
"Kai ... " Jerit Anne kembali.
Yasika sadar, saat itu juga kakinya melangkah untuk mencegah Kai, sebelum cowok itu keluar dari apartemen kakaknya.
"Kak ... Ada apa?" Tanya Yasika kebingungan. "Kak." Ulang gadis itu kembali karena Kai sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, cowok itu tidak memperdulikan Yasika, ia terus melangkah melewati tubuhnya.
"Kak ..." Yasika merentangkan kedua tangannya di depan laki-laki itu.
"Minggir, Yas."
Kepala itu menggeleng. "Enggak, aku gak akan biarin kak Kai pergi, sebelum kamu bilang sama aku ada apa dengan kak Anne.?"
"Aku mohon, minggir."
"Kak ..."
"Yasika." Dengan suara rendah Kai menatap gadis itu sekarang.
"Kai ... aku mohon maafkan aku?" jerit Anne kembali yang masih terduduk di lantai atas.
Mendengar akan itu, Davin langsung berlari menuju ke arah Anne untuk memenangkannya. Ia takut terjadi apa-apa pada calon kakak iparnya itu.
"Kai... maafkan aku.!"
Kai diam, sementara Yasika, gadis itu menatap Kai penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Kamu apain kak Anne?"
Bukannya menjawab, Kai malah menatap Yasika tajam, lalu, ia mendekat dan memegang kedua bahu gadis itu.
Bisa Yasika tebak kalau saat ini Kai sedang tidak baik-baik saja, ada luka yang terpancar dari sorot matanya itu.
"Kak."
"Aku mohon, aku tidak ingin bicara apa-apa dulu."
"Tapi ... "
"Lebih baik aku pergi, karena aku tidak mau menyakiti kakak kamu."
Yasika terkejut begitu mendengar kata yang terlontar dari mulut Kai.
"Kalo kamu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik tanya sama kakak kamu sendiri." Setelahnya, Kai benar-benar pergi meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Yasika yang masih tercengang karena kaget, dan meninggalkan Anne yang masih menangis di atas sana.
Ada waktunya dimana saat ini cowok itu ingin sendiri, ingin memenangkan hatinya yang tiba-tiba terasa sakit kembali. Kehilangan seorang adik yang sangat di sayanginya membuat hatinya kembali meringis sakit. Entah apa yang harus di lakukannya sekarang, memaafkan semua kesalahan Anne, atau sebaliknya?
Kai memang bukan orang yang pendendam, tetapi untuk yang pertama kalinya ia berubah menjadi seseorang yang dingin dan mudah marah setelah ia kehilangan sang adik. Demi sebuah rencana, Kai berubah, bahkan ia sampai tega untuk mempermainkan hati seseorang. Kai telah melukai hati Yasika, bahkan tak segan sekarang ia juga melukai hati kakaknya gadis itu, siapa lagi kalau bukan Anne.
__ADS_1
Dulu, tujuannya mendekati Anne Putri adalah karena sebuah tujuan. Sekarang, tujuan itu sudah berhasil ia dapatkan. Kai bingung, bahkan kepalanya sampai berdenyut nyeri bila mengingat hal itu kembali. Di satu sisi, ia sudah mengenal Anne dengan baik, tapi ... di sisi lainnya? entahlah, Kai tidak bisa membohongi perasannya sendiri, kalau sampai sekarang ia masih belum bisa menerima jika sang adik meninggalkan nya begitu saja.
Kai sadar, kecelakaan yang menimpa pada adiknya itu adalah takdir. Takdir yang telah di tentukan oleh Tuhan kepada adiknya itu. Kai tidak bisa mengelak akan hal itu, Kai juga percaya, kalau Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak bisa di tebak oleh semua manusia. Kematian, siapa jodoh kita, bahkan sampai rezeki pun, semua telah di atur oleh-Nya. Begitu pun dengan kepergian Amelia. Kai yakin, jika Tuhan lebih menyayangi adiknya itu.
Maka, disinilah sekarang Kai berada, di tempat sepi yang selalu ia datangi. Bahkan di saat malam seperti ini pun Kai berada di tempat pemakaman sang adik. Kai ingin memenangkan hati dan pikirannya, dan tujuannya sekarang adalah berada di sini.
"Kakak harus apa, Mel?" Kai ambil bunga-bunga yang sudah layu, lalu menggantikan nya dengan yang baru. "Maafkan kakak Mel. Kakak tahu, kalau kamu juga gak akan pernah suka sama apa yang sudah kakak lakukan, kakak sudah menyakiti hati Yasika, demi sebuah tujuan, kakak mengorbankan perasaan kakak sendiri." Kai tersenyum tipis. "Kalo kamu masih ada disini, kakak yakin, kamu lah orang pertama yang akan marahin kakak habis-habisan karena menyakiti hati sahabat kamu itu."
Kai menutup matanya erat.
Sekarang sudah terlambat, Yasika sudah menjadi milik orang lain, dan aku juga sudah berjanji, aku akan membiarkan gadis itu bahagia bersama dengan laki-laki pilihannya.
Dan ... Bagaimana dengan Anne?
Kenapa rasanya sangat sulit untuk memaafkan perempuan itu.
* * *
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Yasika begitu khawatir.
Sampai detik ini, Anne masih menangis. Bahkan, suaranya pun sudah terdengar begitu serak. Yasika panik, sekarang di apartemen itu hanya tinggal mereka berdua, setelah lima menit yang lalu Davin berpamitan untuk pulang.
"Kak.?" di genggamnya tangan itu. "Ada apa, Kak? kakak bisa cerita sama aku."
Anne mengangkat wajah untuk mempertemukan pandangan mereka. Lihatlah, bagaimana sekarang keadaan Anne yang terlihat sangat berantakan.
"Kenapa kak?"
"Kamu bisa bantu aku kan?" Pintanya lirih.
"Bantu apa, Kak?"
"Bantu aku, Yas. Bantu aku?" Kembali Anne menangis. "Aku ... Aku telah membuat kesalahan yang besar." Ia jeda kalimatnya seraya mengusap cairan bening itu. "Sebenarnya ... akulah yang telah menabrak Amelia."
"Apa?" Gadis itu terkejut dengan sebelah tangannya membekap mulut. "A - Apa yang kakak bilang barusan?"
"Aku yang mengendarai mobil pada malam kecelakaan itu terjadi, aku yang telah membuat Kai kehilangan adiknya itu. Aku Yas, aku yang telah menabrak Amelia."
"Ya Tuhan ..."
"Aku salah Yasika, aku bersalah."
"Kak, apa benar yang kakak katakan barusan?"
Kepala itu mengangguk.
Yasika terkejut bukan main, jadi ... selama ini?
__ADS_1
"Kak ... bagaimana ini bisa terjadi?"
"Malam itu aku dalam pengaruh obat bius, dan saat aku menabrak Amel, tiba-tiba saja Jefri meminta aku untuk merubah posisi duduk, aku tahu Jefri melindungi aku, dia rela masuk penjara hanya untuk melindungi aku."
"Kak ... Aku - '
"Aku mohon Yas, bantu aku." Kali ini Anne yang memegang tangan Yasika begitu erat. Anne tidak tahu lagi kepada siapa ia harus meminta bantuan selain pada adiknya itu. Anne berharap, jika Yasika bisa membuat Kai mau memaafkannya. Anne akan terus berusaha agar ia mendapatkan kata maaf itu terucap dari bibir Kai.
"Tolong aku, aku tidak ingin jika sampai keluarganya membenci aku, termasuk dengan Kai." Entah kenapa saat mengatakannya, Anne merasa kalau semua itu tidak akan mungkin.
"Aku mencintai Kai, Yas. Aku sangat mencintainya."
"Kak..."
"Aku mohon, bantu aku. Kamu bicara sama dia Yas, kamu bujuk dia agar mau memaafkan aku."
"Tapi ... Kak?"
"Jika kamu yang bicara, mungkin Kai akan mendengarkan mu. Jadi aku mohon." Anne mengatupkan kedua tangannya. "Aku tidak ingin apa-apa selain dia memaafkan aku."
Yasika tidak tega melihat kakak perempuannya seperti itu.
Terkejut ? tentu saja.
Tapi ... Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Yasika mengerti dengan kemarahan Kai saat ini. Ia tidak akan menyalahkan cowok itu, tetapi melihat kakaknya seperti ini, Yasika juga tidak tega.
Apalagi setelah mendengar Anne mengatakan kalau ia sangat mencintai lelaki itu.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
* * *
Kai kalo lagi galau kayak gitu, bikin gemes ya?
* * *
Bagi like, komen, vote, dan jadikan cerita ini sebagai cerita favoritnya kalian ya?
Mohon maaf bila masih banyak kekurangan.. 🙏🏻
Semoga kalian suka dan gak bosen sama ceritanya aku..
Makasih semua..
__ADS_1
Salam sayang untuk kalian.. ❤