Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Tuv menggeleng. "Bukan begitu tuan putri, tapi hari ini tuan putri bikin tuan tuan ataupun pangeran dari negeri lain langsung terpesona dengan tuan putri."


Anne malu dan menutupi mukanya dengan tangan kecilnya.


"Aku malu." ungkap Anne.


Tuv tertawa melihat sikap tuan putrinya yang malu malu, "kenapa harus malu tuan putri? Tuan putri memang cantik dari lahir jadi jangan merasa malu."


"Mahkota yang dipakai tuan putri juga sangat pantas." puji Tuv.


Anne tersenyum manis, "terima kasih Tuv."


Yeni datang kedalam kamar Anne, "tuan putri acara sebentar lagi akan dimulai, sebaiknya tuan putri bersiap menuju keruang aula."


"Baik Yeni." Yeni meninggalkan kamar pribadi Anne.


Anne menatap Tuv. "Tuv kamu harus disamping ku yah."


"Oke tuan putri."


Anne dan Tuv keluar dari kamar pribadi Anne, Anne segera melangkah menuju ke aula kerajaan yang sudah ramai dengan para tamu.


Anne diperintah untuk masuk berjalan ditengah tengah aula yang sudah ada karpet merahnya. Anne melangkah dengan anggun. Kecantikan Anne menyihir banyak orang. Banyak para putri yang menyatakan iri dengan kecantikan pari purna Anne.


Anne tersenyum menatap kedepan.


Langkah Anne terhenti dihadapan Anne sudah ada Artira.


Artira mengangkat mahkota yang tadi sudah dilepas oleh Anne, kini mahkota itu berada ditangan Artira.


"Saya pasrahkan tugas untuk mu untuk menjadi seorang putri yang bijak dan selalu berbuat baik untuk warga dan orang dalam kerajaan." ucap Artira dengan suara lantang.


Anne tersenyum, "saya siap untuk mematuhi semua tugas itu." ucap Anne.


Artira senang bukan kepalang akhirnya anak bungsunya sudah resmi menjadi seorang putri. Artira segera menjatuhkan mahkota indah diatas rambut Anne.


Anne segera berbalik arah memandang para tamu.

__ADS_1


Acara selanjutnya, Anne harus mendatangi para tamu yang sudah hadir.


Anne menemui Tuv terlebih dahulu, "Tuv." Anne memanggil Tuv.


Tuv segera berlari dengan kecepatan kecil mendekat kepada Anne, "ada apa tuan putri?"


"Ayo temani aku menyapa para tamu yang hadir."


"Baik tuan putri." Tuv mengikuti langkah Anne.


Anne segera berjalan menuju para menteri.


"Selamat pagi tuan putri." sapa menteri perdagangan.


Anne tersenyum, "selamat pagi juga untuk para menteri yang datang, terima kasih sudah datang ke acara penobatan saya."


"Itu sudah menjadi tugas bagi kami para menteri untuk mensukseskan acara yang dibuat oleh yang mulia raja." sahut menteri pendidikan.


"Sekali lagi terima kasih."


Anne berbincang bincang dengan para menteri.


"Sepertinya dia mau mencari atensi dari para menteri. Dia pasti sedikit dikit akan mendapatkan dukungan dari para menteri untuk menjadi seorang putri mahkota." Dekieta mengepalkan tangannya kesal.


Netra Dekieta membola saat matanya melihat seseorang yang datang.


"Dia datang? aku akan kesana." Dekieta berlari menuruni tangga. Dekieta tergesa gesa menuruni tangga.


* Anne mendekat kearah Putri bangsawan mereka putri dari gubernur, menteri, atau bahkan orang kaya yang berpengaruh dalam negara.


"Selamat pagi." Anne menyapa terlebih dahulu.


Putri bangsawan hanya mengendikan bahu, mereka sepertinya tidak menyukai Anne.


"Sepertinya kehadiran ku tidak kalian sukai." ucap Anne.


Salah satu putri itu menatap tajam kearah Anne. "Kalau boleh jujur, kami disini kurang menyukai tuan putri."

__ADS_1


Wah wah benar benar berani sekali bukan?


"Kenapa kalian tidak menyukai ku?" Anne bertanya dengan nada selembut mungkin.


"Karena kami semua adalah teman baik putri Dekieta." memangnya ada hubungan apa teman baik Dekieta dengan penobatan Anne kali ini?


Anne ingin lanjut bertanya tapi terhenti karena semua putri berseru senang ketika ada seseorang yang baru saja datang.


"Ya ampun, lihat pangeran Jeha datang kepesta ini." pekik putri putri bangsawan.


"Wah tampan sekali." putri yang lain memuji ketampanan Jeha.


Memang sih visual Jeha tidak tertandingi. Jeha itu sudah seorang pangeran ditambah gagah dan tampan kurang apa lagi coba?


Para putri teralihkan atensinya gara gara kedatangan Jeha.


Anne membalikan badannya, benar ternyata bahwa Jeha datang ke istana, Anne belum tau jika Jeha datang karena mendapatkan undangan dari Artira.


*Jeha sudah sampai didepan gerbang kerajaan Artira. Barata segera menyodorkan undangan dari Artira untuk diperiksa pengawal, setelah pengawal mengijinkan masuk, Jeha baru bisa masuk.


Didalam kerajaan sudah banyak orang berkumpul.


"Apa aku terlambat datang?" Jeha bergumam dengan dirinya sendiri.


Melihat orang orang sudah makan mungkin benar dugaan Jeha jika Jeha datang terlambat.


"Wah aku tidak bisa melihat bidadari yang akan menjadi seorang putri." sesal Jeha karena Jeha tidak bisa melihat Anne dinobatkan.


"Yang mulia pangeran, apakah anda akan memberikan selamat kepada raja Artira?" Barata bertanya.


Jeha mengangguk, "aku tidak hanya ingin memberi selamat kepada Raja Artira, aku juga harus mengucapkan selamat kepada putrinya yang dinobatkan hari ini." ungkap Jeha.


"Baiklah pangeran, kita langsung saja bertemu dengan Raja Artira."


Jeha mencari keberadaan Artira, ternyata Artira masih duduk disingasana bersebelahan dengan Selir Hari, kenapa yang duduk di singgasana sebelah Artira adalah Hari? seharusnya Ratu Rimba bukan? Jeha tidak mau memikirkan itu.


Jeha segera mendekat, Artira berdiri menyambut kedatangan pangeran Jeha.

__ADS_1


"Wah saya tidak menyangka bahwa Pangeran dari negeri polo datang kesini." Artira senang.


Keluarga Jeha itu susah sekali datang untuk pesta pesta seperti ini, harus benar benar seseorang yang dekat dengan keluarga kerajaan negeri Polo. Wah apakah Artira sudah dianggap dekat dengan keluarga kerajaan negeri Polo? Entahlah apakah Artira yang merasa dekat atau jangan jangan Jeha yang ingin mendekatkan dirinya dengan keluarga kerajaan Artir?


__ADS_2