Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Apa sayang?


__ADS_3

"Aku mohon, putuskan dia, dan menikah lah dengan ku."


"Enggak, Kak."


"Aku mencintai kamu." Kai kembali mengusap lembut pipi gadis itu. "Aku ingin menikah dengan mu. Aku ingin kamu menjadi istriku."


"Aku gak bisa, Kak. Aku gak mau menyakiti mereka."


Yasika menepis tangan Kai yang masih setia mengelus pipinya.


"Maaf, aku harus pergi." Yasika hendak membuka pintu mobilnya, tetapi sebelum itu terjadi, ia sedikit terkejut saat tiba-tiba saja cowok itu memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kak."


"Jangan pergi!"


"Kak, lepas."


"Aku gak akan biarin kamu pergi, Yas." ujar Kai seraya memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


Yasika mencoba melepas tangan Kai yang melingkar di perutnya, tapi sayang, Kai semakin mengeratkan pelukannya itu sehingga sangat sulit untuk Yasika melepaskan pelukan cowok itu dari tubuhnya.


"Aku cinta kamu." Bisik Kai lembut tepat di telinga gadis itu.


Yasika meremang, suara serak dan hembusan nafas yang menerpa permukaan kulit lehernya membuat sekujur tubuhnya merinding seketika.


"Kak." lirih gadis itu seraya memejamkan matanya erat saat Kai tidak berhenti bermain di area lehernya itu, sesekali cowok itu mengecup tengkuknya.


"Aku sayang kamu." Kai mengecup leher jenjang itu dengan penuh perasaan, membuat Yasika hanya mampu memejamkan matanya.


Yasika ingin menolak, ia ingin menjauhkan wajah Kai yang berada di ceruk lehernya saat ini juga. Tapi entah kenapa, Yasika tidak melakukan itu. Ia hanya diam dan membiarkan cowok itu untuk terus menyentuh kulit lehernya. Yasika lemah, bahkan gadis itu sampai tidak bisa mengendalikan dirinya saat Kai menggigit kecil kulit lehernya dengan lembut. Yasika membiarkan Kai melakukan itu, ia malah memejamkan matanya semakin erat dan meremas tangan Kai yang masih setia melingkar indah di perutnya.


Kai tersenyum tipis di sela-sela kecupannya saat melihat Yasika hanya diam saja. Apalagi di saat matanya tidak sengaja melihat tanda merah di leher gadis itu akibat ulahnya sendiri. Ya, Yasika sampai tidak menyadari saat Kai menggigit lehernya dan meninggalkan bekas merah di sana.


Kai terkekeh kecil, membuat Yasika sadar. Lantas, gadis itu segera membuka matanya dan menoleh dengan segera ke arah samping untuk menatap cowok itu.


"Kenapa?" Merasa gadis itu menatapnya seperti sedang bertanya sesuatu.


"Kak lepas."


Bukannya melepas, Kai kembali memeluknya dengan erat. Membuat Yasika kesulitan untuk melepaskan tangan cowok itu.


"Kak, aku harus pergi?"


"Jangan bohongi perasaan kamu sendiri, Yas." Yasika kembali menoleh ke arahnya, lalu, menatap cowok itu dengan tatapan bingung.


Kai tersenyum, dengan gemas ia mengecup pipi merah itu sekilas.


"Kamu juga cinta sama aku kan?"


Yasika terkejut dengan matanya yang mengerjap kecil. Lalu..


"Kak aku harus pergi. Lepasin aku. Kasian nanti Davin nyariin aku."


"Enggak."


"Kak.!"


"Aku akan lepasin kamu tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


Yasika mengernyit. "Syarat?"


Kepala itu mengangguk seraya tersenyum tipis.


Yasika mendesah. "Syarat apa lagi?" Tanya gadis itu malas. Entahlah, memikirkan syarat kemarin saja membuat kepalanya hampir mau meledak.


"Besok." Kai berbisik pelan. "Aku mau kamu ikut dengan ku."


"Enggak." Sewot Yasika. "Aku gak bisa. Besok aku udah janji sama Davin mau nemenin dia, Kak."


"Kalo gitu batalin.!"


Seketika Yasika menoleh ke arah cowok itu. "A - apa?" Suaranya terbata. "Mana bisa gitu?"


Kai mengedik. "Bisa." di peluknya kembali tubuh itu dengan erat. "Mau kamu batalin sendiri? atau aku yang akan membatalkan rencana kamu itu?"


Astaga..!


"Besok aku tunggu kamu di apartemen pukul 6 sore."


Saat hendak mengeluarkan kalimat dari bibirnya, Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Seketika mulutnya menutup, lalu dengan segera ia mengambil ponsel itu dari dalam tasnya.


Davin .. gumamnya dalam hati.


Yasika bingung?


"Kenapa gak di angkat?" tidak butuh waktu lama untuk Kai mengetahui siapa orang yang menelpon Yasika saat ini. Kai melihat nama Davin yang tertera di layar ponsel Yasika yang menyala. Kai tahu, jika cowok itu pasti sangat mengkhawatirkan Yasika saat ini. Tetapi dengan segala keegoisannya, Kai tidak akan membiarkan Yasika pergi untuk menemui cowok itu. Apalagi untuk besok, tidak, Kai tidak akan membiarkan Yasika pergi berdua bersama dengan Davin.


"Mana bisa aku angkat telpon, kalo kamu kayak gini?"


"Bisa kok." Jawab Kai santai. "Angkat aja, kasian, dia nelpon kamu terus. Bilang kalo kamu masih sama aku."


Yasika segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan telepon masuk itu.


"Kamu dimana?"


Belum sempat ia mengeluarkan kalimat, Davin terlebih dahulu menyerobot dengan pertanyaan.


"Vin .. A - Aku __ "


"Dimana Yas? apa kamu udah pulang? aku nyariin kamu, aku nunggu kamu. Apa kamu masih sama Kai?"


Yasika menutup matanya. "A - Aku .." Bibirnya terasa berat untuk mengatakan sesuatu saat Kai kembali mengecup lehernya.


"Yasika? hallo, Yas?" Suara khawatir cowok itu di seberang sana.


"Iya, Vin. Maaf kamu udah nunggu lama. Aku segera kesana sekarang."


"Baiklah, aku tunggu kamu."


Sambungan telepon pun Yasika matikan.


"Kak, lepas. Aku harus segera pergi." Yasika melepaskan tangan Kai yang berada di perutnya itu. Lalu ia berbalik badan untuk menghadap ke arah dimana lelaki itu masih menatapnya.


"Yaudah, kalo gitu aku akan mengantarkan mu ke dalam."


Gadis itu melongo tidak percaya. Ya Tuhan .. ada apa dengan cowok ini? sebenarnya, kekasihnya saat ini adalah Davin, tapi kenapa jadi cowok ini yang posesif?


"Aku bisa sendiri Kak. Kamu gak perlu antar aku."

__ADS_1


"Oke." dengan bibirnya yang melengkung. "Tapi .. sebelum kamu pergi." Kai menatap gadis itu dengan tatapan teduh dan juga mendamba. "Benerin rambut kamu dulu."


Yasika bingung saat lelaki itu mengambil rambut panjang miliknya untuk ia rapihkan ke depan.


"Biar gak kelihatan." ujarnya kemudian yang disertai dengan seringai di wajahnya.


Entah kenapa saat melihat senyuman itu, Yasika merasa ada yang berbeda. Iya, ada yang aneh dengan cowok itu. Apalagi .. ?


Apa maksudnya tadi?


Yasika menatap Kai dengan mata menyalang. "Kak Kai bilang apa tadi?"


"Maaf, aku tidak sengaja." Cowok itu terkekeh geli membuat Yasika menyadari akan satu hal.


Astaga.!!


Dan .. tidak butuh waktu lama, Yasika menyibak rambutnya ke samping, setelah itu, ia melihat ke arah kaca spion dalam mobilnya. Betapa terkejut nya ia sekarang, matanya melebar dengan rahangnya yang terbuka lebar.


"Ya ampun .. Kak .. !!" pekik gadis itu saat melihat ada tanda merah di lehernya. "Apa yang kamu lakukan?" Yasika memegang lehernya sembari menatap Kai dengan garang.


Kai menyengir. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Maaf." ulangnya kembali. "Aku gak sengaja bikin itu." Bukannya takut dengan tatapan gadis itu, Kai justru semakin gemas saat Yasika menatapnya horor.


Yasika mendesis bersama wajahnya yang merengut.


"Udah gak apa-apa, nanti juga hilang kok."


Ya ampun .. bagaimana bisa cowok itu berkata dengan tenang?


Sementara Yasika, gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Bagaimana jika ada orang yang melihat, apalagi jika sampai Davin yang melihatnya.


Yasika merutuki dirinya sendiri, kenapa ia tidak tahu saat Kai memberi tanda merah itu di lehernya.


"Kamu tuh ngeselin tahu gak?"


Kai sedikit menyunggingkan bibirnya ke atas.


"Kamu tuh ngegemesin tahu gak?"


Yasika menoleh ke arahnya sembari memutar kedua bola matanya jengah.


"Kak .. Ih.!"



"Apa sayang ..?"


Ya Tuhan .. aku gak kuat kalo dia terus menatap aku seperti itu?


* * *


Jangan lupa tinggal kan like, komen, vote, berikan tanda ❤ di bawah ya?


Makasih buat semua yang masih setia nunggu?


Sehat selalu ya?


Salam sayang dari aku ...

__ADS_1


__ADS_2