
Bandung, di sinilah sekarang mereka berada. Kota kembang yang terkenal dengan kesejukkannya. Kemarin Yasika memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan sang nenek yang sudah lama tiada, gadis itu juga sudah berencana ingin membuka klinik sendiri dan bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit terbesar yang ada di kota Bandung tersebut. Tapi .. sebelum itu terjadi, Kai terlebih dulu sudah menemukan keberadaannya. Dan lelaki itu sudah memutuskan, kalau besok ia akan membawa Yasika kembali lagi ke Jakarta.
Tidak ingin menunggu lama lagi. Kai akan segera menikahi gadis itu secepatnya. Dan besok. Ya besok, ia akan datang menemui kedua orang tua Yasika untuk meminta restunya. Kai ingin meminta Yasika secara langsung kepada papa Bagas dan mama Yessi, kalau ia akan menikahi putri bungsunya itu.
Ada banyak hal yang sudah ia rencanakan saat nanti Yasika sudah resmi menjadi istrinya. Kai berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia akan mencintai dan menjaga Yasika dengan sepenuh hati. Apalagi .. Kai juga telah berjanji pada seseorang kalau ia akan membahagiakan gadis itu dan tidak akan pernah menyakitinya.
Kemarin, sebelum ia menemukan keberadaan gadis itu. Kai sempat mendatangi Anne ke apartemen miliknya. Dan hal pertama yang ia lihat saat pintu apartemen itu terbuka adalah wajah Anne yang tersenyum lebar dan wajahnya yang terlihat tampak tenang. Kai melihat jika Anne nampak sedikit berbeda tidak seperti biasanya.
Dan .. di sinilah sekarang cowok itu berada, berada di dalam apartemen bersama dengan sang mantan kekasih sekaligus kakak dari kekasihnya saat ini.
Kai dan Anne duduk saling berhadapan setelah gadis itu membawakan segelas minuman untuk cowok itu.
"Di minum, Kai." Anne meletakkan gelas itu di atas meja.
"Makasih. Aku tidak akan lama disini."
Gadis itu tersenyum tipis. "Baiklah." Anne melipat kedua tangannya di atas dada. "Dalam rangka apa, kamu datang menemui aku kesini?"
Kai menatap gadis itu sekarang. "Dimana Yasika?" ujar Kai dengan nada dingin dan tanpa mengalihkan pandangan matanya itu. "Kamu kan, yang menyuruh dia untuk pergi?" Tanpa basa-basi Kai kembali menuduh gadis itu.
Anne tertawa kecil. Ia menatap cowok itu dengan tatapan remeh. "Kalo pun aku bilang tidak, kamu tidak akan percaya padaku kan.?"
"Jawab, Anne. Aku serius.!" Kai membentak gadis itu. Kalau saja yang ada di hadapannya saat ini bukanlah seorang wanita, mungkin Kai sudah melayangkan sebuah pukulan untuknya.
"Kai .. " Ucap gadis itu lirih bersama dengan genangan air mata di pelupuk. "Aku - aku sama sekali tidak menyuruh Yasika untuk pergi." Anne menunduk seraya menyeka sudut matanya yang mulai berair. Sebegitu besarnya Kai mencintai adiknya itu? hingga tanpa cowok itu sadari, kalau memang bukan Anne lah yang menyuruh Yasika untuk pergi meninggalkan laki-laki itu.
Anne sadar dengan kesalahannya selama ini. Anne juga menyadari, kalau yang namanya cinta itu tidak bisa di paksakan. Maka dari itu, Anne memutuskan untuk mengalah. Seberapa besar kemarahan Anne waktu itu pada Yasika, tapi, gadis itu tidak bisa menyalahkan adiknya begitu saja. Anne mengakui yang salah disini adalah dirinya sendiri. Ia terlalu egois, dan juga keras kepala. Demi cintanya pada laki-laki itu, ia rela mengabaikan adiknya sendiri yang selama ini sangat ia sayangi.
Kemarin, saat Yasika memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan juga Kai, sebenarnya Anne sudah melarang gadis itu. Bahkan .. Anne sudah meminta maaf pada Yasika atas semua kesalahan dan keegoisannya.
"Bukan aku yang menyuruhnya untuk pergi, Kai. Tapi Yasika sendiri yang mau." Anne mengangkat wajahnya untuk menatap wajah cowok itu. "Kalo kamu gak percaya, kamu boleh tanyakan langsung sama Papa dan Mama."
Kai mendesah, mengusap wajahnya gusar seraya mengacak rambutnya penuh frustrasi.
__ADS_1
"Kai .. asal kamu tahu, aku sudah merelakan kamu untuk Yasika." Seketika cowok itu menoleh. "Aku tahu Yasika sangat mencintai kamu. Dan aku minta maaf atas semua kesalahan dan keegoisanku selama ini. Aku gak bisa maksa untuk kamu mencintai aku, Kai."
Lagi, cowok itu hanya menoleh ke arahnya sebentar.
"Yasika pergi ke Bandung."
Seketika Kai menoleh dan menatap Anne dengan mata menyipit.
"Bandung?"
Kepala gadis itu mengangguk. "Iya, dia tinggal di rumah peninggalan nenek."
"Apa benar dengan yang kamu katakan, kalo Yasika ke Bandung.?"
"Iya, Kai." Anne beranjak dari duduknya, lalu, mengambil kertas dan pulpen. Anne seperti sedang menuliskan sesuatu di dalam kertas itu. "Ini." Ia memberikan kertas nya. "Itu alamat rumah yang ada di Bandung. Pergi sekarang juga Kai, dan bawa Yasika kembali kesini."
Kai menatap Anne, lalu matanya turun memandang kertas yang di berikan oleh Anne kepadanya. Disana tertera alamat rumah yang sekarang Yasika tinggali. Tanpa menunggu lama lagi, Kai beranjak dari duduknya dan merampas kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Saat ia hendak keluar dari apartemen itu, Tiba-tiba saja Kai berbalik badan saat mendengar suara Anne kembali.
Kai terkekeh. "Aku janji, jika aku menyakitinya, aku sendiri yang akan datang dan menyerahkan diri padamu." Kelakar Kai yang membuat gadis itu tertawa.
"Ann .. aku minta maaf, karena tadi aku membentak kamu.?" ujar Kai sebelum ia benar-benar menghilang.
Bersama dengan menghilangnya tubuh lelaki itu, Anne menutup pintu apartemen nya seraya mengusap cairan bening yang tiba-tiba saja keluar dari mata bulatnya.
Ya, gadis itu menangis sendiri disana. Tapi .. tangisan itu menyandarkannya akan satu hal. Anne menangis bukan karena Kai, melainkan ia menangisi dirinya sendiri yang selama ini terlalu memaksakan kehendaknya sendiri. Anne sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk Kai. Dan Anne berharap, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan laki-laki yang lebih segalanya dari cowok itu.
Ya, semoga saja.
* * *
"Kak .. "
Panggil Yasika saat masuk ke dalam kamar tamu dan membawa nampan berisi makanan di tangannya.
__ADS_1
Kai yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu tersenyum lebar saat melihat Yasika ada di hadapannya.
"Ini .. aku buatkan nasi goreng spesial buat kamu." Gadis itu terkekeh seraya menaruh piring itu di atas meja nakas. "Di makan ya? kamu kan belum makan."
Bukannya menjawab, cowok itu malah memeluk tubuh Yasika dari belakang. Yasika tersentak saat tangan lelaki itu sudah melingkar indah di perutnya.
"Kak .. lepas!"
"Sebentar." Jawab Kai seraya membenamkan wajahnya di perpotongan leher gadis itu. "Kamu wangi." Yasika memejamkan matanya erat begitu cowok itu mengecupi kulit lehernya.
"Kak .. Ah ..!" Gadis itu mendesah. "Jangan gini, nanti mbok Iyam lihat."
"Dia gak akan lihat." Bisik lelaki itu mesra. Lalu, ia kembali mencium telinga gadis itu dengan lembut.
Kalau terus-terusan mereka seperti ini, bisa-bisa hal yang tidak di inginkan akan terjadi.
Dan Yasika tidak mau hal itu terjadi. Tidak .. ia akan tetap menjaga kehormatannya sampai waktunya itu tiba. Yasika tidak boleh lemah, ia tidak boleh terbawa suasana hingga lupa diri. Meskipun hatinya menolak, tapi tidak dengan tubuhnya yang membiarkan cowok itu terus menguasai dirinya.
Yasika membiarkan Kai untuk terus memeluk dan memberi sentuhan-sentuhan yang membuatnya lupa diri, hingga tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang sedang berdiri di balik pintu. Wanita paruh baya itu terkejut dan ..
"Astagfirullah .."
• • •
**Next .. di episode selanjutnya ya?
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote juga.
Makasih semua ..
Sehat selalu ..
❤❤❤**
__ADS_1