Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Mengelak


__ADS_3




"Kai ..."


Kaisar menoleh begitu mendengar suara yang berasal dari balik punggungnya.


"Boleh mama bicara sebentar sama kamu?" tanya wanita paruh baya itu kembali.


Kai mengangguk. "Boleh, Ma." Kai segera menghampiri wanita itu, lalu menuntunnya menuju balkon tempat dimana saat ini ia sedang berdiri sambil menyesap barang bernikotin yang terselip di antara jari-jari tangannya.


"Jangan banyak merokok Kai, gak baik buat kesehatan kamu, ah..." ujar mama-nya itu saat ia sudah berdiri di samping sang anak.


Kai tersenyum. "Sesekali kok, Ma."


Mama Wina mendelik ke arahnya. "Apaan? mama liat setiap hari kamu merokok." tudingnya kembali.


Kai terkekeh. "Kok mama tahu?"


"Apa sih yang enggak mama tahu, Kai." ujarnya kembali seraya memukul lengan putranya itu pelan. "Kai ... "


"Hm ... " Kai membuang puntung rokok itu ke bawah, lalu menginjaknya. "Ada apa, Ma?"


"Apa mama boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Tanya apa?" jawabnya seraya menghadap sang Mama. Kini, ibu dan anak itu saling berhadapan.


Mama Wina menatap lekat wajah anak laki-laki nya itu. "Mama ingin kamu cerita, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari Mama?"


Kai mengernyit, menatap bingung sang Mama dengan dahi yang mengkerut dalam. "Maksud Mama apa? aku gak menyembunyikan apapun." Kilahnya seraya memegang bahu sang Mama. Kai tersenyum, menatap dalam wajah cantik yang sudah menua itu. "Apa yang membuat Mama berpikiran seperti itu?" Kai bertanya semakin penasaran.


"Apa kamu mencintai gadis itu? kamu mencintai kakaknya Yasika?"


Kai terpaku di tempatnya.


Cowok itu menghela, lalu kembali menatap sang Mama. "Kenapa mama bertanya seperti itu?"


"Mama cuma ingin tahu, kalau kamu memang benar mencintai kakaknya, bagaimana dengan Yasika, Kai?"


Astaga ... mama Wina benar-benar mengkhawatirkan gadis itu.


"Ma ..." Kai menarik nafas panjang sebelum ia kembali berujar, lalu mengusap wajahnya gusar. "Aku sama Yasika, kita gak ada hubungan apa-apa." Kai mengelak tetapi tidak dengan mata dan tubuhnya yang terlihat gelisah.


"Kamu gak mencintainya?" tanya sang Mama dengan sangat meyakinkan. Membuat cowok itu semakin mendesah frustasi.


Kepala itu menggeleng samar. "Aku hanya menganggap dia cuma sebagai adik, gak lebih." Bohong Ma, aku memang mencintai gadis itu. ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Mama Wina melihat sorot mata Kai yang tidak seperti biasanya, ada sebuah kebohongan yang terlihat dari kedua manik mata hitam itu. Mama Wina tahu, jika Kai sedang menyembunyikan perasaannya itu.


Mama tahu Kai, mulut kamu boleh berkata tidak, tapi tidak dengan hati kamu.


"Kai ..." Mama Wina mendekat lalu memegang tangan sang anak erat. "Mama cuma mau bilang, mama bukannya gak setuju kamu sama Anne, tetapi __ " Mama Wina menggantung kata-katanya, lalu menatap dalam wajah anaknya itu.


Pandangannya lurus ke depan seperti sedang menerawang. Ya, mama Wina ingat, satu jam yang lalu sebelum Yasika dan kakaknya itu berpamitan untuk pulang, Yasika sempat menemaninya memasak di dapur, karena itu sudah menjadi kebiasaan bagi gadis itu ketika berada di rumahnya. Mama Wina melihat jika gadis itu tidak seperti biasanya. Mama Wina sudah mengenal Yasika sejak lama, ia sudah menganggap Yasika sebagai putrinya sendiri, apalagi setelah kepergian Amel, selain Kania, mama Wina hanya dekat dengan Yasika.


Gadis itu sedikit pendiam, dan sering terlihat murung, bahkan mama Wina melihat ada gurat kesedihan yang terpancar dari mata dan juga wajah gadis itu yang tidak seperti biasanya.


"Sini sayang, biar tante yang beresin."


"Enggak apa-apa tante, biar aku saja ya?"


Mama Wina tersenyum. "Kenapa kamu jarang main kesini lagi? Kania sering nanyain kamu loh."


Yasika menyimpan semua piring kotor itu di atas wastafel tempat cuci piring. "Maaf ya tante, akhir-akhir ini aku sibuk. Sebentar lagi kan mau wisuda."


Entah kenapa raut Mama Wina berubah seketika saat mendengar kata wisuda di sebut. Matanya kembali berkaca-kaca dan itu membuat Yasika merasa bersalah.


"Tante gak apa-apa kan?"


Kepala itu menggeleng. "Enggak sayang, tante gak apa-apa kok. Tante cuma ingat sama Amel." Terdiam sesaat seraya menunduk. "Menjadi seorang Dokter adalah cita-citanya." Tidak ingin sedih lagi, lantas mama Wina mengangkat wajahnya dan tersenyum kembali. "Tante berdoa, semoga kamu menjadi Dokter yang sukses ya?"


Yasika tersenyum, lalu memeluk tubuh itu kembali. "Makasih, tante."


"Sama-sama sayang, tante yakin saat kamu nanti menjadi Dokter, Amel juga akan bahagia disana, melihat sahabat baiknya menjadi seorang Dokter."


"Yasika?"


"Iya tante."


"Apa Kai menyakiti mu?"


"Maksud tante apa?" tanya gadis itu bingung.


"Maaf kalo tante ikut campur." Mama Wina menatap mata itu lalu memegang tangan Yasika erat. "Apa kamu tidak mempunyai hubungan apa-apa sama Kai?"


Mendengar pertanyaan itu, sontak Yasika seperti terkejut, terlihat gelisah dan juga gugup.


"Tante kira __ kamu dan Kai, kalian punya ...?"


"Aku dan kak Kai gak ada apa-apa kok tante." Sela Yasika cepat bersama dengan raut wajahnya yang terlihat sangat gugup.


Mama Wina melihat ada reaksi berbeda ketika gadis itu berujar. Yasika seperti mengalihkan dan menghindari tatapan mama Wina yang sedang menatapnya.


"Oh ... Tante pikir. Maaf ya sayang, bukannya tante gak suka lihat Kai sama kakak kamu, tante sangat senang jika anak tante sudah menemukan gadis yang cocok. Tante berharap, kakak kamu akan menjadi wanita yang tepat untuk Kai."


Sumpah demi apapun, ingin sekali rasanya Yasika menangis saat ini juga.

__ADS_1


"Siapa pun gadis itu, tante mau, anak tante mendapatkan gadis yang baik dan bisa menerima Kai apa adanya."


Yasika tersenyum meskipun hatinya sakit.


"Semoga kakak kamu adalah wanita yang memang di cintai oleh Kai." ujarnya seraya mengelus lembut pipi mulus itu. "Sepandai apapun kalian menyembunyikan sesuatu, tapi tante tahu, jika kamu dan Kai sedang menyembunyikan perasaan masing-masing."


Detik itu juga Yasika merasa jika jantungnya terasa mau copot dari tempatnya. "Tante ... " Yasika berkata dengan begitu lirih.


Mama Wina tersenyum. "Sayang, tante tahu jika gadis yang di cintai putra tante itu adalah kamu."


Kepala itu menggeleng. "Tante salah, yang kak Kai cinta itu kak Anne, bukannya aku."


"Tante sendiri juga bingung, kenapa Kai bisa seperti itu? Tante takut __ " ia jeda kalimatnya seraya menatap lekat wajah gadis itu.


"Takut kenapa Tante?" Yasika bertanya bingung.


"Akhir-akhir ini, tante melihat Kai sangat berbeda, dia berubah semenjak Amel meninggal." Mama Wina menjelaskan dengan tangan yang tak lepas menggenggam erat tangannya gadis itu. "Tante takut ... jika Kai hanya akan menyakiti hati kakak kamu itu. Tante takut, jika Kai tidak benar-benar mencintai kakak kamu." ujarnya kembali seraya menatap sendu gadis itu.


"Apa maksud tante? gak mungkin tante, aku melihat kalau kak Kai memang benar-benar mencintai kak Anne." ujar Yasika menjelaskan.


"Tante berharap juga seperti itu." Genggaman tangan Mama Wina semakin terasa erat. "Sayang, apa kamu mencintai Kai, anak tante?"


Deg


Hati Yasika berdenyut nyeri saat mendengar kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut wanita paruh baya itu.


"Cinta?"


"Hm ..." Mama Wina mengangguk. "Apa kamu mencintai Kai?" ulangnya kembali.


Yasika yang tidak mampu menjawab hanya diam seraya memejamkan matanya erat.


"Aku gak mungkin mencintai kak Kai."


"Kenapa?"


Yasika membuka matanya, lalu menatap sendu wanita paruh baya itu.


"Karena ___ "



Karena gak mungkin aku mencintai calon kakak ipar ku sendiri.


* * *


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya?


Makasih...

__ADS_1


Loveyuuu..... ❤


__ADS_2