Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Jangan khawatir


__ADS_3




Berada di dalam Kafe. Kaisar dan Yasika, mereka kini berdua duduk bersama di satu meja yang sama dan saling berhadapan. Keduanya masih bungkam, bahkan mereka berdua terlihat serba salah. Yasika menurunkan pandangannya begitu cowok itu tidak lepas menatapnya.


"Kak." Panggil gadis itu bersama dengan wajah Kai yang menoleh ke arahnya. "Sebenarnya, apa yang ingin kak Kai bicarakan sama aku?"


Sebelum menjawab, Kai masih fokus menatap gadis itu. Pandangan matanya tidak lepas memperhatikan raut wajah Yasika yang terlihat sangat gelisah.


Yasika mengangkat wajahnya begitu cowok itu tidak juga mengeluarkan suaranya. Lantas, yang terjadi sekarang adalah kedua mata itu saling bertatapan dalam diam. Yasika menatap cowok itu dengan tatapan yang menyendu, sedangkan Kai, cowok itu masih menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sama sekali.


Terjadi aksi tatap menatap yang sekarang mereka lakukan. Tidak bisa di pungkiri oleh keduanya, jika mereka masih menyimpan rasa rindu yang luar biasa dalam hatinya. Kai merindukan gadis itu, apalagi setelah melihat mata bening yang selalu membuatnya merasa tenang. Ia merindukan tatapan matanya yang selalu sendu. Sedangkan untuk Yasika, sampai sekarang pun mata cowok itu masih tetap menjadi kelemahannya.


Tidak, ini tidak boleh terus di biarkan. Jika mereka berdua masih saling memandang seperti itu, akan sangat tidak baik untuk hati keduanya.


Yasika sadar, jika saat ini posisi dirinya hanya lah sebagai seorang adik dimata cowok itu.


Di detik selanjutnya, Yasika membuang pandangannya karena ia tidak ingin terus menatap kedua bola mata hitam itu yang selalu membuatnya rindu.


Kai yang sadar dengan perubahan sikap gadis itu, akhirnya ia membuka suaranya.


"Maaf, aku ganggu waktu kamu." Yasika kembali menoleh. "Ada hal yang harus aku sampaikan sama kamu, Yas."


"Tentang apa?" Tanya gadis itu yang tidak lepas menatap cowok yang kini ada di hadapannya saat ini.


Kai menarik nafas dalam, sebelum ia kembali berujar.


"Aku ingin minta maaf." Kai berujar pelan.


Yasika bingung. Lalu ...


"Maaf untuk apa?" Tanya gadis itu seraya mendesis. "Minta maaf kalo selama ini kakak udah memberi harapan kosong sama aku.?" Entah darimana datangnya keberanian gadis itu, hingga membuat cowok itupun tertohok di buatnya.


Kai begitu terkejut, saat ia melihat Yasika sekarang.


"Kakak tahu, kenapa aku setuju untuk menemui kak Kai disini?" Yasika menatap wajah itu dalam. "Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan kepada kakak." ujarnya kembali dengan mata tidak lepas menatap cowok itu.


"Tanya apa?"


Yasika menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Apa __ Kak Kai..." terdiam sejenak. "Apa benar, kalo selama ini kakak menganggap aku hanya sebagai adik saja?"


Kai menelan saliva nya dengan susah. Lalu kepala itu mengangguk. "Kenapa kamu bertanya lagi?"

__ADS_1


"Jadi benar?" Tanya gadis itu semakin penasaran.


Lagi, Kai hanya bisa menelan saliva-nya dengan susah. Entah kenapa bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.


Yasika, gadis itu tersenyum miris. Melihat cowok itu yang hanya diam saja, membuat dirinya semakin yakin kalau lelaki itu memang tidak mempunyai perasaan apapun untuknya.


Padahal, selama ini ia sudah berharap banyak pada cowok itu.


"Terus? kenapa dulu kakak cium aku?" Dengan sedikit keberanian yang ia punya, Yasika secara langsung menanyakan hal tersebut kepada laki-laki itu.


Seperti mendapat sebuah tamparan keras, Kai begitu terkejut dengan rahangnya yang terbuka lebar.


"Kalo kakak gak punya perasaan apa-apa sama aku, gak mungkin kan, kakak mau mencium aku?" tanya gadis itu kembali yang membuat cowok itu kembali tercengang di buatnya.


"Kenapa kakak diam? Jawab aku, kak? Apa selama ini kedekatan kita tidak berarti apa-apa untuk kak, Kai?" dengan sedikit menyolot gadis itu kembali bertanya.


Kai menutup matanya sesaat, lalu kembali menatap gadis itu.


"Bukannya aku sudah bilang, kalo aku memang menganggap kamu hanya sebagai adik saja, tidak lebih dari itu. Dan perlu kamu tahu, aku tidak pernah mempunyai perasaan apapun sama kamu, wanita yang aku cintai sekarang adalah kakak kamu, aku mencintainya, dan mungkin aku akan menikah dengannya." Sumpah demi apapun ingin sekali gadis itu menangis sekarang juga. "Kalo untuk ciuman itu __ maafkan aku, karena aku sudah melakukannya." Kai berujar datar, ia sengaja melakukannya agar terlihat lebih tenang di hadapan gadis itu, tanpa Yasika sadari, kalau sekarang hatinya pun terasa sakit.


Lagi dan lagi aku telah menyakiti dia?


Yasika kembali menorehkan sebuah senyuman, senyuman miris yang membuat cowok itu menjerit sakit.


"Baiklah, hanya itu yang ingin aku tahu." Ujar gadis itu seraya berdiri dari tempat duduknya. "Dengan begitu." Gadis itu kembali menatap Kai. "Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan."


"Memangnya apa yang mau kamu lakukan?"


Gadis itu kembali mendesis. "Melupakan kamu untuk selamanya."


Kai terkejut.


"Maaf, kalo dulu aku pernah berharap sama kamu." Ujarnya kembali yang membuat Kai semakin merasa bersalah.


"Semoga kak Anne bahagia bersama kakak."


Yasika tersenyum dan menyeka sudut matanya yang mulai berair sebelum berlalu meninggalkan tempat itu.


"Yasika, tunggu." Kai menarik tangan gadis itu saat ia sudah berada di luar kafe tersebut.


Yasika tersentak begitu tangannya di tarik dengan keras oleh cowok itu.


"Aku akan antar kamu pulang."


Yasika menggeleng. "Gak usah kak, makasih." Dengan sekuat tenaga ia menahan diri agar air bening itu tidak keluar dari matanya.

__ADS_1


"Kamu kesini sama aku, jadi aku akan mengantarkan mu pulang."


Yasika mendesis. "Aku bisa sendiri."


"Ini sudah malam, lagian kamu pulang mau naik apa?" tanya cowok itu frustasi.


"Jangan khawatir." Matanya menatap tajam cowok itu. "Kakak jangan mikirin aku."


Kai terdiam.


"Aku bisa pulang sendiri."


Yasika mendekat, membuat mata mereka bertemu dan saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.


"Kakak ipar."


bisiknya pelan, tepat di sebelah telinga cowok itu.


Sebelum gadis itu benar-benar berlalu dari hadapannya, Kai melihat kalau Yasika tersenyum ke arahnya. Senyuman itu terlihat sangat tulus, senyuman yang selalu Yasika tunjukkan kepada setia orang, dan senyuman yang selalu membuatnya merindukan gadis itu.


Apa mungkin itu adalah senyuman terakhir yang gadis itu berikan untuknya?


Kai membeku di tempatnya, ia masih menatap kepergian Yasika yang sudah berlalu jauh dari pandangan matanya.


Ada perasaan bersalah dalam hatinya karena ia telah menyakiti hati gadis itu. Mungkin, apa yang di katakan oleh gadis itu memang benar. Kata kakak ipar yang terlontar dari bibirnya yang mungil membuat hatinya kembali menjerit sakit.


Apa benar ia akan menjadi kakak iparnya?


Apa benar kalau gadis yang di cintainya itu akan menjadi adik iparnya sendiri?


Kai menghela nafas berat, mengusap wajahnya penuh frustasi, lalu memejamkan matanya erat.



Apa yang harus aku lakukan?


* * *


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga...


Makasih buat kalian semua yang masih setia baca ceritanya aku..


Jangan lupa juga untuk mampir baca cerita aku yang lainnya ya?


Sehat-sehat selalu semuanya..

__ADS_1


Ailopeyuuu..... ❤


__ADS_2