Lawyer Handsome

Lawyer Handsome
Pelukan terakhir


__ADS_3

Happy Reading...





Kali ketiga Yasika kembali masuk ke dalam apartemen milik Kai. Entah kenapa, semenjak menginjakkan kakinya untuk masuk, ia merasa ada yang berbeda dengan ruangan apartemen ini. Bola matanya memutar, mengabsen seluruh ruangan yang terlihat tampak sedikit berubah itu.


Ya, dulu saat pertama kali Kai membawanya kesini, Yasika pernah memasak untuk Kai. Dan ... disini juga, apartemen ini pernah menjadi saksi bisu kalau cowok itu pernah mencium dirinya. Iya, di saat itu pun perasaannya telah tumbuh untuk Kai, cowok yang pernah mencuri ciuman pertamanya.


Suasana di dalam apartemen itu tampak sedikit berbeda. Entah apa yang membuatnya berbeda. Apa ini hanya perasaannya saja, ketika mereka hanya berdua di dalam apartemen itu.


Kalau boleh mengulangnya kembali, Yasika akan menolak untuk ikut masuk ke dalam apartemen bersama dengan Kai.


Dadanya terus berdebar setiap kali cowok itu dekat dengan dirinya.


Berada di dalam apartemen, Yasika terlebih dahulu membersihkan luka pada lengannya. Gadis itu meringis ketika cairan antiseptik mengenai lukanya.


"Aww ... perasaan tadi gak sakit, kenapa sekarang terasa sakit ya?" Gerutunya saat membersihkan luka pada tangannya itu.


"Katanya gak sakit, cuma luka kecil doang." ledek Kai saat ia menghempaskan bokongnya di atas sofa.


Gadis itu hanya melirik tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Yasika tahu, jika cowok itu sedang meledek dirinya.


"Ish ... " Kai meringis saat punggungnya tanpa sengaja mengenai punggung sofa.


Di detik itu juga, mata Yasika melebar sempurna.


"Ya Tuhan ... " Yasika mendekati Kai. Lalu duduk di sebelah cowok itu dengan cemas. Ia melihat darah dari kemeja yang Kai kenakan. "Kak, baju kamu ada darahnya?" Yasika menatap Kai. "Punggung kamu pasti terluka." ujar gadis itu kembali dengan cemas.


Kai mengernyit, lalu menoleh ke samping untuk memastikan lukanya itu. Tanpa aba-aba, cowok itu langsung melepaskan kancing kemejanya satu persatu di hadapan Yasika.


"Kamu mau ngapain?"


Sesaat tubuh gadis itu menegang ketika melihat Kai sudah melepaskan seluruh kemeja dari tubuhnya. Sekarang, cowok itu sudah bertelanjang dada.


"Kak.!"


Yasika bisa melihat tubuh Kai yang tegap dengan otot perut yang kotak-kotak serta punggung lebar yang mempesona dengan kulitnya yang sangat putih dan harum maskulin dari tubuhnya langsung menyeruak masuk ke indera penciumannya.


Demi apapun, Yasika tidak bisa berbohong, kalau ia sangat menyukai itu. Menyukai semua yang ada pada diri Kai termasuk dengan bau tubuhnya. Wangi maskulin yang tercium sungguh membuat Yasika kesulitan untuk menahan debaran jantungnya yang semakin menggila.


Belum sempat ia menenangkan jantungnya yang bertalu-talu tidak karuan, tiba-tiba saja cowok itu mendekat, duduk di hadapannya dengan dada yang tidak berpenghalang sama sekali. Matanya membelalak tidak percaya ketika Kai semakin mengikis jarak di antara mereka, hingga kini keduanya saling menatap dalam satu garis lurus. "M - mau ngapain?" tanya nya gugup seraya menjauhkan kepalanya dari cowok itu. "Kenapa kamu buka baju sih, Kak?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


Yasika gelalapan bersama dengan pipinya yang tiba-tiba memerah.


Kai tersenyum, lalu merubah posisi duduknya, sehingga kini cowok itu memunggungi Yasika.


"Ya ampun... Kak?"


Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat luka pada punggungnya Kai. Lalu, ia berdiri. "Sebentar, aku ambil air hangat dulu."


Beberapa menit kemudian, Yasika kembali dari dapur dengan tangan memegang mangkuk berisi air hangat. Gadis itu duduk, lalu membersihkan lukanya Kai menggunakan handuk kecil. Yasika tampak ragu saat tangannya menyentuh punggung telanjang milik cowok itu.


Kai pun hanya bisa tersenyum saat tangan halus gadis itu menyentuh bagian punggungnya.


"Jangan cuman di liatin?"


"Hah?" Yasika sedikit terkejut.


"Sebenarnya kamu itu bersihin luka aku gak sih?" tanya cowok itu tiba-tiba dan membuat Yasika langsung gelalapan karena malu.


"I - iya, ini juga lagi aku bersihkan kok."


Kai terkekeh. "Kenapa cuma di liatin doang dari tadi?"


"Siapa yang liatin.?" gadis itu mendesis tidak suka. "Lagian, kenapa sih pake buka baju segala.?" Gerutunya pelan tapi masih dapat di dengar oleh Kai.


Yasika terdiam sejenak, lantas. "Aku bisa kok bersihin luka kamu tanpa harus membuka baju."


Kai sedikit menarik ujung bibirnya ke atas. "Nanggung, lagipula kamu cuma liat punggung aku doang kan?"


"Ish ... bukan itu."


"Lalu?"


"Risih aja, lihatnya."


Kai terkekeh. "Yaudah, kamu obatin luka aku sambil tutup mata aja."


"Mana bisa."


"Aww ... " Kai meringis kesakitan saat gadis itu dengan sengaja menekan lukanya itu. Lalu, ia menoleh ke belakang menatap Yasika dengan tatapan menyipit.


"Kamu sengaja, kan?" Masih pada mode dinginnya.


"Maaf ... aku gak sengaja." Yasika hanya bisa tersenyum kaku saat cowok itu menatapnya seperti sedang mengintimidasi dirinya. "Yaudah, aku obatin lagi lukanya, biar cepet selesai." Buru-buru gadis itu mengalihkan pandangannya agar Kai tidak lagi menatapnya seperti itu.

__ADS_1


Kai hanya tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. Merasa tidak habis pikir dengan tingkah gadis itu yang menurutnya sangat menggemaskan. Jika seandainya Yasika itu kekasihnya, sudah dari tadi ia akan menutup mulut gadis itu dengan bibirnya.


Kai mendesah. Apa yang aku pikirkan?


Yasika hanya tersenyum saat melihat tingkah aneh dari Kai. Ia merasa puas karena telah memberi pelajaran untuk cowok itu. Yasika kembali membersihkan luka pada punggung Kai dengan telaten, lalu mengoleskan salepnya dengan hati-hati. Hawa panas terasa menjalar ke seluruh tubuhnya setiap kali kulit mereka bersentuhan.


"Jika Amel masih ada, pasti dia yang akan mengobati lukanya aku." ujar Kai secara tiba-tiba yang membuat Yasika menghentikan kegiatannya dari mengobati lukanya itu.


"Sejak dari kecil dia sudah berkeinginan untuk menjadi Dokter." Kai sedikit menoleh ke samping. Lalu tersenyum. "Katanya, kalo dia menjadi Dokter, dengan mudah dia bisa menyuntik aku kalo lagi sakit. Karena dia tahu, aku ini paling takut jika di bawa ke rumah sakit atau bertemu dengan Dokter" cowok itu terkekeh. "Lucu bukan?" ujarnya lagi yang di sertai dengan tawa kecil.


Kai tertawa? tapi ... di balik itu semua, ada luka yang cowok itu sembunyikan. Yasika tahu, jika Kai sedang menutupi rasa sedih nya itu dengan tertawa. Dugaannya itu semakin kuat ketika cowok itu membalikkan badan dan berhadapan dengan nya saat ini. Yasika melihat, ada luka dalam dari sorot matanya lelaki itu.


"Kak ..." dengan reflek gadis itu menangkup kedua sisi wajahnya membuat mata mereka saling berpandangan.


"Aku yakin, jika Amel tahu kalo kakak laki-lakinya seperti ini, ia tidak akan suka."


Yasika mengusap dahi Kai yang berpeluh. Kulit mereka saling bersentuhan. Kai hanya diam dan termangu sesaat, menatap setiap gerakan yang Yasika lakukan kepadanya. Kai juga melihat dua bola bening itu menatapnya penuh cemas. Kai menggeleng, entah apa yang ada di pikirannya kali ini. Tanpa sadar, ia menyerukan wajahnya ke atas perpotongan leher Yasika.


Gadis itu tersentak. "Kak ... "


"Sebentar, Yas."


"Tapi __ " tiba-tiba saja suaranya bergetar.


"Hanya sebentar, biarkan aku seperti ini."


Yasika berusaha mendorong, tapi pelukan Kai semakin erat saat memeluk tubuhnya.


"Mungkin ini yang terakhir."


Yasika diam, dadanya berdebar tidak karuan.


Terakhir? gumamnya dalam hati. Kenapa rasanya seperti ini?


"Setelah ini aku janji, aku akan membiarkan mu bahagia bersama dengan laki-laki lain."


•••


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga buat aku ya?


O iya, follow akun IG'nya aku ya..


@hakimparida..


Terimakasih buat semua..

__ADS_1


Sehat selalu ya?


Lopeyuuu.... ❤


__ADS_2