Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Will you marry me?


__ADS_3

"Kepastian kalo kamu mau menjadi istri aku."


Yasika termangu beberapa detik sebelum suara serak itu kembali terdengar.


"Aku nunggu itu, Yas." ia jeda kalimatnya, menatap Yasika dengan sorot mata penuh harap. "Apa kamu bersedia menjadi istri aku?" tanya cowok itu kembali seraya berjalan mendekat ke arah dimana saat ini Yasika masih terdiam.


"Ini saatnya, aku akan mengatakan kepada semua orang kalau aku ingin menikahimu, aku ingin menjadikan kamu sebagai istri aku."


"Kak .. A - aku." Entah kenapa bibirnya terasa kelu saat melihat sorot mata lelaki itu. Yasika diam seraya menurunkan pandangan matanya. Harusnya, Yasika menolak. Harusnya Yasika mengatakan kalau ia tidak ingin menikah dengan Kai. Harusnya Yasika mengatakan kalau dia tidak mencintai laki-laki itu. Tetapi .. Kenapa sekarang hatinya menolak semua itu.


"Aku mencintaimu, Yasika." Suara itu terdengar seperti sebuah bisikan. "Aku ingin menikah denganmu." Yasika menutup matanya erat saat kalimat itu kembali terlontar.


"Kak .. "


Kai menarik dagu gadis itu untuk mempertemukan pandangan mereka. Kini, yang bisa di lakukan oleh keduanya hanya lah saling menatap satu sama lain. Kai begitu lekat menatap wajah cantik gadis itu. Wajah polos yang selalu ia rindukan setiap harinya. Dan sumpah demi apapun, kalau ia ingin sekali memiliki Yasika seutuhnya.


Kai berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia akan menjadikan Yasika sebagai ratu di hatinya.


"Kak .. Aku .. " Kepala gadis itu menggeleng bersama dengan air bening yang sudah menggenang di pelupuk. Bibirnya ingin sekali mengatakan hal yang sama dengan lelaki itu. Ya, Yasika ingin mengatakan kalau ia juga sangat mencintai Kai, hanya Kai, laki-laki yang selalu mengganggu pikirannya selama ini, hanya laki-laki itu yang membuatnya tidak bisa mencintai Davin sepenuh hati, dan hanya Kai, Satu-satunya orang yang bisa membuat hatinya selalu berdebar kencang seperti ini.


Saat matanya terus menatap cowok itu, entah kenapa bayangan Anne dan juga Davin sekilas selalu terbayang di pikirannya. Bayangan itu memperlihatkan bagaimana Anne yang sedang tersenyum lebar saat ia mengatakan kalau kakaknya itu sangat mencintai Kai, dan juga Davin yang selalu memperlakukannya dengan baik.


Tidak .. Yasika tidak ingin menyakiti mereka. Apalagi di saat tadi bayangan bagaimana cara seorang Kaisar memperlakukan gadis lain begitu mesra di hadapannya.


Seketika itu juga Yasika membuang pandangannya, lalu berbalik badan hingga kini tubuhnya membelakangi cowok itu.


"Kak .. sudah berapa kali aku bilang sama kamu, tolong untuk jauhi aku."


"Kenapa?" Kai tidak tinggal diam, yang di lakukannya saat ini adalah memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


Yasika hanya diam saat cowok itu memeluknya dari belakang. Kenapa rasanya sangat sulit untuk menolak pelukan itu?


"Aku gak bisa, Kak." Ia tarik napas dalam untuk menetralkan degub jantungnya yang berdetak tidak karuan. "Aku mencintai Davin."


"Bohong.!"


"Aku gak mungkin nyakitin kakak aku sendiri, Kak.!"


"Jangan pikirkan itu, biar aku sendiri yang bicara sama Anne, Yas."


"Kak .. " Kai semakin erat memeluknya, melabuhkan wajahnya di perpotongan leher gadis itu. "Aku mohon berhenti."


"Asalkan kamu bilang, kalo kamu juga mencintai aku." Kai mengecup leher itu sekilas. "Aku yakin, aku bisa menyelesaikan itu semua."

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu keras kepala, Kak?"


"Karena aku ingin memilikimu seutuhnya, aku mencintaimu, Yas."


Yasika menutup matanya erat saat hembusan nafas cowok itu terasa hangat menerpa permukaan kulit lehernya.


"Seharusnya aku menolak saat kamu memelukku seperti ini, seharusnya aku tidak membiarkanmu terus bersikap seperti ini. Seharusnya aku bisa melupakan kamu. Tapi .. kenapa aku gak bisa melakukan itu semua, Kak.?" Akhirnya, cairan bening itu menetes ke luar membasahi pipi mulusnya.


"Karena kamu mencintai aku."


"Aku benci kamu .. karena kamu aku akan melukai kakak aku sendiri, karena kamu aku tidak bisa mencintai Davin sampai saat ini, dan karena kamu juga aku akan menjadi satu-satunya wanita paling jahat karena telah mencintai kamu dan menyakiti mereka berdua."


Kai tersenyum saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir Yasika secara langsung. Ternyata .. harapannya selama ini untuk bisa memiliki Yasika seutuhnya tidak sia-sia. Gadis itu mencintainya. Dan Kai, lelaki itu akan menjadi satu-satunya pria yang paling beruntung karena bisa mendapatkan Yasika, gadis yang sangat cantik, baik hati dan juga pintar. Gadis yang sejak pertama kali bertemu telah membuatnya jatuh cinta, dan Yasika adalah gadis yang telah berhasil membuatnya melupakan masa lalu.


Di detik selanjutnya, Kai membalikkan tubuh gadis itu hingga kini mereka berdua saling berhadapan dan menatap satu sama lain.


Yasika menatap Kai. "Aku benci kamu, Kak.!"


"Aku tahu." Kai mengusap air bening itu dengan ibu jarinya.


Tanpa menunggu lama, Yasika menghambur memeluk tubuh lelaki itu dengan segera. Yasika menangis di pelukan cowok itu.


"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak sanggup jika melihat kamu menangis seperti ini." Kai memeluk tubuh mungil itu dengan erat.


"Aku mencintai kamu, Kak." Yasika berujar dengan isakan kecil yang terdengar.


Yasika mengurai pelukannya untuk mempertemukan pandangan mereka.


"Will you marry me?"


Yasika tersenyum seraya mengangguk pelan. "Ya, aku mau." Bibirnya bergetar. "Aku mau menjadi istri kamu, aku mau menikah denganmu, Kak."


Kai tersenyum bahagia. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Kai mencium Yasika dengan sangat lembut, menekan tengkuk Yasika agar ciuman itu semakin dalam. Yasika memejamkan mata seraya mengalungkan kedua tangan nya pada leher sang kekasih.


Saling berbalas *******, saling membelit dan saling bertukar saliva itulah yang mereka lakukan sekarang.


Satu-satunya yang membuat mereka melepaskan pangutan itu adalah karena mulai kehabisan oksigen.


"Aku sayang kamu, Yasika.!"


Dengan mata yang terpejam dan dahi saling menempel serta nafas mereka yang terengah-engah.


Kai masih terpejam, menetralkan degub jantungnya yang bergemuruh hebat.

__ADS_1


"Terima kasih, terima kasih karena kamu mau menjadi istri aku.!"


Kepala gadis itu mengangguk.


"Sekarang, kamu ganti pakaian. Setelah itu, aku akan membawamu dan mengenalkanmu pada semua orang kalo kamu adalah kekasih dan calon istri ku."


"Secepat itu?"


"Hmm .. karena aku gak mau menunggu lama lagi, kalau pun kamu mau, besok juga aku siap untuk menikah dengan mu."


Yasika terkekeh. "Gak semudah itu, masih banyak hal yang harus kita selesaikan dulu." Yasika mengusak ujung hidungnya pada hidung laki-laki itu. "Termasuk dengan perempuan yang tadi bersama kamu."


Kai mengernyit, menjauhkan sedikit wajahnya dari gadis itu.


"Siapa wanita itu?" Tanya Yasika dengan dagu yang terangkat tinggi. "Aku gak mau menikah sama laki-laki yang pecicilan kayak gitu?"


Dan .. tidak butuh waktu lama untuk Kai menarik sedikit ujung bibirnya ke atas.


"Cemburu, kah?"


Yasika mendesah. "Hh .."


Merasa gemas dengan tingkah gadisnya itu, lantas, Kai kembali menarik tengkuk gadis itu dengan cepat. Kai memangut bibirnya, memberi sentuhan lembut di setiap pangutannya. Entah sampai kapan mereka berdua akan saling berbalas ******* seperti itu. Yang jelas, kini keduanya saling menikmati satu sama lain.


Tanpa mereka berdua sadari, yang entah sejak kapan orang itu berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, gadis itu membekap mulut dengan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak, hatinya hancur berkeping-keping ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang telah di lakukan oleh kedua orang itu selama berada di dalam kamar.


Ya Tuhan .. tidak .. aku tidak sanggup menerima ini semua.


* * *





* * *


Sampai disini dulu ceritanya ya..


Next nanti kita lanjut lagi ..


Makasih buat semua yang udah mampir baca ceritanya aku..

__ADS_1


Sehat selalu..


Lopeyuu.... ❤


__ADS_2