Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

"Sebaiknya yang mulia pangeran tidak usah ikut dalam perayaan pesta itu."


Jeha termenung, 'jadi pesta itu untuk putri Anne?'


Senyuman Jeha menggembang, manis sekali seperti gulali.


"Kenapa saya tidak boleh kesana menteri pertahanan?" Jeha balik bertanya.


"Putri sulung Raja Artira menyukai yang mulia, dia juga akan mencalonkan diri sebagai kandidat permaisuri. Kalau yang mulia pangeran kesana maka pasti banyak asumsi jika yang mulia telah memilih Putri sulung Raja Artira untuk menjadi permaisuri." ungkap menteri pertahanan.


Jeha tertawa merasa lucu dengan pemikiran orang kolot seperti menteri pertahanan.


"Pemikiran dari siapa itu? Aku kesana menghormati undangan dari Raja Artira, tapi pemikiran orang orang malah berbanding terbalik, sungguh lucu sekali."


Menteri Pertahanan geram apa Jeha tidak peduli dengan masa depannya? Kenapa tidak memikirkan ucapan orang lain?


"Sebaiknya pangeran pikirkan ucapan saya."


"Buat apa saya memikirkan ucapan kamu, menteri pertahanan? Itu pilihan saya dan saya sudah tau konsekuensinya." ungkap Jeha.


"Baiklah kalau begitu. Saya pamit yang mulia pangeran." Menteri Pertahanan dan menteri yang sepihak dengan Menteri pertahanan mulai meninggalkan ruangan rapat, kini hanya Jeha yang berada didalam ruangan rapat.


"Barata." Jeha memanggil asisten sekaligus pengawal pribadinya.


Barata masuk kedalam ruang rapat dan langsung bersimpuh didepan Jeha.


"Ada apa yang mulia?"


"Coba kamu cek, apakah ada undangan dari Raja Artira!" perintah Jeha.


Barata mengangguk, "baik yang mulia." Barata mulai meninggalkan ruangan rapat dan melangkah menuju kediaman Jeha untuk mencari undangan itu.


Jeha dengan sabar menunggu Barata.


Barata mengetuk pintu ruang rapat.


"Masuklah." perintah dari Jeha.


Barata segera masuk kedalam ruangan rapat. Barata memberikan bungkusan surat yang ada label Artira.


"Itu undangan dari kerajaan Artir." ucap Barata.


Jeha menatap bungkus kertas surat, bibir Jeha terangkat. "Terima kasih Barata, kamu bisa kembali ." perintah dari Jeha.


"Sama sama Pangeran, kalau begitu saya pamit."


Jeha segera meraih surat itu, Jeha segera membuka surat itu. Ternyata benar Artira mengirimkan surat tentang penobatan Anne, tentu Jeha akan ikut kesana merayakan dan melepas rindu untuk seseorang.

__ADS_1


Jeha segera membereskan semua berkas berkas, Jeha akan berangkat hari ini, jam sekarang karena acara penobatan Anne besok, Jeha tidak mau terlambat.


Jeha segera keluar dari ruangan rapat. Jeha melangkah dan diikuti oleh Barata dibelakangnya.


"Siapkan kuda, aku ingin pergi." ucap Jeha.


Barata mengangguk tanpa berbicara lebih karena Barata tau tuannya akan menuju kemana.


Jeha menyiapkan pakaian yang pas untuk dirinya pakai. Pelayan perempuan dengan cakap membantu Jeha memakai pakaian luar.


Jeha memandang dirinya yang masih tampan. Apakah gadis yang dirindukan Jeha akan terpanah dengan ketampanan Jeha yang tiada dua?


"Apa semuanya sudah siap?" Jeha bertanya kepada Barata.


"Sudah siap semuanya pangeran."


"Apa pangeran sudah siap?" lanjut Barata bertanya.


Jeha mengangguk. "Ayo langsung saja kita harus mengejar waktu."


"Baik pangeran."


Jeha menunggangi kudanya diikuti oleh beberapa pengawal dan dayang tidak lupa juga Barata yang ikut kemana saja Jeha pergi.


Mereka beristirahat ketika merasakan lelah, Jeha juga mengistirahatkan kudanya yang telah berjalan jauh, kasihan sekali jika kuda itu tidak makan dan minum.


* Anne gugup karena besok hari penobatannya.


Dayang Senior alias Yeni tersenyum, "tuan putri harus yakin bahwa hari besok pasti akan baik baik saja, sekarang tuan putri sebaiknya beristirahat."


Anne jadi teringat bahwa Tuv juga akan balik kembali keistana, mengingat itu membuat senyuman Anne mengembang. Anne menoleh menatap Yeni.


"Dayang senior bukannya besok pelayan pribadi Tuv akan kembali?"


Yeni mengingat siapa pelayan pribadi Anne, setelah mengingat jika pelayan pribadi itu Tuv, Yeni segera mengangguk.


"Yah, bukannya tuan putri menunggu pelayan pribadi tuan putri, jadi sebaiknya tuan putri istirahat saja dari sekarang, agar besok tubuh tuan putri lebih segar." ungkap Yeni memberi pengertian.


"Baiklah aku akan beristirahat dari sekarang."


Yeni meninggalkan kamar Anne. Anne segera menutup matanya.


* "Tuan putri, apakah tuan putri sudah bangun?" tanya Yeni dengan suara lembutnya.


Pintu kamar Anne masih tertutup, Yeni menunggu Anne membukakan pintu.


Sepertinya Anne masih berada dialam mimpinya.

__ADS_1


Yeni mengetuk pintu kayu, "tuan putri apakah tuan putri sudah bangun?" tidak ada suara dari dalam kamar Anne.


Yeni jadi semakin yakin jika Anne masih tertidur. Kalau keluarga kerajaan tau perbuataan Anne kali ini, Yeni yakin Anne pasti akan mendapatkan hukuman.


Yeni kembali mengetuk pintu kayu itu lebih keras, Yeni berusaha untuk membangunkan Anne.


Anne mengerjakan matanya, tidur Anne terganggu karena suara berisik, Anne segera duduk, Anne mengerjakan matanya.


Dari arah jendela, sinar matahari cerah sudah menyapa kamar Anne. Mata Anne membola, Anne segera keluar dari kasur dan berlari membuka pintu kamarnya.


Pintu kamar pribadi Anne terbuka menampakan seorang wanita cantik dengan muka piasnya, wanita itu tetap cantik walaupun belum merias wajahnya. Anne menatap Yeni dengan tatapan sedihnya.


"Akhirnya tuan putri membuka pintu." syukur Yeni.


"Ayo Yeni aku harus segera mandi."


"Baik tuan putri."


Para dayang sibuk dengan tugas masing masing.


Anne sudah mandi dan sudah memakai gaun yang akan dipakainya untuk penobatan.


"tuan putri, ijinkan saya merias wajah tuan putri." ucap dayang


Anne mengangguk mengijinkan dayang itu. Dayang itu segera melukis diatas wajah Anne. Wajah Anne mulus mempermudah pekerjaan dayang.


Setelah selesai merias. Anne dipakaikan mahkota yang sangat cantik. Mahkota itu tampak indah diatas rambut Anne. Anne tersenyum melihat pantulan dirinya dari kaca.



Mahkota simpel, elegan tapi terlihat mewah. Anne sangat menyukai model mahkota ini.


"Bagaimana apakah tuan putri menyukai mahkota ini? Mahkota ini didesain oleh yang mulia raja sendiri tanpa meminta saran dari tuan putri." ungkap dayang itu.


Anne menatap wajah dayang itu, "aku sangat suka mahkota ini, mahkota ini benar benar seperti diriku."


"Baiklah kalau begitu saya pamit tuan putri."


Dayang yang merias wajah Anne pamit pergi untuk merias keluarga kerajaan lain.


Anne masih didalam kamar memperhatikan dirinya yang hari ini sangat cantik. Anne terpesona dengan dirinya sendiri, ingat sebelum mencintai orang lain maka cintai dulu diri sendiri. Ada yang membuka pintu kamar Anne dengan tergesa gesa.


"Tuan putri." panggil seseorang. Seseorang itu segera menghampiri Anne, dirinya langsung memeluk tubuh Anne.


"Tuv, sejak kapan diistana?" Anne membalikan tubuhnya dan membalas pelukan Tuv.


Tuv terpukau dengan Anne. "Wah aku benar benar terpesona dengan wajah cantik tuan putri." ungkap Tuv.

__ADS_1


Anne tersenyum malu karena banyak pujian yang mengawali pagi hari ini.


"Apa aku dari dulu jelek? Sampai banyak orang yang terpesona sekarang?"


__ADS_2