Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
72


__ADS_3

Anne segera mendekat kearah orang tua bocah laki laki itu.


"Pak, Bu saya bisa membantu anak anda." ucap Anne.


Orang tua anak itu saling pandang, mereka sepertinya tidak yakin Anne bisa membantu.


"Saya beneran bisa membantu." Anne berusaha menyakinkan para warga yang menatapnya tidak suka.


Sepertinya warga sini masih tidak mempercayai Anne. Jadi Anne harus bagaimana biar warga sini percaya dengan Anne?


"Bapak ibu, saya pernah baca buku tentang tumbuhan yang bisa dijadikan obat, dan ada daun yang bisa menyembuhkan luka." ucap Anne.


Orang tua bocah laki laki itu menatap sengit kearah Anne, "heh wanita kaya jangan sok Sok an tau yah. saya tidak membutuhkan bantuan kamu." sentak ibu bocah itu.


Anne menghela nafas lelah. Entahlah saat ini sepertinya Anne lebih baik menjadi penonton saja.


Melihat bocah laki laki itu meringis membuat Anne menjadi kasian. Anne gusar merasa khawatir kepada bocah laki laki itu. Melihat Anne yang gusar, Sarah segera mendekat.


"Ada apa tuan putri?" Sarah bertanya.


Anne meremas jari jarinya, Anne berada pada kebimbangan yang tak berarti.


"Ada yang bisa kami bantu tuan putri?" Ena ikut menimbrung pembicara.


Ena jadi merasa ikut khawatir ketika melihat wajah gusar Anne.


"Saya membutuhkan bantuan kalian, tapi saya bingung apakah kalian bisa membantu atau tidak." gusar Anne.


Sarah dan Ena tentu penasaran bukan?


"Saya akan membantu sebisa saya untuk membantu tuan putri." jelas Sarah.


Anne menganggukan kepala, sepertinya Anne memang membutuhkan bantuan dari para dayang dan pengawal.


"Saya ingin kalian mencari daun x yang ciri cirinya daunya seperti telapak tangan, dipinggir pinggirnya ada pola, kalau kalian mematahkan batang pohonnya maka akan keluar getah, pohon itu tidak terlalu tinggi." ungkap Anne.


Sarah dan Ena saling pandang. "Kenapa kita butuh Daun itu tuan putri?" tanya Ena.


"Daun itu bisa menyembuhkan luka, dan aku membutuhkan daun itu." jawab Anne.


Ena menjadi khawatir dengan kondisi Anne setelah mengatakan bahwa Anne butuh daun itu untuk luka, "tuan putri luka? Kenapa tidak memberi tahu kami?" seru Ena.


Anne menggeleng dengan cepat, "bukan saya yang terluka Ena." jelas Anne.


Wajah Ena kebingungan. "Lantas siapa yang terluka? Kenapa tuan putri membutuhkan daun itu?"

__ADS_1


"Anak kecil itu, saya kasian sekali melihat lukanya, kita bisa mengobatinya jika menemukan daun itu." tutur Anne.


"Baik kami akan mencarikan daun itu tuan putri." ucap Sarah.


Anne jelas tidak yakin mereka bisa menemukan daun itu. "Kalian apa bisa membantu mencari daun itu? Kalian tidak tau daerah sini, saya takut malah akan ada kejadian yang tidak diinginkan nanti karena kalian tidak tau adrenalin yang akan kalian lewati."


Sarah dan Ena setelah mendengarkan perkataan Anne jadi bingung juga, mereka memang tidak mengenali daerah ini.


"Lalu kita harus bagaimana tuan putri?"


Niat membantu seseorang aja harus repot begini duh.


Anne masih memikirkan bagaimana baiknya.


"Saya sudah menemukan caranya, ayo kita ke pengawal dan dayang lainnya."


Anne dan kedua dayang itu segera berjalan menuju kearah tenda tenda dayang dan pengawal.


"Perhatian perhatian!" Ena berteriak.


"Tuan putri ingin berbicara." lanjut Ena.


Para pengawal dan dayang segera berkumpul didekat Anne.


Salah satu pengawal bertanya kepada Anne, "tuan putri mau meminta bantuan apa?"


"Saya ingin kalian mencari daun yang bisa menyembuhkan luka, kalian apra pengawal pasti tau bukan daun itu? Daun itu biasa digunakan pengawal yang terluka."


Para pengawal mengangguk, mereka memang diberikan pengetahuan tentang daun itu. Ketika mereka luka maka pengawal akan mencari daun itu dan memupukkannya diatas luka. Para pengawal memang sudah tau tapi entahlah dengan para dayang. Para dayang sekarang saling pandang dengan raut kebingungan.


"Karena para pengawal sudah tau jadi kita akan membagi kelompok.satu kelompok terdiri dari tiga dayang dan empat pengawal. Para dayang tidak usah khawatir, pengawal harus memberi tau daun itu nanti diperjalanan. Dan kalian jangan sampai berpencar. Mengerti?"


Para dayang dan pengawal mengangguk mengerti.


"Kalau begitu silahkan mencari, saya akan disini menjaga tenda dan memperhatikan keadaan anak laki laki itu."


Para pengawal dan dayang segera melangkah untuk mencari daun itu sedangkan Anne kembali mendekat kearah bocah kecil yang sedang dibaringkan diatas tikar.


Anne memandang bocah itu kasian, semoga saja para pengawal dapat menemukan daun itu secepat mungkin. Disini Anne hanya bisa bantu berdoa.


Pencarian daun itu sedikit terhambat karena para pengawal tidak mengetahui daerah mana yang ditumbuhi tanaman daun itu. Pengawal tidak hafal dengan daerah Ye tapi Pengawal dan dayang akan terus berusaha mencari.


Dihutan pengawal sedikit frustasi karena selama 2 jam mencari mereka hanya menemukan 2 tanaman itu.


"Bagaimana ini? sepertinya tanaman ini jarang tumbuh didaerah sini." ucap pengawal.

__ADS_1


"Pasti kita tidak akan mendapatkan lebih tumbuhan ini." keluh pengawal.


"jangan pesimis dulu, ayo kita kembali mencari tumbuhan itu."


Para pengawal tidak menyerah ternyata mereka masih berjuang mencari tumbuhan itu walaupun tumbuhan itu langka disini.


"Ngomong ngomong aku bangga kepada putri Anne, putri Anne ternyata baik dan peduli terhadap sesama. Berbeda sekali dengan putri Dekeita." ucap pengawal.


"Yah aku setuju dengan ucapan mu. Kukira dulu putri Anne mempunyai sifat seperti putri Dekieta ternyata tidak. Aku salah menilai."


"Memang kalau menilai orang itu jangan dari luarnya, kita perlu mengenal orang itu dulu baru kita bisa menilai orang itu." sahut pengawal lainnya.


"Hust kalian jangan membicarakan para putri, apa kalian tidak takut jika disini ada dayang atau pengawal yang jadi mata mata putri Dekieta? Kalian kalau menjelekkan putri Dekieta dan kalian ketahuan, maka habislah kalian." ucap dayang.


Mereka kenal putri Dekieta, putri Dekieta tidak akan mengampuni orang yang menjelekannya siapa pun itu pasti akan kena hukuman. Putri yang satu itu memang rada keras.


Buku kuduk mereka meremang membayangkan mereka akan dihukum oleh Putri Dekeita. Seketika mereka diam dan fokus mengerjakan perintah dari putri Anne.


Dikelompok lain juga masih sibuk mencari tumbuhan itu. Kalau bisa menemukan tumbuhan itu dengan nyanyian maka para pengawal dan dayang akan menyanyi daripada mencari seperti ini tapi tidak ada hasilnya.


Sudah 3 jam mereka mencari karena takut anak kecil itu keadaannya parah atas kesepakatan bersama mereka pulang ke desa Ye dengan hanya membawa 3 tumbuhan daun penyembuh luka itu.


Anne yang melihat kedatangan para dayang dan pengawal itu segera mendekat. Anne tampak antusias.


"Bagiamana kalian menemukan tumbuhan itu?" Anne bertanya.


"Kami menemukannya tuan putri, tapi maaf kami hanya menemukan tiga tumbuhan itu. Kami tidak bisa menemukannya lagi."


Para pengawal dan dayang pasrah jika Anne akan menghukum mereka.


Anne tersenyum, "tidak apa apa yang penting kalian menemukan tumbuhan itu."


"mana tumbuhannya?" tambah Anne.


Pengawal dan dayang yang tadi menemukan tumbuhan itu segera memberikan kepada Anne.


Anne kembali menatap mereka. "Ouh yah, kalian pasti mempunyai penumbuk tumbuhan bukan? saya pinjam sebentar." ucap Anne.


Pengawal yang menyimpan tumbukan itu segera mencari dan setelah ketemu tumbukan itu mereka memberikannya kepada Anne.


"Ini tuan putri."


"Terima kasih." ucap Anne.


Kalau kalian dibantu orang pasti makasih dong? jangan lupa mengucapkan terima kasih kalau sudah dibantu.

__ADS_1


__ADS_2