Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Ketahuan


__ADS_3

Cut ...


Suara sang sutradara menghentikan kegiatan saat Anne baru saja menyelesaikan tugasnya.


"Good job Ann ..."


"Thank's ... " Balas Anne tersenyum lebar.


"Bagus sekali sih yey ... " Sewot sang asisten sembari menyodorkan botol minuman dingin untuk sang aktris.


"Siapa dulu dong, gue gitu loh." Dengan bangga Anne berujar.


"Kamu memang hebat Ann ... "


Anne kembali tersenyum dengan begitu lebarnya, sehingga tampak jelas deretan giginya yang putih.


"Wah ... wah ... Selamat ya Ann, kamu memang seorang aktris yang sangat hebat.?" Ujar seorang wanita cantik itu.


Tanpa mau menoleh atau menatapnya Anne membalas.


"Terima kasih ... " Balasnya singkat.


Anne tahu siapa wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini, ia sangat mengenal dengan baik gadis ini. Gadis yang ingin selalu bersaing dengannya, gadis yang rela melakukan apa saja untuk kepentingannya sendiri, dan gadis yang selalu bermuka dua.


"Kalau aku gak salah denger." Wanita itu terdiam sesaat seraya menorehkan sedikit senyuman sinis. "Kamu baru saja di tinggalkan sama cowok pengusaha itu kan?"


"Bukan urusan kamu." Jawabnya datar.


"Aku minta maaf ya?" Ujar Nadine yang sengaja ingin memancing kemarahan Anne.


Anne menoleh dengan mata menyalang.


"Untuk?"


"Karena Candra lebih memilih aku daripada kamu?" Sungutnya kembali.


Anne mengabaikanya, membiarkan gadis itu untuk terus berceloteh tanpa mau menanggapi. Anne tahu siapa Nadine, bahkan ia juga pernah terlibat pertikaian dengan wanita itu, wanita yang selalu ingin mencari masalah dengannya.


"Aku gak tau ya kenapa dia bisa ninggalin kamu?" kembali berujar seraya tersenyum sinis.


Satu


Berkurangnya kesabaran seorang Anne Putri.


Nadine tertawa sarkas. "Mungkin dia bosen kali ya?"


Dua


"Atau __ memang aku wanita yang dia cintai selama ini."


Tiga


"Dan kamu hanyalah sebagai ___ "


"Elo gak ada kerjaan ya?" Merasa kesal, Anne berujar dengan nada yang tinggi. Kesabaran yang ia tahan akhirnya mulai runtuh seiring dengan emosinya yang membelunjak.


Nadine berjengit kaget, menatap Anne dengan tatapan membunuh.


"Kenapa lo bentak gue?" Balasnya tak kalah sengit.


"Emang lo pantasnya di bentak."


"Lo pikir lo siapa?"


"Gue Anne, dan gue bukan orang lemah yang gak bisa ngadepin cewek kayak lo."


"Maksud lo, gue cewek apaan hah.?"


Anne tersenyum miring, matanya menatap jijik kepada wanita yang sekarang sedang menatapnya tajam seperti sedang mengulitinya hidup-hidup.


Mereka berdua menjadi tontonan banyak orang, bahkan sang sutradara-pun sampai menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Dasar wanita perebut pacar orang, pantas saja si Candra ninggalin lo, dia lebih milih gue ketimbang lo..!!" ujar Nadine dengan nafas yang memburu.


Anne berdecak. "Lo emang hobinya barang bekas kan?" tersenyum mengejek. "Gue gak peduli dia ninggalin gue, tapi apa lo gak malu? pacar lo itu, bekas gue semua?" Balasnya telak.


Nadine mengeram, rahangnya mengeras. Menatap tajam wanita yang sekarang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.


"Awas ja lo, gue bakal balas semua penghinaan ini." Ujarnya sinis.


"Silahkan, gue gak pernah takut." Dengan lantang Anne berucap.


"Kita lihat saja nanti." Dengan penuh penekan Nadine berujar, matanya terus menatap tajam seraya tersenyum sinis.


Sialan...!!


Lihat saja, gue bakal bikin perhitungan sama lo..


Wanita berengsek...!!


* * *


"Kak Kai ... " Teriak Amel, saat ia mendapati kakak laki-lakinya itu sedang berdiri di parkiran kampusnya. Amel tersenyum, dan menghambur memeluknya.


Kaisar menoleh dengan sedikit terkejut. Lantas, tersenyum lebar.


"Kamu ini ngagetin tau gak Mel.."


"Enggak." Jawabnya cepat.


Kaisar berdecak, gadis kecil yang dulu selalu ia ganggu ketika bermain boneka, kini ia telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, pintar, manja dan sedikit cerewet.


"Mel ... "


"Hmm ... "


"Lepas, gak malu apa di lihatin banyak orang.?"


"Biarin, paling mereka iri sama aku." Ujarnya pelan. "Tumben kamu kesini Kak? Kamu mau jemput aku ya?"


"Kak ... "


"Hmm ... "


"Kok diem, mau ngajak aku jalan?"


"Iya."


Amelia mendongak, menatap heran wajah kakaknya itu.


"Serius?"


"Kamu gak percaya sama aku.?"


Amelia mendesis. "Gak biasanya."


Kaisar terkekeh. "Kuliah kamu udah selesai kan?"


Amelia mengangguk. "Udah satu jam yang lalu."


"Ya udah kita jalan sekarang gimana?"


"Tunggu Yasika dulu ya kak, soalnya aku udah janji sama dia mau cari buku bareng."


Lagi ... Kai hanya bisa diam, hatinya berdesir ketika mendengar nama gadis itu. Entah kenapa setiap ia mengingat sang gadis, saat itu juga jantungnya selalu berdetak dengan cepat. Kai tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah gadis itu, gadis yang kemarin malam telah ia cium.


"Kak, gak papa kan kalau aku ajak dia?"


"Terserah kamu." Jawab Kai santai.


"Ya udah, tunggu sebentar ya soalnya dia lagi ngobrol dulu."


Kai mengernyit, menatap bingung sang adik.

__ADS_1


"Ya udah kita duduk disitu ya Kak.?" Ajak Amelia menunjuk salah satu bangku yang berada di samping tempat parkiran kampusnya. Mereka bercanda, sesekali tertawa bersama. Kai dan Amel menjadi pusat perhatian banyak orang. Mereka kagum melihat kedekatan yang terjadi antara adik dan kakak laki-lakinya itu.


"Itu kakak-nya Amel kan?"


"Gila, ganteng banget ya?"


"Iya, cakepnya gak ketulungan."


Amelia yang mendengar hanya tersenyum tipis, sedangkan Kai, ia malah asik dengan ponselnya sendiri.


"Mel..." Suara lembut itu mengalihkan keduanya dari ponsel yang sedang mereka pegang.


Yasika terkejut, begitu matanya melihat sosok laki-laki yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Sesaat manik mata itu bertemu, saling menatap dalam diam.


"Udah selesai.?" Tanya Amel menjadi pemutus tatapan keduanya.


"Udah, maaf ya nunggu lama." Jawab Yasika gugup.


"Yas, kita cari bukunya bareng kak Kai ya?"


"Hah? apa Mel.?"


Amel terkekeh, merasa gemas dengan sahabatnya yang satu ini.


"Kamu kenapa sih? denger nama kakak gue jadi gugup kayak gitu?"


"Aku __ aku gak papa kok." Jawab Yasika seraya menangkup ke dua pipinya.


Amel tertawa. "Jangan di pegang gitu mukanya, bikin kakak gue gemes ja."


"Mel.?" Kai menyikut lengan adiknya itu.


"Kenapa? emang bener kan kalau Yasika bikin kakak gemas?"


Kai melotot, menatap gemas adiknya itu.


"Ngaku ja kenapa sih?" ujarnya santai, seolah tidak takut dengan tatapan kakaknya itu.


"Amelia..!!"


"Kakak naksir Yasika kan?"


"Mel... "


"Ngaku ja, aku setuju kok."


"Diem gak?"


"Kak Kai jomblo kan?"


"Ya ampun Mel... " merasa gemas dengan adik perempuannya ini. Lantas...


"Aw ..." Amelia meringis saat Kai memegang tangannya kuat.


"Diem gak?"


"Iya, iya __ "


Amelia mencebik, meniup lembut tangannya yang terasa sakit.


"Aku tau kok apa yang kalian lakukan saat berada di apartemen."


Deg


Mereka berdua terkejut.


"Kalian berdua berciuman kan...?"


Dengan datarnya Amelia berucap, membuat kakak dan sahabatnya itu melongo tidak percaya.


Darimana dia tau?

__ADS_1


* * *


__ADS_2