
Yohan mendatangi kerajaan hari ini, Yohan sudah datang pagi hari. Yohan akan bertemu dengan menteri keuangan membahas pemasukan dan pengeluaran daerah yang dipimpin oleh Yohan.
Yohan masuk kedalam istana melalui gerbang utama, Yohan berjalan dengan tegap penuh wibawa.
Banyak wanita yang memuji ketampanan Yohan padahal Yohan tidak tebar pesona. Yah memang beginilah jadi orang ganteng.
Yohan segera melangkah menuju ke ruang kerja dari salah satu menteri.
Setelah urusannya selesai, Yohan diajak untuk makan siang bersama dengan menteri keuangan. Yohan tentu saja tidak bisa menolak ajakan itu.
Yohan segera kembali untuk pulang ke daerah A, urusan Yohan memang selesai.
Ditengah perjalan, Yohan mendengar krasak krusuk pembicaraan menteri keuangan dengan tamunya yang baru datang.
Yohan mendengar pembicaraan itu tentang Anne.
'Ada apa dengan tuan putri?' batin Yohan bertanya tanya.
Karena penasaran Yohan segera mendekat kearah tembok dari kayu itu, Yohan memasang telinganya baik baik.
"Tuan putri Anne sepertinya dijebak." ucap tamu menteri keuangan.
"Terlihat begitu tapi kita tidak tau jika memang itu kemauan sang putri untuk pergi kedaerah rawan."
'Jadi Putri Anne pergi bertugas ke daerah rawan?' batin Yohan bertanya tanya.
"Kita tidak boleh asal menuduh ingat disini masih banyak musuh." ucap menteri keuangan.
"Aku hanya merasa kasian kepada putri Anne, pasti dia sakit mental karena melihat kejadian pembegalan dengan kedua matanya sendiri. Untung saja putri Anne masih bisa selamat." ungkap tamu menteri keuangan.
"Itu berkah dari yang diatas untuk tuan putri."
Yohan segera menjauh, Yohan shock jadi Anne melihat kejadian pembegalan? kalau Yohan jadi Anne juga akan terbayang bayang dengan kejadian itu, kasian sekali pujaan hati Yohan.
Daripada merasa khawatir, Yohan melangkah menuju ke kediaman Anne sebelum Yohan meninggalkan kerajaan.
Yohan menghentikan langkahnya ketika dirinya melihat tubuh Anne. Anne sekarang sedang menatap ke luar dari dipinggiran gazebo. Mata cantik itu memandang kosong kedepan. Yohan tau bahwa mental Anne pasti terguncang.
Yohan jadi khawatir kepada Anne. Sekarang apa yang bisa dilakukan Yohan?
Melihat Anne saja Yohan sudah lega karena keadaan Anne tidak begitu parah tapi masih mengkhawatirkan.
Yohan akan pulang ke daerah A karena tidak ingin menganggu waktu Anne dan menganggu waktu istrirahat Anne, Anne pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.
'Aku berjanji akan terus menjaga mu dan melindungi mu dengan segenap raga ku tuan putri.' batin Yohan.
Ingatkan Yohan dengan janjinya yah.
Setelah melepas rindu kepada Anne, Yohan akhirnya bisa pulang dengan hati yang masih tertinggal karena pemilik hatinya belum juga tau jika Yohan menyukainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Barata masuk kedalam ruang kerja Jeha. Jeha saat ini sedang membaca surat surat dari para menteri. Barata masuk juga membawa surat surat.
"Pangeran." Barata memanggil Jeha.
Jeha segera menoleh kearah Barata.
"Ada apa?"
"Saya membawakan berkas yang anda minta." Barata segera menaruh berkas berkas surat itu diatas meja kerja Jeha.
Jeha memandangi berkas berkas itu seperkian detik.
"Berkas profil calon permaisuri?" tanya Jeha yang diangguki oleh Barata.
Jeha segera mengambil salah satu berkas, Jeha membuka berkas itu dan membaca berkas.
Jeha menemukan nama Dekeita yang mencalonkan diri sebagai permaisuri tapi sampai akhir Jeha tidak menemukan Anne. Jadi Dekeita yang mencalonkan diri? Bukan Anne? Padahal Jeha berharap Anne yang mencalonkan diri.
Karena merasa kesal, Jeha melempar berkas itu kesembarang arah.
"Kenapa wanita itu tidak mencalonkan diri? kenapa malah kakaknya yang mencalonkan diri?" ucap Jeha entah ditunjukan untuk siapa.
Barata tersenyum penuh makna, jadi Jeha menyukai salah satu putri? tapi putri itu tidak menyukai Jeha? Kasian sekali tuannya.
Tapi kalau yang disukai oleh Jeha adalah seorang putri maka jalan hubungan Jeha akan lancar bukan? Putri itu bisa jadi permaisuri atau selir Raja, tapi kenapa putri itu seperti tidak minat dengan Jeha?
Sepertinya Jeha cinta sebelah tangan.
Karena melihat kekesalan Jeha, Barata mempunyai ide yang membuat mood Jeha akan kembali balik.
Jeha menatap Barata, tawaran Barata memang bagus jadi Jeha mengangguk menerima tawaran dari Barata.
Jeha dan Barata segera keluar dari ruang kerja Jeha. Mereka berdua akan melangkah ke pacuan kuda.
Diperjalanan, Jeha bertemu dengan sang ayah siapalagi kalau bukan Raja Joha.
"Mau kemana anak ku?" tanya Raja Joha kepada Jeha.
"Saya ingin berkuda dengan Barata." jawab Jeha.
Raja Joha tersenyum. "Apakah kamu sudah membaca berkas berkas profil calon permaisuri mu? Apakah ada yang kau inginkan dari mereka semua?"
Jeha menggeleng. "Saya belum memutuskan."
"Kalau ada yang kamu inginkan bicarakanlah kepada ayah mu ini nak." ucap Joha.
"Yang mulia, kalau begitu apakah saya bisa memilih calon permaisuri sendiri?"
Joha tersenyum senang, "yah tentu saja kamu boleh memilih calon permaisuri sendiri." Joha sangat senang karena mengetahui jika Jeha menyukai salah satu calon.
Tapi ternyata tidak.
__ADS_1
"Tapi calon permaisuri tidak mencalonkan diri."
Jadi? gimana nih? Maksudnya Jeha mau memilih permaisurinya tapi wanita itu tidak mencalonkan diri? lalu bagaimana Jeha memilihnya?
"Kenapa begitu? Apa kamu tidak tertarik dengan para calon permaisuri? sangat aku melihat wajah wajah sketsa dari semua calon, aku merasa jika mereka cantik dan pantas bersanding dengan mu." ungkap Joha.
"Tapi saya menyukai wanita lain."
Karena keperluan mendesak, Joha kembali keruangan kerjanya memutuskan pembicaraannya dengan Jeha sedangkan Jeha kembali melanjutkan langkahnya menuju ke pacuan kuda.
Jeha segera menaiki kuda berambut putih, kuda itu terlihat kuat dan sangat cantik.
Barata menunggangi kuda berwarna coklat.
Mereka berdua berjejer digaris start, peluit dibunyikan tanda jika pertandingan dimulai.
Jeha dan Barata segera memacu kuda merak masing masing.
Saat ini Jeha dan Barata terlihat keren.
Banyak dayang wanita yang terpukau dengan aksi mereka. Mereka tidak akan menyiayiakan tontonan yang membuat hati mereka berdegup kencang.
"Kalian tebak siapa dari mereka berdua yang akan menang?" tanya dayang centil.
"Aku menebak jika pangeran Jeha yang akan menang."
"Kalau aku menebak jika tuan Barata yang akan mencapai garis finish terlebih dahulu."
"Sudah sudah kalian malah membicarakan kedua orang itu, lanjutkan kegiatan kalian. Ingat sebentar lagi ada acara pengangkatan calon permaisuri, jangan sampai ada yang protes karena kesalahan kita."
Kedua dayang centil itu menyebikan bibirnya kesal. Mereka melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terhenti. Ingat yah mereka itu cuman dayang.
Jeha segera mempercepat laju kudanya karena Jeha tertinggal dibelakang Barata. Barata tersenyum karena bisa menyaingi Jeha. Jeha kalau sedang patah hati gampang sekali dikalahkan.
Barata bangga karena bisa mendahului Jeha tapi itu tidak lama karena Jeha bisa menyaingi Barata. Jeha memang berbakat sekali dengan berkuda. Berkuda adalah salah satu kegiatan favorit Jeha dari kecil.
Jeha dengan tampannya turun dari kuda setelah melewati garis finish.
Barata segera menyusul sampai ke garis finish setelah itu Barata turun dari kuda yang Barata tunggangi.
"Bagaimana dengan hari ini tuan bara? kenapa kamu selalu kalah dengan ku?"
Barata tersenyum sabar, Barata memang sudah biasa diejek oleh Jeha karena kalah dengan permainan seperti ini.
"Bagaimana apakah aku keren tadi? Bisa menyaingi mu? padahal aku takut jika nanti aku kalah dari mu, bisa saja reputasi ku hancur." ungkap Jeha.
Barata tertawa pelan, wah kalau dayang dayang melihat tawa Barata pasti mereka akan meleleh ditempat karena melihat senyuman Barata itu jarang seperti gerhana matahari yang datangnya bertahun tahun.
"Pangeran selalu keren." puji Barata tulus dari hati.
"Kau tidak berbohong bukan?"
__ADS_1
"Tentu saya tidak berbohong."
Setelah itu mereka kembali melanjutkan pekerjaan, sudah habis waktu untuk bersenang senang.