
Anne bernafas lega, yah memang begitulah peraturan ketika keluarga kerajaan berpergian harus ada pelayan yang mengecek makanan takut ada orang yang berniat jahat dan meracuni keluarga kerajaan.
"Bagaimana apakah aku sudah bisa memakan roti ini?" Anne bertanya kepada Tuv.
Tuv menatap Anne sebentar kemudian Tuv mengangguk membiarkan Anne mulai menikmati Roti yang sudah meminta Anne untuk melahapnya. Rasanya Roti ini sesuai dengan ekspetasi Anne, sungguh membahagiakan sekali bisa merasakan roti ini, bahagia memang sederhana sekali bukan?
Mereka bertiga menghabiskan roti yang menggugah selera. Setelah menghabiskan roti, mereka bertiga keluar dari toko roti itu.
Yohan menatap wajah cantik Anne, "tuan putri sekarang apa yang ingin dimakan tuan putri sekarang?"
Jari Anne menepuk nepuk dagunya, Anne sedang berpikir apa yang akan dia makan.
"Saya bingung." ungkap Anne.
Anne menoleh kearah Tuv, Tuv sekarang cosplay patung karena tidak mau jadi orang ketiga.
"Tuv apakah kamu menginginkan makanan yang ingin kamu makan?" Anne bertanya kepada Tuv.
Tuv masih diam, Tuv memikirkan tawaran Anne, sebenarnya Tuv ingin memakan semua makanan yang ada disini.
"Aku juga bingung tuan putri."
Anne dan Tuv sama sama kebingungan.
"Disini ada makanan apa yang enak tuan Yohan?" Anne bertanya.
"Sepertinya masih banyak tuan putri, disini ada olahan mie pedas yang sangat populer, apakah tuan putri mau mencobanya?"
Anne dengan semangat mengangguk. "Tuv kamu juga akan mencobanya bukan?" Anne tidak lupa bertanya kepada Tuv.
Tuv menggeleng, "aku sepertinya tidak ingin mencobanya tuan putri, aku takut sakit perut."
"Ayolah Tuv, mumpung kita masih disini." Anne masih berusaha membujuk Tuv.
Tuv bimbang. Tuv ingin merasakan mie itu tapi mengingat perut Tuv yang tidak tahan pedas membuat Tuv bimbang tujuh turunan.
"Apakah disana ada mie tanpa rasa pedas tuan Yohan?" Tuv bertanya kepada Yohan.
Yohan menggeleng. "Disana hanya ada mie pedas karena memang tempat makan khusus mie pedas."
__ADS_1
"Jadi, gimana Tuv? Ini kesempatan yang langka loh."
Tuv menatap sekelilingnya, Tuv takut nanti perut Tuv akan langsung mulas, tapi benar apa yang dikatakan Anne kalau menyicipi mie khas disini itu kesempatan langka hanya ketika dirinya berada di daerah A.
"Ya sudah, tapi jika besok aku ijin sakit tuan putri harus mengijinkan ku bagaimana?" Tuv mencoba bernegosiasi.
"Tidak mungkin hanya karena memakan mie perut mu akan sakit." Anne tidak percaya.
Tuv mendengus kesal, "kenapa tidak percaya tuan putri? Perut Tuv memang sensitif sekali terhadap yang pedas pedas."
"Ya sudah aku memberi mu ijin hanya satu hari saja, setelah itu kamu tidak boleh ijin hanya karena memakan mie pedas."
Mereka bertiga melanjutkan langkah menuju toko mie pedas. Sampai disana Yohan bertugas memesan makanan. Mereka memakan mie dengan diam karena saat makan dilarang berbicara.
Keringat langsung membasahi wajah cantik milik Anne, ternyata mie ini rasanya sangat pedas tapi sangat enak. Walaupun pedas tapi nagih untuk dicoba.
Anne segera mengelap keringatnya ketika mienya sudah habis, sedangkan Tuv hanya bisa menghabiskan setengah dari porsi mie yang disajikan berbanding terbalik dengan Yohan yang habis seperti Anne.
"Kenapa tidak habis nona Tuv?" Yohan bertanya. Apakah Tuv tidak suka dengan mienya?
"Apa kamu tidak suka dengan mienya nona Tuv?" Yohan kembali bertanya.
"Wah padahal enak banget sayang sekali perut mu sensitif." ucap Anne.
Tuv mengangguk dengan tampang sedih.
Yohan yang tadinya menatap Tuv kini menatap Anne.
"Tuan putri langsung pulang, atau menginap?" Yohan masih menatap wajah Anne.
Anne mendongak membalas tatapan dari Yohan. "Saya menginap tuan Yohan, rencananya sekitar dua jam lagi, saya akan mencari penginapan." jawab Anne. Anne membuang pandangannya dan tidak lagi memandang Yohan.
"Apa tuan putri mau jika menginap di kantor ku? disana ada kamar kosong yang memang biasa digunakan oleh orang penting untuk menginap." Yohan menawarkan kamar karena memang seharusnya Anne meminta kamar itu karenakan Anne orang penting.
"Kamar itu juga biasa digunakan oleh keluarga kerajaan yang berkunjung, bagaimana apakah tuan putri mau menempati kamar itu?"
Anne sedang menimbang tawaran Yohan. Tawaran Yohan sangat bagus dan sebaiknya jangan ditolak bukan? kesempatan juga Anne bisa dekat dekat dengan Yohan, eh eh buang harapan itu.
"Baiklah saya akan menempati kamar itu tuan Yohan."
__ADS_1
"Kalau begitu, tuan putri tidak usah pergi untuk mencari penginapan, bagaimana jika tuan putri ikut saya disungai untuk menghabiskan waktu sampai sore hari?" Yohan kembali membuat tawaran yang menggiurkan.
Ingat tawaran bagus tidak boleh disia siakan, nanti kalau disia siakan takutnya kita kecewa.
"Baiklah saya akan ikut bersama tuan Yohan ke sungai," diam sebentar "tidak apa apa kan Tuv? Jika kita kesungai dulu?" lanjut Anne.
Tuv gelagapan kenapa Anne harus bertanya pada Tuv disaat Tuv sedang baper karena melihat perjuangan Yohan yang ingin selalu dekat dengan Anne, apakah Anne tidak peka? Yohan sudah menunjukan tanda tanda cinta. Apakah Tuv harus ikut mengkode Anne jika Yohan menyukai Anne? Hem sulit sekali membuat Anne sadar bahwa Yohan menaruh hati.
"Apakah saya harus ikut tuan putri? Apakah tidak menganggu kegiatan tuan putri?"
Anne bingung? Maksud dari menganggu itu apa?
"Bagaimana bisa menganggu? Kenapa memangnya?" Anne bertanya karena merasa bingung dengan kalimat yang keluar dari bibir Tuv.
"Yah saya merasa kurang nyaman saja jika berada diantara tuan putri dan tuan Yohan." Tuv berbohong padahal nyatanya Tuv memang ingin membuat Yohan dan Anne jalan berdua tanpa dirinya agar Anne menyadari perasaan Yohan.
"Ehm, tapi lebih baik kamu ikut dengan saya Tuv. kita harus menikmati senja dipinggiran sungai." jelas Anne.
Yah kalau begini gagal dong rencananya.
"Ya sudah saya ikut tuan putri." Tuv menunduk sedih karena rencananya gagal.
Anne menatap wajah Tuv yang berubah sendu.
"Kenapa ekspresimu begitu Tuv? Apakah kamu tidak senang?"
'Iya! Aku memang tidak senang karena rencana ku gagal total.' ingin mengatakan ini tapi Tuv hanya bisa berbicara didalam hati, nasib nasib.
Tuv terpaksa mengembangkan senyum palsunya. Tuv harus bersikap seperti biasa.
"Tidak, tadi saya tadi hanya sedih tuan putri karena saya tidak bisa memakan mie ini." lagi lagi Tuv berbohong.
"Benar begitu?" insting perempuan memang hebat bisa mengerti jika ada yang berbohong.
"Ayo tuan putri kita harus segera ke sungai bukan? Takutnya nanti kalau malem hari sungainya pasang." Tuv berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan agar Anne melupakan ekspresi Tuv.
"Memangnya air sungai bisa pasang? Bukannya yang bisa pasang hanya air laut?" Anne bertanya dengan polosnya.
Sudahlah kalau begini Tuv bisa apa? Tuv menatap Yohan berharap Yohan bisa memberinya bantuan. Tuv berharap Yohan mengajak Anne berbicara.
__ADS_1