Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne *


__ADS_3

Setelah selesai Artira menyuruh mereka untuk tetap ditempat. Sebenarnya mereka sudah merasa bosan dan terganggu karena tatapan tajam dari Rimba dan Dekieta. Kenapa sekarang Dekieta jadi mirip dengan Ratu Rimba? bukannya Dekieta itu anak dari Selir Hari?.


"Kalian pasti sudah tau bukan tentang berita itu?" Artira bertanya.


Anne, Hari, Rimba dan Dekieta mengangguk. Dekieta terlihat tidak peduli malas sekali kalau membahas tentang Anne.


"Yah, aku hanya ingin kalian tau kalau empat hari lagi akan ada acara penobatan Anne, aku ingin Kalian semua ikut merayakan." harapan Artira.


Mereka semua diam.


"Bagaimana tentu kalian setuju bukan?"


Dekieta berdiri, "saya tidak setuju yang mulia, tapi saya akan setuju jika saya juga dapat dinobatkan menjadi Putri mahkota." ucap Dekieta membuat penawaran. Licik sekali bukan?


Artira menggeleng, "tidak bisa secepat itu putri Dekieta, tunggulah nanti."


Dekieta terdiam, percuma sudah membuat penawaran kalau memang tidak akan ada penobatan untuk Dekieta.


"Duduklah Dekieta." perintah Selir Hari lembut. Dekieta menurut.


Sejenak pandangan Dekieta dan Anne bertemu. Dekieta menatap Anne penuh permusuhan sedangkan Anne menatap Dekieta datar.


"Aku hanya ingin mengatakan itu. semoga kalian bisa ikut meramaikan acara itu." Artira berdiri dan melenggang pergi.


Dekieta, Anne, Rimba, dan Hari kompak berdiri. Artira tidak terlihat kembali.


Anne sudah bersiap meninggalkan tempat jamuan.


"Bagaimana Anne? kamu pasti senang karena akan mendapatkan penobatan." ucap Dekieta.


Anne tersenyum tipis, "saya memang senang sekali yang mulia."


"Kesenangan mu pasti akan berakhir setelah penobatan itu Putri Anne." ucap Rimba, ini ancaman atau bagaimana?


Anne menggeleng berusaha tidak terlihat takut walau dalam hati merasa ketakutan. "Tidak yang mulia, mungkin akan baik baik saja."


"Hahahaah terlalu percaya diri, sebaiknya kamu dari sekarang harus berhati hati Anne." sahut Hari.


"Ouh yah kalian masih mau disini? tidak ada kerjaan kah?" Hari meninggalkan tempat penjamuan.


Selanjutnya Anne meninggalkan tempat penjamuan, Anen tidak mungkin berada diantara Rimba dan Dekieta bisa bisa Anne habis karena omongan mereka berdua.


* Anne sudah sampai dikediamannya. Anne mau masuk kedalam kamar tapi dicegah oleh Yeni.


"Ada apa Yeni?" Anne bertanya.


"Tuan putri, anda harus mengukur panjang gaun yang akan digunakan untuk penobatan." ucap Yeni.


Anne membelalak kaget, kenapa Yeni baru mengatakannya sekarang?


"Kenapa kamu baru mengatakan sekarang Yeni?"

__ADS_1


Yeni menunduk takut melihat wajah Anne walaupun Yeni tau jika Anne tidak akan menghukum atau memarahinya.


"Maafkan saya tuan putri, saya lupa." Yeni memilih jujur.


Anne mengusap dadanya, kenapa Yeni sudah lupa yah? padahal kalau dilihat Yeni itu masih muda muda tua tapi tidak terlalu muda tapi tidak juga tua, entahlah Anne bingung mendeskripsikan Yeni.


"Bagaimana tuan putri? tuan putri akan berangkat sekarang menuju butik atau menunda?"


"Tentu aku akan kesana."


"Baik tuan putri."


Anne segera kembali melangkah meninggalkan kediamannya. Anne melangkah menuju butik kerajaan.


Setelah sampai dibutik, banyak dayang yang memberi hormat kepada Anne, mereka sudah tau jika Anne adalah seorang putri.


"Selamat datang tuan putri." ucap kepala dayang bagian butik kerajaan.


Anne tersenyum, "aku akan diukur dimana?"


"Silakan ikuti langkah saya tuan putri."


Anne menganggukan kepalanya. Anne mengikuti langkah kepala dayang tersebut. Setelah memasuki ruangan pribadi, kepala dayang itu segera mendekat sambil membawa peralatan ukur.


"Saya minta izin menyentuh tubuh tuan putri, bolehkah tuan putri?"


Anne mengangguk menyetujui.


Kepala dayang butik kerajaan segera melaksanan pekerjaannya.


"Terimakasih kepala dayang." ucap Anne.


Kepala dayang menunduk. "Sama sama tuan putri."


"Saya pamit kepala dayang." Anne meninggalkan ruangan kepala butik.


*Keesokan harinya, kerajaan mulai ramai karena banyak orang berdatangan menyiapkan acara penobatan Anne.


Dekieta memandang orang orang yang berlalu lalang dengan hati kesal.


"Dasar seperti mau ada pernikahan kerajaan saja." kesal Dekieta.


Dekieta kesal kenapa acara ini lebih meriah dari pada penobatan Dekieta menjadi Putri 10 tahun yang lalu.


Iri? Dekieta memang iri, tidak ada yang boleh melebihi Dekieta apalagi kalau Anne yang melebihi Dekieta itu tidak boleh.


Kalau bisa Dekieta ingin merusak acara ini dengan tangan Dekieta sendiri.


"Parti aku akan ke kediaman Ratu Rimba." ucap Dekieta.


"Baik yang mulia."

__ADS_1


Dekieta melangkah dan diikuti oleh Parti. Dekieta melangkah dengan angkuhnya, ekspresi Dekieta datar dan menahan kesal.


"Ada keperluan apa kamu kesini? anak ku putri Dekieta?" Rimba bertanya masih fokus dengan bunga bunga ditangannya.


"Saya kesal yang mulia, saya kesal sekali, saya ingin menghancurkan acara itu." ungkap Dekieta dengan menggebu gebu.


Rimba menatap Dekieta malas.


"Sudahlah putri Dekieta terima semua ini." ucap Rimba.


Rimba bahkan tidak menenangkan Dekieta, Rimba malah menyuruh Dekieta untuk pasrah.


"Lakukan sesuatu untuk menghancurkan acara itu, kumohon yang mulia ratu." mohon Dekieta dengan mata yang dibuat buat melas.


Rimba menggeleng, "aku tidak bisa melawan kehendak Raja, aku takut."


"Tapi kita bisa mengorbankan seseorang bukan? lakukanlah yang mulia Ratu kita dipihak yang sama menolak penobatan Putri Anne." ucap Anne.


Rimba mengusap rambut panjangnya, "kalau aku sudah bilang tidak bisa yah tidak bisa, jangan paksa nikmati saja pesta ini."


Dekieta akhirnya pasrah, Dekieta tidak bisa meminta bantuan kepada Rimba. Percuma juga Dekieta meminta bantuan kepada Rimba kalau hasilnya zonk.


"Saya pamit yang mulia Ratu." ucap Dekieta.


Dekieta segera memberi penghormatan lalu pergi meninggalkan kediaman Yang Mulia Ratu.


Dekieta menghentak hentakan kakinya kesal, "ish percuma aku kesini."


Parti pasrah kekesalan Dekieta pasti akan mengakar sampai akhirnya Dekieta ikut kesal dengan Parti.


*Acara tinggal dua hari lagi, kali ini Anne akan melakukan fitting baju yang akan dipakai Anne untuk penobatan.


Kepala dayang segera mengeluarkan gaun gaun buatannya.


"Saya membuatkan gaun yang pas untuk tubuh tuan putri. nanti tuan putri bisa memilih gaun yang pas."


"Baik kepala dayang."



"Silakan dicoba gaun ini."


Anne segera mencoba gaun berwarna kuning gold itu. Pas sekali cantik apalagi yang memakai adalah Anne.


"Bagaimana tuan putri? apakah tuan putri suka? gaun ini tidak terlalu panjang tapi kelihatan mewah kalau dipakai." ucap kepala dayang.


Anne mengangguk setuju dengan perkataan kepala dayang.


"Aku sebenarnya suka dengan gaun ini, namun gaunnya terlalu terbuka sepertinya kurang baik jika dipakai untuk penobatan. menurut mu bagaimana Yeni?" Anne melempar pertanyaan.


Yeni mengangguk, "saya setuju dengan tuan putri, gaun itu simpel, mewah dan cantik namun terlalu terbuka."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu tuan putri bisa mencoba gaun selanjutnya."


Anne mencoba gaun selanjutnya. Apakah akan cocok ditubuh Anne?


__ADS_2