
"Jadi ada masalah apa tentang putri Dekieta sampai sampai kalian terbawa emosi? Tadi aku tidak terlalu memperhatikan karena aku fokus dengan ketampanan ketampanan para tuan tuan yang hadir."
"Jangan terlalu fokus dengan para lelaki, harusnya kamu juga fokus dengan area sekitar mu."
"Aduh aku penasaran, jadi masalah tentang apa sih?" salah satu wanita itu bertanya.
"Tuan putri Dekieta tadi saat pesta mencari perhatian terlalu berlebihan kepada Pangeran Jeha, aku tau jika dia seorang putri tapi kenapa seperti terlalu mendekatkan diri yah?"
"Wah benarkah? kalau tuan putri Dekieta begitu rasanya sepertinya tidak punya urat malu saja."
Dekieta dirujak habis habisan oleh para putri menteri. Biasanya Dekieta yang merujuk mereka eh sekarang kebalikannya. Senang sekali melihat Dekieta mendapatkan balasan.
Dekieta mengepalkan tangannya menahan kesal, dasar para wanita kalau didepan pasti memuji muji dibelakang saling menusuk.
"Aku sebenarnya tidak menyukai putri Dekieta, aku muak sekali dengan sikapnya yang terlalu sombong,"
"Ah aku tidak bisa membayangkan jika putri Dekieta menjadi ratu karena dia anak pertama dari raja." tambahnya.
"Waduh apakah nanti rakyatnya akan menderita?" jelas ada ketakutan dari ketiga gadis itu.
Dekieta semakin geram dengan ketiga wanita itu. Dekieta ingin memberi hukuman, Dekieta sudah maju namun langkah Dekieta terhenti karena panggilan dari Ratu.
"Putri Dekieta." Ratu Rimba kembali memanggil.
Dekieta lebih memilih menghampiri Ratu Rimba dari pada menghampiri ketiga wanita yang sok sok an itu. Dekieta memberi hormat terlebih dahulu kepada Ratu Rimba.
"Selamat sore Yang Mulia Ratu." sapa Dekieta.
"Aku tau kamu pasti emosi kepada ketiga wanita itu." ucap Ratu Rimba.
Dekieta kaget dan memandang wajah Ratu, apakah dari tadi Ratu melihat gelagat Dekieta?
__ADS_1
"Apakah yang mulia ratu mendengar dan melihat kelakuan saya dan ketiga wanita itu?" Dekieta bertanya dengan hati hati.
Ratu Rimba mengangguk anggun khas para ratu.
"Kamu jangan terbawa emosi dan memberi hukuman mereka, karena kalau kamu berbuat seperti itu citra mu akan semakin buruk. Berita tentang hukuman ini juga akan menyebar." Ratu Rimba memperingati Dekieta.
Dekieta menunduk mendengar peringatan dari Ratu Rimba.
"Kamu hampir saja merusak citra diri mu sendiri, untungnya aku mencegahnya."
"Maafkan saya yang mulia." ucap Dekieta menyesal karena hampir saja menghukum para wanita yang berani membicarakan Dekieta dibelakangnya.
Tanpa berkata apa apa, Ratu Rimba meninggalkan Dekieta. Dekieta menghela nafas lega karena kepergian sang Ratu. Dekieta mengedarkan pandangannya kesegala sisi.
'Sial mereka sudah pergi.' batin Dekieta.
"Parti, ayo kembali kekediaman ku." perintah Dekieta.
Dekieta mencoba untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
* Anne keluar dari kediamannya, Anne ingin berjalan jalan disekitar taman. Jam segini pasti taman sangat indah.
Walaupun malam hari, tapi keindahan dari taman bunga masih tetap terpancar karena ada banyak lampu yang menerangi. Dimalam hari juga aroma semerbak bau harum dari bunga yang bermekaran semakin terendus hidung.
"Aku sudah lama sekali tidak mampir kesini." ucap Anne.
"Heem bunga bunga banyak sekali yang mekar." lanjut Anne.
"Sepertinya tuan putri sangat menyukai bunga, bukan begitu tuan putri?" Tuv bertanya.
Anne terdiam dan berpikir, mungkin apa yang dikatakan Tuv itu ada benarnya karena setiap melihat bunga indah, hati Anne menjadi lebih tenang entah karena efek apa.
__ADS_1
"Aku hanya menyukai keindahan mereka Tuv." jawab Anne.
Tuv mengangguk anggukan kepalanya.
Anne berjalan jalan memutari taman yang luas ini bersama dengan pelayan pribadi dan sedikit para dayang.
"Wah siapa ini?" tanya seseorang dengan nada yang tidak bersahabat dari arah samping Anne.
Anne menoleh kesamping, sekarang Anne tidak perlu hormat kepada Dekieta karena tingkatan Anne sekarang sama dengan Dekieta, kecuali jika Dekieta diangkat menjadi Putri mahkota otomatis Anne dibawah tingkat Dekieta.
"Aku cukup terkejut karena sekarang kamu tidak memberikan penghormatan kepada ku, apakah kamu senang An?" tanya Dekieta.
Anne menampilkan senyum terbaiknya walaupun dalam hati Anne menahan emosi, selalu saja begini, Anne selalu tertindas jika bersama dengan Dekieta.
Anne memilih tidak menjawab pertanyaan dari Dekieta.
"Sekarang kamu lumayan berani dengan aku yah." ucap Dekieta.
"Saya bahkan tidak pernah mencoba untuk memutus ucapan tuan putri, tapi ternyata aku dianggap berani." ucap Anne.
Dekieta menahan kesal. Anne sudah berubah ternyata.
"Apakah ada maksud tersembunyi tentang pengangkatan mu tuan putri?" Dekieta bertanya dengan nada ketus.
Anne tersenyum, "Aku tidak mempunyai maksud tersembunyi tapi, aku tidak tau dengan orang lain. Apakah mereka punya niat tersembunyi ketika pengangkatan ku atau tidak."
Sekarang Anne akan berani, jangan sampai Anne kembali tertindas dengan rasa semena mena Dekieta. Dekieta kalau dijabani maka akan semakin kurang ajar.
"Sudahlah tidak ada gunanya aku berbicara dengan mu." Dekieta melangkahkan kakinya meninggalkan taman. Dekieta kesal tapi harus Dekieta pendam, biarkan nanti Dekieta akan mencari cara untuk membalas perlakuan Anne hari ini.
Melihat kepergian Dekieta membuat Anne lega, Anne sebenarnya takut tapi jika Anne tidak melawan maka Anne akan terus ditindas oleh Dekieta. Anne tau bahwa Dekieta tadi kesal dengan sikap Anne, tapi Anne harus membuktikan bahwa Anne bisa melawan Dekieta tanpa bantuan siapa pun. Jangan sampai kejadian kemarin kemarin kembali terulang, Anne juga berusaha untuk selalu waspada terhadap pembalasan dari Dekieta, ingat Dekieta itu pendendam dan juga licik jadi Anne harus super hati hati.
__ADS_1