
Setelah selesai acara makan siang itu, Yasika di antar pulang oleh Kai karena permintaan sang kakak. Anne yang awalnya satu mobil bersama Yasika, gadis itu terpaksa meminta Kai untuk mengantarkan Yasika pulang karena dirinya mendapat telepon secara mendadak untuk segera ke lokasi pemotretan saat itu juga.
Yasika menolak dan lebih memilih untuk menggunakan jasa taksi online saja daripada harus satu mobil dengan cowok itu.
"Kak, aku pulang sendiri aja deh."
"Loh kenapa?"
Yasika melirik cowok itu sekilas. "Aku gak mau ngerepotin kak Kai." ujarnya pelan lalu kembali menunduk.
Karena aku gak mau berduaan sama dia.
"Tapi Yas, apa susahnya sih? Kai juga gak apa-apa kok, lagian kalian satu arah kan?" tanya Anne seraya berdiri dari duduknya. "Pokoknya kamu pulang bareng Kai ya? Kai aku duluan ya? titip Yasika." Anne berujar bersama dengan tubuhnya yang sudah melangkah jauh pergi meninggalkan restoran itu.
Sementara Kai dan Yasika, mereka masih berdiam diri disana. Suasana di meja itu kembali hening, Yasika bungkam, bahkan gadis itu tidak mau menatap cowok itu sedikit pun.
Kai berdehem. "Kamu mau pulang sekarang?"
"Enggak, kalo kak Kai mau. Kakak pulang aja." Yasika berujar datar tanpa mau menoleh sedikitpun.
"Kenapa?"
"Aku, lagi nunggu temen."
Kai mengernyit. "Siapa?"
"Temen aku." jawabnya datar.
Kai menghela, kemudian memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Kai tahu jika saat ini gadis itu sedang menghindarinya.
Sementara Yasika, gadis itu hanya fokus menatap layar ponselnya. Keheningan kembali terjadi di antara mereka berdua, Kai yang masih tidak beranjak dari tempat duduknya memperhatikan Yasika yang sedang fokus pada hapenya.
"Mau sampai kapan nunggu temen kamu itu?"
Yasika mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, kemudian beralih menatap cowok itu.
"Kenapa kak Kai masih disini?" bukannya menjawab ia malah balik bertanya, membuat Kai menatapnya dengan tatapan menyipit.
"Aku kan udah bilang, kak Kai pulang aja duluan. Aku gak papa kok."
"Aku gak akan pulang sebelum temen kamu itu datang." jawabnya santai seraya menatap lekat wajah gadis itu.
Yasika melongo bersama dengan raut wajahnya yang sedikit terkejut. "Kenapa?"
"Karena kakak kamu yang minta."
Oh jadi karena kak Anne. Gumamnya dalam hati. Aku kira...?? pikirannya kembali menerawang.
__ADS_1
"Jadi gimana?"
"Hah?" Yasika terkejut.
"Aku rasa temen kamu itu gak bakalan datang kan?"
"Darimana kak Kai tahu?"
"Buktinya sampai sekarang, dia gak ada." jawabnya seraya tersenyum miring.
Yasika mendesis, menatap cowok itu dengan tatapan menyalang. Yasika melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, sebenarnya sudah setengah jam yang lalu ia mengirim pesan kepada Davin agar cowok itu mau menjemputnya, tapi sayangnya sampai sekarang pun pesan yang ia kirim belum di buka juga oleh cowok itu. Yasika mengira jika Davin memang sedang sibuk saat ini.
Yasika menarik nafas panjang, sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut pulang bersama dengan cowok yang sedang ia hindari.
Sekarang, Yasika sudah duduk di sebelah Kai setelah cowok itu membukakan pintu masuk untuknya.
"Makasih kak."
"Hm ..."
Berada di dalam mobil, keheningan kembali terjadi. Kai yang fokus mengendarai dan menatap jalanan di depannya, sesekali melirik ke arah gadis yang sedari tadi hanya menatap ke luar jendela mobilnya. Selama perjalanan pulang itu, Yasika sama sekali tidak berbicara atau mau menatap cowok itu sedikit pun. Hingga akhirnya, Kai lah yang membuka percakapan di antara mereka berdua.
"Gimana kabar kamu?"
Mendengar suara itu, dengan gerakan cepat kepala itu menoleh. "Baik." lalu kembali menurunkan pandangannya.
"Mama sama Kania nanyain kamu, mereka bertanya, kenapa kamu gak pernah main lagi ke rumah?" tanya Kai seraya menatap gadis itu sekilas, lalu kembali fokus menatap jalanan.
Kai yang berada di sampingnya hanya manggut-manggut mengerti.
"Kapan-kapan, bisa kan kamu main lagi ke rumah?" pinta cowok itu.
Yasika meliriknya sekilas, dan mengangguk pelan.
"Nanti aku usahain."
Suasana kembali hening, dan kini Yasika memberanikan dirinya untuk bertanya kepada cowok itu.
"Kak ..."
Kai menoleh. "Kenapa?"
"Apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Kak Anne __ " Ia jeda kalimatnya. Bibirnya terlipat ke dalam. Yasika sedikit melirik sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Kenapa diam?"
"Gak jadi, aku lupa." sela Yasika cepat.
"Kalo kamu ingin tahu ada hubungan apa aku sama kakak kamu __ " Kai menoleh untuk mempertemukan pandangan mereka. "Mungkin, kita berdua punya hubungan."
"A -apa?" bibirnya bergetar, dan seketika matanya mulai menggenang, jika saja saat ini gadis itu berkedip, mungkin air bening itu akan keluar begitu saja dari mata beningnya.
"Jadi __ kalian?"
Kai sadar jika kelemahannya saat ini adalah mata bening itu, maka dari itu ia putuskan untuk segera mengalihkan pandangan matanya sebelum ia berubah pikiran. Ya, saat ini yang ada di kepalanya hanyalah tentang bagaimana caranya agar Kai bisa membuktikan sendiri tentang dugaannya selama ini.
Anne Putri, tujuannya sekarang adalah mendekati gadis itu. Kai tidak perduli meskipun ia harus melukai perasaannya sendiri dan melukai perasaan seseorang yang telah mengisi hatinya.
"Hmm ... Aku mencintai kakak kamu."
Deg
Saat mendengar kalimat itu terlontar langsung dari mulutnya sendiri, kenapa hatinya berdenyut nyeri. Dan tanpa di sadarinya, air bening itu menetes begitu saja. Yasika yang sadar akan hal itu, lantas ia segera menyeka sudut matanya yang berair.
"Dan untuk kedekatan kita, aku harap kamu gak menganggap nya lebih. Aku menganggap kamu tidak lebih hanya sebagai seorang adik saja." Saat berujar matanya melirik, Kai tahu jika saat ini gadisnya itu sedang menangis. Hatinya menjerit sakit, begitu ia melihat Yasika meneteskan air matanya, ingin sekali ia memeluk dan mengatakan kalau semua itu tidak benar, itu salah, dan ingin sekali ia mengatakan kalau hanya Yasika lah gadis yang telah memporak-porandakan hatinya. Tetapi dengan segala keegoaannya yang tinggi, Kai akan tetap pada pendiriannya, meskipun ia harus melukai orang-orang yang berada di sampingnya nanti.
Ya Tuhan... kenapa rasanya sakit sekali.
"Aku ngerti kok kak." Yasika terdiam bersama dengan jari-jarinya yang tak lepas meremat tali tasnya kuat. "Mungkin __ aku yang terlalu berlebihan, maaf ... jika aku terlalu banyak berharap." Sekuat hati Yasika menahan diri agar dirinya tidak menangis.
"Aku bahagia jika kak Kai dan kak Anne bisa bersama." Meski berkata demikian, tetapi tidak dengan hatinya yang begitu terluka. "Maka dari itu, tolong ... jangan sakiti kak Anne." Pintanya dengan sangat lirih.
Kai yang mendengar hanya bisa mencengkram setir mobilnya kuat.
Sementara Yasika, gadis itu masih terus menunduk bersama dengan buliran air mata yang tak bisa ia tahan lagi.
Yasika menangis, dan kali ini tangisannya itu terdengar begitu menyayat.
"Yas..."
"Maaf kak." Yasika menghindar saat cowok itu hendak menyentuh bahunya. "Berhenti berharap, mungkin itu akan lebih baik buat aku sekarang." Yasika mengusap air matanya kasar, lalu ia menatap cowok itu saraya tersenyum getir.
"Maaf ... Jika aku sudah berharap lebih."
• • •
Bagi like, komen dan vote-nya juga ya?
Makasih buat kalian semua yang selalu setia nunggu ceritanya aku..
__ADS_1
Sehat-sehat selalu ya?
Salam sayang dari aku... ❤