
"Sebenarnya, kamu mau ngajak aku kemana sih Kak?"
"Ke mobil."
"Kenapa gak bicara disini aja?"
"Gak enak. Kita bicaranya di dalam mobil saja."
Gadis itu mencebik, tidak suka dengan sikap Kai yang seenaknya saja. Yasika malu saat ia menjadi tatapan semua orang yang berada di sekitaran kampusnya. Sepanjang perjalanan dari dalam gedung kampus menuju ke parkiran, Yasika menunduk dan bersembunyi di balik punggung cowok itu. Yasika takut jika ada orang yang mengenalinya. Apalagi jika sampai Davin yang melihatnya.
Bisa mati berdiri kalau sampai itu terjadi!
Tepat di depan mobil, Kai buru-buru membuka pintu mobilnya. Lalu, mempersilahkan Yasika untuk masuk ke dalam mobil itu.
"Masuk?" Perintah Kai tanpa mengalihkan pandangan matanya itu.
Dengan raut wajahnya yang kesal, Yasika pun masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Kai yang juga ikut masuk ke dalam mobil itu.
Setelah berada di dalam mobil, baik Kai ataupun Yasika sama-sama terdiam. Yasika masih memasang wajah kesalnya, sementara Kai, cowok itu tetap bersikap seperti biasanya. Ia terlihat lebih santai dan juga tenang, berbeda dengan Yasika, gadis itu kini terlihat sedikit gelisah saat ia dan Kai hanya berdua berada di dalam mobil itu. Dam-diam Kai tersenyum dan merasa gemas ketika melihat gadisnya sedang cemberut seperti itu.
"Kok diem?"
"Bukannya kak Kai ingin bicara sama aku?" Yasika masih menatap ke samping tanpa mau melihat ke arah laki-laki itu.
"Kamu marah?" Cowok itu sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.
"Enggak." jawabnya ketus.
"Kalo gak marah, kenapa mukanya cemberut kayak gitu?" Kai tersenyum tipis. "Ya udah, aku minta maaf."
Dengan gerakan cepat Yasika menoleh, lalu, menatap Kai dengan tatapan menyalang.
"Sebenarnya, kakak mau bicara apa sama aku?"
"Bicara tentang syarat yang aku berikan kemarin."
Yasika terdiam sembari menatap wajah lelaki itu.
"Bagaimana? apa kamu sudah memikirkannya?" Tanya Kai kembali dengan sebelah alisnya yang terangkat tinggi.
"A - aku." Gadis itu terlihat sedikit gelisah. "Kenapa kakak mengajukan syarat itu? apa gak ada syarat lain, selain itu?"
"Enggak."
__ADS_1
Yasika mendesah. "Aku gak mau."
"Ya udah kalo kamu gak mau." Kai tersenyum tipis. "Aku gak bakalan maksa." Kai diam seraya mencondongkan sedikit wajahnya ke arah gadis itu. "Kalo gitu, aku gak akan memaafkan kesalahan kakak kamu, dan .. Aku akan meminta Anne untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahannya di depan hukum."
Saat mendengar apa yang baru saja Kai katakan padanya, Yasika menelan salivanya dengan sangat susah.
"Kak ..!!"
Kai menoleh ke samping untuk tersenyum, lalu, ia kembali menatap gadis itu yang masih memasang tampang terkejut. Di saat seperti itu, entah kenapa wajah Yasika semakin terlihat menggemaskan di matanya.
Astaga gadis itu?
"Kalo gitu, besok aku akan kembali membuka kasusnya." Matanya masih fokus menatap pemilik mata bening itu.
"Kak.?" Yasika menggeleng. "Kenapa kamu lakukan itu? gak bisa Kak, kamu gak boleh lakukan itu?"
Kai mengedik.
"Aku mohon kak." Pinta gadis itu dengan tatapan menyendu.
Mata Itu? Ya Tuhan .. Kai buru-buru mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah sebelum hatinya melemah. Sebenarnya, Kai sudah memaafkan semua kesalahannya Anne. Kai juga sudah menutup kasus kecelakaan yang menimpa adiknya itu.
Kemarin, saat ia berada di rumahnya, Papa Andi dan Mama Wina meminta Kai untuk memaafkan Anne dan juga menutup kasus kecelakaan yang menimpa adiknya itu. Kedua orang tuanya yang telah menyadarkan dirinya, mereka meminta agar Kai tidak lagi menyimpan dendam. Mama Wina meminta Kai untuk mengikhlaskan kepergian adiknya itu, karena menurut mama Wina, semua itu sudah menjadi takdir yang telah Tuhan tuliskan untuk Amelia.
Sekarang, ia akan memperjuangkan cintanya kembali. Ia akan merebut hati Yasika, dan merebut gadis itu dari kekasihnya. Kai tahu, tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan kembali hati gadis itu, tetapi Kai akan tetap berusaha, dan tidak akan tinggal diam, meskipun harus dengan cara seperti ini sekalipun. Kai tahu, jika Yasika masih mencintainya. Hanya saja, gadis itu masih memikirkan kakaknya dan juga Davin, laki-laki yang masih berstatus sebagai kekasihnya saat ini.
"Semua tergantung padamu, Yasika." Tanpa sedikit pun rasa kasihan, Kai masih bersikukuh. Iya, hanya ini jalan satu-satunya agar Yasika menjadi miliknya kembali.
Lagi, kepala itu menggeleng samar. "Gak Kak, gak mungkin."
"Kenapa?"
"Aku gak bisa." Ia menunduk. "Aku gak mungkin nikah sama kamu, apa yang akan terjadi jika sampai kak Anne dan Davin tahu, aku gak mau menyakiti mereka."
"Terus kamu mau menyakiti diri kamu sendiri?"
Seketika gadis itu mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan mereka.
"Jangan bohongi hati kamu, jangan bohongin perasaan kamu sendiri, Yas."
"Maksud kakak?"
Kai menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. "Aku tahu, kalo hati kamu masih untuk aku." Kai mengangkat tangannya untuk membelai sisi wajah gadis itu. Sekarang, jarak mereka begitu dekat. Yasika hanya bisa memejamkan matanya saat lelaki itu membelai pipinya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Kak." Lirih Yasika.
"Kamu masih mencintai aku bukan?"
Kepala itu kembali menggeleng.
"Jangan bohong, aku tahu hati kamu masih buat aku. Bukan buat orang lain."
Jujur, Yasika mengakui kalau ia masih sangat mencintai laki-laki yang sekarang sedang bersama dengan dirinya. Sekuat apapun ia berusaha untuk melupakan Kai, tapi tetap saja, Yasika tidak mampu menggantikan nama Kaisar dengan laki-laki lain. Meskipun kini ia tengah menjalin kasih dengan lelaki baik seperti Davin sekaligus.
Iya, ia telah jatuh, hatinya benar-benar sudah jatuh pada seorang lelaki yang bernama Kaisar Pratama, pengacara muda dengan pesonanya yang luar biasa.
"Aku gak bisa sama kamu." Masih dengan matanya yang terpejam. "Bagaimana dengan mereka?"
"Kita berdua akan bicara pada mereka." Kai semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Kita akan menyakiti mereka, Kak." Yasika memegang tangan Kai yang masih berada di pipinya itu. "Bagaimana dengan kak Anne, dia mencintai kamu, Kak?"
"Jangan khawatir, aku akan bicara sama dia. Aku akan bicara kalau gadis yang selama ini aku cintai itu kamu, bukan dia."
"Enggak Kak." Yasika membuka matanya, lalu, yang terjadi pada mereka berdua sekarang adalah saling menatap.
Kai menatap gadis itu dengan penuh rasa cinta.
"Akan aku katakan pada semua, kalo aku mencintaimu, aku ingin melamar dan menikah dengan mu."
Kai mengecup tangan halus itu dengan sangat lembut. Lalu, kedua bola matanya itu menatap dalam wajah cantik sang gadis.
"Aku mohon, putuskan dia, dan menikah lah dengan ku.!"
* * *
Tulis komentar nya dong disini?
Setelah membaca, jangan lupa bagi like, komen dan vote juga ya?
Makasih buat semua yang selalu nunggu cerita ini.
Sehat selalu ya?
Salam sayang untuk kalian semua.. ❤
__ADS_1