
Setelah acara ulang tahun itu, Yasika tidak pernah bertemu lagi dengan Kai. Sepertinya cowok itu dan kakaknya tengah sibuk mempersiapkan acara pertunangan yang tinggal beberapa hari lagi akan segera di gelar.
Yasika pernah mengatakan pada Kai bahwa ia juga akan melakukan hal yang sama, seperti yang cowok itu lakukan padanya. Jika boleh jujur, tentu saja kalimat itu tidak benar-benar keluar dari hatinya. Sekeras apapun ia berusaha untuk melupakan cowok itu, tetap saja hal itu sangat sulit ia lakukan. Bahkan di saat ia dan Davin sudah berpacaran pun, Yasika belum sepenuhnya bisa melupakan Kai. Jadi, jalan satu-satunya sekarang adalah Yasika dan Kai tidak bertemu.
"Yas ..." Yasika tersentak saat tangan seseorang menyentuh bahunya. "Kok ngelamun? mikirin apa?"
"Oh." Buru-buru menyadarkan dirinya. "Enggak." Yasika lalu mengambil satu botol air mineral dari tangan Davin saat cowok itu menyodorkannya. "Udah selesai? habis ini kamu mau kemana?"
"Udah. Gak ada acara juga sih, emang kamu sendiri mau kemana? mau jalan gak?"
Gadis itu menggeleng. "Enggak ah, kita pulang aja ya?"
"Masih sore kok, kita makan dulu gimana?" ujar Davin seraya melirik jarum jam yang melingkar di tangannya.
"Gimana? mau?"
Yasika mendesah dalam hati. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan apapun hari ini. Gadis itu lelah, entah apa yang membuatnya merasa lelah seperti ini.
"Kalo aku gak mau gimana?"
Davin mengernyit, lalu menatap gadis itu tidak suka. "Kenapa?"
"Aku capek, aku mau pulang aja."
"Ya udah, kalo gitu aku antar kamu pulang aja."
"Jangan."
"Yas, kamu ini pacar aku kan? kenapa sih kamu seperti belum terbiasa sama aku, kamu masih keliatan canggung, padahal kita pacaran kan?"
"Ya -" Yasika menghembuskan nafasnya pelan. "Maaf Vin, kalo aku memang belum terbiasa, kamu tahu kan kalo aku belum pernah pacaran sebelumnya."
Mendengar kalimat itu dari Yasika, entah kenapa Davin merasa senang. Cowok itu senang, karena Davin lah cowok pertama yang menjadi kekasih dari gadis cantik itu. Tetapi di balik semua itu, Davin merasa ada yang sedang di tutupi oleh Yasika. Semenjak ia berstatus sebagai kekasihnya, gadis itu berubah. Yasika lebih sering terlihat melamun.
Untuk membuang pikirannya itu, lantas Davin menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. "Maaf kalo aku sudah bicara itu sama kamu. Jadi __ aku benar-benar cowok pertama buat kamu, Yas?"
Kepala itu mengangguk.
"Emang kamu gak pernah punya pacar sebelumnya?"
"Pernah."
Davin mengernyit bingung.
"Tapi itu dulu, waktu SMP." Yasika terkekeh. "Cuma cinta monyet doang."
Davin merenggut dengan bibir yang mengerucut lucu. "Jadi aku bukan cowok pertama dong kalo gitu?"
Yasika tertawa pelan. "Cuma satu hari kok, besoknya kita putus. Jadi aku gak pernah pacaran kan.?"
Davin mendesis gemas. Entah kenapa semenjak Yasika menjadi kekasihnya ia selalu merasa bahagia. Davin benar-benar merasa cowok paling beruntung di dunia ini ketika gadis itu menjadi kekasihnya. Ya, hanya Yasika lah satu-satunya gadis yang membuat hati Davin selalu bertalu-talu hebat setiap harinya.
"Katanya mau makan? kok malah diam?"
__ADS_1
"Kalo kamu gak mau, aku gak maksa. Kita pulang aja sekarang." Davin tersenyum lembut membuat Yasika merasa bersalah kalau ia menolak keinginan dari cowok itu.
"Enggak kok. Ya udah, kamu mau makan dimana?"
Pada akhirnya, Yasika lah yang mengalah. Meskipun ia merasa lelah, tetapi gadis itu tidak ingin membuat Davin kecewa. Yasika tahu kalau Davin adalah laki-laki yang sangat baik. Yasika merasa, tidak akan baik jika ia mengecewakan lelaki baik seperti Davin.
* * *
Davin mengajak Yasika untuk makan di restoran cepat saji yang mejadi kesukaannya. Tapi, takdir berkata lain. Bukan hanya Davin dan Yasika yang berada disana, melainkan ada seseorang yang sangat ia hafal. Kedua orang itu juga sama seperti mereka yang sedang makan di restoran tersebut.
"Davin? Yas ...? Ya ampun, kok kebetulan banget sih kita ketemu disini?" Seperti biasa, Anne yang selalu heboh dan banyak bicara di antara mereka semua. "Kalian berdua makin lengket aja, ya kan Kai?" Gadis itu mengaitkan tangannya pada lengan Kai dengan begitu manja.
Kai hanya mengangguk dan terlihat sangat datar. Sementara Yasika, gadis itu hanya mampu menurunkan pandangan begitu ia dan Kai duduk di meja yang sama.
Davin tersenyum lebar. "Kak Anne bisa aja.?"
Anne terkekeh. "Yas, kok gak di makan?"
Yasika mengangkat wajahnya, tanpa sengaja matanya bertatapan dengan cowok itu, siapa lagi kalau bukan Kai.
"Oh ... i-ini, baru mau."
"Kok mukanya merah gitu sih? malu ya makan bareng sama pacar?" ledek Anne pada adiknya itu.
Yasika tersenyum kaku. "Kak Anne apaan sih? aku gak malu kok." Yasika melirik Kai sekilas, lalu kembali menatap kakaknya itu.
"Kamu makin cantik ya kalo wajahnya lagi merah kayak gitu?" Davin berujar sembari mengelus pipi Yasika lembut.
Gadis itu semakin terlihat gelisah ketika matanya kembali bertemu dengan cowok itu. Cowok yang sedang menatapnya dingin seperti biasa.
Sadar...
Sadar Kai..
Lo lupa ini adalah jalan yang udah lo ambil.
Tidak seharusnya lo cemburu.
Shit...!!!
"O iya, sayang. Jadi kan nanti malam kamu mampir ke apartemen aku?"
Yasika langsung tersedak saat itu juga. Ia sampai terbatuk-batuk begitu mendengar apa yang baru saja kakaknya itu katakan.
Kenapa mendengar kalimat kakaknya barusan membuat pikirannya kemana-mana.
Kenapa Anne menyuruh cowok itu untuk ke apartemen nya?
Apa yang mau mereka lakukan?
Setahunya, kakaknya itu tinggal sendirian disana?
Yasika menutup matanya sesaat sebelum Davin menyentuh bahunya.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa?" Davin menggeser segelas air putih ke arahnya.
Yasika buru-buru mengambil air itu lalu menenggak nya hingga tandas.
"Gimana, udah enakan? pelan-pelan makannya?" ujar Davin seraya mengelus lembut punggungnya.
Yasika mengangguk, lalu melirik ke arah Kai yang juga sedang menatapnya tanpa tanpa berkedip.
Jika terus seperti ini akan tidak baik untuk hatinya.
"Yas, hari ini kamu ikut kakak aja pulangnya ya?" Pinta Anne pada adiknya itu.
Davin dan Yasika menatap Anne dengan dahi yang mengkerut.
"Kenapa?"
"Malam ini kamu nginep di apartemen, temenin aku." ujar Anne seraya menyeka sudut bibirnya dengan kain. "Kakak udah bilang kok sama mama." Kemudian, Anne menatap Davin. "Kamu gak apa-apa kan Vin, kalo Yasika pulangnya bareng aku sekarang.?"
Davin menatap Yasika, lalu tersenyum lembut.
"Apa aku antar aja?"
Yasika melirik ke arah kakaknya itu. Lalu kembali menatap Davin. "Gak usah, aku bareng kak Anne aja ya?"
Kepala itu mengangguk. "Ya udah, gak apa-apa. Aku gak keberatan kok, karena kamu sama kakak kamu."
Yasika membalas senyuman cowok itu. "Makasih ya, Vin."
"Hmm.. " Cowok itu mengelus rambut Yasika lembut.
Sekarang mereka berempat sudah berada di area parkiran. Davin sudah masuk dan melajukan mobilnya terlebih dulu setelah ia pamit kepada sepasang kekasih itu dan kepada kekasihnya sendiri. Sedangkan Yasika, gadis itu merasa tidak enak saat dirinya satu mobil bersama kakak dan calon kakak iparnya itu.
Lihatlah, bagaimana sekarang kedua pasangan itu saat berada di dalam mobil.
Yasika merasa kalau dirinya seperti obat nyamuk di antara mereka berdua.
Yasika mendesis dalam hati. Ia merutuki dirinya sendiri yang mau ikut satu mobil bersama mereka.
Ish... ngeselin...!!
* * *
Kira-kira, seperti ini ya kalo Yasika lagi kesal.
* * *
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan kasih poin bagi yang punya ya?
Semoga kalian suka..
Terima semua...
__ADS_1
Lopeyuuu..... ❤