Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Dayang segera memberi hormat.


"Tuan putri Anne." laki laki itu kembali memanggil Anne. Tidak sopan sekali.


Yeni mendekat kearah Anne untuk memberitahu kepada Anne siapa yang memanggil Anne.


"Tuan putri ada Tuan Yega." ucap Yeni memberitahu.


Yega segera mendekat kesamping Anne, Yega memberikan penghormatan. "Selamat siang tuan putri." ucap Yega.


Anne menatap Yega, ada perlu apa anak dari Menteri kerajaan mendekat kearah Anne?. Apa Anne perlu waspada?


"Selamat siang tuan Yega, saya terkejut melihat tuan Yega disini."


Yega tersenyum manis, manis sekali hampir sama dengan manis gula menurut para wanita lainnya tapi kalau menurut Anne masih manis senyuman laki laki lain.


"Saya dari pasar mengecek harga harga barang secara langsung, saya terkejut karena melihat sosok yang mirip dengan tuan putri, saya ragu tapi melihat dibelakang putri ada para dayang yang saya kenali jadi saya memanggil putri, ternyata itu benar putri Anne." ungkap Yega panjang lebar.


Yega selalu melebarkan senyumannya.


"Wah jadi dia mengenali kita En." bisik bisik dibelakang Anne. Anne mengenali suara dayang itu siapa lagi kalau bukan Dora. Mungkin menurut Dora mereka dikenali oleh Yega tapi bisa jadi Yega hanya kenal Dayang senior.


"Wah hebat sekali tuan Yega mau mengecek sendiri kebutuhan harga pasar, saya menaruh salut kepada tuan Yega." Anne memuji Yega ini benar memuji yah tanpa embel embel berarti.


"Sungguh kehormatan bagi saya mendapatkan pujian dari anda." ucap Yega.


"Apakah tuan putri akan kembali kepasar?" lanjut Yega bertanya.


Anne menganggukan kepalanya tanpa susah payah.


"Tuan putri sebaiknya kita segera jalan, matahari sudah mau terbenam." Yeni selalu mengingatkan Anne.


Anne menatap Yega, "maaf tuan Yega sepertinya percakapan kita sampai disini saja, saya harus kembali ke kerajaan."


Anne hendak melangkah tapi langkah Anne terhenti ketika Yega meraih tangan Anne. Anne menatap Yega dengan tatapan tajamnya, laki laki ini berani sekali meraih tangan Anne.


Yeni dengan sigap melepas tangan Yega yang berada ditangan Anne. Yeni melakukan itu karena melihat tatapan kurang nyaman dari Anne.


"Maaf tuan Yega, jangan sembarangan meraih tangan perempuan." ucap Yeni kepada Yega.


Yega tersenyum kaku, dirinya malu. "Maafkan saya tuan putri, maaf jika membaut tuan putri kurang nyaman."


"Apa ada maksud tersembunyi anda meraih tangan saya?" Anne bertanya dengan nada ketus. Anne marah karena Yega dengan seenak hatinya meraih tangan Anne.


Yega menggeleng, Yega masih setia tersenyum padahal Anne sudah ketus terhadap Yega. "Tidak tuan putri kebetulan saya akan mengunjungi ayah saya jadi apakah saya boleh ikut berjalan bersama rombongan tuan putri?,"


"Saya lihat tuan putri tidak membawa pengawal, saya siap membantu menjaga tuan putri." lanjut Yega.

__ADS_1


Siapapun yang mendengar perkataan Yega pasti akan langsung klepek klepek karena Yega sangatlah perhatian, termasuk Dora yang sudah senyum senyum sendiri mendengar ucapan Yega untuk Anne tapi tidak dengan Anne, ketika mendengar perkataan Yega membuat Anne was was.


"Bagaimana tuan putri?" Yega meminta persetujuan Anne.


"Terserah mau anda tuan." Anne segera melangkah terlebih dahulu. Dayang dayang segera mengikuti langkah Anne, dan Yega mengikuti langkah Anne paling belakang.


Tidak banyak percakapan yang terjadi ketika perjalanan tau tau mereka sudah sampai digerbang masuk kerajaan.


Yega segera memotong jalan Anne, Anne benar benar capek dan kenapa langkahnya dipotong oleh Yega?


Anne menutup matanya berusaha untuk tidak terlihat kesal kepada Yega.


"Ada apa lagi tuan Yega?"


"Saya sudah sampai ditujuan saya tuan putri, terimakasih menginginkan saya berjalan bersama dengan tuan putri." ucap Yega.


Anne menganggukan kepalanya.


Tanpa sepata kata Anne meninggalkan Yega yang sedang menatap Anne. Tadi kalimat terimakasih yang keluar dari mulut Yega itu ikhlas atau dibuat buat yah? apa Yega berkata seperti itu untuk mencari perhatian untuk Anne?


* Malam ini yang menemani tidur Artira adalah Hari. Artira berjalan tegas menyusuri lorong demi lorong, derap langkah terdengar horor. Artira menghentikan langkahnya.


"Apakah Hari sudah sampai dikamar ku?" Artira bertanya kepada pelayan pribadinya.


"Sudah yang mulia." jawab pelayan pribadi.


Artira kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar pribadinya. Artira dijalan selalu tersenyum karena senang Hari selalu datang terdahulu ketika ingin tidur bersama Artira. Artira juga lebih suka tidur bersama dengan Hari daripada Rimba.


Artira segera melangkah mendekat kearah Hari, sepertinya Hari tidak menyadari jika Artira sudah tiba.


"Sedang membaca apa? sepertinya seru." ucap Artira.


Hari kaget dan segera menoleh ke asal suara.


"Yang mulia sudah datang?" Hari bertanya dengan senyuman manisnya, senyuman Yang selalu Artira rindukan.


"Ya aku sudah datang."


"Jangan panggil aku yang mulia, panggilan nama ku sekarang kita hanya berdua." lanjut Artira.


Hari tersenyum. "Baiklah yang mulia."


"ups maaf maksud ku Artira." ucap Hari lembut seperti bolu cheesecake.


Artira tersenyum ikut duduk disamping ranjang.


"Aku akan melepaskan jubah mu." ucap Hari.

__ADS_1


Hari segera mendekat dan melepaskan jubah yang dipakai oleh Artira.


Hari mengelus pundak Artira. "Hari ini apakah berat?" Hari bertanya dengan suara lembut mendayung dayung.


Artira memegang tangan Hari, "entahlah aku capek sekali." ucap Artira.


Hari memeluk pinggang Artira, "apa ada masalah?"


Hari ingin menjadi seorang istri yang baik hati dan mengerti perasaan pasangan walaupun pasangan tersebut memiliki istri lain.


Artira mengelus tangan Hari yang melingkar di pinggangnya.


Hari menciumi pundak Artira, kalau Rimba melihat kelakuan Artira dan Hari pasti Rimba akan kebakaran jenggot dan merasa iri kepada Hari.


"Aku akan selalu disamping mu. setiap saat. setiap waktu." ucap Hari.


Hari semakin mengencangkan pelukannya ke pinggang Artira.


"Apa aku boleh mendengar keluh kesah mu hari ini?" Hari bertanya.


Artira mengangguk sebagai jawaban.


"Aku akan mengadakan acara besar besaran." ucap Artira pada akhirnya.


Hari penasaran acara apa sampai membuat Artira resah?. "Acara apa?"


"Aku akan mulai memperkenalkan Anne ke warga dan warga kerajaan." jawab Artira.


Mata Hari membola, Hari kaget.


"Ap apa? mengenalkan Anne sebagai seorang putri?" Hari sedikit gugup.


Artira menoleh kebelakang lantas Artira tersenyum manis. "Sudah waktunya Anne untuk diperkenalkan ke warga."


"Tapi bukannya lebih baik Anne memang dikenal sebagai nona bangsawan saja? jangan perkenalkan dia sebagai seorang putri." ucap Hari.


Kening Artira mengerut, "memangnya kenapa? kamu takut anak kamu jadi merasa tersaingi?" tanya Artira pedas.


Hari menggeleng, "bukan seperti itu tapi apa tidak terlalu cepat?"


Artira menggeleng. "Menurut ku sama sekali tidak cepat malah sudah terlambat."


"Kenapa tidak menikahkan saja Anne dengan anak menteri? biarkan dia keluar dari istana."


Artira menggeleng. "Aku akan mulai memperkenalkannya lalu setelah itu aku akan menikahkan Anne dengan anak bangsawan." ungkap Artira.


Hari melepaskan pelukannya, Hari menatap dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Jangan hanya mementingkan Dekieta, ingat Anne juga anak kita." ucap Artira.


Hari mengangguk lemah.


__ADS_2