
"Putri Dekieta tidak pantas menjadi pemimpin kerajaan. Putri Dekieta seorang perempuan pasti jika putri Dekieta menjadi ratu pasti banyak menteri yang menolak,"
"Putri Dekieta harus melahirkan seorang raja. Mungkin putri Dekieta dimasa depan hanya menjadi seorang ibu suri." ucap Menteri Togo.
Menteri Kega menatap tajam kearah menteri Togo.
"Putri Dekieta pasti bisa menjadi seorang ratu mandiri." ucap Menteri Kega.
Menteri Togo tertawa lirih. " Menjadi ratu mandiri? saya benar benar akan menentangnya selama bertahun tahun dan dibuku sejarah juga tidak ada Ratu yang memerintahkan kerajaannya sendiri." ungkap menteri Togo.
Menteri Togo benar benar berani sekali, seorang Menteri Kega kakak laki laki dari Ratu saja Menteri Togo berani melawan.
Menteri Kega menatap menteri Togo dengan tatapan permusuhan.
Walaupun mereka satu pekerjaan tapi memang mereka bisa saja saling bermusuhan, karena mereka memegang prinsip berbeda beda.
"Lihat saja nanti kamu bakal menunduk dibawah kaki Putri Dekieta." ucap Menteri Kega.
Menteri Togo tertawa.
"Saya malah akan mendukung jika yang menjadi ratu adalah putri Anne."
Setelah itu Menteri Togo meninggalkan Menteri Kega yang terbakar emosi.
Anne menjinjing gaunnya, Anne takut gaunnya kotor karena jalanan yang becek.
Ada dayang yang menghentikan langkah Anne.
Anne menatap dayang itu, "kenapa?"
"Apa tuan putri membutuhkan bantuan?"
Anne tersenyum kemudian menggeleng.
"Tidak, terima kasih sudah menawarkan." Anne menolak tawaran dari dayang.
"Tapi tuan putri sepertinya kesusahan."
Anne tersenyum. "Tidak apa apa, aku hanya mengangkat kain, kain ini juga tidak berat kok. kalian tenang saja."
Dayang itu kembali kebarisannya. Anne melangkah dan dibelakangnya sudah ada dayang dayang.
Anne mengehentikan langkahnya ketika Anne berpapasan dengan seseorang laki laki yang asing. Laki laki itu melihat Anne seperti sudah mengenal Anne, padahal Anne tidak mengenal laki laki ini. Laki laki itu memberikan penghormatan kepada Anne.
"Selamat pagi tuan putri." laki laki itu menyapa Anne.
Anne hanya membalas sapaan itu dengan sapaan. Laki laki itu menatap Anne.
"Mungkin tuan putri belum mengenal saya, jadi izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Yega anak dari Menteri Kega. Saya sepupu dari Putri Dekieta dan tuan putri." ungkap Yega.
Anne tampak bingung.
"Menteri Kega? maaf aku tidak tau siapa menteri menteri yang ada di kerajaan. Dan aku juga tidak pernah tau jika kamu dan menteri Kega adalah kerabat dekat ku." ucap Anne.
__ADS_1
Anne tentu curiga. Anne dari kecil tidak pernah dikenalkan dengan para saudaranya jadi pantas saja jika Anne tidak mengenal Menteri Kega atau pun Yega.
Yega tersenyum mendengar penuturan dari Anne.
"Tidak apa apa jika tuan putri tidak mengenal saya, dan saya sudah tau jika tuan putri tidak mengenal saya."
Anne mengangguk anggukan kepalanya.
"Lalu kenapa?"
Anne jadi kelihatan sinis.
"Saya hanya ingin berkenalan dengan anda tuan putri." ungkap Yega.
Anne mengangguk anggukan kepalanya.
"Kita berdua sudah berkenalan bukan? jadi saya pergi." Anne melangkah meninggalkan Yega.
Yega menatap kepergian Anne dengan tatapan yang datar. Yega kan cowok cool.
Anne melangkah sambil menatap lingkungan sekitarnya. Anne menghentikan langkah, Anne menghirup udara segar dilingkungan kerajaan.
"Andai aku tau sejak lama jika udara disini segar sekali, sudah pasti nantinya aku akan memaksa untuk keluar dari kediaman ku."
Para dayang yang mendengar perkataan Anne hanya bisa tersenyum.
"Apa tuan putri Sangat senang hari ini?" ada dayang yang bertanya kepada Anne.
Anne mengangguk. "Aku senang karena hari ini aku sudah sembuh dari demam."
Anne menatap para dayang.
"Aula? dikerajaan ini ada Aula? kenapa Tuv tidak pernah memberi tahu aku?"
Para dayang mengangguk, "disini memang ada Aula tuan putri, aula yang dipergunakan untuk acara acara besar."
"Apa aku boleh kesana?" Anne bertanya.
Para dayang itu saling memandang dan akhirnya mereka mengangguk.
"Aula itu bebas dikunjungi siapa saja tuan putri, tapi kalau ada hal hal mendesak didalam kerajaan aula itu akan ditutup." ucap Ena.
Anne antusias sekali mendengar berbagai kalimat yang memperkenalkan Aula.
"Sekarang apakah Aulanya ditutup?" Anne bertanya.
Sarah menggeleng. "Aula hari ini buka tuan putri, anda mau mengunjunginya?"
Anne mengangguk dengan senyuman lebarnya.
"Apa saya boleh mendahului langkah tuan putri? saya akan menjadi penunjuk arah tuan putri." ucap Ena.
"Baiklah kamu boleh mendahului langkah saya." jawab Anne.
__ADS_1
Ena mengangguk kemudian Ena melangkah kedepan Anne.
"Silakan tuan putri."
Anne mengikuti langkah kaki dari Ena.
-
Akhirnya Anne sampai digerbang utama Aula. Anne terpukau karen baru pertama kali melihat Aula. Aula benar benar sangat luas dan banyak penjaga juga disekitar sisi Aula.
"Apa tuan putri ingin masuk kedalam Aula?" Sarah bertanya.
Anne menoleh kearah Sarah, "apa tidak apa apa jika aku masuk kedalam Aula?"
Sarah dan para dayang lainnya mengangguk.
"Aula bebas dimasuki siapa saja tuan putri."
"Apa tuan putri mau masuk kedalam Aula?" lanjut Sarah bertanya.
Anne menatap latar Aula yang sangat luas. Anne mengangguk dan Anne melangkah masuk kedalam Aula.
Tiba tiba langkah Anne dihentikan oleh Sarah.
Anne menatap Sarah kebingungan.
"Ada apa?" Anne bertanya melihat muka Sarah yang tertekan.
"Tuan putri jangan berjalan diatas jalan ini, jalan ini hanya boleh diinjak oleh Raja dan Ratu tuan putri, kalau tuan putri menginjak jalan ini pasti tuan putri akan mendapatkan hukuman." ucap Sarah.
Anne memperhatikan jalan khusus Raja dan Ratu itu.
"Aku mempelajari tentang jalanan yang tidak boleh sembarangan orang lewat, tapi aku hanya sekedar mempelajarinya tanpa tahu seperti apakah jalan itu. dan sekarang aku senang karena aku tau jalan itu sekarang." ungkap Anne.
Benar yah kalau cuman belajar dan tidak memahami itu sama saja merugi.
"Silakan tuan putri lewat sini." Ena menjadi penunjuk arah.
Anne tersenyum dan berjalan dijalan yang benar.
Anne mengelilingi Aula itu.
Saat Anne masih berada di Aula para menteri keluar dari aula, mereka baru saja selesai rapat dengan Raja. Anne memperhatikan menteri menteri itu, wajah menteri yang keluar dari ruang rapat banyak yang menahan emosi ada juga yang datar.
"Mereka para menteri baru saja menyelesaikan rapat dengan Raja, tuan putri." ucap Dora.
"Yah aku tau."
Anne masih memperhatikan para menteri itu. Para menteri membuat circle mereka sendiri.
"Kenapa mereka hanya berkumpul pada orang orang tertentu?" Anne bertanya dengan menatap para dayangnya.
Dayang dayang yang ditatap jadi gugup, mereka hanya para dayang dan kurang paham dengan situasi politik didalam kerajaan.
__ADS_1
"Kami para dayang tidak tau tuan putri." jawab para dayang itu.
Anne jadi penasaran.