Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Bertemu


__ADS_3

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika mereka berempat akan duduk bersama satu meja di meja yang sama. Yasika yang duduk berhadapan dengan cowok yang terus menatapnya dingin, dan Davin yang duduk berhadapan dengan wanita yang tidak pernah lepas dari senyuman itu. Ya, kedua orang itu adalah Kai dan juga sang kakak Anne Putri.


Suasana begitu canggung saat mereka semua berkumpul. Yasika bungkam, gadis itu tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Sama halnya dengan Kai, cowok itu lebih memilih diam dan sesekali memperhatikan gadis yang sedari tadi hanya menunduk.


Sedangkan Anne dan Davin, hanya mereka berdua yang membuat suasana menjadi terasa lebih hangat. Anne yang banyak bicara begitu juga dengan Davin, menjadikan keduanya sudah terlihat sangat akrab, meski ini baru pertama kalinya mereka berdua bertemu. Anne sangat menyukai sosok Davin yang menurutnya sangat baik, dan bertanggung jawab. Anne melihat, kalau Davin adalah laki-laki yang tepat buat adik kesayangannya itu.


"Aku gak tahu kalo kamu itu ternyata teman SMA nya Yasika?" Anne bertanya di setelah satu suap nasi masuk ke dalam mulutnya.


Davin tersenyum. "Iya, aku sudah kenal Yasika dari dulu." jawabnya dengan mata tidak lepas menatap gadis itu.


Anne menanggapinya dengan menganggukkan kepala. "Oh ... Terus?" ia jeda kalimatnya, matanya sedikit melirik ke arah adiknya itu sambil mengulum senyum. "Kalian __ sangat cocok, apa kalian pacaran?" Anne bertanya dengan penuh selidik. Membuat dua pasangan itu terkejut.


Seketika Yasika menjatuhkan sendoknya ke atas piring hingga menimbulkan suara yang cukup kencang. Sedangkan Davin, cowok itu hampir saja tersedak makanannya, beruntung saat itu Anne langsung menyodorkan segelas air putih ke arahnya, Davin tersenyum sekilas. "Makasih." Lalu dengan cepat menenggak air itu hingga tandas.


"Aku berharap seperti itu." ujar cowok itu dengan lantang. Lalu menatap Yasika kembali. "Aku juga lagi nunggu."


Anne mengernyit. "Nunggu apa?" tanyanya penasaran.


"Nunggu jawaban, kalo gadis cantik ini mau menjadi kekasihku." ujarnya sambil tersenyum manis.


Yasika tidak bisa lagi menyembunyikan ruam merah pada wajahnya, antara senang atau malu karena kini semua orang sedang menatap dan memperhatikannya, termasuk dengan Kai, cowok itu terus memberi tatapan yang tidak bisa di artikan sama sekali.


Matanya yang tajam, serta rahangnya yang mengeras membuat Yasika semakin menundukkan pandangannya. Yasika takut melihat sorot mata itu, sorot mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Anne hanya tersenyum saat melihat reaksi yang terjadi di antara keduanya.


"Aku baru ingat, Yasika pernah cerita kalo dia lagi suka sama seseorang."


Deg


Ya Tuhan ... apa lagi ini?


"Cuma dia gak cerita siapa cowok beruntung itu." Anne terkekeh di sela ucapannya. "Tapi dia bilang, cowok itu yang sudah mengambil ciu ___ " Sebelum melanjutkan kata-katanya, Yasika lebih dulu menginjak kaki kakaknya itu. "Aww ... " Anne meringis.


Kedua cowok itu menatapnya bingung, apalagi Kai.


"Kakak bisa diam gak?"


"Sakit ih ... " rengeknya kembali.


"Makanya gak usah ngomong?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku kan malu." ujar Yasika seraya menunduk. Yasika akan benar-benar malu, kalau kakaknya itu sampai mengatakannya. Yasika menyesal karena telah menceritakan semuanya, ternyata kakaknya itu mempunyai mulut yang tidak bisa di jaga.


Yasika hanya mampu menatap piring tanpa bisa mengangkat wajahnya. Jantung nya berdebar, dan tubuhnya terasa kaku saat sepasang mata itu terus menatapnya dengan tajam.


"O iya, Kai ... kapan kamu mau makan malam di rumah aku?" Kai menoleh ke arah Anne sebentar, lalu tanpa sengaja matanya bertubrukan dengan pemilik mata bening itu.


"Minggu depan, kalo gak ada halangan."


Yasika menundukkan wajahnya karena Kai terus saja menatapnya.


Apa? makan malam? apa kak Anne akan mengenalkan kak Kai pada Papa sama Mama?


Ya Tuhan ... kenapa rasanya sakit sekali?


"Kalo gitu, besok aku main ke rumah kamu, boleh?" tanya nya dengan manja.


Kai segera mengalihkan pandangan matanya dari gadis itu, kemudian ia menoleh ke samping seraya tersenyum. "Boleh, kalo kamu mau ke rumah. Aku tunggu." ujarnya kembali dengan mata tertuju pada sosok gadis yang sedang menatapnya sendu.


Ah ... tatapannya itu? melihat tatapan itu, kenapa detak jantungnya berdegub sangat kencang.


Kai rindu, ia sangat merindukan gadis itu.



* * *


Mama Wina tersenyum lebar saat melihat kedua gadis cantik itu sudah berdiri di hadapannya saat ini, bersama dengan Kai yang berada di samping mereka.



Ya Tuhan ... Cantik sekali mereka. Gumamnya dalam hati.


Yasika tersenyum. "Tante?"


"Sayang ... " Mama Wina langsung memeluk tubuh gadis itu erat. "Kamu apa kabar? tante kangen banget sama kamu." ujarnya yang tak lepas dari pelukannya itu.


Yasika membalas pelukan wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai mamanya sendiri itu. "Baik Tante, aku juga kangen sama tante." balas gadis itu lembut. "Tante sendiri gimana kabarnya?"


Mama Wina mengurai pelukannya, lalu ia tatap lekat wajah gadis itu. "Kabar tante juga baik sayang." saat mengucapkannya, entah kenapa matanya seperti berkaca-kaca.


Yasika yang sadar, lantas dengan segera memeluk tubuh itu kembali. Semua yang mereka lakukan tidak luput dari pandangan dua orang yang sedang berdiri disana. Mereka berdua menyaksikan bagaimana kedekatan yang terjalin antara mama dan adik dari kekasihnya itu.


Anne yang melihat hanya bisa tersenyum tipis. Ia sangat senang melihat kedekatan yang terjalin antara calon mama mertua dengan adiknya itu.

__ADS_1


"Mereka dekat sekali ya, Kai?" Bisik Anne pada cowok itu.


Kai mengangguk. "Iya."


"Kok aku jadi iri sih melihat kedekatan mereka?" Anne berujar sambil merajuk.


Kai terkekeh. "Nanti juga kamu bakal dekat sama mama aku."


Anne kembali tersenyum sambil menatap wajah tampan cowok itu.


"Kenapa?" Kai risih saat gadis itu terus saja menatap dirinya.


Anne sedikit mendekat mengikis jarak di antara mereka berdua, hingga akhirnya ia membisikan sesuatu ke telinga cowok itu. "Aku mencintaimu."


Kai tidak terkejut, ia sudah tahu jika gadis itu akan mengucapkan kata-kata yang ia sendiri juga ragu untuk mengucapkan kalimat itu. Bagi Kai, kalimat itu sungguh tabu untuk ia ucapkan.


Kai sendiri tidak mengerti, kenapa rasanya sangat sulit untuk mengucapkan kalimat itu dari bibirnya secara langsung. Padahal, ia sendiri pernah mengatakan kata itu sewaktu dirinya meminta Anne untuk menjadi kekasihnya. Tetapi sekarang, untuk membalas ucapan itu bibirnya terasa keluh.


Kai tersenyum, ia mengatupkan kembali bibirnya yang akan terbuka setelah mendengar suara sang mama yang memanggilnya.


"Kai ..."


Mendengar suara itu lantas keduanya menoleh secara bersamaan.


Kai tersenyum, begitu juga dengan Anne yang ikut tersenyum lebar di sampingnya.


Ah ... untung saja ada Mama.!


Ujarnya yang di sertai dengan senyuman miring.


* * *


Sampai disini dulu ceritanya ya?


Mudah-mudahan besok aku bisa up lagi..


Mohon maaf bila banyak kesalahan dalam kata atau penulisannya yang salah, soalnya aku gak baca ulang lagi dari awal.. 🙏🏻


Jangan lupa setelah membaca, tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya..


Aku tunggu..


Makasih buat semua yang selalu kasih dukungan buat aku..

__ADS_1


Sehat selalu..


Ailopeyuuu..... ❤


__ADS_2