
"Kak Jefri.?"
Suara itu berhasil membuat Jefri asisten pribadi kakaknya itu mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Yasika yang seperti sedang memintanya penjelasan, Jefri tersenyum tipis saat ia melihat wajah polos gadis itu.
"Kak Jefri lagi apa disini?"
Bukannya menjawab laki-laki itu malah balik bertanya. "Kamu sendiri lagi ngapain disini Yas.?"
"Aku disini, lagi jenguk teman aku yang kecelakaan."
"Apa?" Dengan wajah sedikit terkejut Jefri bertanya. "Jadi __ gadis itu teman kamu?"
Yasika mengangguk. "Iya, dia teman aku Kak. Kak Jefri disini lagi apa? Kak Anne mana?" tanya Yasika kembali sambil celingak celinguk mencari dan memperhatikan orang yang berkerumun. "Kak ... Kak Anne mana? dia sama kakak gak?"
Jefri menunduk, wajahnya semakin terlihat pucat. Jefri menghela nafas berat. "Kakak kamu, dia sedang dalam pemeriksaan Dokter."
Yasika terkejut dengan rahang yang terbuka lebar. "Maksud kak Jefri.?"
"Anne jatuh pingsan tadi."
"Kok bisa?"
"Nanti aja aku cerita sama kamu." ucap Jefri dengan mengusap wajahnya kasar. Jefri kembali menunduk, seraya memilin jari-jari tangannya. Di saat pikirannya sedang kalut seperti ini, kenapa tiba-tiba ia di buat terkejut lagi dengan penuturan Yasika, kalau gadis yang tertabrak itu adalah teman adiknya sendiri.
"Berengsek.. "
Bukk ..
Satu pukulan berhasil mendarat di wajahnya Jefri, sehingga Jefri langsung jatuh tersungkur ke lantai.
Bukk ...
"Jadi elo orang yang udah nabrak adik gue hah?"
Jefri meringis seraya mengusap cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya.
"*******."
Kai hampir saja melayangkan kembali pukulan itu, kalau saja Yasika dan papa Andi yang melerainya.
"Kak, cukup."
"Kai... Sudah-sudah jangan buat keributan disini."
"Lepasin Pa, aku gak akan lepasin orang yang telah membuat Amel tidak berdaya seperti itu."
"Apa?" Yasika terkejut seraya menutup mulut dengan kedua tangannya. "Jadi __ ?" ia jeda kalimatnya, dan pandangan matanya itu jatuh pada sosok laki-laki yang sedang meringis kesakitan. "Kak Jefri yang nabrak Amel?"
Kai menatapnya tajam dengan nafas yang masih memburu menahan amarah, kalau saja bukan Papa-nya sendiri yang menghalangi, mungkin saja Kai sudah membuat cowok itu babak belur di buatnya.
"Aku bisa jelasin semuanya." ujar Jefri kembali.
Kai yang merasa amarahnya sudah di ubun-ubun ia hendak menyerang cowok itu kembali.
__ADS_1
"Berengsek ... Kalo sampai terjadi apa-apa sama adik gue, lo lihat aja, gue bakal kasih hukuman yang setimpal buat lo."
"Kak, aku mohon hentikan. Aku yakin kak Jefri tidak mungkin melakukan itu." pinta Yasika dengan mengatupkan kedua tangannya.
Kaisar mendesis seraya mengusap wajahnya gusar. Ia menatap Yasika dalam, lalu berbalik menatap wajah lelaki yang sedang meringis menahan sakit itu.
"Kali ini lo selamat."
Setelah berujar, Kai pergi bersama dengan sang Papa di sampingnya. Sementara Yasika, gadis itu masih terdiam seraya menundukkan wajahnya. Yasika tidak habis pikir jika orang yang telah menabrak sahabatnya itu adalah orang yang sangat dia kenal. Yasika juga tahu siapa Jefri, asisten kakaknya yang dia kenal sangat baik.
"Kak Jefri, katakan kalau bukan kakak yang nabrak Amelia kan?"
Ujar Yasika seraya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya menggunakan sapu tangan miliknya.
Jefri meringis pelan. "Kejadian itu tidak di sengaja Yas, itu murni kecelakaan."
"Jadi __ "
"Maafkan aku Yasika."
"Apa kak Jefri bersama dengan Kak Anne saat kecelakaan itu terjadi?"
Jefri mengangguk. "Iya."
"Apa kak Anne yang nyetir?"
Wajah yang tadinya menunduk, kini wajah itu menatap Yasika dalam. Jefri menggeleng samar.
"Bukan."
"Bukan Yasika, bukan Anne pelakunya."
"Kakak gak bohong kan?"
Jefri mengangguk. "Iya, aku gak bohong. Yang bawa mobil itu aku, yang nabrak sahabat kamu itu aku."
Yasika merasakan sesak dalam dadanya, entah kenapa rasa sakit itu datang ketika ia mengetahui kalau pelakunya adalah orang yang sangat dia kenal. Yasika merasa lega saat ia mengetahui kalau bukan kakak perempuannya itu pelakunya. Tetapi Jefri __ laki-laki itu juga sudah ia anggap kakak sekaligus keluarganya sendiri.
"Kenapa kak Anne bisa jatuh pingsan.?"
"Ceritanya panjang, dan mungkin saja dia shock."
"Kita berdoa saja Kak, supaya Amel tidak apa-apa."
"Aku harap juga begitu, itu murni kecelakaan. Dan aku akan bertanggung jawab."
"Kak... "
"Sudah jangan nangis Yas, aku gak apa-apa jika aku harus mendapatkan hukuman atas kejadian ini."
Air bening itu jatuh membasahi pipinya yang mulus, Yasika tidak dapat lagi menahan kesedihannya saat cowok yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri harus menerima semua ini. Beruntung jika keluarga Amel mau memaafkannya dan berdamai secara kekeluargaan, tetapi jika tidak, maka Jefri harus menanggung akibatnya atas kelalaiannya saat mengemudi.
Di saat semuanya sedang merasakan ketegangan yang laur biasa, di saat itu juga pintu kamar UGD itu terbuka lebar.
__ADS_1
"Dok bagaimana putri saya?" Hal pertama yang keluar dari mulut mama Wina, saat Dokter itu keluar dari ruangan di ikuti oleh para perawat di belakangnya.
Sang Dokter-pun menghela nafas berat, ia menatap wajah sekelilingnya satu persatu.
"Maaf bu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi __ Tuhan berkehendak lain, putri anda tidak bisa kami selamatkan, karena dia mengalami pendarahan yang cukup hebat di kepalanya."
"Apa maksud anda Dokter?" suara itu terdengar begitu lirih.
"Kami mohon maaf, putri anda sudah meninggal."
"Apa? gak mungkin Dok, gak mungkin. Putri saya pasti baik-baik saja. Dokter jangan bohong sama saya Dok." Jerit mama Wina histeris.
"Ma, sabar Ma."
"Pah, gak mungkin Pa, gak mungkin Amel ninggalin kita kan?" teriak mama Wina kembali.
"Mama yang sabar ya?" ucap Papa Andi dengan mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Sementara Kai, lelaki itu masih terdiam dengan pandangan kosong ke depan. Kai masih tidak percaya dengan penuturan sang Dokter barusan. Ini baginya seperti mimpi. Iya, sekarang Kaisar sedang bermimpi buruk. Ia yakin kalau adik perempuannya itu pasti baik-baik saja. Ia yakin kalau Amelia tidak akan meninggalkannya sendirian, ia yakin dengan janji sang adik yang akan selalu bersama dengan dirinya, dan menemani dirinya sampai kapanpun.
Ini hanya mimpi buruk baginya. Di saat ia terbangun nanti, Kai yakin jika adiknya itu akan tersenyum dan memeluk tubuhnya erat.
"Kak ... "
Kaisar menoleh, lalu tersenyum lebar.
"Kak, Amel ... " ucap Yasika terhenti.
"Dia baik-baik saja kan?"
Yasika semakin menangis dengan wajah menunduk pilu.
"Kenapa kamu menangis? Amel __ dia baik-baik saja kan Yas?"
Yasika menggeleng, lantas ia menghambur memeluk tubuh Kai erat.
"Sadar Kak, Amel - dia __ dia sudah tidak ada." ucap Yasika pelan seraya memeluk tubuh itu semakin erat.
"Gak mungkin."
"Kak... "
"Kamu jangan ngada-ngada ya?"
"Kak, aku mohon sadarlah."
Yasika semakin erat memeluk tubuhnya dan pelukannya itu di balas oleh Kaisar. Kai memeluk tubuh Yasika, ia benamkan wajahnya di perpotongan leher itu. Kai tidak bisa lagi menahan cairan bening itu agar tidak keluar, air matanya menetes saat ia pejamkan mata itu erat.
Tanpa sadar Kaisar menangis di pelukan Yasika.
Ternyata ini bukan mimpi, ini kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Kehilangan adik perempuan satu-satunya yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali sebelumnya.
This is just a dream....
__ADS_1
* * *