
"Jangan menangis lagi, kamu baik-baik saja."
Kaisar berujar seraya membalas pelukan gadis itu, membelai lembut rambutnya yang hitam bergelombang. Entah ada apa dengan dirinya, hatinya berdesir ketika ia melihat pemilik mata bulat itu kembali meneteskan air matanya.
"Ekhemm ... Kok gue jadi di anggurin kayak gini?" celetuk Bayu dengan nada sedikit meledek.
Kaisar dan Yasika tersadar, mereka segera mengurai pelukannya.
"Bay ... " ucap Kaisar gugup.
"Kenapa? baru nyadar ada gue disini?" sindiran itu kembali ia lontarkan.
Kaisar berdecak malas. "Apaan sih lo."
Bayu hanya terkekeh geli, berjalan gontai mendekat ke arah dimana kedua pasangan itu sedang merasa canggung.
"Cantik sekali." ujar Bayu seraya terus menatap wajah Yasika dengan lamat.
"Kamu siapa?" tanyanya kembali.
Yasika mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap laki-laki itu
"A __ Ak." sebelum ia melanjutkan kata-katanya Kaisar terlebih dulu memotongnya.
"Bay ... Lo bisa kan bawa adik gue pergi dari sini, dan sekalian anterin dia pulang."
Bayu menautkan kedua alisnya, menatap heran wajah sahabatnya itu.
"Bilang sama dia, kalau gue anterin dulu Yasika balik."
"Oke." jawab Bayu singkat.
"O ... iya, anterin sampe rumah ya?"
Bayu berdecak sebal. "Gak percaya banget sama gue." gerutunya seraya berjalan gontai meninggalkan Kaisar yang masih berada disana.
Kaisar hanya tersenyum, tanpa berniat menjawab ocehan temannya itu.
"Ayo.?"
Yasika kembali mengangkat wajahnya, menatap dalam wajah laki-laki itu.
"Makasih Kak ... "
Kaisar mengernyit. "Untuk?"
"Kakak __ " menghela nafas. "Kak Kai udah nolongin aku."
Kaisar tersenyum lebar, merasa gemas melihat raut wajah Yasika saat ini.
"Jangan di pikirkan."
Yasika membisu, masih setia menatap wajah laki-laki itu.
"Ayo kita pergi, aku akan mengantarkan-mu pulang."
Yasika mengangguk dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Berada di dalam mobil, mereka berdua hanya terdiam. Tidak ada suara yang keluar sedikitpun dari bibir keduanya, Kaisar fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Yasika ia hanya terdiam sambil memandang jalanan di luar jendela.
Yasika bingung, saat tiba-tiba saja mobil yang di kendarai Kai masuk ke dalam basement gedung apartemen. Bola matanya sedikit melirik ke arah dimana laki-laki itu masih memainkan setir mobilnya.
"Maaf aku bawa kamu kesini dulu ya?" ujar Kaisar, seolah mengerti dengan tatapan Yasika. "Ini apartemen aku."
Yasika diam, dan hanya mengangguk pelan.
"Aku akan antar kamu pulang setelah aku ganti baju."
Lagi, Yasika hanya bisa mengangguk.
"Aku juga lapar, mau makan dulu."
Kaisar melirik sekilas ke arah gadis yang sedari tadi hanya terdiam membisu. Kai sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.
"Kamu mau makan apa? biar sekalian aku pesan.?"
"Hah ... Apa?" jawabnya gugup.
Kai terkekeh. "Kamu kok beda banget sama Amel ya?"
Yasika tersenyum, wajahnya langsung menunduk karena malu.
"Amel itu orangnya gak bisa diem, dia cerewet gak kayak kamu." Kaisar berujar seraya memarkirkan mobilnya. "Amel juga sering cerita tentang kamu." Ujarnya kembali. "Katanya, Amel paling deket sama kamu ya?"
Yasika tersenyum. "Ya."
"Amel bilang kamu itu orangnya baik, dan juga pintar."
"Amel juga baik kok kak."
Pintu lift terbuka, dengan segera menekan pasword pintu kamarnya.
"Ayo masuk."
Kai berjalan masuk ke dalam apartemennya di ikuti oleh Yasika dari belakang.
Yasika berdecak kagum begitu dirinya masuk ke dalam apartemen Kai yang terbilang cukup mewah itu. Matanya menatap takjub menjelajahi setiap sudut ruangan.
"Kamu duduk dulu disitu? aku ke atas dulu mau ganti baju."
"Ya Kak... " jawabnya lembut.
Kaisar naik ke atas meninggalkan Yasika yang sedang duduk sendirian di atas sofa. Mata Yasika masih menatap setiap sudut ruangan itu, ada banyak pajangan mahal dan juga beberapa foto keluarga di atas meja dan terpasang di setiap dinding.
"Kamu mau makan apa Yas.?" tanya Kai yang baru saja menuruni anak tangga terakhir.
"Gak usah kak, nanti aku makan di rumah saja."
"Gak papa, sekalian aku pesen."
"Tapi Kak __ "
"Kamu bisa masak?"
Yasika menoleh menatap Kai yang baru saja duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Sedikit."
"Gimana kalau kamu masak ja.?"
"Hah ... Apa kak?"
"Aku punya bahan makanan, dan kalau kamu mau, kamu boleh masak."
Yasika tersenyum dengan begitu manisnya, membuat Kai terpaku di buatnya.
"Kakak mau makan apa?"
Kai tidak menjawab, matanya masih terpana menatap wajah cantik gadis itu.
"Kak..?"
Kaisar tersadar saat suara yang terdengar begitu lembut itu masuk ke indera pendengarannya.
"Ya ... Apa?"
"Kakak mau makan apa?" tanya Yasika kembali.
"Apa aja, pasti aku makan kok."
Yasika kembali tersenyum. "Ya udah, kalau gitu aku bikin nasi goreng ja ya?"
"Boleh." jawab Kai gugup.
Tanpa menunggu lama, Yasika segera pergi ke dapur. Mencari bahan makanan dan dengan telatennya ia memasak. Yasika memang suka memasak, tetapi ia belum sepandai sang mama yang jago dalam urusan dapur.
Sementara dari kejauhan, sesekali bola mata hitam itu melirik ke arah dimana Yasika sedang sibuk memasak. Kai kembali terpaku saat tanpa sengaja ia melihat gadis itu sedang menggulung rambutnya asal. Menelan saliva-nya susah, matanya terus menatap dalam wajah gadis itu, dan kini pandangan matanya jatuh pada leher jenjang yang putih mulus seperti susu.
Kaisar menutup matanya erat, mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar tidak seperti biasanya. Hatinya berdesir, aliran darahnya semakin terasa panas. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya kasar, mengusap wajahnya gusar dan mengguyar rambutnya ke belakang.
Kai berdiri, dan berjalan menuju ke arah dimana gadis itu sedang menata masakannya.
"Kak ... " Yasika begitu terkejut saat ia mendapati sosok lelaki itu sudah berdiri di belakang punggungnya.
"Nasi gorengnya udah jadi." ucapnya sedikit gugup.
Kai tidak menjawab, ia hanya terdiam memandang wajah cantik yang sedikit berpeluh.
Kini keduanya saling beradu tatapan, saling menatap dalam diam. Yasika merasa risih dan gugup saat Kai menatapnya seperti itu, wajahnya berubah memerah seperti kepiting rebus.
"Kak ... " suara itu terdengar begitu seksi.
Yasika menggigit bibir bawahnya, menatap gugup mata lelaki itu.
"In ___ "
Lantas dengan gerakan cepat, Kai menarik tengkuk Yasika, menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu.
Yasika begitu terkejut, matanya mengerjap bingung saat tiba-tiba saja Kai menciumnya. Dan yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali adalah bahwa ini adalah ciuman pertama untuknya.
Dan ... Yang mencuri ciuman pertamanya itu adalah seseorang yang tidak mempunyai hubungan apapun dengannya.
Sang pengacara muda, tampan, mapan dan kakak dari sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan KAISAR PRATAMA.
* * *