
•
•
•
Setengah jam yang lalu, gadis itu baru saja keluar dari dalam kelasnya. Yasika beserta kedua temannya itu sedang duduk di taman samping kampusnya sambil menikmati ke indahan alam pada sore hari.
Ketiga gadis itu begitu merasa senang saat bisa melepas rasa lelah setelah seharian ini bergelut dengan mata kuliahnya.
Di saat mereka sedang bercanda gurau dan tertawa bersama, tiba-tiba saja Davin datang menghampiri ketiganya dengan senyum sumringah. Davin begitu senang saat melihat gadis itu sedang tertawa lepas.
Yasika terlihat cantik. Bahkan senyuman gadis itu mampu membuat seorang Davin tidak bisa mengedipkan matanya sedetikpun.
Yasika yang sadar akan kehadiran seseorang, lantas ia menoleh ke arah cowok itu yang sedang berdiri sambil memegang sebuah paper bag di tangannya.
"Davin." Yasika tersenyum.
Davin terkejut saat gadis itu menyapa dirinya.
"Hai ..." Balas cowok itu tersenyum kikuk. Davin berjalan mendekat. "Lagi ngapain?"
Ketiga gadis itu langsung menoleh lalu tersenyum.
"Biasalah, Vin. Kita lagi melepas rasa pusing." sahut Ica dengan terkekeh geli di samping Yasika.
Davin pun mengangguk.
"Lo sendiri, mau apa coba?" Tanya Ririn dengan tatapan matanya yang menyipit.
Davin tersenyum. "Gue kesini mau ketemu sama Yasika."
Mereka bertiga saling menatap. Lalu kedua gadis itu langsung tersenyum tipis sembari memberi kode lewat tatapan matanya.
Ica berdiri dari duduknya, di ikuti oleh Ririn yang juga ikut berdiri di sampingnya.
"Kalian mau pada kemana?" Tanya Yasika heran saat melihat kedua gadis itu berdiri.
Ica dan Ririn cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
"Yas, kita balik duluan ya?"
Yasika terkejut. "Loh, kenapa?"
Kedua gadis itu saling menatap sebelum kembali berujar.
"Gak apa-apa, kita berdua cuma gak mau jadi obat nyamuk di antara lo berdua." ujar Ririn seraya terkekeh.
Yasika mendesah. "Hh ... Apaan sih?"
Tanpa menunggu lama, mereka berdua pergi meninggalkan sepasang anak manusia itu disana.
Satu menit setelah kepergian mereka, Yasika melihat kalau cowok yang ada di sampingnya itu sedikit berbeda. Cowok itu tidak seperti biasanya yang banyak bicara dan humoris. Gadis itu bingung dan merasa aneh.
"Vin ... "
Cowok itu menoleh. "Hmm ... "
"Tumben kamu diem? katanya mau ketemu sama aku, ada apa?" Yasika menatap cowok itu dengan dahi yang mengkerut dalam.
Davin tersenyum tipis seraya menyodorkan sebuah paper bag yang ia pegang sedari tadi itu kehadapannya. "Ini" Davin memberikan paper bag itu.
Yasika mengernyit bingung. "Ini apa?"
"Buka saja."
Lalu gadis itu membuka paper bag-nya, seketika Yasika terkejut saat ia melihat isi dari paper bag tersebut.
"Vin ... Ini apa?" Tanya gadis itu semakin tidak mengerti saat ia melihat sebuah gaun yang terlihat sangat indah.
__ADS_1
Cowok itu tersenyum. "Aku harap nanti malam kamu memakainya."
"Tapi __ "
"Tidak ada penolakan." Sela Davin cepat. "Aku tunggu kamu di restoran itu jam tujuh malam nanti. Itupun kalo kamu menghargai aku sebagai __ " Ia jeda kalimatnya. "Sebagai calon pacar kamu."
Yasika melongo masih dalam keadaan tidak mengerti. "Tapi ini acara apa?"
Cowok itu kembali tersenyum. "Datang saja." Itulah yang Davin katakan sebelum ia pergi meninggalkan Yasika yang masih diam mematung sembari memegang gaun pemberiannya itu.
Sementara Davin, cowok itu malah tersenyum lebar begitu tubuhnya menjauh dari gadis itu.
Dan senyuman cowok itu semakin lebar saat ia mendapat sebuah pesan yang entah datangnya dari siapa.
"Semuanya sudah beres."
"Oke." Davin membalas pesan itu. Lalu ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana.
Tunggu nanti malam...
Aku akan memberikan-mu kejutan Yasika...
* * *
Tiba di rumah Yasika begitu terkejut saat melihat keadaan rumahnya yang terlihat tampak sepi. Tidak ada satu orang pun yang berada di rumah itu, yang ada hanyalah penjaga rumah yang menjaga pintu gerbang rumahnya.
"Pada kemana?" Yasika terlihat bingung, bahkan sang asisten rumah tangganya pun tidak nampak disana. "Kok sepi." ujar Yasika seraya menyimpan tasnya di atas kursi.
"Ma ... "
"Bik Rani... "
Yasika berteriak. "Kalian dimana?" tanya gadis itu kembali seraya menuju dapur dan taman belakang rumahnya. "Gak ada."
Yasika berlari kecil membuka pintu rumahnya, lalu ia menghampiri Pak Rahmat.
Pak Rahmat menoleh. "Iya neng Yasika, ada apa?"
"Bapak lihat mama?"
Kepala itu menggeleng. "Bapak kurang tahu, neng."
"Bik Rani?"
Lagi-lagi kepalanya menggeleng. "Gak tahu juga neng." Pak Rahmat menatap wajah anak majikannya itu. "Tapi tadi, ibu sama bik Rani pergi, neng." ujarnya kembali karena melihat Yasika seperti kebingungan. "Tapi bapak gak tahu mereka mau pergi kemana." jelasnya lagi.
Yasika tersenyum tipis. "Ya udah, biar aku telpon aja."
Pak Rahmat pun tersenyum. "Baik neng, kalo begitu bapak masuk lagi ya?"
"Ya pak." jawab gadis itu lalu mengambil hapenya dari kantung bajunya.
Yasika membuka layar ponselnya, lalu menekan tombol hijau untuk memanggil Mama nya itu. Satu kali panggilan mama Yessi tidak menjawab, begitu panggilannya yang ketiga, barulah wanita paruh baya itu mengangkatnya.
"Halo, Ma."
"Ya, kenapa sayang?" tanya wanita paruh baya itu.
"Mama dimana?"
"Mama lagi di luar, kayaknya mama bakalan pulang malam deh."
"Kenapa.?"
"Mama lagi ada urusan, udah yah Mama tutup dulu telponnya." Mama Yessi menutup telponnya tanpa menghiraukan anak gadisnya itu.
Yasika mendesis. Ih... kok di tutup sih?
Yasika masuk kedalam rumahnya itu dengan wajah yang cemberut. Tidak biasanya ia melihat semua orang yang berada di sekitar nya itu berubah. Kekesalannya pun semakin bertambah saat gadis itu mengirimkan pesan kepada kakaknya yang di balas hanya dengan kata sibuk. Bahkan di saat ia menghubungi kedua sahabatnya itu pun mereka sama seperti kakaknya Anne Putri.
__ADS_1
Aneh??
Mereka pada kenapa sih.?
* * *
Yasika menatap dirinya sendiri di dalam cermin saat mengenakan gaun pemberian dari Davin. Ia merasa aneh saat cowok itu memintanya untuk mengenakan gaun. Dan apa? dan cowok itu memintanya untuk datang ke sebuah restoran ternama.
Apa maksud dari semua ini?
Kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
Sebenarnya Yasika merasa malas untuk pergi ke tempat itu dengan mengenakan gaun seperti ini. Kalau saja bukan Davin yang memintanya, mungkin Yasika akan dengan senang hati untuk menolaknya. Tetapi ini Davin, Cowok baik yang selama ini telah dekat dengannya. Yasika tidak enak jika harus menolak keinginan dari cowok itu.
Setelah merasa puas melihat dirinya sendiri di depan cermin, kini gadis itu turun ke bawah untuk segera pergi ke tempat yang di maksud.
Yasika begitu terkejut saat membuka pintu rumahnya. Ia melihat seseorang tengah berdiri dan tersenyum menyapanya.
"Anda siapa?" Yasika bingung saat melihat laki-laki itu sedang berdiri di sebelah mobilnya.
Lelaki itu menunduk. "Saya supir yang di suruh untuk menjemput anda nona Yasika."
Yasika mengangguk, ia sudah tahu kalau itu adalah supir yang di kirimkan Davin untuk menjemput dirinya.
"Mari, silahkan masuk nona."
"Makasih."
Perjalanan dari rumah Yasika menuju restoran itu memang tidak terlalu jauh. Tetapi karena ini adalah malam minggu, jadi jalanan yang di laluinya sedikit mengalami kemacetan.
Yasika hanya diam sambil menatap jalanan melalui jendela mobilnya.
Yasika tidak menyadari kalau mobil itu sudah berhenti tepat di salah satu restoran elit dan sangat mewah. Saat dirinya turun dari mobil, ia merasa kebingungan sendiri saat melihat keadaan restoran yang minim akan pencahayaan. Restoran itu nampak sepi, bahkan bisa di hitung dengan jari kalau hanya ada beberapa kendaraan yang berada disana.
Di saat pikirannya sedang berkecamuk di saat itu ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.
"Selamat malam nona Yasika Gamila Putri."
Yasika sedikit melongo saat orang itu menyebutkan namanya dengan lengkap, padahal setahu Yasika tidak ada orang yang mengetahui nama lengkap dari gadis itu kecuali keluarganya.
Yasika tersenyum.
"Mari ikut dengan saya, nona." ujar cowok berdasi kupu-kupu itu.
Yasika mengikuti langkah kaki pria itu dari belakang, ia heran saat pria itu membuka pintu utama yang terlihat tampak gelap sekali.
Gadis itu tampak terkejut dan ketakutan saat pria itu menutup pintu ruangannya. Tubuhnya bergetar hebat begitu ia mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan itu.
Yasika menutup matanya dengan erat begitu terdengar langkah kaki seseorang sedang berjalan ke arahnya.
Ya Tuhan ada apa ini?
Aku mohon selamat kan aku...
Merasa tidak ada apa-apa, lantas ia sedikit membuka matanya. Lalu ...
"Surprise ....!!!! "
* * *
Ayo dong dukung aku dengan tinggalkan like, komen serta vote-nya juga ya?
Makasih buat kalian yang sudah mampir baca..
Sehat selalu..
Aiiiilopeeeyuuu..... semua ❤
__ADS_1