Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Pengakuan


__ADS_3

Perjalanan dari restoran ke apartemen Anne terasa begitu lama bagi Yasika. Entah kenapa hawa panas terasa begitu menjalar ke seluruh tubuhnya saat ia melihat kedekatan yang terjadi antara kakak perempuannya itu dan juga Kai.


Yasika mulai menyibukkan dirinya sendiri dengan ponsel, berharap agar ia tidak terlalu melihat kemesraan yang di lakukan oleh kedua pasangan kekasih itu saat berada di dalam mobil.


Yasika membelalak saat melihat kakaknya itu mencium pipi Kai di depan matanya. Gadis itu gelisah. Bahkan, tanpa ia sadari, tingkahnya itu di perhatikan oleh seseorang dari balik kaca spion. Untuk sesaat mata mereka bertemu. Yasika langsung membuang pandangannya ke samping begitu melihat cowok itu sedang menatap dirinya.


"Kak ... "


Anne menoleh, ia baru sadar kalau di dalam mobil itu dirinya tidak hanya berdua, melainkan ada seseorang yang juga ikut bersama dengannya saat ini.


Anne tersenyum kikuk. "Kenapa?" Wajahnya memerah karena ia ketahuan telah mencium Kai di depan adiknya itu.


"Aku minta turun di depan."


"Loh kenapa?"


"Ada sesuatu yang mau aku beli. Nanti ke apartemen aku naik taksi aja."


"Emang mau beli apaan sih, Yas? penting banget ya?"


"Hmm ..."


"Yaudah, kamu turun. Kita tungguin."


"Gak usah, Kak. Kakak duluan aja. Setelah dari situ aku ke apartemen kok."


"Yaudah kita tunggu."


Bukan suara Anne yang kini berbicara, melainkan suara seseorang yang sedang menatapnya dari balik kaca spion.


Yasika ternganga. "Gak usah, kasian nanti lama."


Tidak ada yang bisa di lakukan lagi oleh Kai untuk mencegah setelah gadis itu menolaknya.


"Yakin kamu mau turun?" Kepala Anne menyembul menatap adiknya itu. "Entar pulangnya hati-hati ya?"


Kepala itu mengangguk. "Iya."


Sebelum Yasika membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja ia ingat dengan dompetnya yang tertinggal di rumah.


"Kak ..."


"Hmm.. " Anne kembali menoleh. "Kenapa? lupa bawa dompet?" Anne yang sudah mengetahui kebiasaan buruk adiknya itu.


Yasika cengengesan. "Minta uang dong."


Anne terkekeh. "Kamu emang gak pernah berubah ya.?"


"Lupa, Kak." ujar Yasika dengan bibirnya yang melengkung lucu. Tidak tahukah ia, tindakan menggemaskannya itu sedang di perhatikan oleh seseorang yang diam-diam ikut tersenyum.


"Nih.." Anne menyodorkan kartu kredit miliknya. "Pake itu aja, kakak juga gak bawa uang tunai." Anne menatap adiknya itu. "Ingat ... jangan sampai ketinggalan." Ujarnya lagi seraya tersenyum.


Yasika terkekeh geli. "Buat ongkos taksi mana?"

__ADS_1


"Ya ampun, Yas. Emang kamu gak pegang duit sama sekali?"


Kepala itu menggeleng. "Enggak."


"Yaudah pake uang aku aja." Kai menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke hadapan gadis itu.


Anne dan Yasika saling menatap.


"Tapi ini kebanyakan."


"Simpan saja, siapa tahu kamu perlu." Kai menatapnya.


"Yaudah, nanti aku balikin." ucap Yasika pelan. "Makasih."


"Hmm.."


* * *


Yasika telah kembali ke apartemen kakaknya itu sebelum jam tujuh malam. Dengan membawa dua kantong plastik yang berisi barang belanjaan untuk makan malam hari ini. Ya, sebelum Yasika keluar dari mall itu untuk membeli buku, tiba-tiba saja sang kakak menyuruhnya untuk sekalian membeli bahan-bahan buat memasak.


Yasika ingat, kalau malam ini kakaknya itu mengundang Kai untuk datang dan makan malam bersama di apartemennya.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Yasika jika gadis itu yang di minta oleh kakaknya untuk memasak. Karena Anne tahu, kalau Yasika memang gadis yang pandai memasak sama seperti mama-nya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat tiga puluh menit. Dimana sebentar lagi, Kai akan datang ke apartemen itu. Yasika tidak sendiri, ia di bantu oleh Anne meskipun hanya memotong sayuran saja.


"Kai bentar lagi datang, dia pasti suka masakan buatan kamu, Yas." Anne menyimpan potongan sayuran yang sudah ia cuci ke atas meja.


"Yas..." Anne bersandar pada meja makan itu. "Sebenarnya ___ " terdiam sejenak. Membuat Yasika menoleh ke arahnya.


"Ada sesuatu yang membuat kakak merasa tidak enak."


Yasika menatap kakaknya itu dengan alis yang menaut.


"Kakak bingung harus memulainya darimana." ujarnya kembali seraya memilin jari tangannya. "Sebentar lagi kakak akan menjadi tunangannya Kai, dan kakak tidak ingin ada kebohongan di antara kita berdua."


"Maksud kak Anne apa sih? aku gak ngerti, Kak.?"


"Aku takut, Yas."


"Kak Anne takut apa?"


"Takut jika Kai meninggalkan kakak dan membenci aku nantinya."


Yasika semakin bingung dan tidak mengerti sama sekali dengan ucapan kakaknya itu.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Kenapa kakaknya itu seperti ketakutan?


"Kak..." Yasika meraih tangan itu lalu menggenggamnya erat. "Sebenarnya apa yang mau kakak bicarakan?" Tanya gadis itu khawatir.


"Pengakuan __ "

__ADS_1


"Pengakuan apa?" tanya gadis itu semakin tidak mengerti.


"Sebenarnya __ " Anne berhenti saat tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.


"Nanti saja kita bicaranya."


Kepala itu mengangguk.


Anne dan Yasika tahu, jika yang datang itu Kai. Anne segera melepaskan tangan Yasika yang masih menggenggam tangannya, lalu beranjak untuk segera membuka pintunya.


"Hey.." Kai tersenyum seraya menyerahkan sebuket mawar putih ke hadapannya. "Maaf ya aku telat."


Anne tersenyum lebar. "Gak apa-apa, kamu gak telat kok." Anne mengambil bunga itu dari tangan Kai. "Makasih, bunga nya cantik sekali. Masuk yuk Kai.?" Anne membuka pintunya lebar-lebar, lalu menutupnya kembali begitu tubuh cowok itu melewatinya dan masuk ke dalam.


Kai menatap seluruh sudut ruangan seperti sedang mencari keberadaan seseorang.


"Yasika dimana?" Kai berujar saat sudah mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Dia lagi masak." Ujar Anne yang sekarang sudah duduk di samping cowok itu.


"Gimana kalo kita makan sekarang, kamu pasti laper kan?"


Kepala itu mengangguk.


"Lagian, kasian Yasika udah nyiapin semuanya."


"Boleh." Kai segera berdiri dan beranjak dari sofa mengikuti Anne dari belakang.


Kai terpaku begitu matanya menangkap tubuh ramping yang sedang sibuk menyiapkan dan menata makanan itu di atas meja. Sebenarnya, bukan hal yang aneh saat ia melihat Yasika berada di dapur. Kai sudah terbiasa saat melihat gadis itu mengenakan celemek dan memegang spatula tidak seperti kebanyakan gadis-gadis lain pada umumnya.


"Yas ... "


"Kak... "


Yasika segera melepaskan celemek yang masih melekat pada tubuhnya.


"Hebat banget sih kamu bisa masak banyak kayak gini.?" Ujar Anne saat ia menarik kursinya di ikuti Kai yang duduk di sampingnya.


"Calon istri idaman banget." Kelakar Anne yang membuat Yasika tertawa pelan. "Cowok mana sih yang gak mau punya calon istri kayak kamu, ya kan, Kai?" ujarnya kembali saat satu sendok makan berhasil masuk ke dalam mulutnya.


Kai tersenyum di sela-sela mengunyah makanannya. Lalu, matanya menatap ke arah gadis itu. "Cuma cowok bodoh yang gak mau sama __ Yasika." Matanya kembali tertuju pada gadis yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan menyipit.


Entah itu pujian atau ledekan. Yasika merasa, kalau cowok bodoh itu adalah dirinya sendiri.



Apa maksud dia?


Jadi kamu mengakui sendiri, kalo kamu adalah cowok bodoh itu, Kak...?


* * *


Jangan lupa setelah membaca tinggal kan like, komen, dan vote-nya juga ya..

__ADS_1


Terima kasih buat semua...


Salam sayang dari aku... ❤


__ADS_2