di pikirannya sekarang?
Padahal yang ada di depannya itu adalah Davin, bukan Kaisar.
Kenapa tiba-tiba aku merindukan dia?
* * *
Kaisar dengan penampilannya yang cool saat mengenakan topi dan kaca mata hitamnya.
Yasika dengan penampilannya yang sederhana tetapi selalu terlihat menarik di setiap harinya.
Anne Putri gadis yang selalu berpenampilan sempurna.
* * *
Bagi like, komen, vote, dan juga tekan tanda ❤ di bawah ya..?
Makasih buat semua yang masih setia baca, dan nunggu ceritanya aku.
Sehat-sehat selalu ya..
ilopeyuuu.... semua... 🤗❤
__ADS_1