
"Hai ... "
Suara lembut itu terdengar dari balik punggungnya. Anne menoleh, seketika wajahnya melengos masam.
"Jutek banget sih anak gadis?"
"Jangan basa-basi, mau apa lo?"
Lelaki itu tergelak kencang, membuat Anne semakin kesal melihatnya.
"Ini ... "
Laki-laki itu menyodorkan sebuah kartu undangan kehadapan Anne. "Jangan lupa datang ya cantik? gue tunggu kehadiran lo." Candra berujar seraya mengedipkan sebelah matanya genit.
"Gak janji gue." jawab Anne ketus.
"Gue gak mau tahu, pokoknya lo harus datang."
Setelah mengatakan dan meletakkan kartu undangan tersebut, Candra pergi meninggalkan Anne yang masih menatapnya bingung. Candra adalah mantan kekasih Anne sejak satu tahun yang lalu, dan kini laki-laki itu menjadi kekasih dari musuhnya sendiri yaitu Nadine.
Ada perasaan tidak enak di hatinya, saat ia melihat kepergian Candra yang begitu saja. Anne melihat ada sesuatu yang di sembunyikan oleh laki-laki itu, entah apa itu? yang jelas Anne merasa ada sesuatu yang sedang Candra rencanakan.
"Gimana? udah?" tanya wanita itu sumringah.
Candra tersenyum lebar. "Udah kok."
"Apa dia mau datang?"
"Gak tahu, tapi kayaknya dia bakalan datang ke pesta kita."
"Bagus, aku harap dia datang. Dengan begitu, rencana aku untuk menjatuhkan dia akan berhasil."
Candra mengernyit, menatap wajah Nadine dengan dahi mengkerut dalam. "Memang apa yang akan kamu lakukan pada Anne?" Tanya Candra penuh selidik.
Nadine gelalapan, merasa gugup saat Candra bertanya seperti itu. Candra memang tidak mengetahui rencana apa yang akan Nadine kekasihnya itu lakukan, yang ia tahu hanyalah bahwa Nadine hanya meminta bantuan cowok itu untuk mengundang Anne secara pribadi.
"Eu ... Anu, itu apa?" Ia gugup, lalu, bibirnya tersenyum lebar, meyakinkan Candra agar cowok itu tidak merasa curiga. "Gak apa-apa kok, aku hanya ingin memastikan dia supaya tidak mengganggu kamu lagi, kamu kan pacar aku sekarang, aku hanya ingin membuktikan bahwa sekarang kamu hanya milik aku, kamu kekasih aku." Nandine berujar dengan nada yang di buat-buat manja.
"Aku harap kamu jangan melakukan hal yang akan mencelakakan Anne nantinya."
Nadine melongok, dengan rahang yang terbuka lebar. Ia benci dengan semua ini, meski kini Candra telah menjadi kekasihnya, tapi laki-laki itu masih perhatian pada wanita sialan itu. Ya, dulu dengan susah payah Nadine merebut Candra dari Anne, segala cara telah ia lakukan, bahkan sampai tega memfitnah Anne yang tidak melakukan kesalahan apa-apa. Nadine membenci Anne, sampai kapanpun ia akan membuat Anne menderita.
Aku benci dia ...
Lihat saja, aku akan membuat kamu semakin membenci wanita itu...
* * *
"Kak ... "
"Hmm ..."
"Nanti Mama nyuruh aku untuk ke rumah tante Widya dulu."
"Mau ngapain?"
"Mau ambil pesenan Mama."
"Ya udah, nanti kamu telepon kakak aja, biar kakak jemput kamu."
"Hmm... "
Amelia diam dengan wajah sedikit di tekuk, entah kenapa rasanya ada yang berbeda dengan perasaannya kali ini. Amel merasa sepanjang malam ia gelisah, bahkan semalam Amel tidak bisa memejamkan matanya. Amel takut, jika sesuatu akan terjadi pada keluarganya.
__ADS_1
Merasa Amel hanya diam, lantas, Kai segera menghampiri adik perempuannya itu dan menatapnya dalam.
"Kamu kenapa, hah?"
"Gak apa-apa."
"Kenapa wajahnya di tekuk seperti itu."
Perubahan raut wajah Amelia semakin terlihat, membuat Kaisar penasaran.
"Kamu sakit?" Ujar Kai seraya menyentuh dahi adiknya itu.
"Enggak."
"Terus?"
"Kak, aku cuma gak enak ja?"
"Gak enak kenapa?"
"Entahlah." Amel tersenyum lebar, tidak ingin membuat kakak laki-laki nya itu cemas.
"Apa kamu yakin gak apa-apa?" Tanya Kai kembali karena ia merasa heran dengan adiknya itu, Kai merasa, bahwa adiknya itu sedang tidak baik-baik saja.
Amelia menggeleng samar. "Iya, Kak, aku gak papa kok."
"Kak ..., boleh aku tanya sesuatu sama kamu?"
"Tanya apa? kok serius banget?"
"Iya, ini tentang kakak dan Yasika."
Seketika Kaisar menoleh dengan wajah terkejut.
"Kakak menyukai Yasika gak?" Tanya Amel kembali.
"Aku suka kalau kak Kai sama Yasika. Dia itu gadis baik Kak, aku yakin kalau kakak akan bahagia sama dia."
"Mel ... "
"Jangan sakiti dia ya Kak." Amelia berujar dengan pandangan mata menerawang jauh. "Aku juga tahu, kalau sebenarnya, Yasika juga menyukai kak Kai." jelas Amel kembali.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Aku mau dia bahagia Kak, aku akan marah jika nanti kak Kai membuat dia menangis."
"Kakak gak tahu Mel. Kakak masih bingung dengan perasaan kakak sendiri."
"Kak, jaga dia untuk aku. Aku suka Yasika, dia sahabat aku yang paling baik. Jika suatu saat aku gak ada, aku mau Yasika yang ada di rumah ini."
"Kamu ngomong apa sih Mel?" Bentak Kai yang merasa aneh dengan ucapan adiknya itu. "Aku gak suka kamu bicara seperti itu, memangnya kamu mau pergi kemana?"
Amelia terkekeh geli. "Siapa tahu setelah lulus nanti aku kerjanya di luar negeri."
"Gak akan, aku gak akan izinkan kamu."
"Kenapa?"
"Pokoknya kamu gak boleh pergi kemana-mana."
"Kalau aku tetep pergi gimana?"
Kai merasa emosinya mulai terpancing. Ia menunduk dengan tangan bertolak di pinggang.
__ADS_1
"Nanti telepon aku, jika kamu pulang dari rumah tante Widya."
Kaisar pergi begitu saja meninggalkan Amelia yang masih berdiri di kamar nya itu dengan tatapan sendu.
Kenapa rasanya aku akan pergi jauh...
Aku sayang kamu Kak ...
* * *
Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Kai tidak bisa fokus saat mengendarai mobilnya. Perasaannya tidak karuan, ia merasa cemas dan juga khawatir. Kenapa ia takut, ia benci dengan perkataan Amel yang akan pergi meninggalkan nya.
"Ngapain lo? kok wajahnya kusut kayak gitu?"
Suara melengking milik Bayu terdengar begitu nyaring di ruang kerjanya Kaisar. "Kenapa? lo gak dapat jatah cium ya?" Ujar Bayu meledek dengan mengangkat kedua alisnya secara bergantian.
Kai yang mendengar langsung menatapnya dengan tatapan tajam. "Diem lo..!"
Bayu tergelak, seraya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan rekan kerjanya itu. Bayu mencondongkan wajahnya, menatap Kai dari dekat.
"Hebat juga ya saat lo cium gadis itu." Ia jeda kalimatnya. "Untung gue yang lihat, coba kalo orang lain? bisa-bisa lo jadi trending topik di seluruh dunia, karena video ciuman lo menyebar."
Astaga! Kai benar-benar ingin sekali menonjok mulut si rese itu. "Sialan ...!"
Bayu kembali tergelak kencang sampai warna pipinya berubah memerah.
"Kapan lo jadian ma gadis itu? setau gue, dia itu temen adik lo kan Kai?"
"Hmm.. "
"Lo pacaran sama dia?"
"Gak.."
Bayu tercengang dengan rahang terbuka lebar. "Apa lo bilang?"
"Gue bilang gue gak pacaran sama dia."
"Terus ngapain lo cium dia? huh?"
"Gak tahu, cuma kebawa suasana aja."
"Ah ... Gila lo Kai, mana ada sih cewek yang mau di cium begitu aja? jangan bilang kalo mau mainin perasaannya aja?"
"Gak gitu juga, sialan...!!"
"Terus kalo lo gak pacaran sama dia, buat gue aja gimana?"
"Rese lo ya? awas aja kalo sampe lo deketin dia?" Ancam Kai pada sahabatnya itu.
"Kenapa?"
"Karena dia hanya milik gue..!!"
* * *
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya juga ya? jadikan cerita ini sebagai ceritanya favorit kalian...
Mohon maaf kalau up nya rada telat, soalnya aku lagi sakit..
O iya, aku mau bilang baca juga ceritanya aku yang lain berjudul "Putih Abu"
__ADS_1
selamat membaca semua...
Salam sayang dari aku... ❤