Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Anne menghirup nafas dalam dalam agar dirinya tenang kembali, setelah merasa tenang Anne kembali melanjutkan tidurnya karena tidak mau besok Anne akan terlihat dengan muka lelah.


Anne berusaha membuang pengalan mimpi buruk itu jauh jauh dari pikirannya.


*Keesokan harinya Anne bangun kesiangan. Anne segera berlari keluar dan menemui Yeni.


Yeni ternyata berada didepan pintu kamar Anne dengan tatapan khawatir dan cemas menjadi satu.


"Tuan putri, syukurlah anda tidak kenapa kenapa saya cemas karena Anda tidak membuka pintu." ucap Yeni.


"Dayang senior kenapa kamu tidak membangunkan ku? hari ini bukannya ada sarapan pagi? kenapa aku harus telat." Anne jadi pasrah kalau akan mendapatkan hukuman dari Yang Mulia Raja ataupun Ratu Rimba bahkan Selir Hari.


Yeni menunduk dirinya kembali lupa, kenapa sekarang Yeni jadi pelupa sih. "Maafkan saya tuan putri, saya lupa."


"Cepatlah dayang senior, aku ingin segera cepat sampai ditempat penjamuan." ucap Anne memberi instruksi.


"Baik saya akan menyiapkan tempat berendam tuan putri terlebih dahulu." Yeni segera berlari.


Anne menunggu Yeni untuk menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu.


Yeni datang dengan keringat yang membasahi keningnya, "semua sudah siap tuan putri." ucap Yeni.


"Baik, terima kasih dayang senior." ucap Anne.


Anne segera melangkah pergi menuju kearah pemandian.


Anne segera mandi. Setelah mandi Anne langsung memakai gaun dan melangkah meninggalkan kediamannya.


Anne melangkah setengah berlari. Anne segera membuka pintu ruang penjamuan, disana sudah ada Ratu Rimba, Selir Hari dan juga putri Dekieta. Mereka bertiga menatap sengit kearah Anne.


Dekieta tertawa, "sekarang kamu beneran sudah berani yah terlambat padahal baru beberapa kali aja ikut penjamuan pagi." Dekieta menyindir Anne.

__ADS_1


Yah gimana yah, mungkin kalau Dekieta tidak menyindir atau membuat masalah kepada Anne setiap hari sepertinya kurang afdol bagi Dekieta.


Anne tidak memperdulikan sindiran Dekieta, Anne segera melangkah menuju kursi yang selalu Anne duduki ketika penjamuan.


Tidak lama datanglah Artira, selanjutnya tidak ada percakapan lagi. Mereka berlima sama sama terdiam menikmati makanan.


Setelah Artira keluar dari ruangan penjamuan, Anne segera menyusul untuk keluar setelah Ratu rimba juga sudah menyusul Artira.


Dekieta menarik tangan Anne, Anne hampir saja jatuh terjerembap jika Anne tidak menahan bobot tubuhnya. Anne menatap Dekieta tidak terima.


"Apa? kamu mau marah sama saya?!" Dekieta menantang Anne.


Anne kicep, Anne bukan tidak mempunyai kekuatan tapi Anne akan menahan emosinya sampai Anne bisa mendapatkan gelar sebagai Putri terlebih dahulu, karena kalau Anne bertengkar dengan Anne saat ini maka sudah dipastikan banyak orang yang malah akan mendukung Dekieta, mereka kan takut dengan pangkat Dekieta yang seorang putri, kalau mereka melawan Dekieta langsung saja Dekieta akan menghukum mereka tanpa ba-bi-bu.


"Sudahlah yang mulia, saya memang serba salah." ucap Anne pasrah.


Hari ini Anne akan bersikap baik, Anne tidak akan mudah marah karena takut jika Anne marah maka akan berdampak kepada masa depannya yang akan dicap sebagai Putri pemarah.


Dekieta mencengkram tangan Anne semakin ketat. pergelangan tangan Anne terasa sakit.


Dekieta masih saja menyekal tangan Anne. Dekieta kenapa sih selalu buat keributan dengan Anne?


Anne dengan berani menyentak tangan Dekieta. "Saya sudah meminta maaf tapi kenapa yang mulia masih saja memperlakukan saya dengan tidak baik?"


"Aku hanya membenci dirimu saja, tidak lebih." Dekieta menjawab dengan ekspresi datar.


"Jangan menjadi seseorang yang pendendam yang mulia." ucap Anne.


Dekieta tertawa, "kamu juga akan menjadi seperti ku ketika kamu sudah tau harta dan tahta."


Anne menggeleng, "saya akan menjadi diri saya sendiri."

__ADS_1


Anne meninggalkan Dekieta yang menatap nyalang kepergian Anne.


Dekieta sekarang dendam dengan Anne.


*Pangeran Jeha sedang memimpin rapat dikerajaannya sendiri. Pangeran Jeha sedikit sedikit sudah menggantikan peran ayahnya yang sudah sepuh.


"Apakah ada yang kurang?" Pangeran Jeha bertanya kepada bawahannya.


Para Menteri menggeleng.


"Baiklah kalian bisa kembali." perintah dari Pangeran Jeha.


Banyak menteri dan sekretariat yang sudah pergi meninggalkan ruang rapat sedangkan Pangeran Jeha membuka kertas berukuran panjang yang berisi laporan data dari para menteri. Diruang rapat masih ada segelintir orang. Jeha menyadari masih ada orang diruangan rapat, Jeha memandang orang itu.


"Kenapa kalian masih disini?"


Menteri yang ditanya oleh pangeran Jeha segera mendekat, Menteri itu menunduk.


"Maafkan saya yang mulia, saya masih disini karena saya ingin menanyakan sesuatu yang penting dengan yang mulia." ungkap menteri itu.


Alis Jeha terangkat satu, ada pembicaraan apa sampai sampai menunggu Jeha?


"Kalian mau bertanya tentang apa?" Jeha bertanya tapi Jeha kembali sibuk dengan berkas berkas yang ada didepan hadapannya.


"Silakan menteri pertahanan anda bisa mengungkapkan keresahan hati kami."


Menteri pertahanan menatap wajah Jeha, "maaf yang mulia saya ingin bertanya apa yang mulia akan ikut pesta dari kerajaan Artira?"


Jeha langsung berhenti membaca berkas berkas. "Pesta? Memangnya pesta apa?" Jeha balik bertanya.


Menteri Pertahanan menyunggingkan senyumnya, "ternyata yang mulia pangeran tidak tau, syukurlah kalau yang mulia tidak tau."

__ADS_1


"Aku belum membaca undangan dari enam hari yang lalu. Tolong katakan pesta apa?"


"Pesta itu tidak terlalu penting yang mulia, pesta itu adalah pesta penobatan dari putri mereka yang kedua yang akan dinobatkan sebagai Putri, sepertinya mereka menyembunyikan putri bungsu mereka dari warga." ungkap menteri pertahanan.


__ADS_2