
•
•
•
"Ma, kenapa? kok bengong?" Kai menyentuh pundak sang Mama dengan lembut.
Mama Wina terkesiap begitu mendengar suara anak laki-lakinya itu membuyarkan lamunannya. Mama Wina tersenyum seraya menggeleng samar.
"Apa yang mama pikirkan?" Tanya cowok itu kembali.
"Kai ..." Mama Wina memegang pundak putranya itu. "Mama mau tanya sesuatu sama kamu, tapi tolong, jawab pertanyaan mama dengan jujur." Pinta wanita paruh baya itu dengan wajah memelas.
Kai mengernyit dengan dahi yang terlipat dalam. "Mama mau tanya apa?"
"Yasika."
Astaga gadis itu lagi. Kai menatap wajah mama-nya itu. "Apa yang ingin mama tanyakan tentang Yasika, Ma?" tanya cowok itu kembali.
Mama Wina tersenyum. "Apa kamu sama sekali tidak menyukai gadis itu?" Ya Tuhan ... Pertanyaan macam apa itu? kenapa mama Wina terus bertanya seperti itu? Kai yakin, jika mama-nya itu sedang menaruh curiga kepadanya. "Kai ...?" Kai menoleh,lalu menatap dalam wajah mamanya itu. "Dengar mama baik-baik, nak. Ikuti semua kata hati kamu, jangan mau mengikuti ego kamu saja." Kai mengangguk. "Mama tahu, kalau kamu menjadikan kakaknya Yasika hanya untuk kepentingan diri kamu sendiri kan?"
Kai tercengang bersama dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
Astaga... kenapa mama bisa tahu?
"Mama tidak tahu apa alasan kamu sebenarnya, tapi Kai ... Mama ingin anak mama yang dulu, mama ingin Kai yang dulu, Kai yang selalu menyayangi semua orang, Kai yang selalu menggunakan akal pikiran jika ingin mengambil keputusan." Mama Wina semakin mendekat, ia angkat tangan kanannya untuk membelai rambut anaknya itu penuh kasih.
"Tolong ... Jika kamu tidak ingin menyesal nantinya, pikirkan secara baik-baik, gunakan hati dan akal sehat kamu, Kai." Kai membuang pandangan matanya begitu mama Wina menatapnya dengan sendu. "Mama percaya sama kamu. Apapun keputusan kamu, mama sama papa hanya bisa mendukung." Kai menatap kembali wajah wanita paruh baya itu. "Mama tahu, mereka berdua adalah gadis yang baik, kamu tidak berhak menyakiti salah satu dari mereka, nak."
"Iya, Ma." Kai menjawab pelan bersama dengan kepalanya yang mengangguk.
Mama Wina tersenyum dengan lembut. "Sekarang kamu istirahat ya?" Kai kembali mengangguk. "Mama keluar dulu, mama juga mau istirahat." Mama Wina berjalan hendak keluar dari kamarnya. Sebelum menutup kembali pintu kamar anaknya itu, mama Wina kembali menoleh ke belakang melihat putra tampannya itu masih diam mematung di tempat. "Kai ... " Kai kembali menatap mama-nya itu. "Yasika gadis yang baik, mama sudah menganggap dia sebagai putri mama sendiri. Kamu ingat sendiri kan, betapa Amel sangat menyukai gadis itu?" Kai mengangguk. "Kalau memang keputusan kamu sudah bulat. Tolong, bicara baik-baik sama dia, buat dia mengerti dan tidak membenci kamu nantinya."
"Iya, Ma. Aku akan ingat pesan Mama."
Mama Wina tersenyum, lalu menutup pintu kamar itu rapat.
Setelah kepergian sang mama dari kamarnya, entah kenapa dengan tubuhnya yang tiba-tiba terasa menjadi kaku. Kai masih diam mematung dengan pandangan matanya lurus ke depan ke arah pintu tersebut. Kai masih mencerna semua perkataan sang mama, kenapa setiap kalimat yang mama-nya itu ucapkan begitu tepat mengenai ulu hatinya.
Kai memejamkan matanya erat, membayangkan setiap kata demi kata yang keluar dari mulut wanita yang sangat ia cintai itu. Wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini, wanita yang sudah membesarkannya hingga ia tumbuh menjadi seperti sekarang. Wanita kuat, hebat dan tidak pernah mengenal kata lelah.
__ADS_1
Semua yang mama ucapkan itu memang benar, aku tidak boleh menyakiti hati siapapun.
Termasuk dengan mereka.
Tapi maafkan aku, Ma.
Aku tidak mungkin berhenti sampai disini, aku akan berhenti jika memang aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, ini semua aku lakukan demi mama, papa dan juga Amelia.
* * *
Keesokan harinya Kai sengaja mendatangi kampus dimana Yasika berada. Cowok itu sudah menunggu selama lima belas menit lamanya berada di dalam mobil. Sampai sekarang gadis itu belum juga menunjukkan batang hidungnya, entah sedang apa gadis itu sekarang. Padahal satu jam sebelum Kai datang, cowok itu sudah mengirimkan pesan terlebih dulu kalau ia ingin bertemu dan menjemputnya dari kampus.
Yasika menyetujui ajakan dari calon kakak iparnya itu, gadis itu juga membalas pesan yang di kirimkan oleh Kai kepadanya. Dengan alasan ada yang harus ia selesaikan bersama dengan cowok itu.
Saat Kai hendak mengeluarkan hape dari kantung celananya, tiba-tiba saja matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang berjalan di ikuti oleh seorang pria blasteran dari balik punggungnya. Kai mengenali siapa sosok gadis itu meskipun dari jarak yang lumayan jauh.
Siapa cowok itu?
Kai masih mengamati mereka dari dalam mobilnya.
"Yasika, tunggu." teriak cowok itu seraya menarik sebelah tangannya Yasika.
"Gue belum selesai ngomong sama lo." Ujar cowok itu tanpa mau melepaskan tangannya.
"Aku udah bilang, aku mau bantu kamu kalo urusan kuliah. Tapi kalo untuk itu, maaf aku gak bisa, Jo."
"Kenapa Yas? lagian kakak kamu juga seorang model kan?" Yasika mengangguk. "Gue butuh lo, untuk jadi model gue."
Yasika menggeleng. "Tapi aku gak bisa. Kamu cari aja yang lain."
"Tapi gue maunya lo." Pinta cowok itu. "Yang gue lihat, lo berbeda dengan gadis yang lainnya."
Gadis itu tetap pada pendiriannya, ia tidak ingin mengikuti keinginan dari teman kuliahnya yang berprofesi sebagai seorang fotografer itu.
"Maaf, Jo." Kepala itu kembali menggeleng. "Aku gak bisa."
"Pliss, Yas." pinta cowok itu dengan memelas. "Sekali aja." Cowok itu menarik tangan Yasika, lalu menggenggamnya dengan erat.
Tanpa di sadari oleh mereka berdua, ada sepasang mata yang sedang menatap keduanya dengan tatapan tidak suka. Cowok itu menggeram kesal bersama dengan rahangnya yang mengeras. Ada rasa tidak suka saat cowok itu menggenggam tangan gadisnya. Tanpa pikir panjang, akhirnya Kai keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Sebuah suara sukses membuat keduanya menoleh, dan sontak membuat pegangan Jonathan pada lengan Yasika terlepas.
"Kak Kai." Yasika melongo bingung dengan tatapan kaget.
"Kenapa? ada apa ini?" ulang Kai dengan wajah datarnya. Lalu, memandang ke arah cowok itu dengan tatapan tidak suka.
Jonathan mendesis. "Siapa dia, Yas?"
Yasika gelalapan. "Dia - dia."
"Bukan urusan kamu." Sela Kai cepat. "Ayo kita pergi dari sini." ujar Kai dengan menarik tangan gadis itu, dan berlalu meninggalkan cowok itu yang masih diam mematung.
Jonathan berdecak kesal, sedangkan di ujung sana, ada beberapa pasang mata yang sedang menyaksikan seraya tersenyum miring.
"Kayaknya gue kenal siapa cowok tadi."
"Bukannya itu Kaisar, pengacara itu kan?"
Nadine menoleh, lalu tersenyum miring kepada dua sahabatnya itu. "Hmm ... itu memang dia."
"Bukannya dia pacaran sama kakaknya yang model itu kan? kok Yasika bisa dekat sama dia?"
Nadine kembali tersenyum, tetapi kali ini senyumannya itu lebih terlihat seperti sebuah seringai.
Kayaknya gue harus cari tahu sendiri. Gadis itu tertawa sarkas. Kemudian menatap kedua temannya itu dengan bibir yang tidak lepas menyeringai.
*Sepertinya ini akan menjadi awal kehancuran untuk dia.
Anne Putri*.
* * *
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya buat aku?
Terimakasih aku ucapkan untuk kalian yang selalu setia baca cerita-ceritanya aku..
Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dan kesalahannya... 🙏🏻
Sehat-sehat selalu kalian semua...
__ADS_1
Salam sayang nya aku untuk kalian... ❤