
Suara dentuman musik yang memekakan telinga menjadikannya sulit untuk mendengar suara orang-orang yang berada disana. Yasika, Amelia, dan juga Ririn menatap seluruh sudut ruangan itu dengan mata mengerjap polos. Sorotan lampu kerlap kerlip yang minim pencahayaan itu membuat kepala mereka semua pusing.
Ini adalah kali pertama mereka menginjakan kakinya di sebuah klub malam, tempat yang menjadi kebiasaan bagi sebagian orang-orang yang ingin mendapatkan kesenangan. Kalau bukan karena permintaan dari sang teman masa kecilnya, mereka tidak akan pernah mau datang ke tempat ini. Mereka merasa gugup dan sedikit takut, karena dari pertama masuk dan menginjakan kakinya ke dalam klub itu banyak laki-laki mata keranjang yang memandang dan menatap mereka dengan penuh nafsu.
"Mel ... Kok aku jadi risih gini sih?" ujar Yasika seraya menatap ke setiap sudut ruangan klub itu.
Amelia mengangguk. "Sama Yas, apa kita balik lagi aja?"
"Ya, kok aku juga jadi takut gini ya?" saut Ririn menimpali.
Semua cemas dan merasa risih, mereka takut dengan tatapan para lelaki yang memandang mereka seperti ingin menerkam mangsanya hidup-hidup. Ini adalah pengalaman pertama untuk mereka semua, bisa masuk dan melihat secara langsung bagaimana kehidupan orang-orang pada malam hari. Banyak orang berlalu lalang, mereka melihat bahwa orang-orang yang berada disana seperti tidak mempunyai beban hidup sama sekali.
Mereka bertiga tersenyum dan merasa lega, saat ada seseorang yang sedang berjalan mendekat ingin menghampiri.
"Kalian sudah datang?"
Yasika, Amelia dan Ririn tersenyum, merasa senang karena telah bertemu dengan sang pemilik acara.
"Maaf ya kita telat." ujar Amelia.
"Gak pa-pa kok, makasih ya kalian dah mau datang.?" jawab gadis cantik itu.
Mereka mengangguk, dan Nadine sang pemilik acara itu langsung mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam ruangan VIP yang berada di klub malam itu.
"Yasika?"
Mereka bertiga menoleh, menatap seseorang yang sedang berdiri di balik punggung.
"Kalian datang juga.?" Davin berujar seraya tersenyum tipis.
Yasika tersenyum. "Ya."
Mereka semua duduk menempati kursi yang telah di persiapkan, malam semakin larut dan dentuman musik semakin terdengar keras, mereka semua menikmati acara yang telah di buat oleh sang pemilik acara.
Nadine Salma adalah teman satu angkatan yang berbeda jurusan. Nadine seorang model, dan ia sangat mengenal sosok Amelia, karena Nadine dan Amel sudah berteman sejak kecil. Nadine adalah orang yang sangat mengagumi dan menyukai sosok Davin. Bagi Nadine, kebahagiaan-nya sekarang adalah ketika Davin bersedia datang di pesta ulang tahunnya saat ini.
Di saat semua sedang menikmati, di saat itulah mata Davin tidak berhenti untuk memandangi wajah Yasika. Davin terus menatap lekat wajah itu, dan tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang menahan amarah karena merasakan cemburu.
"Rese banget sih.?" gerutu Nadine tidak terima.
"Kamu kenapa Nad.?" tanya Olla salah satu sahabatnya.
"Lihat deh, aku sebel banget. Kenapa sih si Davin malah terus deketin cewek itu.?"
"Maksud kamu Yasika.?"
"Ya ... Siapa lagi." jawab Nadine sinis.
"Nad ... Kayaknya si Davin menyukai Yasika deh?"
"Gak ... " dengan suara sedikit meninggi. "Gak boleh, Aku yang sangat menyukai dia dari dulu. Dan gak ada yang boleh menjadi milik dia selain aku."
__ADS_1
Olla tersenyum tipis, ia sangat gemas menatap raut wajah sahabatnya itu.
"Nad ... Kamu tenang dulu deh, aku yakin kalau kamu yang akan dapetin si Davin."
Nadine menoleh, menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyalang.
"Kamu yakin kalau aku bisa dapetin dia?"
Olla tersenyum dan mengangguk pelan. "Aku yakin."
Mereka berdua tersenyum, dan tatapan keduanya jatuh kepada sosok laki-laki tampan yang menjadi incaran setiap wanita di kampusnya.
Lain Davin, lain juga Yasika. Gadis itu merasa risih dan tidak tenang, ingin sekali rasanya ia pergi meninggalkan tempat itu sekarang juga.
"Mel ... Aku ke toilet dulu sebentar."
"Mau gue anter gak?"
"Gak usah, sendiri aja."
"Kamu yakin Yas.?"
Yasika mengangguk. "Tenang aja oke.!"
"Ya udah, hati-hati ya?"
"Ya." jawab Yasika yang langsung berdiri meninggalkan ruangan VIP itu.
"Mau kemana cantik.?" sapa laki-laki itu.
Yasika membisu, melirik sekilas pada sosok laki-laki itu.
"Hei ... Mau kemana kamu sayang.?" racau laki-laki itu kembali saat Yasika tidak menghiraukannya.
"Lepas.?" ujar Yasika mencoba untuk melepaskan tangan laki-laki itu yang berada di lengannya.
Laki-laki itu tertawa, matanya menatap Yasika dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Jangan sok kamu." bibirnya menyeringai. "Apa salahnya kamu temenin aku, kita senang-senang dulu."
Yasika gugup, tubuhnya gemetar merasa takut karena laki-laki itu terus saja mengganggu dan menghalangi jalannya.
"Minggir gak.?" ucapnya ketakutan.
Laki-laki itu kembali tertawa, melangkah semakin mendekat dengan seringai yang tak lepas dari bibirnya.
"Kamu semakin menantang sayang." Laki-laki itu kembali berujar.
"Jangan sentuh aku." teriak nya kembali. "Kalau kamu terus mendekat, aku akan berteriak."
"Silahkan berteriak sesuka hatimu."
__ADS_1
Yasika semakin takut, keringat dingin-pun mulai turun di pelipisnya. Ia menatap laki-laki itu dengan tajam, berharap akan ada seseorang yang menolongnya.
Ya Tuhan... Tolonglah aku...
Laki-laki itu terus melangkah semakin mendekat, membuat Yasika mundur selangkah ke belakang.
"Jangan takut sayang..?"
"Jangan mendekat.."
"Kamu gadis yang sangat cantik."
"Pergi...!!"
"Ayolah aku hanya ingin bersenang-senang denganmu."
"Jangan mendekat.." teriaknya kembali, matanya mulai berkaca-kaca tubuhnya bergetar saat cowok itu memegang bahunya.
"Lepaskan dia." suara seseorang berujar seraya menarik tangan cowok itu, melepas jauh dari bahu dan memberi satu pukulan di wajahnya.
Yasika terkejut saat tiba-tiba saja cowok itu terpelanting jatuh ke atas lantai.
"Kak Kai.. "
Laki-laki yang bernama Zydan itu menoleh, mengusap cairan darah yang sedikit keluar dari bibirnya, menatap sinis pada sosok laki-laki yang telah menghajarnya.
"Siapa kalian?"
"Aku bilang lepaskan dia?"
"Jangan ikut campur, memangnya siapa kalian? dia wanitaku." Zydan kembali berujar.
"Woohoo ... Kayaknya seru nih.?" sungut salah satu dari mereka berdua.
Zydan menggeram mengepalkan tangannya kuat, menatap sinis kepada dua laki-laki yang telah berhasil mengganggunya.
"Lo mau pergi atau minta di hajar lagi.?" kali ini Bayu kembali mengoceh.
Zydan berdecak sebal, dan tanpa menjawab ia berdiri dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sial...!!!
Sementara Yasika ia masih berdiri dengan tubuh yang bergetar. Air bening itu keluar dari matanya yang mulai menyendu.
Kaisar mendekat, melepaskan jas kerjanya dan memakaikannya kepada gadis yang sekarang sedang menunduk dan menangis.
"Kak... " suara Yasika terdengar bergetar, tanpa di sadarinya ia menghambur memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.
"Jangan menangis lagi, kamu baik-baik saja."
* * *
__ADS_1