Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Terluka


__ADS_3

"Kak .." Yasika mengetuk pintu kamar itu. "Kak Anne, buka pintunya? ini aku kak."


Sudah beberapa kali Yasika mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari kakaknya itu.


"Kak, kamu kenapa? ini aku Yasika, Kak. Kak Anne buka pintunya, aku mohon." Teriak gadis itu kembali.


Yasika yang masih berada di luar sana tidak berhenti untuk terus mengetuk pintu itu secara berkali-kali. Sedang kan Anne, gadis itu hanya terdiam seraya menyeka sudut matanya yang terus berair itu.


Apa aku sanggup menerima ini semua?


Apa aku sanggup untuk mendengar kenyataan kalau laki-laki yang aku cinta ternyata mencintai adikku sendiri?


Kenapa hatinya sangat terluka seperti ini? padahal, bukan saatnya untuk Anne menerka-nerka apa yang sebenarnya akan terjadi, seharusnya, Anne harus bisa mengahadapi semua ini. Bagaimana pun Yasika adalah adiknya sendiri, adik satu-satunya yang selalu ia sayang.


Tidak .. Anne tidak boleh egois seperti ini. Apa salahnya jika ia mendengar secara langsung dari bibir adiknya sendiri. Tapi kenapa? kenapa Yasika dan Kai tega melakukan ini padanya? padahal, Yasika tahu, kalau selama ini ia sangat mencintai lelaki itu.


Air bening itu kembali menetes bersama dengan luka yang menyayat hati. Padahal, Anne sendiri yang tidak mengetahui bahwa orang yang pertama kali mengenal Kaisar itu adalah Yasika. Dan Yasika adalah orang pertama yang lelaki itu cintai.


Semua ini berawal karena sebuah kesalahan. Mereka sama-sama menjadi korban perasaan karena Kai. Mungkin, kalau kecelakaan itu tidak terjadi, Kai tidak akan menyakiti perasaan siapapun disini. Dan Anne, dialah orang yang menyebabkan lelaki itu berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya, kalau saja dari awal Anne mau mengakui semua kesalahannya, maka semua ini tidak akan terjadi.


Setelah semuanya terjadi, apa yang bisa mereka lakukan sekarang?


"Kak .. Aku mohon, kakak bisa bicara sama aku.!"


Yasika tidak akan menyerah begitu saja. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakak perempuannya itu.


Saat tangannya hendak mengetuk pintu itu kembali, tiba-tiba saja pintunya terbuka. Yasika termangu beberapa detik, melihat bagaimana keadaan kakaknya itu sekarang. Wajah yang pucat dengan matanya yang sembab, itulah yang dirinya lihat saat pintu kamar itu terbuka lebar.


"Kak ..!"


Seketika Anne membuang pandangan matanya kesamping. Tidak, ia tidak ingin menatap wajah adiknya itu sekarang.


"Kak, kamu kenapa?" Yasika memegang tangan kakaknya itu yang langsung di tepis begitu saja oleh Anne.


"Kak Anne, kakak bisa bicara sama aku.?"


Anne menoleh, menatap adiknya itu dengan tatapan dingin seraya tersenyum sinis.


"Kamu tanya aku kenapa?" Anne mendesis kesal. "Kamu ingin tahu, apa yang membuat aku seperti ini, huh?"


Entah kenapa saat mendengar bentakan itu, Yasika merasa jika ada yang hilang dari dirinya saat ini. Ya, ini kali pertama kakaknya itu berbicara dengan nada yang tinggi kepadanya.


"Apa kamu marah sama aku, Kak?" Yasika menggigit bibirnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Anne kembali membuang pandangan matanya saat melihat mata bening itu kini mulai berair.


"Sudah lah, lebih baik kamu sekarang pergi dari sini. Aku tidak ingin berbicara dengan kamu sekarang."

__ADS_1


"Tapi .. Kak." Yasika masuk, mengikuti kakaknya itu dari belakang.


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu bilang sama aku, apa kesalahan aku kak? hingga kamu marah seperti ini.?"


"Kesalahan kamu banyak, Yas." Kembali, Anne membentak adiknya itu. "Kenapa kamu tega lakukan itu? kenapa Yas? kenapa?"


Yasika menangis dengan tubuhnya yang bergetar.


"Kenapa kamu tega merebut dia dari aku?" Pandangan matanya mengkilat. "Kamu tahu kan kalau selama ini aku mencintai Kai.?"


Tidak butuh waktu lama untuk ia mengerti dengan kemarahan kakaknya itu.


"Kak .. Aku .. "


"Berarti benar dugaanku selama ini, kalau kamu bermain hati di belakang aku dari dulu kan?"


Kepala gadis itu menggeleng. "Kak, aku bisa jelasin semuanya."


"Aku kira kamu gadis yang baik?" Anne menatap sinis adiknya itu yang sedang menangis. "Kamu tega sama kakak kamu sendiri? kamu tega nusuk aku dari belakang.?"


"Kak, tidak seperti itu?"


Anne berdecak seraya tersenyum miring. "Aku bisa terima, kalau yang merebut Kai dari aku itu orang lain. Tetapi .. ini kamu? kamu Yasika."


"Semua ini salah paham kak, aku gak bermaksud untuk merebut kak Kai dari kamu."


"Ka - kamu __ " Tiba-tiba saja suara nya tercekat saat mendengar suara seseorang dari balik tubuhnya.


"Apa yang dikatakan oleh Yasika itu benar."


Di detik itu juga mereka berdua sadar siapa pemilik suara tersebut.


"Yasika tidak salah, yang salah disini adalah aku."


Yasika menoleh begitu pun dengan Anne. Kini, mereka bertiga saling menatap satu sama lain.


"Dari awal aku memang mencintai adik kamu, jauh sebelum kamu datang di kehidupan aku." Kai menatap Yasika sekilas, kemudian tatapannya itu beralih kepada gadis yang sekarang sedang terkejut.


"Apa maksud kamu, Kai?"


"Jangan salah kan Yasika, karena dia tidak tahu apa-apa."


"Kenapa?" Anne menatap lelaki itu dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


"Justru yang jadi korban disini adalah Yasika, aku yang telah menyakiti hati dia dengan cara berpura-pura mencintai kamu."


"Apa? Kamu bilang apa barusan? Pura-pura? maksudnya apa, Kai?"

__ADS_1


"Kamu seharusnya sudah tahu apa maksud aku, aku deketin kamu hanya untuk balas dendam."


Plak..


Satu tamparan berhasil melayang ke pipi lelaki itu sekarang.


Sementara Yasika, gadis itu tercengang dengan rahangnya yang terbuka lebar.


"Kamu jahat, Kai." Sungut gadis itu berapi-api. "Kamu pantas mendapatkan itu."


"Kamu boleh tampar aku sepuas kamu, Anne." Ia jeda kalimatnya. "Tapi stop, berhenti untuk menyalahkan Yasika. Karena dia, aku bisa memaafkan kamu."


"Maksudnya apa?"


"Kalo kamu ingin tahu, Yasika selama ini berjuang. Dia rela mengorbankan perasaannya sendiri hanya untuk melihat kamu bahagia."


Anne menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Tidak .. Keluar kalian dari sini?" Teriak gadis itu. "Keluar aku bilang.!"


"Tapi .. Kak!" Yasika memegang tangan kakaknya itu.


"Keluar." Ujarnya dingin.


Kai yang melihat, dengan segera beranjak mendekat ke arah dimana saat ini Yasika sedang berdiri. Lalu, menggenggam tangan halus itu dengan erat di hadapan Anne.


"Lebih baik kita pergi dari sini." Kai menatap Yasika saat ini.


"Tapi .. "


Kai tersenyum tipis. "Kita bisa bicara lagi nanti."


Yasika menatap lekat wajah kakaknya itu. Sedangkan Anne, gadis itu sama sekali tidak tertarik untuk menoleh sedikit pun kepada mereka berdua.


Hatinya benar-benar terluka sekarang. Apalagi di saat ia melihat, bagaimana cara lelaki itu memperlakukan adiknya dengan begitu penuh kasih sayang.



Kenapa kalian memberikan aku luka sedalam ini?


* * *


Update lagi ..


Next .. episode selanjutnya ya genks!!


Terimakasih semua.. ❤

__ADS_1


__ADS_2