Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
75


__ADS_3

"Tuan putri capek?" tanya Dora yang langsung diangguki oleh Anne.


"Tuan putri harus menyelonjorkan kakinya agar nanti kakinya tidak kram." nasehat Sarah.


Anne segera melakukan apa yang dikatakan Anne. Kaki Anne rasanya mau patah.


"Kenapa tuan putri tidak memakai kereta saja?" tanya Ena.


"Saya takut jika nanti jalannya terjal, berbahaya." jawab Anne.


"Ya sudah tuan putri istirahat dulu saja."


Anne menganggukan kepalanya.


Ekspetasi Anne akan ikut mencari tapi ternyata malah duduk santai seperti ini.


Anne memperhatikan sekitarnya, hutan ini masih lebat sekali pasti kalau malam akan gelap sekali. Bulu kuduk Anne meremang membayangkan hewan hewan buas yang biasa dihutan.


Warga menemukan 8 tumbuhan itu, walaupun sedikit tapi harus tetap disyukuri.


Mereka kembali ke daerah Ye karena kalau mereka memperpanjang waktu takut hari akan gelap dan mereka belum sampai ke permukiman penduduk.


Mereka berjalan bersama sama karena kalau berpencar mereka takut kalau salah satu akan tersesat.


Akhirnya setelah perjalan panjang mereka bisa sampai dipermukiman warga desa Ye dengan cepat.


"Terima kasih bapak ibu karena sudah membantu saya dan rekan rekan saya mencari tumbuhan dan bahan pokok makanan." ucap Anne.


"Sama sama nona."


Anne jadi punya ide, kalau tumbuhan ini ditanam dikebun pasti bisa hidup dan warga tidak perlu mencari kedalam hutan.


"Bapak ibu suka berkebun?" Anne bertanya.


Warga desa Ye mengangguk, mereka memang suka berkebun karena keseharian mereka yah berkebun ditengah hutan dan mencari bahan makanan untuk dimakan menyambung hidup.


"Disini masih ada lahan kosong tidak?" Anne kembali bertanya.


"Wah ada apa nih?" kepala daerah Ye datang, kepala daerah penasaran karena warganya berkumpul dengan Anne. Apakah ada masalah lagi?.


"Saya ingin mengajak warga untuk menanam tumbuhan penyembuh luka, saya bertanya apakah ada lahan kosong?"


"Ouh lahan kosong, tentunya ada masih banyak lagi dan sepertinya memang cocok untuk berkebun. Kalau mau merencanakan berkebun bisa sekarang karena masih sore dan lebih baik tumbuhan ditanam saat sore atau lagi hari." ungkap kepala daerah.


"Kalian setuju jika akan berkebun dengan nona Anne?" lanjut kepala daerah bertanya.

__ADS_1


"Saya setuju kepala daerah."


Anne tersenyum karena idenya dapat diterima baik oleh warga daerah Ye.


"Kalau begitu ayo kita sama sama ke lahan kosong." ajak kepala daerah.


Semua orang mengikuti langkah kepala daerah. Anne juga tampak senang.


Terlihat lahan yang kosong dan tidak ditumbuhi apa apa.


"Kepala daerah? Lahan ini dulunya digunakan untuk apa?" Anne bertanya karena penasaran.


"Lahan ini dulu dibuat untuk aula tapi karena memang daerah ini sepi dan kurang pemasukan jadi aula diratakan. Apa ini bisa buat berkebun?"


Anne mengangguk. "Lahan ini cocok dibuat berkebun walaupun bekas bangunan, namun bangunan aula itu terbuat dari kayu bukan? Kalau kayu malah buat subur tanah ini. Tumbuhan ini juga tidak ada kriteria khusus harus ditanam dimana." penjelasan Anne panjang lebar.


Warga dan Anne serta dayang dan pengawal segera mencangkul lahan kosong itu, Anne juga menjelaskan bagaimana cara menanam tumbuhan itu.


Anne tertawa bersama dengan para warga, mereka juga tampak senang dengan ide Anne yang satu ini.


"Semoga tumbuhannya tumbuh subur yah nona." harapan para warga.


"Yah semoga saja tumbuhan ini tumbuh subur didaerah ini."


Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka yang bercocok tanam.


"Nona, apakah nona mau tidur dirumah kami? Kami merasa senang jika nona bisa tidur bersama." ungkap salah satu warga.


"Yah aku setuju, nona harus menjajal tidur bersama kami. walaupun nanti nona kurang nyaman karena tidur digubuk kecil tapi gubuk itu nyaman."


Anne masih berpikir untuk menjawab, Anne memandang Ena, Sarah dan Dora yang dekat dengan Anne. Anne melihat jika Ena menggeleng.


"Tuan putri saya takut tuan putri akan terkena penyakit kulit jika tidur bersama sama." lirih Ena.


Anne menatap Ena kembali. "Tapi ini kesempatan emas Ena."


"Bagaimana Sarah dan Dora apakah kalian setuju jika saya tidur bersama dengan para warga?"


Dora menggeleng, tentunya Dora tidak yakin jika Anne bisa tidur dengan nyaman karena dari lahir Anne sudah tidur sendiri dan kamar tidurnya juga nyaman.


Sarah juga tidak setuju Anne tidur bersama para warga. Sarah takut jika nanti Anne tidak bisa memejamkan mata menikmati dunia mimpi.


Bahkan Sarah saja tidak setuju padahal biasanya kalau dua sahabatnya tidak setuju kemungkinan Sarah akan setuju.


"Tapi kalau tuan putri mau mencoba, silahkan saja." lanjut Sarah.

__ADS_1


Anne langsung senyum sumringah.


"Baik pak Bu saya akan tidur dengan para ibu ibu digubuk itu."


Anne dan para warga membereskan semua peralatan saat berkebun tadi.


Anne segera masuk kedalam gubuk yang lumayan luas tapi kecil. Didaerah Ye ada 4 gubuk untuk tempat tidur dan satu gubuk untuk berkebun, 4 gubuk untuk tidur itu digunakan semua warga, mereka membagi bagi dan sekarang Anne akan tidur disalah satu gubuk yang ada.


Anne segera merebahkan tubuhnya diatas alas yang sudah tersedia. Disebelah Anne sudah ada ibu ibu yang terlelap.


Ternyata Anne benar tidak nyaman berada digubuk ini, Anne merasa sesak dan panas apa karena gubuk ini luas tapi sempit karena digunakan banyak orang? dan Anne juga tidak nyaman karena tidur bersama orang asing, Anne yang biasa tidur sendiri sekarang harus tidur bersama sama itu membuat Anne tidak nyaman.


Anne mengira akan gampang ternyata gampang menyerah. Anne menghela nafas, Anne ingin kabur tapi merasa bersalah dan pasti warga akan berpikiran buruk tentang Anne.


Anne akan memaksa matanya tertutup. Semoga saja Anne segera menyapa dunia mimpi.


Anne sekarang membuka matanya karena tidak bisa tidur, Anne memandang keatas, ternyata diatas sana banyak sarang laba laba. Anne jadi merinding karena Anne tidak suka laba laba.


Akhirnya Anne kembali memejamkan matanya dan kini Anne mulai terlelap karena lelah mungkin efek menelusuri hutan dan berkebun.


*Anne segera menyantap ubi untuk sarapan hari ini. Ubi itu terlihat sangat mengiurkan. Ubi itu hasil kemarin, Ubi dihutan ini besar besar sekali dan jarang sekali yang busuk.


Anne mulai menyuap sepotong ubi, Anne membulatkan matanya.


'Wah ubi ini manis sekali.' batin Anne.


Anne menaruh hati kepada ubi ini. Anne dengan semangat menghabiskan satu buah ubi besar. Semua pengawal dan dayang juga menikmati ubi hasil dari mencari ditengah hutan.


Terlintas ide lagi diotak cemerlang Anne.


'Kalau ubi ini dibudidayakan pasti warga sini akan mendapatkan penghasilan.' batin Anne.


Yah, memang ubi ini harus dilestarikan jarang sekali sekarang menemukan ubi yang sebesar kepala manusia.


Setelah selesai sarapan mereka berkumpul untuk sekedar mengobrol menyambung tali persaudaraan.


Anne memulai pembicaraan tentang rencananya untuk mengajak para warga untuk berkebun kembali.


"Kita akan menanam daun penyembuh luka lagi nona? Bukannya kemarin semua sudah ditanam?"


Anne menggeleng. "Bukan daun itu tapi saya berencana untuk mengajak kalian untuk menanam ubi yang biasa kalian dapatkan dari hutan."


"Ubi? Bagaimana kita bisa menanamnya?"


Walaupun Anne juga belum pernah menanam ubi tapi karena bebekal ilmu dari buku yang Anne pernah baca, Anne mulai mengajari para warga.

__ADS_1


Para Warga juga antusias saat Anne mengungkapkan kalau ubi ini berhasil dan mendapatkan panen besar besaran sebaiknya mereka harus menjual ubi ini ke pasar dan nanti mereka akan mendapatkan uang, uang itu bisa membuat kehidupan didesa ini membaik tidak terlalu buruk.


Para Warga dengan semangat menanam ubi itu.


__ADS_2