Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Tuv menggeleng tidak mau. Dayang harus cari alasan apa lagi?. Dayang jadi pusing tujuh keliling enam tanjakan lima turunan ini mah alamak pasrah nih.


"Nanti kak Tuv naik keatas tubuh ku?" dayang itu bertanya dan langsung diangguki oleh Tuv.


"Pertama aku naik pundak mu nanti setelah itu aku akan naik dahan yang itu." sambil menunjuk sebuah dahan yang lumayan tidak terlalu tinggi.


Dayang bergedik ngeri membayangkan manjat pohon saja pinggang sudah pegal pegal untung saja dayang tidak disuruh memanjat.


"Baiklah saya rela pegal dipundak saya daripada pegal seluruh badan karena jatuh dari ketinggian,"


"hati hati saat memanjat kak Tuv." lanjut dayang.


"Tenang saja, aku sudah ahli." Tuv sombong.


'Kenapa aku kurang yakin yah?' batin dayang. Dayang tidak mungkin mengatakan itu dengan gamblang karena takut Tuv marah.


"Aku akan mulai memanjat." ucap Tuv.


Dayang wanita itu mengangguk dan segera berjongkok, wajah dayang itu menatap batang pohon yang besar.


'Semoga saja kak Tuv bisa lancar memanjat.' doa dayang dalam hati.


Tuv mulai ancang ancang menaiki bahu dayang. Kaki Tuv sudah berada diatas bahu dayang. Tubuh Tuv sudah mulai memanjat, jujur bahu dayang sudah mulai pegal tapi dayang harus menahannya agar Tuv tidak terjatuh.


Tuv mencoba memanjat, dipikiran Tuv memanjat pohon ini tidak terlalu susah tapi kenyataannya susah sekali, dari tadi Tuv hampir terjatuh. Tuv kembali mencoba dan akhirnya tuv bisa sampai didahan atas, Tuv dan dayang menghembuskan nafas lega.


"Kak Tuv aku mau buah itu satu." teriak dayang dari bawah.


Tuv menatap kebawahnya bulu kuduk Tuv merinding ternyata tinggi sekali keberadaanya saat ini.


Tuv segera meraih buah buah yang bergelantungan.


"Aku akan menjatuhkan buah ini kebawah, kamu harus menangkapnya yah." perintah Tuv yang langsung disetujui oleh dayang.


Tuv mengambil buah dan segera menjatuhkan buah setelah memberi aba aba kepada dayang, dayang juga menangkap buah dengan baik. Mereka berdua partner yang cocok saling membantu.


"Sepertinya sudah banyak kak Tuv." ucap dayang.

__ADS_1


Tuv menatap kebawah dan memperhatikan buah buah yang sudah diambilnya, ada sekitar 12 buah, ternyata memang sudah banyak.


"Ya sudah aku akan turun." ucap Tuv.


Tuv mulai mengambil ancang ancang untuk turun, bukannya turun dengan lancar dan selamat, kaki Tuv terpeleset. Dayang yang melihat itu kaget dan melorotkan matanya.


"Hati hat.." belum selesai berbicara Tuv sudah terjatuh disebelah badan dayang.


"Setsss sakit sekali." rasanya Tuv mau menangis saja saking sakitnya.


Dayang segera mendekat kearah Tuv, "apakah tidak apa apa kak Tuv?" kenapa dayang masih berbicara seperti ini sih, padahal kelihatan banget kalau Tuv menahan sakit.


Tuv salah karena manjat pohon memakai gaun. Dayang meringis ikut kesakitan melihat wajah Tuv yang meringis kesakitan.


"Apa kita perlu ketabib?"


Tuv menggeleng. "Bantu aku berdiri." pinta Tuv.


Dayang segera membantu tubuh Tuv untuk berdiri sempurna, Tuv meringis kesakitan ketika tubuhnya sudah tegak.


"Aku sangat bersyukur, sepertinya tidak ada luka parah." ungkap Tuv.


Dayang bernafas lega ketika Tuv bisa berdiri dengan tegak, Dayang tadinya ketakutan jika ada masalah pada tulang Tuv karena jatuh tadi tapi sepertinya tidak apa apa.


"Ayo bawa buahnya, kita harus segera ke kediaman tuan putri." ucap Tuv.


Tuv mulai mengambil buah dan segera melangkah terlebih dahulu, dayang memperhatikan gaun Tuv yang kotor dibagian belakang.


"Kak Tuv, gaun kak Tuv kotor." ungkap Dayang.


Tuv mengikuti pandangan dayang dan benar bagian belakang tubuh Tuv kotor.


"Biarin aja deh." ucap Tuv.


"Ouh baiklah kak Tuv."


Tuv dan dayang mulai melangkah menuju kediaman Anne.

__ADS_1


Tuv segera masuk kedalam kamar Anne membawa 10 buah karena 2 buahnya dikasih untuk dayang.


"Selamat pagi tuan putri." sapa Tuv dengan senyuman seperti matahari diteletubis


Anne yang sedang membaca buku tersentak dengan sapaan Tuv. Anne segera menatap Tuv yang baru datang.


"Dari mana saja kamu? Apa yang kamu bawa?" Anne memberondong Tuv dengan pertanyaan.


"Aku baru saja memetik buah ini, dan ini ada buah." jawab Tuv.


"Buah? Kamu mendapatkannya dari mana?"


"Dari pohon dekat dengan kediaman Selir Hari." ungkap Tuv.


"Tapi jalannya disana sepi, mungkin karena jarang yang lewat sana." tambah Tuv.


Anne geleng geleng kepala tidak percaya dengan kegiatan yang dilakukan Tuv. "Apa kamu sudah memeriksa semua disana Tuv? Apa ada orang yang melihat mu memanjat pohon? Aku tidak mau ada yang memfitnah kamu lagi." ungkap Anne.


"Tadi aku belum melihat sekitar tuan putri, aku sudah ngiler dengan buah ini, jadi aku langsung meminta bantuan kepada dayang."


"Letakan saja buah itu dipiring yang itu." Anne menunjuk salah satu piring.


"Baik tuan putri." Tuv segera melaksanakan perintah dari Anne.


Saat Tuv melangkah, Anne dapat melihat bagian belakang gaun Tuv yang kotor.


"Ya ampun Tuv, kenapa tidak ganti baju saja?" Anne heran dengan Tuv.


Tuv mmmenyengir tidak berdosa, "aku tidak ada waktu karena tadi tuan putri memanggil ku, ouh iya ada hal penting apa tuan putri sampai memanggil ku?"


Tuv segera mendekat kepada Anne yang duduk.


"Aku ingin mengajak mu kesatu tempat." jawab Anne.


Tuv mengerutkan kening, kita kira Anne akan pergi kemana? Sampai harus memanggil Tuv?


"Ouh yah kita mau kemana?" Tuv bertanya.

__ADS_1


"Kita akan ke daerah A, aku ingin sekali mengunjungi daerah sana." ungkap Anne.


Mata Tuv membola, daerah A lumayan jauh kenapa tuan putrinya terpikirkan kesana?. Ah Tuv ingat jika Yohan adalah gubernur daerah A, wah apa jangan jangan Anne rindu Yohan?


__ADS_2