Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Anne*


__ADS_3

"Kenapa anda menolak ajakan saya?" Jeha bertanya balik.


Anne mantap Jeha gusar, Anne harus menjawab apa pertanyaan Jeha? Anne bingung apakah Anne akan menjawab jujur atau berbohong?


"Saya masih ingin menyapa para putri dan tamu yang hadir pangeran."


"Saya juga tamu bukan? Jadi kamu wajib menemani saya." ucapan telak dari Jeha.


Anne tercengang apakah Jeha memaksa Anne? Lalu Anne bisa menjawab apa kali ini kalau Jeha sudah berbicara seperti ini.


Apakah ada yang bis membantu Anne kali ini?


Anne menatap Dekieta, ekspresi Dekieta bisa dibaca, Dekieta menahan amarah kali ini. Kalau Anne makan bersama Jeha apakah Dekieta bisa jadi lebih marah? Anne bingung sendiri jadinya. Tapi menolak Jeha juga bisa berakibat fatal. Anne dilema sekarang.


"Apa kamu mau menolak tawaran ku tuan putri?" Jeha bertanya dengan nada datar tapi Anne tau bahwa ada ancaman dibalik kalimat tersebut yang tidak diungkapkan oleh Jeha.


"Tidak putri Anne pasti akan mengantar anda menikmati acara." bukan jawaban dari Anne melainkan dari Dekieta. Dekieta melakukan ini karena mencegah Jeha marah dan berakhir menjauh dari kerajaan Artir.


Dekieta melangkah mendekat kearah Anne, Dekieta mengengam tangan Anne. "Adik ku ada tamu yang ingin kamu menemaninya, sebaiknya kamu temani." perintah Dekieta sambil meremas tangan Anne biar Anne merasa tertekan dan mengiyakan perintah dari Dekieta.


Anne mengangguk ragu. "Saya akan mengantarkan yang mulia pangeran."


Jeha tersenyum simpul, "aku tidak mau jika kamu terpaksa tuan putri Anne." Jeha tau bahwa tadi Dekieta meremas tangan Anne. Rasanya Jeha ingin sekali memarahi Dekieta yang bersikap seperti itu padahal Jeha bahkan tidak bisa berbuat seperti itu. Jeha ingin Anne mendekat ke arahnya karena keinginan Anne sendiri bukan karena paksaan orang lain.


Anne menggeleng, "saya tidak terpaksa yang mulia, saya benar benar ingin menemani yang mulia pangeran." Jelas Anne berbohong.


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Jeha melangkah terlebih dahulu, Anne segera mengikuti langkah Jeha.


"Pangeran ingin makan apa?" Anne berusaha bertanya agar tidak hening.


Jeha tidak menjawab pertanyaan Anen, Jeha tetap melangkahkan kakinya.


'Huh dasar.' batin Anne.


Anne mengikuti langkah lebar dari kaki jenjang Jeha. Padahal Anne sudah mempercepat langkahnya tapi masih tertinggal, mungkin karena panjang kaki Anne dan Jeha berbeda. Anne tidak menyadari jika dibelakanya ada Dekieta yang mengikuti Anne dan Jeha pergi.


Jeha menghentikan langkahnya, Jeha berbalik. Jeha menatap tajam kearah Anne, Anne jadi gelagapan apakah kali ini Anne ada salah kepada Jeha? Tapi sepertinya tidak.


"Putri Dekieta." ucap Jeha.


Anne mengernyitkan dahinya, Dekieta? apakah Jeha salah memanggil nama? Tapi melihat keseriusan dari wajah Jeha sepertinya memang ada putri Dekieta.


Anne menatap wajah tampan Jeha, "maaf yang mulia pangeran tapi saya Putri Anne bukan putri Dekieta."


Perkataan dari pangeran Jeha malah membuat Anne semakin bingung, kalau Jeha tau kalau dirinya Anne kenapa Jeha memanggil nama Dekieta? Anne jadi bingung sendiri.


"Lalu kenapa anda memanggil nama putri sulung Raja Artira?" Anne bertanya dengan raut wajah yang terlihat sangat menggemaskan.


Ouh ternyata dari tadi Anne belum tau jika kakaknya itu mengikuti Anne dan Jeha. Kenapa Anne tidak peka sekali? Apakah Jeha harus memberitahu Anne.


"Putri Dekieta! Jangan mengikuti saya dan putri Anne." teriak Jeha.


Jeha tidak mau membuat keributan tapi karena sikap Dekieta jadi membuat Jeha geram, bisa bisanya Dekieta mengikuti Jeha dan Anne.

__ADS_1


Kalau dilihat Jeha memperhatikan arah belakang tubuh Anne.


Anne segera membalik badan, dan terlihat dikejauhan ada yang mengintip disela sela dedaunan.


"Yang dipohon itu apakah putri Dekieta?" Anne bertanya kepada Jeha.


Jeha menatap Dekieta sebentar kemudian Jeha mengangguk. "Yah disana putri Dekieta bersembunyi."


Anne penasaran kenapa Dekieta harus bersembunyi? " Lalu kenapa putri Dekieta harus bersembunyi?"


"Sepertinya dia mau mengikuti kegiatan kita." jawab Jeha.


"Lantas apakah itu bermasalah?"


Jeha benar benar kaget, pastinya kalau Dekieta memperhatikan Anne dan Jeha justru akan membuat Jeha merasa risih.


"Sudahlah ayo kita kembali melanjutkan agenda kegiatan kita." ucap Jeha.


Anne mengangguk, mereka berdua kembali berjalan.


Dekieta menatap kepergian Jeha dan Anne dengan menahan kesal yang amat mendera didalam hatinya, padahal Dekieta sudah menggunakan jurus seribu bayangan tapi kenapa Jeha bisa menemukannya? wah mata Jeha sepertinya mata elang yang bisa melihat menembus sampai ke pori pori kulit. Jeha kembali menghentikan langkahnya. Jeha dan Anne berhenti ditengah taman. Jeha menatap Barata mengkode agar Barata menghilang atau seenggaknya tidak mengangguk waktu berdua Jeha dengan Anne. Barata yang tau kode itu segera menyingkir tanpa berkata kata, kasian sekali yah Barata karena jomblo jadi diusir gak boleh melihat adegan romantis, eh tapi apakah Jeha akan berbuat romantis kepada Anne? Kalau dibayang bayangkan sepertinya tidak bisa. Wah jadi balik kasian kepada Jeha nih.


Anne menatap sekelilingnya bagian taman yang dipilih Jeha memang sepi, jarang sekali orang lewat.


"Pangeran apa pangeran akan makan disini? Tapi kita tidak membawa makanan atau pangeran membawa makanan?" Anne bertanya.


Jeha menggeleng, "saya tidak ingin makan, saya kesini bersama kamu hanya karena aku ingin bicara dengan kamu." ungkap Jeha.

__ADS_1


Mata Anne membola, Anne jadi kelihatan lebih imut deh.


Mohon maaf yah auhtor gak update berhari hari karena Author sibuk banget.


__ADS_2