Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Cemburu


__ADS_3




Sampai detik ini, masih teringat jelas di kepalanya saat gadis itu menangis. Semalaman Kai tidak bisa memejamkan matanya saat suara lembut itu terus berdenging hebat di telinganya, wajah serta matanya yang sembab masih terlihat jelas sampai sekarang.


Yasika menangis, dan yang membuat gadis itu menangis adalah dirinya sendiri.


Ya, cowok itu yang telah melukai hatinya, menyakiti dan membuatnya menangis.


Menyesal? tentu saja. Ia menyesal karena telah melukai hati seorang gadis yang tidak tahu apa-apa.


Ternyata, membuat gadisnya menangis sangat berakibat fatal pada hatinya.



"Kenapa lo?"


Suara Bayu yang nyaring tidak membuatnya bergeming. Kai masih tetap pada posisinya, masih memejamkan matanya erat seraya menutup wajahnya dengan buku.


"Lagi pusing, mikirin adek sama kakaknya ya?" ledek Bayu disertai tawa geli.


Sementara Kai, cowok itu langsung membuka matanya seraya berdecak malas serta menatap wajah yang menyebalkan itu dengan tatapan tajam.


"Rese lo."


Bayu tertawa kecil. "Kai ... Kai, bisa gue tebak, kalo sekarang lo lagi mikirin dedek Yasika kan?" Tanyanya sedikit nyeleneh dengan kedua alisnya yang naik turun. "Lo gak bisa bohongin gue." Ujarnya kembali seraya mengambil kotak rokok dari dalam kantung celananya.


"Sok tahu lo.!"


Bayu menoleh lalu tersenyum miring. "Yasika gadis baik, pintar, dan __ dia juga cantik, Kai." Satu rokok berhasil ia sulut. "Hati-hati aja lo, kalo nanti Yasika di embat sama cowok lain." ujarnya seraya menyesap rokok itu lalu membuang asapnya jauh.


"Kalo emang ada laki-laki yang baik dan mencintai dia, kenapa enggak?"


Bayu mendesis. "Yakin?" tanyanya penuh selidik. "Lo gak akan nyesel? ini Yasika loh Kai? gadis yang udah lo cium, dan yang bikin lo gak bisa bobo semalaman." Ujarnya dengan penuh ledek di sertai tawa yang begitu menjengkelkan.


"Kemarin aja, pas gue kirim poto Yasika sama cowok lain, lo langsung uring-uringan gak jelas." Bayu berujar kembali bersama dengan asap rokok yang masih mengepul dari bibirnya.


"Kapan?"


"Jangan pura-pura lupa lo?"


Kai tertawa kecil. "Gue biasa aja kok, itu cuma perasaan lo, Bay."


"Mau gue ingetin lagi? atau lo mau lihat poto itu lagi.?"


"Apaan?"


Bayu berdecak kesal. "Lagian itu cowok keren juga, kalo menurut gue sih, Yasika lebih pantas sama dia, di banding sama lo.?"


Dengan refleks Kai menoleh, menatap sahabatnya itu tajam. "Terserah lo."


Bukannya takut, cowok itu malah tergelak kencang. "Bilang aja kalo lo cemburu?" Ujarnya kembali yang seketika mendapat pelototan tajam dari Kai.


"Bisa diem gak sih lo.?" Tanya Kai seraya melemparkan bungkus rokok itu ke wajahnya.


"Ngaku aja kenapa sih?" ia jeda kalimatnya. "Cemburu kan lo?" Ujar Bayu kembali seraya terkekeh geli.


Kai tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan, bagaimana pun jika sudah berbicara dengan temannya yang satu ini, memang tidak akan pernah ada habisnya. Bayu akan terus menggoda Kai sampai ia merasa puas.


"Mau kemana lo?" Tanya Kai saat cowok itu sudah berdiri di depan pintu keluar kantornya.


Bayu menoleh, lalu tersenyum miring. "Gue mau keluar, mau ketemu sama dedek gemes."

__ADS_1


Kai mengernyit bingung. "Siapa?"


"Dedek Yasika."


Kai tercengang dengan rahangnya yang terbuka lebar. Sumpah, ingin sekali ia menyumpal mulut cowok itu sekarang juga. Kalau saja Bayu bukan sahabatnya, tentu saja dengan leluasa Kai akan memberi pelajaran kepada cowok pecicilan seperti sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan Bayu.


"Kai ..." suara Bayu terdengar bersama dengan kepalanya yang menyembul dari balik pintu. "Lo gak marah kan?" tanya cowok itu kembali saat mata mereka bertemu. "Jangan cemburu ya? kalo Yasika sama gue." ujarnya kembali seraya tertawa kecil. Sontak saja Kai langsung menatap cowok itu semakin tajam.


"Cemburu ya?"


"Bayu ...!!!" teriak Kai dengan suaranya yang tercekat.


"Cemburu kan lo?" ledeknya kembali seraya menutup pintu itu dengan keras.


Sementara Kai, cowok itu mendengkus sambil tersenyum tipis.


Memang rese itu orang.?


* * *


Setengah jam yang lalu Yasika baru saja keluar dari ruangan kelasnya. Kini, gadis itu sedang duduk bersama dengan salah satu temannya di sebuah taman yang terletak di belakang kampusnya. Yasika merasa jika akhir-akhir tugas kuliahnya semakin banyak dan menumpuk, sebenarnya bukan hal sulit untuk menyelesaikan semua tugasnya, karena Yasika memang termasuk salah satu mahasiswi yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.


Selain pintar, Yasika juga termasuk gadis yang cantik, ramah dan juga rendah hati. Maka tidak heran jika banyak orang yang menyukainya. Bukan hanya para mahasiswa saja yang mengagumi sosok Yasika, bahkan para mahasiswi juga banyak yang menyukai sosok gadis berparas cantik itu.


Yasika mulai menyibukkan dirinya dengan terus belajar, hal itu sengaja ia lakukan semata-mata hanya untuk melupakan masalah pribadinya.


Setelah kejadian kemarin, Yasika benar-benar akan melupakan rasa cintanya untuk laki-laki yang mungkin sebentar lagi akan menyandang status sebagai calon kakak iparnya.


Menyedihkan bukan?


"Yas ... "


"Hm ... "


Yasika menoleh, lalu tersenyum tipis. "Aku gak papa kok."


"Yakin?"


Kepala itu mengangguk samar.


"Kalo lo ada masalah, lo bisa cerita sama gue, Yas?"


Lagi-lagi, gadis itu hanya menggeleng. Sekuat tenaga Yasika akan menutupi kesedihannya.


"O iya, Yas. Apa gue boleh tanya sesuatu sama lo?"


"Tanya apa?"


Ica menghela, lalu menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyipit. "Ini tentang ... " ia jeda kalimatnya. "Kak Kai sama kakak lo."


Yasika menoleh, lalu menatap sahabatnya itu seraya tersenyum tipis. "Memangnya ada gosip apa?"


"Masa lo adeknya gak tahu sih?"


Yasika menggeleng.


"Gosip tentang ... Kak Kai sama kakak lo punya hubungan special?"


Yasika yang mendengar hanya mampu tersenyum meski hatinya terasa sakit.


Kepala itu mengangguk. "Iya."


"Apa?" Ica begitu terkejut. "Tapi Yas, kok bisa?"


"Memangnya kenapa sih, Ca?"

__ADS_1


"Tapi kan __ lo sama kak Kai?" ucapnya terhenti saat ia melihat sorot mata itu. Mata sendu yang kini mulai menggenang.


"Aku gak ada hubungan apa-apa kok." Kilah Yasika cepat.


"Yas ... "


"Udahlah Ca, aku gak mau bahas itu lagi."


"Lo cinta sama kak Kai?" Tudingnya saat ia melihat bahwa sahabatnya itu seperti sedang menyembunyikan kesedihan.


"Apa sih, Ca?" Yasika merajuk bersama dengan gelengan di kepalanya.


"Jangan bohongi perasaan lo, Yas?" tanya gadis itu kembali seraya menggenggam tangannya erat.


"Gue tahu Yas, gue ini sahabat lo. Kita berteman udah lama, jadi lo gak usah ngelak lagi sama gue?"


Air bening yang menggenang di pelupuk matanya itu perlahan tumpah bersama dengan rasa sedihnya. Yasika menangis di pelukan sahabatnya itu, Yasika yakin kalau dengan cara seperti ini ia bisa melupakan dan menumpahkan semuanya.


Ya, saat ini hanya seorang sahabat lah yang ia butuhkan. Awalnya Yasika tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi karena Ica yang terus mendesaknya, akhirnya ia memberanikan diri untuk menceritakan semuanya, termasuk dengan menceritakan kedekatan yang terjadi sebelum cowok itu lebih memilih kakak perempuannya di banding dengan dirinya.


"Kok, dia tega banget sih sama lo?"


Yasika yang sudah merasa lebih baik, ia tersenyum lalu mengusap air matanya. "Mungkin, kak Kai bukan jodoh aku."


"Jadi __ dulu lo berharap, dia jadi calon suami buat lo?"


"Apa sih, Ca." ujarnya seraya terkekeh dengan bibir yang mengerucut lucu.


Ica tertawa saat melihat raut wajah sahabatnya itu yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Cieee ... Yang mau punya kakak ipar ganteng?" ledeknya kembali yang seketika mendapat cubitan kecil dari Yasika.


"Aww ... " Ica meringis seraya mengusap lembut tangannya. "Lo gak takut cemburu ya?"


"Cemburu?"


Kepala Ica mengangguk. "Iya, emangnya lo gak cemburu saat melihat mereka sedang berdua?"


"Enggak."


"Yakin?"


"Yakin, aku gak bakal cemburu sama dia."


"Sekarang aja bilangnya gitu, entar pas lihat mereka berdua, lo nangis lagi.?"


Yasika mencebik bersama dengan tangannya yang terlipat di atas dada.


"Kalo aku cemburu, memangnya aku bisa apa?"


"Perjuangkan cinta lo."



Untuk apa aku berjuang? kalo dia menganggap aku hanya sebagai adiknya saja.


* * *


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen serta vote-nya juga ya.?


Mohon maaf untuk ceritanya KHM 2 harus aku tunda dulu, soalnya aku mau kelarin ceritanya satu persatu.


Sehat-sehat selalu ya kalian semua...


Salam sayang dari aku... 🤗

__ADS_1


__ADS_2