
"Sudahlah itu urusan ku, kamu jangan ikutan." cegah Artira sebelum Rimba ikut campur.
Ratu Rimba menatap tajam kearah Artira, biarlah Rimba dicap sebagai istri yang tak tau diri tapi Rimba benar benar murka.
"Saya tidak ingin ikut campur kalau yang mulia mengungkapkan rencana itu kepada saya, kenapa saya malah mendapatkan kabar itu dari mulut orang lain? apakah saya tidak dianggap?"
Diam diam Artira mengepalkan tangannya. "Sudah jangan ikut campur. sebaiknya kita tidur." perintah dari Artira.
Artira segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk.
"Tidurlah aku sudah lelah hari ini, jangan menambah beban pikiran ku."
Ratu Rimba menurut, Rimba tidur disamping Artira. Rimba menoleh kearah Artira. Sejenak Rimab terpukau dengan wajah tampan milik suaminya yang selalu Rimba puji. Lama kelamaan Rimba ikut tertidur disamping Artira.
* "Tuan putri, apakah tuan putri memilik jadwal hari ini?" Ena bertanya.
Anne yang sedang melukis menoleh sebentar kearah Ena.
"Tidak, memangnya ada apa?"
"Dipasar dekat sini ada pertunjukan." ungkap Ena.
Anne tertarik dengan perbincangan kali ini, "pertunjukan apa?"
"Pertunjukan drama musikal, bagus banget tuan putri, kalau ada pertunjukan itu pasti banyak yang nonton karena jarang sekali ada." jawab Sarah.
Anne terdiam masih memikirkan apakah Anne akan ikut atau dikediamannya saja, Anne jadi teringat perjalanan jauh bersama dengan Yohan eh bukan hanya bersama Yohan tapi bersama dengan pengawal dan ketiga dayang sejak itu Anne jadi semakin was was kalau perjalan jauh takut jika tubuhnya akan ngedrop.
"Aku ingin kesana untuk melihat itu, tapi aku khawatir nanti kecapean." ucap Anne.
Sarah menggeleng, "sepertinya tuan putri tidak akan kecapean, letak pasarnya dekat dengan warung makan Tuv. tapi kalau tuan putri merasa tidak sanggup maka tidak usah saja melihat pertunjukan itu."
"Tapi aku sungguh ingin melihat pertunjukan itu, baiklah ayo kita kesana." keluarlah keputusan Anne.
"Kapan pertunjukan itu?" lanjut Anne bertanya kepada ketiga dayang.
"Siang ini tuan putri, kita bisa berangkat sekitar satu jam lagi dari kerajaan." jawab Sarah.
Anne mengangguk anggukan kepalanya.
"Apa tuan putri membutuhkan pengawal?" Ena bertanya.
__ADS_1
Anne kembali berpikir, kepasar yang dekat apakah Anne membutuhkan pengawal? tapi sepertinya resiko kejahatan tidak ada karena berada ditengah pasar.
Anne menggeleng, "tidak usah panggil pengawal, kita berempat saja yang kesana."
Yeni masuk, Yeni mendengar pembicaraan para dayang dan satu putri itu.
Yeni masuk membawa nampan penuh dengan bunga, Yeni meletakan nampan itu didekat vas bunga. Kedatangan Yeni membuat ketiga dayang junior diam, Anne jadi ikutan diam.
"Tuan putri berniat kabur dari Kerajaan?" Yeni bertanya.
Anne menatap Yeni, "tidak kata siapa? aku tidak berniat kabur. mungkin kamu salah dengar." ucap Anne.
Saking dekatnya hubungan Anne dan para pelayannya sampai membuat pelayannya tidak takut untuk bertanya. Mereka memang sedekat itu karena Anne baik.
Yeni tersenyum sambil meletakan bunga bunga divas bunga. "Lalu kalau tidak kabur kenapa membahas pergi dari kerajaan? dan aku mendengar tuan putri mau kepasaran tanpa pengawal?"
Anne memberengut kesal, "dayang senior sebaiknya jangan menguping setengah setengah jadinya yah begitu, padahal aku tidak ingin kabur tapi aku ingin menonton pertunjukan tanpa pengawal." ungkap Anne.
Yeni jadi penasaran pertunjukan apa yang membuat Anne tertarik. "Tuan putri ingin melihat pertunjukan apa?"
"Drama musikal." jawab Anne.
"Apa dayang senior mau ikut?" lanjut Anne menawarkan.
Anne memandang ketiga dayang. "Bagaimana dengan kalian? apakah kalian menyetujui ide ku untuk menawarkan dayang senior agar ikut?"
Ena dan kedua temannya saling pandang, mereka bingung jika dayang senior ikut Ena dan teman temannya takut jika nanti ada salah kata Ena dan kedua temannya bisa dihukum tapi jika dayang senior tidak ikut Ena dan kedua temannya takut dikira tidak peduli, bagaimana ini? apakah Ena dan kedua temannya akan setuju?
"Bagaimana kalian setuju?"
Ena dan kedua sahabatnya mengangguk terpaksa.
Senyuman Anne menggembang. "Oke kita akan berangkat sebentar lagi."
"Tuan putri mau berganti gaun?" tanya Dayang senior.
"Memangnya tidak pantas jika memakai gaun seperti ini ke pasar?" Anne bertanya.
Yeni menggeleng. "Bukan tidak pantas, tapi jika tuan putri memakai gaun seperti itu, pasti akan banyak yang tau jika putri berasal dari kerajaan. nanti banyak orang yang berniat jahat, jadi sebaiknya yang mau ikut harus berganti gaun."
"Saya setuju dengan perkataan dari dayang senior." ungkap Sarah.
__ADS_1
"Lebih baik kita mengantisipasi dari pada dijalan terjadi apa apa karena kita tidak menggunakan pengawal." lanjut Sarah.
"Iya betul tuh tuan putri, kalau nanti ada yang merampok tuan putri kami tidak bisa apa apa karena kita gak bisa bela diri." ucap Dora.
Anne mengangguk anggukan kepalanya. "Baiklah baiklah, siapkan saja gaun yang simpel." ucap Anne memerintah kepada dayang senior.
"Baik tuan putri."
* Parti berjalan tergesa gesa membawa peti berisi sesuatu yang berharga.
"Bukakan pintu untuk ku!" perintah Parti kepada dayang yang menjaga pintu kamar Dekieta.
Dayang yang menjaga pintu itu segera membukakan pintu, Parti langsung masuk.
"Wah mau apa kamu kesini Parti?" Dekieta bertanya.
Dekieta masih mencari cari gaun yang cantik.
"Saya membawa sesuatu yang diharapkan yang mulia." ucap Parti.
Dekieta menoleh menatap Parti, keningnya berkerut. "Sesuatu yang berharga? apa itu?" Dekieta segera mendekat kearah Parti.
Netra Dekieta menemukan peti yang dibawa oleh Parti. "Apakah yang diharapkan ku itu ada didalam peti itu?" Dekieta bertanya dengan tatapan menyelidik.
Parti segera mengangguk.
"Apa itu?" Dekieta bertanya.
Parti segera meletakan peti itu dibawah, Parti membuka peti itu didalamnya ada gaun.
Mata Dekieta membola, Parti bisa mendapatkan gaun yang persis dipakai oleh Anne kemarin kemarin.
Dekieta meraih gaun itu, dibukannya lebar lebar, bibir Dekieta tertarik keatas membentuk senyuman. Dekieta memeluk gaun itu.
"Dari mana kamu dapatkan gaun ini?" Dekieta bertanya kepada Parti.
"Saya menemui designer gaun pribadi yang mulai, saya mengatakan ciri ciri gaun itu, saya mengingat ingat gaun itu takut ada yang terlewatkan. Saya berusaha untuk benar benar detail tanpa melupakan apa pun dan designer itu menyanggupi."
"Wah dia kerja cepat sekali, berikan dia koin." perintah Dekieta.
Parti mengangguk patuh. Parti meninggalkan kamar Dekieta untuk mengurus pesangon untuk designer pribadi Dekieta.
__ADS_1
Dekieta menatap lekat lekat gaun itu, "aku akan membuat kamu malu Anne, ingat saja aku selalu berada diatas mu." gumam Dekieta.
* Anne sedang menatap dirinya melalui cermin, dibelakang tubuh Anne ada Yeni yang memandang Anne tersenyum.