
Anne mencoba gaun warna ungu ini. Gaun ini tidak terlalu mewah tapi tetap cantik. Anne segera melangkah untuk menunjukan gaun itu.
"Bagaimana dengan gaun ini tuan putri?"
Senyuman Anne menggembang. "Heem aku suka, ini lebih pantas dan mungkin kalau aku yang memakainya maka akan terlihat mengemaskan karena warnanya yang lilac."
Kepala dayang senang karena Anne menyukai gaun buatannya.
"Lalu apakah tuan putri akan mencoba gaun terakhir? gaun terakhir juga sangat indah."
Anne mengangguk, Anne akan mencoba semua gaun agar nanti Anne bisa melihat yang mana yang cocok untuk dirinya pakai.
"Silakan tuan putri." kepala dayang memberikan gaun yang masih terlipat bewarna putih.
Anne segera mengganti gaunnya.
Anne keluar, sejenak para dayang tertegun, Anne cantik sekali memakai gaun ini. Anne juga suka dengan gaun ini, ketiga gaun yang sudah dicoba Anne semuanya bagus.
Anne memutar mutar tubuhnya.
"Kenapa lengan gaun ini pendek, kalau lengan gaun ini panjang aku akan memilih gaun ini untuk acara penobatan." Anne kecewa karena tidak bisa memakai gaun ini.
"Tapi ini sudah pas sekali jika tuan putri memakai gaun ini." puji kepala dayang.
"Yah saya juga setuju karena gaun ini cocok dengan tuan putri." sahut Yeni.
Anne lesu karena bimbang memilih gaun. Aduh gaun mana yang harus Anne pilih?
"Lalu aku harus memilih gaun yang mana?" tanya Anne kepada kepala dayang.
Kepala dayang dan Yeni terdiam, mereka juga bingung karena semua gaun yang dicoba Anne bagus dan cocok ditubuh Anne.
"Bagaimana kalau aku memilih gaun ungu tadi? gaun itu tertutup dan layak dipakai diacara penobatan." ungkap Anne.
Kepala dayang tersenyum, Anne ternyata memang tidak terlalu banyak permintaan ketika membuat gaun. Dikira kepala dayang, Anne akan meminta untuk membuatkan gaun lagi yang sesuai dengan kemauan Anne seperti putri yang onoh yang banyak permintaan.
"Baiklah yang mulia, saya akan menyiapkan gaun itu." ucap Kepala dayang.
__ADS_1
Anne mengedarkan pandangannya ke sekitar, "kepala dayang, apakah aku boleh meminta gaun itu semua? kalau gaun itu diberikan orang lain sepertinya aku akan merasa kecewa, apakah bisa aku mendapatkan gaun gaun tadi?"
Kepala dayang mengangguk. "Tentu bisa tuan putri."
Senyuman Anne langsung menggembang, "terima kasih."
"Saya akan menyiapkan gaun gaunnya."
*Anne mampir berkeliling disekitar kerajaan. Kerajaan sekarang sedang ramai dikunjungi oleh para bangsawan yang akan mengikuti acara penobatan Anne. Kebanyakan para bangsawan tingkat tinggi akan mendapatkan penginapan didalam kerajaan.
Anne menatap sekeliling.
"Yang menginap disini kebanyakan bangsawankah atau bagaimana?" Anne bertanya kepada Yeni.
Anne tidak tahu maklum Anne baru menginjak dunia luar baru saja jadi tidak pernah ikut euforia acara didalam kerajaan.
Yeni mengangguk. "Benar tuan putri, mereka semua bangsawan tingkat tinggi. selain bangsawan banyak gubernur gubernur daerah yang menginap." ungkap Yeni.
'Gubernur gubernur? apakah akan ada Yohan disana?' batin Anne.
Anne segera menggeleng melupakan pemikirannya, kenapa tiba tiba Anne memikirkan Yohan. Ah ini tidak bisa dibiarkan.
"Kenapa tuan putri?" Yeni bertanya karena melihat gelagat Aneh dari Anne
"Apakah tuan putri merasa tidak enak badan?" Yeni jadi khawatir.
Anne lagi lagi menggeleng, "aku baik baik saja dayang senior, aku hanya memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa tuan putri?" Yeni kenapa jadi kepo begini deh?
Anne mencebikan bibirnya kesal. "Lupakan saja dayang senior, sekarang aku tidak memikirkan apa apa."
"Aku ingin kembali kekediaman ku." lanjut Anne.
"Baik tuan putri." Yeni mengikuti langkah Anne menuju ke kediaman Anne.
*Anne menatap keluar melalui jendela kamarnya, hari ini suasana hati Anne sedang baik. Anne memandang orang orang yang sibuk berlalu lalang entah mengerjakan apa.
Anne juga sedang menengok kanan kiri karena takut nanti ketahuan sama Ratu Rimba atau Selir Hari karena Anne belum tertidur.
Ada satu dayang dan satu pengawal yang berjalan berjarak, Anne menatap dayang dan pengawal itu. Pengawal itu mempercepat laju langkahnya dan menarik tangan dayang muda itu.
__ADS_1
Anne mengira bahwa pengawal itu ingin melakukan kekerasan tapi setelah tau adegan selanjutnya membuat Anne melongo tidak percaya, pengawal itu mencium dayang. Pengawal dan dayang tidak tau apa kalau ada seseorang yang mengetahui mereka berbuat seperti itu, mungkin karena jalanan disekitar kediaman Anne sepi jadi mereka melakukannya disana.
"Astaga, gak malu apa." gerutu Anne tapi Anne masih sibuk mengawasi mereka, mengawasi yah bukan nonton.
"Aku harus menghafalnya wajah mereka,"
"Ouh apa aku juga harus mengatakan kejadian ini kepada kepala dayang agar mereka dihukum? tapi kasian sekali. mereka saling cinta tapi gak mungkin harus dipisahkan dengan cara seperti ini." lanjut Anne.
Anne memang berhati malaikat.
Tiba tiba terlintas dipikiran Anne, kalau Anne dan Yohan melakukan hal seperti itu apakah akan dihukum? pasti Yohan melakukannya dengan lembut. Membayangkan itu membuat hati Anne berbunga bunga satu hektar.
Anne segera membuang pemikiran kotornya itu, Anne tidak boleh baper dengan pemikirannya sendiri yang tidak tidak.
"Aish seharusnya aku harus menutup jendela ini dan tertidur, salah sendiri sih disuruh tidur malah masih saja menatap keluarkan jadinya dikasih pemandangan yang bikin iri." gumam Anne.
Setelah itu Anne menutup jendela. Anne langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuknya, Anne segera menutup matanya untuk menjelajah dialam mimpi yang sangat indah.
Anne merasa terbangun disekitaran danau yang luas, disana hanya ada Anne sendiri. Anne segera mengendarakan pandangannya kesekitar tapi tidak ada orang.
"Apakah ada orang?" Anne berteriak tapi tidak ada yang datang hingga suara seseorang yang Anne kenali membuat Anne membeku ketakutan.
"Anne, gadis kecil yang malang. kenapa kamu disini? kamu ingin menggenang masa kecil mu yang suram?" tanya Ratu Rimba.
Bukannya Selir hari yang selalu menemui Anne didanau tapi kenapa sekarang berubah menjadi Ratu Rimba? kenapa sekarang Anne takut dengan Ratu Rimba dimimpi Anne?
"Dasar anak tidak tahu diri." Ratu Rimba mendekat dan langsung mencekik leher Anne.
Anne yang masih kecil berusaha memberontak tapi Anne tidak berhasil karena kalah tenaga. Ratu Rimba masih mencekik Anne.
"Le le lepaskan saya yang mulia." ucap Anne terbata bata. Nafas Anne semakin menipis rasanya Anne akan segera pingsan atau bahkan meninggal dunia karena kehabisan nafas.
Ratu Rimba akhirnya melepaskan cekalan tangganya.
"Ingat jangan pernah membuat masalah atau kau akan mati!" teriak Ratu Rimba.
Tubuh Anne bergetar ketakutan. Apakah ada yang membantu Anne kali ini?
Anne terbangun dengan nafas tersengal sengal, Anne berharap mendapatkan mimpi indah tapi ternyata Anne malah mendapatkan mimpi buruk.
Anne mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
'Ada apa ini? apakah ini sebuah pertanda?' batin Anne bertanya tanya.