Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine

Le Trône De Sang De La Chaise De La Reine
65


__ADS_3

Anne melangkah menaiki undakan tangga. Anne segera duduk di tepi gazebo, Anne ingin belajar sambil menikmati pemandangan indah dari aliran air danau yang tampak tenang. Anne ingin menjadi air didanau ini yang tetap tenang tapi tetap saja jika ada hujan pasti air ini tidak akan lagi tenang.


Anne menghirup udara segar dari danau. Pantas banyak yang menyukai danau untuk beristirahat ataupun bertamasya karena memang danau seindah dan senyaman ini untuk dilihat.


Anne mulai membuka buku pelajarannya, Anne juga kadang membaca referensi dari buku lain. Anne saat ini fokus menatap buku bukunya tapi Anne bukan kutu buku yah.


Anne membaca buku hanya ketika belajar, kalau tidak belajar Anne tidak akan membuka buku.


Saat sedang fokus membaca kalimat kalimat dibuku, Anne dikagetkan dengan kedatangan Dekieta. Dekieta tidak mendekat, Dekieta hanya menatap Anne dari luar gazebo, Anne tau kedatangan Dekieta dari Tuv.


Anne segera berdiri dan melangkah ketepian gazebo yang lebih dekat dengan Dekieta.


"Ada perlu apa tuan putri kesini?" Anne bertanya walaupun sebenarnya Anne malas bertanya kepada Dekieta.


"Saya hanya ingin memperhatikan mu putri Anne." jawab Dekieta tanpa ragu.


"Kenapa anda memperhatikan saya padahal saya disini cuman belajar."


Dekieta tertawa sinis mendengar jika Anne belajar, "kamu belajar tentang apa Anne? Apa ini salah satu strategi mu untuk menggulingkan kedudukan ku?" Dekieta sudah menatap tajam kearah Anne.


Pasti Anne selalu difitnah seperti ini padahal Anne hanya belajar, serba salah.


Anne menghela nafas panjang berusaha untuk mengatur emosinya.


"Saya tidak pernah berpikiran seperti itu tuan putri. Saya belajar untuk menimba ilmu bukan untuk menyaingi tuan putri." ungkap Anne.


Tidak lagi membalas perkataan Anne, Dekieta malah memutuskan untuk pergi. Anne hampir saja ingin melempari Dekieta dengan buku, untung Anne masih baik. Dekieta menganggu waktu Anen belajar.


*Dekieta melangkah untuk masuk kedalam kamar pribadi Ratu tapi langkah Dekieta terhenti karena ada penyegatan oleh Dayang Senior yang bekerja dibawa kekuasaan ratu.


"Tuan putri ada keperluan apa kesini?" Dayang senior bertanya dengan nada lembut.


"Kalau saya kemari yah saya mau bertemu dengan yang mulia Ratu, bagaimana sih kamu." Dekieta berkata pedas. Dekieta sudah diselimuti emosi saat ini.


Dayang senior hanya menanggapi cerocosan Dekeota dengan senyuman, sudah biasa Dayang senior mendengar kalimat pedas dari Dekeota, Dayang senior sudah kenal dengan mulut berbisa milik tuan putri itu.


"Saya akan mengatakan kedatangan anda terlebih dahulu kepada Yang mulia."

__ADS_1


Dekieta menahan geram kepada Dayang senior. "Saya ingin segera masuk, yang mulia Ratu pasti tidak akan marah jika aku langsung masuk kedalam kamarnya."


Dayang senior menggeleng menolak tegas. "Tuan putri ini prosedur yang harus tuan putri lakukan. Tunggu disini sebentar saya akan mengatakan kepada yang mulia Ratu bahwa anda datang berkunjung." dayang senior langsung mengetuk pintu kamar Rumah, setelah dipersilahkan masuk dayang senior segera masuk dan akan mengungkapkan bahwa Dekieta pergi berkunjung.


Hanya selang satu menit dayang senior segera keluar dan mengatakan bahwa Putri Dekieta bisa masuk.


Dekieta menatap sengit kearah dayang senior sebelum masuk kedalam kamar Ratu. "Saya sudah bilang bukan pasti yang mulia ratu tidak akan marah jika saya langsung masuk tadi." sinis Dekeita.


Setelah itu Dekieta masuk kedalam kamar pribadi milik yang mulia Ratu.


Dekieta duduk didepan kursi yang tersedia, Rimba sudah menunggu kedatangan Dekieta.


"Ada keperluan apa kamu kemari putri Dekieta?" Rimba bertanya tanpa basa basi terlebih dahulu.


Dekieta menghirup udara terlebih dahulu sebelum mengungkapkan apa yang Dekeita inginkan.


"Saya ingin Yang mulia Ratu melakukan sesuatu kepada Anne." ucap Dekeita.


Alis Rimba terangkat satu, "sesuatu? Seperti bagaimana?"


"Dan kenapa aku harus melakukan itu?" lanjut Ratu Rimba bertanya.


"Saya ingin putri Anne menjauh dari Pangeran Jeha. Kalau putri Anne menjauh pasti kesempatan saya dekat dengan Pangeran Jeha semakin besar." ungkap Dekieta.


Ratu Rimba mengangguk anggukan kepalanya mengerti dengan ucapan Dekeita. Jadi Dekieta tidak mau ada penghalang hubungannya dengan Pangeran Jeha, tapi bukannya Dekieta dan pangeran Jeha tidak punya hubungan apa apa? Ada ada aja kelakuan putri yang satu ini, beda dari yang lain.


"Jadi kamu mau Ratu ini melakukan apa?" Ratu Rimba kembali bertanya untuk memastikan harus bertindak seperti apa.


"Yah jodohkan lah putri Anne dengan pria yang tidak lebih dari pangeran Jeha, nikahkan Anne dengan pria yang lebih rendah dari pangeran Jeha." jawab Anne.


Ratu Rimba tersenyum penuh makna, memang yah perempuan kalau sudah cemburu apa saja akan dilakukan.


"Baiklah aku akan melakukan itu."


Dekeita tersenyum, Dekieta merasa senang karena sang Ratu menyetujui idenya itu. Ah setelah ini pasti tidak ada halangan lagi pada hubungan Dekieta dan Jeha. Dekeita tidak sabar bisa berdampingan dengan Jeha di altar pernikahan.


'Tunggu aku pangeran Jeha.' batin Dekieta.

__ADS_1


Dekieta sudah menghayal pernikahan Yan serba mewah dengan pengantin prianya seorang pangeran yang tampan rupawan siapa lagi kalau bukan Jeha. Entah hayalan ini apakah akan terkabulkan? tapi Dekeita akan memaksa kepada Tuhan untuk mengabulkan keinginan Dekieta satu ini.


"Saya merasa tersanjung karena kebaikan yang mulia Ratu." ucap Dekeita.


Dekieta dan Ratu Rimba diam. Setelah pembahasan Anne itu Dekeita tidak bicara kembali, mungkin sudah habis permintaan nyelenehnya.


Ratu Rimba membuka suara. "Dekeita." Ratu Rimba memanggil nama Dekeita.


Dekieta menatap wajah sang Ratu, "yah, ada apa yang mulia?"


"Aku hanya ingin bertanya."


"Tentang apa yang mulia?" Dekeita mulai memikirkan pertanyaan yang akan diungkap Ratu Rimba.


Ratu Rimba masih diam entah memikirkan apa.


"Apa yang mulia jadi bertanya?"


"Aku hanya ingin bertanya apa yang akan kamu lakukan dimasa depan Dekieta." ungkap Ratu Rimba.


Dekeita tersenyum manis, "tentunya saya akan seperti yang mulia bukan? Menjadi ratu dikerajaan." jawab Dekeita tanpa ragu.


Mendengar jawaban dari Dekeita membuat jantung Rimba berkerja dengan cepat, entah kenapa Rimba tidak suka dengan jawaban Dekeita.


"Jadi kamu ingin menjadi seorang Ratu? Kenapa tidak memilih hal lain Dekieta?" Rimba kembali bertanya untuk memastikan.


"Bukannya sudah jelas bahwa aku dilahirkan untuk menjadi ratu. saya anak pertama dari seorang raja dan raja tidak punya keturunan laki laki jadi pasti aku penerusnya."


Dekieta benar benar berambisi menjadi Ratu.


'Tapi kamu tidak tau masa lalu Dekeita, kalau kamu tau pasti ambisi mu menjadi ratu semakin besar.' batin Rimba.


Rimba kini diam bingung berbicara apa lagi karena Rimba juga dulu seperti Dekieta tapi Dekieta tidak tau dibalik perjuangan Rimba sampai ditahap ini. Rimba takut jika Dekieta mengikuti jejaknya.


Rimba berusaha untuk terlihat biasa saja walaupun hatinya sedang dilanda gemuruh hebat. Biarlah hanya Rimba saja yang tau.


"Selain menjadi Ratu, apa yang ingin kamu lakukan dimasa depan putri Dekeita?"

__ADS_1


"Saya ingin menjadi permaisuri Pangeran Jeha yang mulia." ungkap Dekieta.


Apa menjadi permaisuri adalah hal baik? Kalau hal baik maka Ratu harusnya setuju bukan?


__ADS_2