Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Terlambat


__ADS_3

Happy Reading...





Hari ini kepala Yasika benar-benar terasa pusing. Sejak semalam ia tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun, bahkan di saat menjelang subuh pun gadis itu belum juga bisa memejamkan matanya walau hanya sebentar.


Wajahnya terlihat sangat pucat, bahkan ada gurat lelah yang terpancar di raut wajah cantiknya itu. Yasika ingin sendiri. Untuk itu, hari ini ia memutuskan untuk memenangkan hatinya dengan pergi ke sebuah tempat yang teramat sepi. Iya, disini sekarang Yasika berada, di tempat dimana sahabatnya itu sudah beristirahat dengan tenang.


"Hai ... Mel?" Ia taruh buket bunga itu di atas tanah yang masih bertumpuk dengan bunga yang masih terlihat segar. Bagaimana tidak, setiap seminggu sekali tante Wina dan papa Andi selalu menyempatkan dirinya untuk datang ke tempat anak gadisnya itu beristirahat untuk selamanya. Gadis itu mengusap lembut pusaran nama yang bertuliskan nama sang sabahat. Yasika berdoa, tanpa sengaja air bening itu menetes melewati pipinya yang mulus. Bagi Yasika, Amel itu masih ada. Sampai kapanpun Amelia akan terus berada di hatinya. Meski raga tidak lagi bersama, tetapi hati masih tetap menyatu.


Sudah cukup lama Yasika berada disana, mencurahkan semua isi hatinya. Menceritakan tentang semua yang terjadi padanya. Tidak lupa, gadis itu juga menceritakan tentang Kai, kakak laki-lakinya itu. Yasika tersenyum, kadang-kadang ia juga menangis. Yasika tahu, tempat satu-satunya sekarang adalah disini. Di sisi sang sahabat walaupun dia sudah tidak ada.


"Aku kangen kamu, Mel." Gadis itu menyeka sudut matanya yang kembali berair menggunakan tisu. "Aku ingin kita bersama lagi." Yasika tersenyum. "Kamu tau gak Mel?" Yasika mengeluarkan kalung pemberian Kai sebagai hadiah ulang tahunnya waktu itu. "Kalung ini tadinya buat kamu, kalung ini bagus. Apalagi kalo kamu yang pakai, pasti akan tambah cantik." ujarnya kembali dengan tersenyum.


"Sejak kamu gak ada, kakak kamu itu berubah, Mel." Dimasukkannya kembali kalung ke itu ke dalam baju. "Dia bukan lagi kak Kai yang baik, yang ramah apalagi senyum." Bibirnya mencebik. "Dia berubah, Mel. Dia berubah jadi orang yang nyebelin." gerutunya kembali.


Yasika menarik nafas pelan. "Kalo dia bukan kakak kamu, mana mau aku punya kakak ipar yang nyebelin kayak dia."


Kenapa aku jadi ngomong tentang dia?


Ah ... Kenapa juga aku ingat dia?


"Jangan ngadu yang enggak-enggak."


Sebuah suara dari balik punggung Yasika membuat dirinya seketika menoleh ke arah sumber suara itu. Di detik selanjutnya, Yasika merasa kalau jantungnya sudah terjun bebas, bersama dengan sebelah tangannya membekap bibir. Di sana, tepatnya di balik punggungnya. Seseorang tengah berdiri sambil menatap ke arahnya. Walaupun orang itu memakai masker, topi dan kaca mata hitam, Yasika masih bisa mengenali sosok laki-laki bertubuh jangkung itu.



"Kak, Kai?"


Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Yasika saat ini. Gadis itu hanya sibuk meremat tali tasnya dan sesekali menghela nafas untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Ngapain kamu ada disini?"


Kai akhirnya bersuara setelah lama hanya berdiam diri.


"A-aku." Yasika membasahi bibirnya. "Aku cuma lagi kangen aja sama Amel."


"Terus sibuk ngomongin aku?"


"Eng - enggak." Bantah Yasika dengan mengibaskan tangannya. "Aku gak ngomongin kamu kok." Ia lirik cowok itu takut-takut.


Kai berjalan melewati gadis itu yang masih diam mematung. Ia mendekat, lalu berjongkok dan meletakan buket bunga itu seraya berdoa.

__ADS_1


Yasika yang melihat pun hanya mampu menatap tanpa bersuara sedikitpun. Setelah lama memperhatikan cowok itu, akhirnya ia memutuskan untuk pergi terlebih dahulu dari sana.


"Kak ..." Yasika ikut berjongkok di samping cowok itu. "Aku pulang duluan ya?"


Kai menoleh tanpa bicara sedikitpun.


Yasika tersenyum dan kembali bersuara. "Mel, aku pulang ya? kapan-kapan aku akan datang lagi kesini." Setelah berujar Yasika berdiri, lalu beranjak dari sana meninggalkan Kai yang masih berdiam diri.


"Tunggu, Yas."


Suara itu berhasil membuat Yasika berhenti dan menoleh seketika.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya cowok itu saat sudah berada di hadapannya.


Yasika memberi jawaban dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Yasika hanya bisa menurut saat lelaki itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. Tidak ada kalimat yang bisa Yasika katakan, gadis itu hanya sibuk dengan jari-jari tangannya yang saling bertaut.


Kai melirik. "Apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Tanya apa?" gadis itu tidak merubah pandangannya dari jari-jari tangannya yang saling meremas.


Kai menghela nafas untuk mengurangi rasa gugup saat kembali berdekatan dengan gadis ini. "Apa kamu mencintai laki-laki itu?"


"Apa maksud kamu, Kak?" Yasika memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Yasika mendesis. "Kak ... aku rasa gak perlu untuk ngebahas ini sama kamu, kan?"


"Aku tahu kamu terpaksa nerima dia kan?" cecar Kai yang membuat mata Yasika mulai berkaca-kaca. "Jawab aku, Yas.! kamu gak cinta sama dia kan?"


"Darimana kamu tahu kalo aku gak cinta sama dia kak?" Yasika menarik nafas dalam. "Kamu salah.!" ia tatap wajah cowok dengan mata yang mulai berair. "Aku cinta sama Davin... " ujar gadis itu dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. "Dan perlu kamu tahu kak, kalo aku sama sekali gak terpaksa menerima cinta nya Davin. Kamu tahu kenapa? karena aku mencintai dia."


Kai tertawa sarkas, lalu mendesis menatap Yasika yang sedang menyeka sudut matanya yang berair itu. "Kamu yakin, kalo hati kamu itu buat dia?"


Yasika bungkam, bahkan untuk menjawab pertanyaan itu rasanya begitu sulit keluar dari bibirnya yang bergetar. Entah mengapa dengan hatinya yang tiba-tiba merasa bersalah.


Bersalah kalau selama ini ia belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk cowok itu.


"Yas." Yasika tersentak saat Kai menggenggam tangannya. "Aku tahu aku salah, aku minta maaf karena telah menyakiti hati kamu."


"Terlambat, semuanya sudah terlambat, Kak." Yasika menggeleng seraya melepaskan genggaman tangan cowok itu. "Aku minta sama kamu kak, jangan sakiti hatinya kak Anne. Dia itu cinta sama kamu."


"Tapi aku mencintai kamu, Yas."


"Apa?" Yasika terkejut bersama dengan kepalanya yang menggeleng tidak percaya. "Enggak ... enggak mungkin kamu cinta sama aku, kamu bilang kalo kamu menganggap aku hanya sebagai seorang adik kan, Kak?"


Kai menutup matanya erat sebelum ia kembali berujar. "Terpaksa aku mengatakan itu semua."

__ADS_1


"Terpaksa kamu bilang?"


Kai mengangguk. "Iya."


Yasika berdecih menatap Kai dengan tatapan meremehkan. "Sebenarnya kamu itu cowok pengecut yang pernah aku kenal. Aku benci kamu kak, aku benci kamu. Aku menyesal karena aku pernah mencintai kamu. " Teriak gadis itu, lalu keluar dari dalam mobilnya seraya menahan tangis.


Sementara Kai, cowok itu masih terdiam di dalam mobil. Masih terlalu takut dengan perasaannya sendiri. Kenapa rasanya sangat sakit ketika gadis itu berteriak membenci dirinya. Apakah ini karma untuknya? untuk semua yang telah ia lakukan kepada kedua gadis itu. Di saat ia mengungkapkan perasaan cintanya, di saat itu juga Yasika membencinya.


Kai tidak boleh egois, ia akan segera menyelesaikan semua masalah nya dengan Anne dan juga Yasika secepatnya. Segera tersadar, Kai buru-buru keluar dari dalam mobil dan mengejar Yasika secepatnya sebelum gadis itu masuk ke dalam mobilnya sendiri.


"Yas."


Yasika terkejut bersama dengan tubuhnya yang berbalik karena sentakan di tangannya.


"Maafkan aku ... maaf udah bikin kamu seperti ini" Kai menangkup kedua sisi wajah gadis itu. "Aku tidak akan menyakiti hati kamu lagi. Selama kamu bahagia, aku tidak akan menggangu kamu dan cowok itu." Kai menarik nafas pelan. "Tapi kamu harus tahu satu hal, kalau aku mencintai kamu."


Dada Yasika bergetar saat mendengar kalimat itu. Andai saja kalimat itu keluar dari dulu sebelum kakaknya mencintai cowok itu, mungkin, Yasika akan menjadi gadis yang sangat beruntung karena Kai juga mencintainya.


Kenapa harus sekarang ia mendengar kata cinta itu?


Kenapa harus di saat seperti ini, di saat hatinya sudah di miliki oleh orang lain.


Yasika tidak ingin menyakiti hati kakaknya, apalagi melukai hati Davin yang benar-benar tulus mencintainya.


"Sesuai dengan keinginan kamu, aku akan berusaha untuk mencintai kakak kamu." Kai menunduk. "Meskipun, masih ada sesuatu yang belum kamu ketahui. Dan aku yakin, jika kamu mengetahuinya, kamu akan sama seperti aku." ia jeda kalimatnya. Lalu tersenyum.


"Sama-sama kecewa."


Kecewa? apa maksudnya?


Bersambung...


• • •


Aku kasih extra loh di episode ini... wkwkwk... Maafkan otak aku yang rada eror dari kemarin? kalo ada kekurangan, kesalahan dan cerita yang kurang nyambung harap maklum ya?


Aku cuma manusia biasa dan penulis amatiran.. 🙏🏻


Semoga kalian suka sama ceritanya..


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya?


Di tunggu bab selanjutnya...


Sehat-sehat kalian semua...


Salam sayang dari aku.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2