Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Berakhir disini


__ADS_3

"Mau minum apa?"


Kepala gadis itu menggeleng. "Gak usah, makasih Vin."


Davin tersenyum, menatap wajah Yasika yang kini terlihat tidak seperti biasanya.


"Ada apa, Yas.?" Tanya cowok itu saat kini ia sudah duduk berhadapan dengan Yasika.


Yasika tersenyum tipis. Lalu, menatap Davin yang kini juga sedang menatap ke arahnya.


"Vin .. Sebenarnya __ aku kesini untuk __ " Yasika menghela nafas berat. "Maaf." Ujarnya seraya menunduk. Yasika tidak sanggup jika harus mengatakan ini semua. Yasika tidak ingin menyakiti Davin, lelaki baik yang selama ini sering membantu dan menemaninya.


Davin mengernyit, tidak mengerti dengan perubahan sikap gadisnya itu. Sebenarnya, ada apa dengan Yasika? Davin merasa, kalau gadis itu tampak seperti berbeda. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, dimana Davin selalu menjadi orang pertama yang ingin bertemu dengan Yasika. Tapi .. Hari ini, justru Yasika lah yang memintanya untuk bertemu.


Sebenarnya Davin senang saat gadis itu memintanya untuk bertemu, tapi entah kenapa dengan hatinya yang tiba-tiba saja merasa tidak tenang seperti ini.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, Yas?" tanya Davin dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Yasika mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan mereka. Sebisa mungkin ia tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya.


"Ada apa?" Ulang cowok itu kembali.


Yasika menggigit bibirnya sebelum kembali berujar. "Aku mau minta maaf sama kamu, Vin."


"Sebenarnya ada apa? kenapa kamu minta maaf sama aku?"


"Aku __ Aku." gadis itu menutup matanya erat sesaat, lalu kembali menatap cowok itu. "Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini."


Deg ..


Jantung Davin tiba-tiba saja seperti jatuh ke dasar perutnya.


Jadi ini, alasan Yasika untuk mengajaknya bertemu?


Sebagai seorang laki-laki, Davin tidak boleh terlihat lemah. Sebisa mungkin lelaki itu terlihat tenang di hadapan Yasika sekarang. Ternyata .. keinginannya untuk menikahi gadis itu hanya mimpinya saja. Ya, Sebenarnya Davin sudah mengetahui kalau Yasika belum benar-benar memberikan seluruh hatinya untuk Davin.


"Kenapa, Yas? kenapa hubungan kita harus di akhiri?" Davin masih terlihat tenang meski hatinya mencelos sakit.

__ADS_1


"Apa salah aku? apa kurangnya aku? apa aku laki-laki jahat yang sering nyakitin kamu?"


"Enggak .. Vin." Yasika menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan itu, kamu gak salah apa-apa disini, yang salah itu justru aku, yang jahat itu aku."


"Lalu? apa alasan kamu? padahal kamu tahu sendiri bagaimana aku mencintai kamu, Yas?" Davin melipat kedua tangannya di depan dada. Sebenarnya Davin tahu, kalau sebentar lagi Yasika akan mengatakan hal yang akan membuat hatinya terluka. Yaitu kata 'Karena aku tidak mencintai kamu.'


Ya, Davin menunggu kata-kata itu keluar dari bibir mungil Yasika sendiri. Meskipun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau kata itu adalah kata-kata yang paling ia benci dalam hidupnya.


"Maafkan aku, Vin. Maaf .. !" Yasika meremat tali tasnya dengan kuat.


"Apa kamu mencintai orang lain?" Seketika Yasika mengangkat wajahnya untuk menatap cowok itu. "Jawab aku, Yasika?" Pertanyaan Davin kembali membuatnya bungkam.


"Kalo aku boleh tahu, siapa laki-laki beruntung yang telah merebut kamu dari aku?"


"Apa dia baik? apa dia lebih tampan dari aku? apa dia kaya.?" Davin bertanya, seolah sedang memojokkan gadis itu.


"Cukup Vin ..!" Yasika ingin berteriak, tetapi ia sadar kalau sekarang mereka berdua sedang berada di tempat umum.


Ya, disini lah sekarang mereka berdua berada. Di dalam sebuah restoran tempat biasa yang sering mereka berdua kunjungi. Davin menarik nafas dalam seraya memejamkan matanya. Tidak seharusnya ia bersikap keterlaluan seperti itu kepada seorang gadis, apalagi gadis ini adalah Yasika.


"Maaf, kalo aku sudah keterlaluan." Davin menyesal saat melihat Yasika seperti ingin menangis. "Tidak seharusnya aku bicara seperti itu sama kamu. Aku marah, aku kecewa, tapi .. aku tidak boleh egois. Jika itu memang keinginan kamu, aku bisa apa?" Davin menatap Yasika. Ia tersenyum. Tapi.. senyuman itu membuat Yasika semakin merasa bersalah.


"Vin .. Maafkan aku?" Mata bening itu mulai berkaca-kaca.


"Kamu gak perlu minta maaf, Yas. Mungkin .. kamu memang bukan untuk aku." Saat kalimat itu ia lontarkan dengan tenang, tetapi tidak dengan sorot matanya yang menyimpan rasa kecewa dan terluka.


"Kamu berhak bahagia, Yas. Meski bukan bersama aku." Cowok itu kembali tersenyum. "Jadi .. hubungan kita sekarang berakhir sampai disini?"


Ya Tuhan .. demi apapun ia tidak ingin kehilangan gadis itu.


Ayo Yasika .. Bilang sekarang, kalo kamu mencintai aku? kamu tarik kata-kata kamu yang menginginkan kita berpisah?


"Maaf Vin .." Bersama dengan wajahnya yang menunduk, Davin mengerti kalau gadis itu memang menginginkan hubungan yang baru saja terjalin beberapa bulan lalu itu harus berakhir disini.


Davin menutup matanya sekilas sebelum kembali berujar. "Yaudah, tapi .. aku yakin, jika setelah ini kamu akan menyesal karena telah meninggalkan lelaki baik dan tampan seperti aku." Davin terkekeh di sela ucapannya, pun dengan Yasika yang sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.


Jadi, disinilah sekarang mereka berdua berada. Di ujung jalan perpisahan yang tidak pernah lelaki itu inginkan sama sekali sebelumnya. Meskipun gadis itu tidak mengatakan dengan jelas apa yang membuatnya ingin berpisah, tapi Davin tidak ingin memaksanya, apapun alasannya, ia yakin kalau Yasika mengambil keputusan itu dengan atau tanpa paksaan dari siapapun.

__ADS_1


Dengan berat hati Davin menerima keputusan dari gadis itu. Sebelum ia dan Yasika keluar dari dalam kafe itu, Yasika meminta agar ia ingin tetap menjalin hubungan baik dengan Davin. Dengan senang hati Davin mengiyakan, meskipun status mereka berubah menjadi seorang teman.


Kini, semuanya telah selesai. Beruntunglah bagi Yasika bisa mengenal seorang Davin yang begitu baik, lelaki itu tidak egois. Bahkan, Davin bisa menerima keputusan dari Yasika meskipun itu sangat tidak adil untuk laki-laki baik seperti Davin.


Yasika berharap, jika suatu saat nanti lelaki itu akan menemukan wanita yang lebih pantas, dan lebih baik lagi dari dirinya. Ya, semoga saja.


Berada di dalam mobil, Yasika mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ingatannya kembali lagi pada kejadian kemarin malam, dimana setelah ia mengantarkan Kai sampai depan rumah, Yasika memutuskan untuk kembali menemui kakaknya. Awalnya Anne menolak, wanita itu sama sekali tidak ingin bertemu ataupun berbicara dengan Yasika. Tapi .. Yasika tidak mau menyerah begitu saja. Ia tetap membujuk kakaknya untuk berbicara dari hati ke hati secara langsung.


Anne yang keras kepala pun akhirnya menyerah juga. Kini, kakak beradik itu berada di dalam satu ruangan kamar yang sama. Awalnya mereka berdua sama-sama bungkam, tidak ada satu suara pun yang keluar dari bibir keduanya. Masih sama seperti tadi, Anne sama sekali tidak ingin menatap atau melihat sedikitpun ke arah adiknya itu.


Hingga kemudian, Anne menoleh seketika dengan raut wajahnya yang tidak percaya.


"Apa maksud kamu?"


Gadis itu mengangguk seraya tersenyum.


"Maafkan aku, Kak." Yasika menggenggam tangan kakaknya itu dengan lembut. "Aku akan melakukan apa saja untuk kakak." Yasika berujar dengan air bening yang sudah menggenang di pelupuk.


"Jika kak Anne mau? aku akan meninggalkan kak Kai demi kakak."




* * *


Sampai disini dulu ya genks..!!


Nanti aku lanjut lagi deh..


Eitss... jangan kebawa emosi dulu ya? sebelum ending, aku mau buat Kaisar untuk memperjuangkan cintanya dulu..


Tetap semangat dukung aku ya?


Dengan tinggalkan like, komen dan vote-nya juga.


Makasih semua.. ❤

__ADS_1


__ADS_2