Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
Sept


__ADS_3

Dekieta menatap sekelilingnya.


Memikirkan kejadian tadi membuat hati Dekieta menjadi terbakar karena api cemburu.


"Aku tidak mau Jeha jatuh hati kepada Anne." Dekieta merasakan timbulnya perasaan dihati Jeha untuk Anne.


"Aku harus menjadi permaisuri untuk Pangeran Jeha." lanjut Dekieta.


Pelayan dari Dekieta mengangguk. "Yah memang putri Dekieta lebih pantas bersanding dengan pangeran Jeha dari pada Putri Anne." ucap pelayan Dekieta.


Dekieta menghembuskan nafasnya lelah. "Tapi aku melihat pangeran Jeha sepertinya sudah menaruh hati kepada Anne."


Dekieta melanjutkan langkahnya, Dekieta akan kembali ke istananya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anne menghirup aroma dari bunga bunga taman yang Anne petik.


"Nona pasti senang yah bisa menikmati bunga ini?" Tuv bertanya.


Anne mengangguk. "Aku senang sekali sekaligus sedih karena salah satu pelayan kena marah." jawab Anne.


"Tenang saja, semua ini bukan salah nona." Tuv mencoba menenangkan Anne.


Anne menghembuskan nafasnya, hati Anne masih gusar karena kejadian tadi.


"Aku hanya takut terjadi apa apa dengan pelayan itu Tuv, aku tidak bisa membayangkan jika karena ulah aku seseorang dapat hukuman." ungkap Anne.


Tuv menggeleng. "Saya kan sudah bilabg, semua ini bukan salah dari nona, putri Dekieta saja yang terlalu kekeh." ucap Tuv.


Anne langsung menoleh kearah Tuv, kemudian Anne menutup mulut Tuv menggunakan tangannya. Anne menatap sekeliling mengecek apakah ada seseorang yang dapat mendengar percakapan Anne dan Tuv selain Anne dan Tuv?.


Setelah merasa aman Anne melepaskan tangannya.


"Nona kenapa sih!" Tuv kesal.


"Kamu harus jaga omongan kamu, takutnya nanti ada yang mendengar dan melaporkan itu kepada putri Dekieta. kamu nanti bisa kena masalah. lagi lagi masalahnya karena aku. Aku gak mau yah orang terdekatku mendapat masalah dari aku." ungkap Anne.


Tuv menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Anne sekarang sedang sibuk menyulam kain, sedangkan Tuv sedang sibuk melipat gaun milik Anne.


"Ngomong ngomong non, apakah nona tau tuan muda yang mendatangi putri Dekieta?" Tuv tiba tiba bertanya.


Anne menoleh kearah Tuv, kemudian menggeleng.


"Aku tidak tau Tuv." jawab Anne.


Tuv menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi saya merasa bertemu tuan muda itu sebelum tuan muda itu menemui putri Dekieta. apa itu hanya perasaan saya saja?" Tuv bertanya kepada Anne.


Anne menoleh kembali menatap wajah Tuv. "Memangnya kenapa? apakah kamu suka dengan tuan muda itu? aku dengar kalau tuan muda itu seorang pangeran." ucap Anne.


Perkataan Anne sontak membuat Tuv kaget juga tersadar.


Tuv segera menggeleng. "Saya tidak mungkin menaruh hati kepada seorang perempuan non."


Anne menggeleng tidak setuju dengan perkataan dari Tuv. "Kenapa? jika kamu suka seseorang mau itu pangeran raja atau bahkan penjabat kalau kamu suka mereka maka kamu harus pertahankan mereka." ungkap Anne.


Tuv lagi lagi menggeleng. "Saya tidak mungkin bersanding dengan mereka karena kasta saya lebih rendah dari mereka nona."


Anne tersenyum mendengar penuturan dari Tuv. "Cinta itu murni dari hati Tuv, tidak bisa dibuat buat. kalau masalah kasta tidak usah dipikirkan karena dalam hati itu tidak ada kasta."


Tuv menatap Anne kemudian Tuv tersenyum merasa terharu dengan ucapan Anne.


Tuv kemudian tersenyum senang. "Kalau begitu maka sebaiknya nona saja yang bersanding dengan pangeran, kalau saya akan bersanding dengan pengawal pribadi pangeran." diakhir Tuv tersenyum malu malu.


Mata Anne membelalak tidak percaya, "jadi yang kamu suka itu pengawal? bukan pangeran?" Anne bertanya.


Tuv mengangguk membenarkan perkataan dari Anne.


"Jadi karena itu biar saya dan pengawal dekat maka nona harus dekat dengan pangeran." ucap Tuv.


Anne yang mendengar itu segera menggeleng.


"Tidak tidak aku tidak setuju, ide apa apaan itu, aku tidak suka."


Anne menghempaskan tangan Tuv. "Jangan permintaan itu Tuv, aku akan mengabulkan permintaan mu yang lain asal jangan itu." ucap Anne.


Tuv menatap wajah Anne, "memangnya kenapa nona?"


Anne menghela nafas. "Karena sepertinya kakak ku mencintai pangeran itu." ungkap Anne.


Tuv terdiam sejenak.


"Tapi aku melihat jika pangeran itu tertarik dengan nona muda, nona muda tidak mau berjuang?"


Anne menatap wajah Tuv sambil kebingungan, "berjuang? berjuang karena apa?" Anne bertanya.


"Berjuang untuk mendapatkan hati pangeran itu lebih banyak, jika nanti pangeran memilih nona untuk menjadi pengantin pangeran maka nona akan terbebas dari kerajaan ini." ungkap Tuv.


Anne membelalak matanya. "Benarkah? tapi apakah usia seperti ku sudah diijinkan menikah?" Anne bertanya.


Tuv menggeleng. "Entah tapi Nona bisa mencobanya terlebih dahulu."


Anne kemudian menggeleng. "Nikah itu bukan untuk ajang coba coba Tuv." Anne memberi peringatan kepada Tuv.


"Oke oke saya minta maaf yang Mulia."

__ADS_1


Anne mengangguk.


"Tapi nona harus mencoba ide gila dari saya." setelah mengatakan ini Tuv segera berlari keluar dari kamar Anne.


Anne yang baru saja mendengar perkataan dari Tuv itu segera menggeleng, hampir saja ada perhiasan rambut yang akan menempel didahi Tuv kalau Tuv tidak segera keluar dari kamar Anne.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Gambar hanya pemanis saja



Pagi hari Anne sudah siap untuk bertemu dengan seluruh keluarganya, hari ini Anne dijadwalkan akan mengikuti pertemuan pagi, Anne jadi tidak sabar.


Tuv menggedor gedor pintu kamar dari Anne.


"Nona muda apakah nona muda sudah bangun?" Tuv berteriak.


"Aku sudah bangun Tuv, kamu bisa masuk kedalam kamar ku." perintah dari Anne.


"Baiklah nona." Tuv segera masuk kedalam kamar Anne.


Tuv terpana dengan gaun Anne sekarang.


"Padahal gaun itu sudah lama dan selalu dipakai nona, tapi kenapa kelihatan gaun ini masih bagus yah." ucap Tuv.


Anne menatap gaun yang dipakai. "Gaun ini kelihatan lusuh? atau aku ganti pakai gaun lainnya?"


(gaun yang lain)



Tuv menggeleng. "Jangan mengganti gaun ini dengan gaun lain nona, gaun yang dipakai nona masih terlihat bagus kok." jawab Tuv.


Anne sepertinya masih ragu.


"Kamu beneran jujur?"


Tuv mengangguk.


"Baiklah kalau begitu aku akan tetap memakai gaun ini."


Anne segera masuk kedalam ruang pertemuan pagi.


Kedatangan Anne disambut dengan muka tajam keluarganya.


"Baru pertama kali ikut dan sudah terlambat. memangnya kamu ini calon Ratu? bahkan yang Ratu dan Raja saja tidak pernah terlambat." ucapan pedas dari Selir Hari.


Anne menunduk. "Maafkan aku." ucap Anne sungguh sungguh.

__ADS_1


"Kamu ini belajar tata Krama tidak? mengapa masih bisa terlambat?" Selir Hari bertanya kembali.


Anne mengangguk. "Saya selalu belajar tata Krama Yang Mulia. Maafkan saya jika hari ini saya telah melanggar aturan dari kerajaan." ungkap Anne.


__ADS_2