
Happy Reading... ❤
•
•
•
"Setelah ini aku janji, aku akan membiarkanmu bahagia bersama dengan laki-laki lain."
Tidak ada lagi kata yang keluar dari bibir keduanya. Yasika diam, begitu pun dengan Kai. Mereka berdua hanyut dalam perasaannya masing-masing. Yasika membiarkan cowok itu untuk memeluk tubuhnya, entah kenapa dadanya kembali berdebar tidak karuan saat pelukan itu terasa semakin erat.
Pelukan dari Kai yang membuat sekujur tubuhnya menghangat.
"Kak ... " Yasika menutup matanya sesaat sebelum kembali berujar. "Jangan seperti ini." pintanya dengan lirih.
"Aku ingin kamu bahagia." Kai semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tidak ingin melihat kamu menangis." Entah kenapa saat Kai mengatakannya, tiba-tiba saja jantung Yasika berdetak cepat tidak seperti biasanya.
"Kak ... "
"Aku hanya ingin melihat kamu selalu tersenyum."
Sumpah demi apapun, Yasika merasa bahagia saat cowok itu mengatakan kalimat yang membuat dirinya melemah seperti ini.
Kai mengurai pelukannya, lalu memegang bahu Yasika sebelum akhirnya saling menatap.
"Aku mau kamu bahagia, Yas." di tangkup nya kedua sisi wajah Yasika. "Aku harap, laki-laki itu bisa bahagiain kamu."
Kepala Yasika mengangguk bersama dengan genangan air mata itu di pelupuk. Kai mengusap lembut dengan ibu jarinya setiap air mata yang jatuh melewati pipi mulusnya gadis itu.
"Jangan nangis." ujar Kai sembari mengelus pipi Yasika.
"Kak ... "
"Jangan pernah lupakan kalo aku mencintaimu."
Kai tersenyum tipis. "Maafkan atas semua egoku, maafkan semua kesalahanku. Aku tahu, semuanya telah terlambat. Aku pantas mendapatkan ini semua. Aku janji, setelah ini, aku akan menjauhimu."
"Kak ..."
"Jangan tanyakan kenapa, karena kamu sendiri sudah tahu jawabannya." Sela Kai cepat sembari tersenyum.
Tanpa ia duga, entah dalam ke adaan sadar atau tidak, gadis yang sedang menangis itu tiba-tiba saja menghambur memeluk dirinya. Iya, Yasika memeluk tubuhnya, membenamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu. Kai sempat termangu, masih tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Yasika kepadanya.
Di detik selanjutnya, Kai membalas pelukannya sembari mengecup kening gadis itu dengan sangat lama.
Yasika hanya diam bersama dengan matanya yang mulai terpejam. Seperti ada sengatan listrik ketika cowok itu mencium keningnya. Mungkin, saat ini Kai bisa merasakan jika jantung Yasika berdetak sangat kencang.
Saling membalas pelukan, itulah yang di lakukan oleh keduanya saat ini.
Yasika merasakan ketenangan saat Kai memeluknya, begitu juga dengan Kai, cowok itu pun merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan oleh gadis itu. Setelah beberapa lama mereka saling berpelukan, akhirnya, Yasika mengurai pelukannya membuat mata mereka kini saling berpandangan.
__ADS_1
Kai memberikan seulas senyum ketika mata bening itu berubah memerah karena habis menangis.
"Maaf, gak seharusnya aku memeluk kamu, Kak." Yasika menurunkan pandangan matanya, membuat cowok itu kembali mengangkat wajah cantiknya untuk mempertemukan pandangan mereka kembali.
"Seharusnya aku yang minta maaf, karena telah mencium kening kamu. Yas."
Kai begitu dalam memandangi wajah Yasika. Ia sangat mengagumi kecantikan yang di miliki oleh gadis itu. Yasika tidak bisa lagi menahan rona merah pada pipinya, ketika cowok itu terus menatapnya begitu lekat.
Kai tersenyum. Lalu, dengan reflek jari telunjuknya membelai sisi wajah Yasika, memberi sentuhan lembut sehingga gadis itu kembali menutup matanya.
"Cantik." Ujarnya seraya menyentuh dengan lembut bibir merah gadis itu.
Yasika yang mendengar pun, secara perlahan mulai membuka matanya. Lalu, kembali menatap Kai dengan tatapan menyendu.
Sial!
Anehnya lagi, Kai sangat menyukai itu. Ingin sekali ia memeluk dan mencium gadis itu tanpa ampun. Tetapi dengan segala kewarasan yang ia miliki, akhirnya Kai sadar, dengan segera mengalihkan pandangannya kemana saja asal tidak menatap mata sendu itu. Tangan yang semula berada di atas bibir Yasika pun secara perlahan ia turunkan. Karena kalau tidak, bisa-bisa cowok itu hilang kendali dan mencium Yasika tanpa mau melepaskannya.
"Aku ke atas dulu, mau ganti baju. Setelah itu, aku akan mengantar mu pulang." ujar Kai tanpa menoleh ke arahnya. Sengaja ia melakukan itu, berharap, agar rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya bisa hilang karena tatapan gadis itu.
Sebelum Kai meninggalkannya, tiba-tiba saja Yasika menarik tangan cowok itu, hingga Kai kembali menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" Tanya nya bingung.
Gadis itu menggeleng. "Gak usah antar aku pulang, Kak."
Kai mengernyit dengan dahi yang terlipat dalam.
"Aku bisa pulang sendiri, lebih baik sekarang kak Kai istirahat aja ya?"
Yasika tersenyum tipis. "Gak papa Kak, lagian ini belum terlalu malam kok, jadi aku pulang naik taksi aja."
"Enggak." Kai sedikit menyolot, tidak mengerti dengan pemikiran gadis itu. Bagaimana mungkin Kai membiarkannya pulang sendiri, setelah seharian ini Yasika menemaninya. Terlebih, gadis itu yang sudah mengobati lukanya.
"Gak akan lama, kamu tunggu disini."
"Tapi __ Kak."
Tanpa sengaja Yasika kembali menarik tangan cowok itu dengan sangat keras. Kai hilang keseimbangannya, lalu, ia terjatuh di atas tubuh Yasika sambil memeluknya.
Lihatlah, bagaimana posisi mereka sekarang di atas sofa?
Kai menutup matanya, begitu pun dengan Yasika. Mereka sama-sama sedang menetralkan kembali nafasnya yang sempat tercekat. Yasika menyadari jika ini adalah kesalahannya sendiri, yang menarik Kai terlalu keras di saat cowok itu sedang lengah.
Yasika merasa, jika kini dadanya kembali berdebar ketika cowok itu berada di atas tubuhnya. Apalagi sekarang Yasika menyadari satu hal, jika saat ini cowok itu tidak memakai baju, Kai sedang bertelanjang dada.
Yasika tersadar dengan posisi mereka saat ini, maka dari itu, ia membuka matanya secara perlahan, lalu ...
"Kak ... " dengan lirih gadis itu memanggilnya.
Bukannya segera bangun, Kai malah mengangkat wajah untuk mempertemukan pandangan mereka. Hembusan napas keduanya terasa hangat menerpa permukaan wajah karena jarak antara keduanya sangatlah dekat.
__ADS_1
"Rupanya tenaga kamu besar juga ya?" Ledek Kai pada gadis yang sekarang sedang berada di bawah kungkungannya.
"Maaf ..." Gadis itu menurunkan pandangannya.
Kai sedikit menarik ujung bibirnya ke atas saat melihat rona merah kembali tercetak pada wajah Yasika. Dan demi apapun, ia sangat menyukai itu. Apalagi ketika wajah polos itu menatapnya kembali dari bawah dengan tatapan menyendu.
Ah ... bisa-bisa ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.
Kai menelan salivanya dengan susah saat kedua bola mata bening itu terus menyorotinya dengan sendu. Yasika terus menatapnya, saat tangan cowok itu merapihkan rambutnya yang berantakan untuk ia selipkan pada balik telinga.
Masa bodoh dengan status mereka saat ini. Kai benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan dirinya untuk tidak mencium gadis itu. Sekarang yang Kai lakukan adalah, menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Kai menciumnya, dan ini adalah kali kedua cowok itu menciumnya. Bukannya menghindar atau mendorongnya, Yasika malah terdiam kaku membiarkan Kai terus memangut bibirnya.
Yasika merasakan jantung Kai berdebar sama kencang seperti dirinya. Tanpa sadar, Yasika pun menutup matanya dan ikut membalas ciumannya. Saling *******, saling membelit dan saling bertukar saliva itulah yang mereka lakukan saat ini.
Ya ampun ...
Yasika sadar, jika ini salah. Mereka tidak boleh melakukan kesalahan lagi, kesalahan kedua yang pernah mereka lakukan.
Ingat akan hal itu, lantas ia mendorong bahu Kai, hingga pangutan bibir mereka terlepas.
"Kak ..." Yasika menggeleng bersama dengan deru napasnya yang masih tidak beraturan. "Enggak, Kak. Ini gak boleh terjadi."
Kai bisa melihat raut kecewa dari wajah gadis itu, Kai tahu apa yang sudah dirinya lakukan pada Yasika. Seharusnya Kai bisa mengendalikan diri, Ini semua di luar batas kesadarannya.
"Maaf ...!" Kai menghela napas berat. "Aku gak bisa ngendaliin diri saat aku bersama kamu. Yas." Kai berujar dengan dahi yang saling menempel.
Yasika kembali mendorong bahu Kai agar lelaki itu menjauh, lalu, ia bangun dan duduk kembali seperti semula.
"Aku mau pulang." Ia rampas tasnya di atas meja.
"Biar aku antar."
Kepala itu menggeleng. "Gak usah, Kak. Aku mau pulang sendiri."
Tidak ada yang mampu Kai ucapkan saat ini. Ia terdiam bersama dengan suara debuman pintu yang tertutup. Kai membiarkan gadis itu pulang sendiri. Seharusnya Kai mencegah dan mengejar Yasika, tetapi ... ia tidak melakukannya, karena Kai tahu, jika saat ini gadis itu pasti ingin sendiri.
Apa yang sudah dia lakukan?
Merasa bersalah? tentu saja.
Kai mengusap wajahnya frustrasi sebelum ia mengangkat telepon dari seseorang.
Kenapa aku bisa lupa, kalau lusa aku akan bertunangan.
•••
Ingat? setelah membaca, jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya?
Makasih buat semua yang masih setia baca dan nunggu ceritanya aku..
__ADS_1
Sehat-sehat selalu buat kalian..
Bye... bye... ❤